
Pukul 16.30 WIB, Keduanya sampai di depan gedung olahraga. Kaira yang dijemput oleh Ghifary selepas pulang sekolah dan mengantarnya ke tempat di mana ia sering latihan bermain catur. Sebuah gedung olahraga yang disewa oleh klubnya. Kaira mengunjungi Chess Club yang sering ia kunjungi dan mereka menyebutnya, Chessper.
"Abang lo masih jomblo gak, Kai? Sama gue sabi lah." Agatha, gadis cantik berkuncir dengan hoodie pink yang dipakai.
"Astaghfirullah, haram brother." Ghifary yang merasa digoda menjawabnya dengan candaan.
Agatha pun menjawab dengan getaran yang sama, "Waduh, yang haram-haram lebih menggoda, Bang."
"Minimal bisa syahadat dulu sebelum jadi pendamping gue. Ya gak?" Alis Ghifary terangkat dengan sudut bibirnya yang tertarik.
"Jangan kau ambil aku dari Tuhanku!" Agatha memeluk diri dan berkata penuh dramatis.
"Hahaha. Gak sudi lagian sama lo. Dih." Ghifary tertawa. Dia beralih ke Kaira yang juga ikut tertawa, lelaki itu mulai berpamitan, "Gue tinggal, Kai. Assalamu'alaikum."
"Oke, Bang."
"Nice try!" Merlin menepuk bahu Agatha, tak lupa pula dia juga tertawa.
Ghifary berhenti sejenak. Melihat seorang gadis yang berada di dekat sebuah gudang. Jika tidak salah, nama gadis itu adalah Yemima, yang katanya tidak menyukai keberadaan Kaira. Ghifary berkedip sebentar, ketika membuka mata ternyata tatapan gadis itu juga tertuju padanya.
Yemima yang merasa ada yang melihatnya pun menatap ke sosok yang tak jauh darinya. Ternyata lelaki yang dilihat olehnya adalah Ghifary, Kakak dari Kaira. Melihat Ghifary yang tak kunjung beralih pandangan, membuat Yemima menghampiri lelaki itu.
"Lo tau kan, di agama lo ada larangan menatap lawan jenis?" Tepat berada 1 meter di depannya, Yemima bertanya sarkas.
"Yang dilarang itu ketika melihatnya dengan nafsu dan juga berkedip sewaktu melihat lawan jenis," balas Ghifary.
"Oh ya? Yakin, gak ada nafsu saat lihat gue?" Yemima mengangkat alis.
Tanpa ragu, Ghifary menggeleng. "Enggak. Gue cuma mikir kenapa lo bisa sebenci itu sama adik gue."
"Itu gak ada urusannya sama lo." Yemima menjawab lirih. Dia kembali menatap Ghifary. "Dan yah, bukannya tadi lo berkedip lihat gue?"
"Kapan?" Alis Ghifary bertaut.
"Sebelum percakapan ini dimulai."
Ghifary diam. Mengingat sebelum Yemima menghampirinya. Sebuah memori ia tangkap yang membuat Ghifary mengalihkan pandangannya dari Yemima. "Astaghfirullah. Gue balik aja lah."
Yemima mengernyit bingung. Lelaki itu sendiri yang berkata, lelaki itu sendiri yang lupa. "Aneh."
Sedangkan itu, di dalam gedung ini. Tiga orang gadis yang baru memasuki gedung memandang di sekitar ruangan. Beberapa meja dan kursi ditata sedemikian rupa. Di setiap meja terdapat papan catur dan juga 2 orang yang tengah bermain. Beberapa dari mereka telah selesai, hanya ada satu meja yang masih utuh dengan pemainnya.
"Kak Ayano yang main?" tanya Kaira sembari melihat salah satu meja itu.
"Iya, sama pelatih." Merlin mengangguk.
"Dari lima belas menit yang lalu," balas Agatha.
Kaira terbelelak. Dia menatap kedua temannya yang lebih tua 2 tahun darinya. "Belum selesai-selesai?"
