Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang

Reinkarnasi Menjadi Pangeran Terbuang
Melawan kraken raksasa


__ADS_3

.


.


Melawan kraken tidaklah mudah, monster itu bisa bersembunyi di dalam air. Mereka memiliki kelemahan terhadap api, dan meski ada Shino yang bisa terbang, kraken bisa bersembunyi.


Beberapa jam mereka mencoba mengalahkan kraken dengan sihir api yang biasa saja maupun yang dahsyat, tapi tetap saja kraken tidak bisa terkalahkan.


Para warga bersembunyi di dalam rumah-rumah atau toko mereka, ketakutan dengan monster yang sudah bertahun-tahun tidak muncul, tapi sekarang tiba-tiba muncul. Kemunculan kraken di wilayah sana pernah ada, tapi sudah sekitar dua puluh lima tahun yang lalu, itupun, tidak sebesar kraken yang sekarang.


“Sepertinya kita butuh strategi...” ucap Jaden.


“Aku sudah kelelahan!” sahut David, wajahnya sudah sangat pucat karena dia yang paling banyak mengeluarkan sihir api untuk melawan kraken.


“Cepat pergi dan minum air kelapa!” sahut Sam.


David mengangguk lalu berlari kembali menemui Selen yang diam agak jauh dari tepi pantai.


“Selen!”


“David, kenapa kraken belum terkalahkan?” tanya Selen.


“Sangat sulit untuk mengalahkannya, saat kami serang, dia bisa bersembunyi di dalam air, sedangkan kita tidak bisa bernafas dalam air, meskipun kami bisa, sihir api tidak dapat digunakan dalam air” ucap David.


“Lalu kenapa kamu kembali? Kamu yang paling besar sihir apinya!”


“Aku kelelahan!”


Setelah itu Selen pun menyeret David kembali ke penginapan, memberikan air kelapa yang sudah mereka siapkan di botol-botol kaca.


“Kamu istirahat dulu, biar aku yang menggantikanmu!”


“Ap-apa? Selen, tunggu!”


Terlambat, Selen sudah berlari dengan semangat untuk kembali pada tempat kejadian.


Jaden dan yang lain masih kesulitan untuk melawan kraken super besar dan juga cerdik tersebut, bahkan Shino juga sempat dihempaskan saat terbang mendekati kraken dengan tentakelnya.


Shino yang seorang naga memang kuat, tapi jika dibandingkan naga lain, Shino masihlah anak-anak atau remaja. Lagipula, krakennya memang sangatlah licik dan cerdik, seakan sudah sering bertarung dengan manusia.


Jika dilihat dari ukurannya, bisa jadi usia kraken sudah 200 sampai 500 tahunan.


“Jaden!” teriak Selen.

__ADS_1


“Selen, kamu tidak boleh ada disini!” teriak June.


“Kami bisa dimarahi pangeran Solon!” sahut Kevin.


“Aku punya rencana bagus untuk mengalahkan Kraken, lagipula ini sudah malam, kita tidak punya banyak waktu!” teriak Selen, agar mereka semua bisa mendengar suaranya.


“Baiklah, coba katakan apa maksudmu!” ucap Jaden.


“Kita jebak krakennya agar naik ke daratan!”


“Selen, kau sudah gila? Kita mencegah agar monster itu tidak naik ke daratan dan menghancurkan kota!” sahut Abel.


Kemudian Selen menunjuk bagian pantai yang luas dan terhalang tebing di belakangnya, “pojokkan kraken disana! Tapi kita memerlukan sebuah umpan!”


“Biar aku yang menggiring kraken kesana!” ucap Shino.


Dengan rencana Selen tersebut, akhirnya mereka bisa mengepung kraken di daratan dan berhasil mengalahkannya.


Shino yang memiliki dendam dengan kraken pun memotong-motongnya menjadi beberapa bagian.


Jaden agak khawatir saat diminta untuk memasak kraken tersebut, karena itu adalah monster. Selama ini monster yang Jaden makan hanyalah monster yang memang biasa dimakan, seperti kelinci hutan.


Sedangkan kraken sangat mengerikan saat masih hidup, bagaimana bisa Jaden tidak khawatir? Tapi pada akhirnya dia memasaknya juga bersama warga-warga yang lainnya menjadi dua menu. Yang satu sup kare kraken, yang satunya di potong kecil-kecil menjadi takoyaki.


Warga sekitar sana senang sekali, wali kota juga berterimakasih pada Jaden dan teman-teman. Mereka sengaja tidak memberitahukan jika mereka adalah bangsawan, mereka mengaku sebagai petualang saja, agar warga tidak canggung dan bersikap formal.


