REVOLUSWEET

REVOLUSWEET
PROLOGUE


__ADS_3

Di depan sebuah rumah dengan luas 25 x 30 meter persegi, seorang lelaki memarkirkan motornya. Tangan kanannya membawa martabak, sedangkan tangan kirinya membawa minuman kemasan. Kata orang, martabak bisa menarik hati calon mertua. Kalau tidak salah, berarti betul.


"Bismillah ketemu calon," katanya sambil terkekeh.


Kafeel Pasha, lelaki dengan segala kekurangan dan kelebihan—yang lebih banyak kelebihannya—untuk pertama kali secara terang-terangan menghampiri rumah mempelai wanita yang belum menjadi mempelai wanita atau bahkan belum diterima oleh pihak sana. Yang berarti hanya diterima sepihak dan itu pun dari dirinya saja.


Di depan pintu rumahnya, Kafeel mendengar suara tertawa dari dalam rumah. Kebanyakan, terdengar suara khas lelaki. Siapa di dalam? Tak ingin mengetuk terlebih dahulu, Kafeel mengintip di sela jendela yang terbuka. Terlihat 4 lelaki dan juga seorang gadis yang sangat Kafeel kenali berada di ruangan yang sama. Dengan papan catur yang terbentang di atas meja, Kafeel tebak, gadis itu sedang ditantang oleh beberapa lelaki untuk bermain catur.


Gadis itu Kaira Alfaresh. Atlet catur yang baru saja kembali dari Thailand setelah bertanding secara internasional dan memenangkan juara ke-2 atas nama Negara Indonesia darinya.


"Lo lawan Kaira gak ada apa-apanya." Fahri, Lelaki muda berusia 21 tahun itu tertawa melihat temannya yang kalah karena bermain catur.


"Lagian, lo main catur sama adik gue yang habis tanding di Thailand. Heran banget. Manusia gak tau batasan songongnya." Ghifary, Kakak dari Kaira Alfaresh dan juga teman dari Fahri itu ikut tertawa.


"Lagi woi. Gue gak terima dikalahin kayak gini." Sauqi menata kembali papan caturnya


"Alah, gue capek. Lo bosenin, masa iya kalah mulu'," balas pemilik nama Kaira Alfaresh itu dengan lesu. Gadis manis berhijab cokelat susu dengan gamis hitam yang membungkus tubuhnya itu bersandar di dinding.


"Sialan, kurang ajar banget." Sauqi menggerutu.


Para lelaki yang Kaira sebut sebagai para bujang pecinta janda yang ingin bau tanah itu membuatnya menggeleng heran. Kelakuan teman-teman dari kakaknya itu memang jauh berbeda dengan umur mereka.


"Jangan maksa. Kaira capek." Baihaqi, lelaki yang sedari tadi hanya mengamati dalam diam akhirnya membuka suara karena Sauqi yang seakan memaksa Kaira bermain lagi.


Kaira yang duduk di bawah, memandang lelaki itu yang duduk di sofa. Berjarak agak jauh darinya. Kata kakaknya, lelaki itu menyukainya. Namun Baihaqi hanya berkata bahwa mereka bisa menjadi adik kakak seperti biasanya. Hingga sekarang, Baihaqi dan Kaira hanya sebatas itu dengan Ghifary yang menjadi pembatas. Karena hal itu, tak satupun dari mereka yang berani membahas tentang Baihaqi dan juga Kaira.


"Iya-iya." Sauqi mendengus kesal.


"Shtt." Fahri yang sedari tadi hanya tertawa, bersuara untuk mengalihkan atensi mereka padanya. Setelah menarik perhatian teman-temannya, Fahri menggerakkan bola mata untuk menunjuk ke arah jendela. Mereka mengikuti arahnya, kemudian melihat Kafeel yang sedikit mengintip.


Merasa dilihat, Kafeel memberikan senyuman dan melambaikan tangannya yang tengah membawa beberapa makanan.


"Buset, jajannya banyak bener. Lo keluar sana, Kai. Kalau lo gak mau ketemu, lo bisa ambil jajannya doang terus usir dia deh," ujar Sauqi dengan penuh harap.


"Itu mah lo yang untung." Fahri menjitak jidat lelaki itu dengan kesal.


Kaira yang mendengarnya hanya memutar bola mata.

__ADS_1


"Gue aja sini," kata Ghifary agar sang adik tidak bertemu dengan Kafeel.


Kaira menggeleng kecil, lalu berdiri untuk bertemu dengan Kafeel di depan. "Gak usah. Gue aja."


Baihaqi, lelaki itu bergumam dan hanya didengar oleh Ghifary di sampingnya. "Masih selalu ke sini?"


...-REVOLUSWEET-...


"Ada apa?" tanya Kaira tanpa berbasa-basi atau bahkan memintanya duduk di kursi yang berada di pekarangan rumah.


"Orang tua lo ada?" Kafeel tersenyum tipis. Tidak keberatan jika Kaira tak mempersilakan untuk duduk. Setidaknya, Kafeel kemari dengan niat baik.