Merlin tertawa kecil. "Durasi mereka menipis. Saling serang, saling makan, tapi juga bertahan. Kak Ayano sama pelatih punya bakat yang beda tipis. Kak Ayano sisa raja, benteng, sama bishop, sedangkan pelatih punya raja, bishop, sama ratu."
"Menurut lo, siapa yang menang?" tanya Agatha sembari menyeringai.
Kaira diam sejenak. Mengamati Ayano dan pelatih yang sedang bermain bersama. "Dari segi bidaknya. Gue rasa, pelatih. Tapi kita lihat gimana Kak Ayano memanfaatkan bishop sama bentengnya."
Agar tidak mengganggu konsentrasi antara pelatih dan juga Ayano, mereka memilih mengamati dari jauh. Beberapa detik, Kaira mulai menangkap pergerakan dan target yang diincar oleh pelatih maupun Ayano.
Kaira melebarkan senyumnya. Tak ada satupun hal yang dapat menggoyahkan perasaannya selain permainan catur yang telah melekat sejak lama padanya. "Kak Ayano bener-bener gila. Dia gak ngincar raja, tapi ratunya. Bishop atau bentengnya emang kalah kalau lawan ratu, tapi salah satu dari bidaknya ancam raja biar ratu gak berani makan salah satu bidaknya, tapi Kak Ayano melupakan satu hal. Dia bakalan kalah lagi."
"Satu hal apa itu?" Merlin mengernyit bingung dengan laju pikiran Kaira. Kaira tanpa catur itu bagaikan seonggok daging tanpa tulang. Rasanya, ketika Kaira mulai berteori saat itu juga otak mereka menghilang.
__ADS_1
"Ingat, tujuan catur adalah untuk melakukan skakmat, bukan untuk memakan sebagian besar bidak yang ada." Kaira menyeringai.
"Kak Ayano makan bishop milik pelatih. Sekarang, kekuatan satu ratu setara dengan bishop dan benteng yang dimiliki Kak Ayano. Daripada mengincar raja, Kak Ayano lebih memilih mengincar ratu."
Kaira menggeleng kecil melihat pergerakan Ayano yang tak sesuai perkiraannya. Nyatanya, bagi atlet maupun olahragawan, meski sehebat apa pun mereka, ketika mereka dikejar oleh waktu, mental mereka akan mulai terusik dan mulai memberikan kesalahan yang berakibat memberi celah kepada sang lawan.
"Ketamakan manusia akan satu hal dapat menjadi boomerang baginya. Karena jika ketamakan itu menguasai, segalanya akan menjadi gelap."
Dengan satu tarikan, pelatih memakan benteng, kemudian mengunci pergerakan raja dengan menyebut skak. Tentunya, bishop yang berada di jangkauan ratu, kemudian dimakan ketika Ayano lebih memilih untuk menyelamatkan raja.
Sama seperti singa. Raja akan tetap berada di tempat selagi ratunya mencari mangsa bagi keluarga. Begitu pula dalam catur, ratu bisa melakukan apa pun. Bahkan, pergerakannya lebih bebas dari raja yang duduk dengan mempertahankan singgasananya.
Ketika ratu bergerak, saat itu pula raja lawan terjerat.
"Checkmate!"
Kaira tersenyum miring ketika mendengar sang pelatih mengucapkan kata itu. "Kak Ayano lalai dengan tujuan awalnya. Dia fokus untuk membunuh semua prajurit lawan tanpa memikirkan bagaimana caranya menangkap raja."
Merlin dan Agatha yang berada di sampingnya hanya mengangguk-angguk tanpa memahami ucapan Kaira yang mungkin, hanya dipahami oleh gadis itu sendiri.
"Wah, Kaira. Aku mendengarmu, apa kau sehebat itu hingga bisa memprediksi akhir hayatku?" Ayano, lelaki berdarah Jepang yang tinggal di Indonesia untuk pertukaran pelajar sewaktu SMA. Meski begitu, dia memilih untuk tinggal di sini setelah bertemu Kaira bermain catur.