“Jaden, makan saja!” ujar Shino, dia memberikan satu tusuk takoyaki pada Jaden.


“Tapi apa daging kraken itu tidak berbahaya bagi manusia?” tanya Jaden khawatir.


Shino memasang pose berpikirnya, “hmm, kraken itu memakan ikan-ikan kecil di lautan dan kadang juga terumbu karang... lagipula meski dia monster, dia juga makhluk laut, yang aku tahu makhluk laut selain para duyung, nymph atau siren itu bisa dimakan kok” ucap Shino.


“Tunggu! Duyung? Siren?”


Shino mengernyitkan dahinya melihat raut penasaran sekaligus semangat dari Jaden, seingat Shino, biasanya Jaden semangat jika melihat bahan masakan yang baru dan juga cerita tentang negara-negara lain. Melihat Jaden antusias dengan makhluk bawah laut membuat Shino merasa aneh, karena jarang sekali melihat Jaden seantusias itu.


“Kau hidup di dunia ini sudah berapa tahun sampai tidak tahu ada duyung? Beberapa negara menyebutnya mermaid, mungkin karena mereka tinggal di Mermaidia, tapi Siren dan nymph juga banyak yang tinggal disana, aku agak bingung” ucap Shino.


“Tolong ceritakan lagi!”


“Makan dulu, Jaden! lagipula ini udah malem, kamu gak mau tidur apa? Aku aja capek banget” keluh Shino.


“Tapi janji ceritain tentang mermaid ya?”

__ADS_1


“Baiklah, sekarang makan dulu, ini kan kau sendiri yang masak!”


Jaden pun terpaksa memakan takoyaki kraken, ternyata enak, rasa dagingnya empuk, Jaden pikir akan keras dan tidak enak.


“Hmm, enak juga!”


“Daging kraken memang enak! Selain itu daging burung batu juga enak!”


Jaden menatap Shino bingung “burung batu? Itu yang mana?”


“Kita pernah mengalahkannya, Jaden, yang warnanya hijau kebiru-biruan itu lho, hidup di pegunungan atau hutan” sahut Kevin, dia membawakan semangkuk kecil sup kare kraken untuk Jaden.


“Aku harus bilang berapa kali, hijau kebiru-biruan itu toska!” protes Jaden.


“Apalah itu... dulu kau kan memanggangnya menjadi steik” ucap Kevin.


Jaden sekarang ingat, dia pernah mengalahkan seekor burung yang ukurannya dua kali tubuh Jaden sendiri, paruh dan kuku burung itu kemudian dijual ke guild pedagang dan laku mahal, sedangkan dagingnya Jaden buat steik.


Jaden heran kenapa tidak ada yang mengatakan padanya jika itu namanya burung batu, tapi Jaden sendiri tidak bertanya sih.


“Steik burung batu ya? Aku juga suka banget! Enak!” sahut David, dia selalu nyambung jika pembahasannya makanan. Meski tubuh David sudah kurus dan bagus, tapi dia tetap suka makan.


“Di hutan selanjutnya akan ada kawanan burung batu, kita tangkap satu saja ya?” usul Shino.


“Bagaimana jika dua?” sahut Jaden, dia sendiri juga rindu sekali dengan steik burung batu yang dia bumbui dengan saus bawang putih, rasanya enak sekali! Tapi rencananya Jaden akan membumbuinya dengan saus jahe juga, pasti rasanya lebih enak.


Tanpa Jaden sadari, saat dia membayangkan steik burung, dia sudah menghabiskan takoyaki beserta sup kare yang Kevin bawakan.


“Eh? Sejak kapan ini habis?” ucap Jaden bingung setelah melihat mangkuknya kosong.


“Kau sendiri yang memakannya Jaden...” sahut Kevin, dia pun terkekeh melihat raut bingung Jaden.


“Aku kenyang banget nih!” keluh Sam.


“Lagian udah tahu perutmu kecil, masih maksa makan semuanya, sini buat aku aja!” David menyambar sisa takoyaki yang Sam bawa.


Shino menyodorkan minuman pada Sam, “minum ini, biar perutmu lega” ucap Shino.


“Makasih!” Sam pun menyambar minuman itu dan meneguknya dengan perlahan.


“Setelah ini kita istirahat, karena besok kita akan berangkat lagi” ucap Jaden.


“Dan memburu burung batu!” sahut Shino.

__ADS_1


.


.


__ADS_2