
Disisi lain, ayah Han Mei alias raja dari Kerajaan Han sudah sampai di kota yang menjadi perbatasan antara Kerajaan Han dan Wu, disana mereka sudah menguasai isi kota dan melanjutkan pergi ke teritori milik Kerajaan Wu, ditengah-tengah perjalanan mereka sedang berdiskusi dengan para putranya dan para Jenderalnya tentang rencana untuk menguasai kerajaan Wu.
Lalu salah satu Jenderal yang memiliki luka goresan di keduanya matanya mengusulkan sebuah rencana, "Raja mending kita berpura-pura kalah saja, setelah itu saat mereka menertawakan pasukan kita, baru kita tunjukkan kekuatan sejati pasukan kita?"
Bukk! Bukk! Bukk!
Dia lalu dipukuli bertubi-tubi oleh beberapa jenderal yang berada didekatnya, melihat itu jenderal-jenderal lain hanya bisa tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, kamu itu kalau mengusulkan yang sedikit normal saja, jika kita melakukan rencana milikmu, maka reputasi kerajaan kita akan tercoreng di mata dunia setelah itu kau mau kita dihina oleh dunia?"
"Humph, kalau begitu apa rencana milikmu agar kita bisa menghabisi mereka dengan cepat?"
Melihat situasi yang semakin tidak kondusif Raja Han lalu mengeluarkan satu kata saja, "Diam!"
Hanya dengan satu kata itu suasana yang tadinya ricuh langsung berubah 180°, lalu Raja Han mulai menjelaskan rencananya, "Kita tidak perlu repot-repot memikirkan sebuah rencana, kalian ber 20 berada di ranah Perubahan Jiwa, dan ditambah dengan para anak-anakku yang sudah berada di ranah Jiwa Yang Baru Lahir dan Perubahan Jiwa apa yang perlu ditakutkan?"
"Dan juga, kita memiliki sekitar 18 ribu pasukan elit yang memiliki ranah yang tak lebih rendah daripada kalian, apa yang perlu lagi ditakutkan? Dan juga"
"KITA BELUM BERPERANG SELAMA BEBERAPA TAHUN, JADI AYO KITA HABISI BAJINGAN WU ITU!"
"YEAHHHH! HIDUP YANG MULIA"
"Jadi sekarang kalian keluar dan pergi berperang sana! Hancurkan semua yang menghalangi!"
"Baik Yang Mulia"
Sriingg!
__ADS_1
Para Jenderal itu lalu pergi dari sana, dan sekarang hanya tersisa para pangeran saja yang dari tadi masih menunggu kepergian dari para Jenderal.
"Jadi apa yang ingin kalian bicarakan putra-putra ku?"
Lalu seorang pangeran yang sedikit lebih tua dari pangeran lain berkata, "Ayah, apakah kita akan benar-benar menghancurkan kerajaan Wu? Jika kita melakukannya kita akan melanggar perjanjian perdamaian 100 tahun?"
Raja Han hanya tersenyum kecil, setelah itu ia berkata kepadanya, "Putra sulungku, kamu memang berpengetahuan, lalu kenapa kamu tidak mengikuti kontes perebutan tahta kerajaan?"
"Ayah!"
"Baiklah-baiklah, akan aku jelaskan, alasan sebenarnya dibalik penyerangan ini adalah agar kakek kedua kalian itu tidak menggila dan membabi buta melenyapkan kerajaan Wu"
Mendengar itu para pangeran lain sontak terkejut, mereka bertanya-tanya apakah hubungan dari penyerangan ini dengan kakek kedua mereka.
"Kalian pasti bingung? Ibu dari adik perempuan kalian satu-satunya adalah salah satu selir milik Raja Wu, dulu ayahmu ini dan kakek kedua kalian menyelamatkannya disaat ia lari dari kejaran para prajurit Kerajaan Wu, kakek kedua kalian lalu menjodohkan aku dengannya saat kalian masih kecil dan kemudian ayahmu ini menjadi raja baru menggantikan kakek kedua"
"Dan akhirnya cara tersebut dilakukan, lalu beberapa hari setelahnya terdengar kabar bahwa yang membuat tubuhnya menjadi seperti itu adalah salah satu penyihir dari kerajaan Wu, aku dan kakek kedua kalian murka mendengar itu kami berdua lalu berniat untuk membalas dendam, namun dihentikan oleh paman pertama dan kedua, oh iya mereka berdua bisa kalian sebut sebagai kakek pertama dan ketiga, oke lanjut! Setelah itu kakek kedua kalian depresi berat dan mengurung diri di ruang bawah tanah kerajaan, dia tidak mau makan dan minum sampai suatu hari adik perempuan kalian datang menemuinya"
"Dia berubah sejak saat itu, dia yang tadinya tidak mau melakukan apapun berubah saat Han Mei yang menyuruhnya, ia merawat Han Mei lebih sayang dan lembut daripada kalian semua, jadi maka dari itu kita harus menghancurkan dulu kerajaan Wu sebelum kakek kedua kalian mengetahuinya!"
Setelah ia selesai bercerita, para Pangeran itu menunjuk kearah belakang lalu saat Raja Han menoleh kearah belakang ia sudah mendapati bahwa Han Dang sudah berada dibelakangnya.
"Hehehehe, ayah kita bisa bicarakan ini bukan? Eh tapi kenapa ayah menjadi sedikit lebih muda?"
Han Dang lalu menjawabnya, "Entahlah, mungkin karena kamu menceritakan kembali apa yang sudah aku lupakan dulu!"
Boom!
__ADS_1
Han Dang memukul Raja Han dengan sangat keras, sampai-sampai daratan disekitar berguncang hebat akibat dari pukulannya.
"Dan kalian cucu-cucu yang tidak berbakti, berani sekali kalian mengikuti jejak ayah kalian, bagaimana kalau kalian merasakan tinju kasih sayang dari kakek kalian ini?"
Mendengar itu para pangeran yang lain langsung berdiri dan membungkuk didepan Han Dang lalu kemudian melarikan diri dengan cepat, setelah kepergian mereka Han Dang hanya bisa menghela nafas, "Huff, Han Jue apakah kamu sudah menemukan orang yang membuat menantu serta cucuku menjadi seperti itu?"
"Tentu saja ayah, mulai hari ini dan seterusnya tidak akan ada lagi yang namanya Kerajaan Wu di benua ini! Dan juga wilayah dari kerajaan Wu ini akan aku jadikan sebagai tempat perebutan tahta kekuasaan Kerajaan Han!"
"Bagus, bagus sekali, setelah itu apakah kamu ingin mengikuti jejak kedua pamanmu itu menjadi seorang pria tua yang hidup di gua?"
"Tentu tidak ayah, aku akan mengelilingi benua ini dan mencari cara agar Mei Yu bisa dibangkitkan kembali"
Han Dang lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam bajunya, dan setelah itu dia menyerahkannya kepada Han Jue.
"Apa ini ayah?"
"Pergilah ke kuburannya dan masukkan pil ini kedalam mulutnya!"
"Hei, itu mustahil kecuali dengan pengorbanan seribu jiwa atau kita bisa menjadi seorang Immortal mustahil untuk membangkitkan orang mati, ayah!"
"Sudahlah lakukan saja, sekarang suruh pasukanmu untuk berhenti saat sampai di kota milik Kerajaan Wu!"
Sriingg!.
Han Dang lalu menghilang dari sana, dan ia sudah berada diatas langit wilayah kerajaan Wu.
^^^*End*^^^
__ADS_1