Ayano dan Kaira berbeda 2 tahun. Ayano lulus 2 tahun lalu dan berkuliah di Indonesia. Dia pun tetap mengisi hari-harinya dengan bermain catur agar bisa mengalahkan Kaira yang bermain catur sejak kecil. Walau begitu, Ayano yang baru bermain di kelas 12, patut diacungi jempol karena hampir menyamai bakat pelatih dan juga Kaira.
Agatha, Merlin, dan Yemima adalah teman Ayano sewaktu di SMA. Meski begitu, ketika lulus mereka mulai menuju tujuannya masing-masing.
"Apa aku harus menjelaskannya?" Gadis berhijab berusia 18 tahun itu tertawa.
"Cukup. Gue lihat Kak Ayano sama pelatih main aja udah pusing. Apalagi denger Kaira berteori." Agatha mendengus malas.
"Lalu, jika kau berada di posisiku. Kau akan melakukan apa sedangkan pihak lawan memiliki prajurit vip mereka?" Ayano bertanya dengan seringaian.
Kaira menelengkan kepalanya. "Bahkan jika memungkinkan, dengan sendirinya mereka akan memberikan bidaknya padaku."
"Wah, jiwa politik sekali." Ayano tertawa.
"Pelatih kejar raja, kita pun harus kejar raja lawan. Selagi, lawan masih belum mengunci raja. Lagipula, strategi dapat berubah sewaktu-waktu. Strategi yang sama tidak dapat digunakan di satu waktu. Mengejar ratu lawan yang mengincar raja hanyalah pergerakan semu yang dapat menjatuhkan kerajaan sendiri." Kaira tersenyum penuh percaya diri.
Ayano yang mendengar itu juga tersenyum sembari mengangkat alis, kemudian tertawa.
"Kau mengerti sekarang, Ayano?" Pelatihnya yang baru saja melawan Ayano itu tersenyum tipis.
"Mengerti, pelatih," balas Ayano sembari membalas senyuman.
"Kaira," panggil pelatihnya yang bernama Mawar, wanita berhijab dengan senyum menawan di bibirnya.
"Assalamu'alaikum, Bu," Kaira memberi salam dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
Bu Mawar, wanita berhijab itu berdiri dari duduk dan membalas salaman Kaira sembari tersenyum. "Wa'alaikumussalam Warahmatullahhi Wabarakatuh. Ayo, kita makan-makan."
...-REVOLUSWEET-...
"Satu ... dua ..." Yemima menghitung beberapa barang untuk ia simpan ke dalam gudang.
Entah sejak kapan dia memutuskan untuk lebih memilih menginput benda-benda milik gedung yang berada di dalam gudang. Beberapa bulan ini, Yemima juga jarang terlihat bermain catur dan sibuk dengan barang-barang yang seharusnya tak perlu ia hitung terus-terusan. Yemima juga sering memperhatikan kebersihan ruang latihan. Dia bahkan rela datang waktu awal agar bisa membersihkan ruangan.
"Kak Yemim."
Yemima menjeda aktivitasnya. Dia menoleh menatap satu-satunya gadis berhijab selain pelatih yang berada beberapa jarak di belakangnya. "Apa?"
"Kak Yemim gak suka sama gue?" Kaira bertanya secara langsung. Karena ia tahu, gadis berusia 20 tahun yang Kaira ajak bicara, bukanlah orang yang mudah untuk diajak berbasa-basi. Sedangkan Kaira yang mudah beradaptasi dengan berbagai situasi, bisa mengimbanginya.
__ADS_1
Yemima diam sebentar, kemudian menjawab, "Biasa aja."
Nyatanya, semenjak Kaira datang kemari sewaktu gadis itu kelas 10, semuanya berubah. Bakat dan keahlian yang Yemima miliki seakan hanya sebuah serpihan debu ketika dibandingkan dengan kepiawaian Kaira dalam permainan catur. Baru kali ini, Yemima merasa ada orang yang begitu cepat menyusulnya. Tidak, lebih tepatnya, sejak lama, Yemima memang tidak ada apa-apanya.
"Tapi, kenapa Kak Yemim selalu menghindar kalau ada Kaira?"
Yemima menghela napas berat. Dia menatap Kaira yang juga menatapnya. "Buktinya, lo di sini pun gue biasa aja. Apa gue menghindari lo sekarang?"