"Gak ada. Lagi pergi," balas Kaira singkat. Pada dasarnya, sifat Kaira tidak sedingin dan sejutek itu saat bersosialisasi dengan orang. Terlalu sering bersikap 180 derajat dengan karakter yang baru saja ia tunjukkan, membuat Kaira tak tahan dengan sikapnya kali ini.


Pada akhirnya, gadis itu menghela napas ketika Kafeel tak membalas ucapannya dan hanya tersenyum tipis. Kaira mulai duduk di bangku yang berada di taman kecil depan rumahnya, lalu mempersilakan Kafeel untuk duduk, "Duduk!"


Kafeel tetap tersenyum dan memberikan beberapa barang kepada Kaira. "Ini buat orang tua lo. Berhubung gue gak ketemu, jadi gue nitip ke lo aja."


Kaira menerima dengan tangan terbuka. Walau ingin menolak, Kaira berpikir bahwa ini lumayan juga untuk camilan siang ini. "Buat orang tua gue aja? Buat gue?"


Kafeel tertawa kecil dan mengangguk. "Ada. Spesial malah buat lo. Lebih spesial dari martabak pake telor."


"Di depan lo. Segede ini gak kelihatan?" Kafeel mengangkat dan melebarkan tangannya untuk menunjukkan bahwa ialah hadiah untuk gadis itu.


Kaira bergidik ngeri. "Enggak."


"Gue perjelas deh." Kafeel tertawa geli. Dia memberikan ponselnya kepada Kaira setelah menekan ikon kamera. "Nih. Kelihatan gak?"


Kaira menerima, kemudian mendengus malas ketika di layar ponsel terlihat gambar dirinya yang terekam di kamera ponsel. "Dasar."


Kafeel tertawa setelah menerima ponselnya yang dikembalikan. Ekspresi gadis itu sungguh membuatnya merasa geli. Entahlah, kenapa setiap apa yang dilakukan Kaira selalu berhasil menarik perhatian Kafeel. Seperti saat ini.


Tak lama kemudian, dia meredakan tawanya. Melihat Kaira yang terlihat kesal dengan sesekali mengintip isi kantong plastik yang dibawanya.


Kafeel mulai membahas bakat yang sangat Kaira asah, lelaki itu bertanya, "Main catur? Lawan lo kalah berapa kali?"


"Enam kali berturut-turut," balas Kaira.

__ADS_1


Kafeel tak perlu memberikan ucapan selamat padanya. Karena beberapa sebelum kepulangan, Kafeel justru berangkat ke Thailand untuk mendukung dan juga menjadi saksi atas kemenangan Kaira.


Kafeel mengangguk menyetujui. "Main sama Kaira Alfaresh gak akan dikasih celah."


"Jangan kasih lawan celah sedikit pun atau lo akan kehilangan kesempatan untuk membalikkan keadaan lawan." Kaira Alfaresh memandang lelaki itu dalam diam. Terlihat sorot optimis dari mata hitam pekat yang dimilikinya. Sesaat, dia baru sadar jika Kaira memiliki sesuatu yang tak ia lihat dari gadis lain.


Terpanah karena ucapan penuh optimis Kaira, Kafeel menaikkan salah satu bibirnya. Kemudian berkata dengan sedikit berbisik, "Gue juga gak akan kasih lo celah atau gue akan kehilangan lo selamanya."


"Bukan itu maksud gue!" Kaira berdesis.


"Tapi itu maksud dari gue."


"Kafeel."


"Iya, Kaira."


"Woi." Pelindung yang paling berada di garda terdepan mulai terlihat batang hidungnya. Berkacak pinggang dengan salah satu kakinya yang di angkat ke atas kursi samping Kafeel. Kafeel agak terkejut melihatnya.


"Dilarang khalwat dengan lawan jenis."


"Lah tapi, tadi Kaira ada di dalem sama temen-temen lo," balas Kafeel.


Melirik Kaira yang terlihat cengo, Ghifary berdecak. "Gak masalah, 'kan ada gue."


"Ini kan juga ada lo."


"Jangan cari gara-gara lo sama gue!" Ghifary menunjuk Kafeel dengan geram. Diberi tahu, malah songong. "Dan sekali lagi, jangan pake rayuan murah lo di depan adik gue."


Kafeel memahaminya. Dia hanya tertawa sebagai jawaban, kemudian mengangguk dan berdiri. "Sorry. Gue gak bermaksud. Gue ke sini mau ketemu orang tua lo. Karena lagi gak ada, gue nitip ini aja. Gue balik, Kai. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Ghifary memandang adik gadisnya dengan sinis. "Masuk sana!"


"Iyaa." Kaira berdiri dan menenteng beberapa barang pemberian Kafeel.


Ghifary menghela napas, kemudian bermonolog, "Entah kenapa, gue gak suka sama dia."

__ADS_1


...-REVOLUSWEET-...


__ADS_2