Kaira menggeleng kecil. "Enggak sih, tapi 'kan gue ngerasa Kak Yemim—."
Gadis beranting dengan tanda salib itu menjawab angkuh, "Lo sadar 'kan kalau gue gak suka lo?"
"Hah?" Kaira sudah menduga. Gadis di depannya ini sangat sulit untuk diajak bicara baik-baik.
"Terus kenapa lo masih di depan gue?"
Kaira menggaruk tengkuknya. "Gue cuma ..."
"Walaupun lo gak ada di sini, gue tetap melampaui batasan gue biar bisa jadi pemain catur profesional. Ngerti?!"
Kaira diam sebentar. Mencerna ucapan Yemima yang menurutnya memiliki makna. Tak lama, Kaira yang paham akan hal itu, tertawa kecil. "Di agama gue, gak ada sebuah permusuhan. Tapi kalau bersaing, agama gue gak ada larangan. Gue anggap, ini sinyal kalau kita bersaing. Baik saat ini, atau pun nanti. Kita akan mempertaruhkan ego masing-masing ke depannya."
"Hm. Dan gue yang akan jadi pemenangnya." Yemima mengangguk, setelah itu ia memasukkan beberapa barang ke dalam gudang dan memilih untuk memasuki gedung.
Kaira hanya tertawa kecil. Akhirnya, kesalahpahaman yang terjadi selama hampir 3 tahun ini mulai terselesaikan. Namun, hal ini tidak berhenti begitu mudah. Bukan hanya Yemima yang menjadi lawannya, tetapi juga Ayano yang mulai menampakkan bakat dan juga melawan kedua pelatih.
Yah ...
Kaira harap, otaknya yang pas-pasan ini tidak rusak.
"Yemima dan Kaira tanding, gimana?"
Nama dari pemilik yang baru memasuki gedung itu disebut. Kedua empu saling menatap satu sama lain. Sedangkan beberapa teman klub nya ikut bersorak agar kedua gadis itu saling beradu catur.
"Saya keberatan." Yemima mengacungkan tangannya.
"Kenapa?" tanya Bu Mawar.
Yemima menatap Kaira yang terlihat bingung. Gadis itu kemudian memandang sang pelatih. "Saya berniat mengalahkan dia di pertandingan resmi dan untuk itu, sebelum saya benar-benar bertanding di pertandingan yang sesungguhnya, saya tidak akan pernah melawan Kaira di luar hal itu."
Bendera perang telah dikibarkan. Pukul 18.30 adalah waktu di mana mereka memproklamasikannya.
"Serius lo, Yem?" Merlin terkejut.
Meski Kaira agak terkejut akan sinyal persaingan yang diberikan secara terang-terangan, Kaira tetap membalas, "Saya setuju. Baik saya maupun Kak Yemima tidak ada paksaan dalam hal ini. Apa pun yang terjadi, saya juga berharap untuk tidak terlibat dengan Kak Yemima waktu berlatih."
Agatha menahan bahu gadis itu. "Ra? Lo yang bener aja!"
Sorak sorai mulai terdengar.
Ayano yang berada di ujung ruangan sembari membawa botol mineral yang ingin ia minum, mulai berdiri. Lelaki itu tertawa geli. "Hahaha. Ini akan jadi persaingan yang luar biasa. Kita lihat, siapa yang akan menjadi pemeran utamanya kali ini. Antara Kaira atau Yemima?"
Ayano mengangkat botol minumnya. Sembari menyeringai, Ayano menelengkan kepala. "Cheers?"
Mendengar dukungan dari pihak mana pun, Kaira dan Yemima hanya terkekeh.
Bu Mawar diam sembari menatap kedua gadis itu. Kemudian tersenyum tipis. Wanita itu menoleh ke arah suaminya yang juga menjadi pelatih di klub ini. "Kamu dukung siapa?"
Suami dari Bu Mawar hanya menjawab, "Aku dukung yang terlihat menjanjikan dan yang lebih menjanjikan itu ..."
...-REVOLUSWEET-...
__ADS_1