REVOLUSWEET

REVOLUSWEET
7. Punishment


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Kaira."


Kaira, gadis yang sedang mengikat tali sepatunya dengan berjongkok itu segera mendongak menatap seorang lelaki yang lagi-lagi berada di depannya. Jarak mereka sangat dekat hingga napas lelaki itu bisa Kaira rasakan. Sontak, gadis itu terjatuh ke belakang karena terkejut.


"Astaghfirullah. Lo ngapain ke sini?" Kaira berdesis. Dia melirik beberapa teman kelasnya yang melihat, kemudian beberapa dari mereka tertawa.


"Astaghfirullah, jawab salam gue kenapa sih?" Kafeel berjongkok tepat di depan Kaira.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahhi Wabarakatuh. Lo ngapain ke sini?" Kaira mengernyit, kemudian berdiri dan membersihkan beberapa bagian tubuhnya yang terkena pasir.


Saat ini, mereka berada di lapangan untuk praktik pelajaran olahraga. Mereka semua telah memakai baju olahraga.


"Waduh, dasar anak dajjal! Berani-beraninya lo deketin Kaira kayak gitu!" Disa, gadis yang berkuncir kuda itu melipat tangannya sembari berdiri di antara Kaira dan Kafeel.


"Jangan terlalu dekat sama Kaira! Gak bagus," ujar Mira sembari menarik Kaira sedikit mundur.


Kafeel tertawa sembari melirik Veina yang menatapnya tak suka. Lelaki itu menunjukkan buku yang ia bawa. "Iya enggak. Gue ke sini cuma mau kasih buku latihan aja."


"Sekarang? Di waktu pelajaran? Emang sekolah lo gak ada pelajaran?" tanya Disa sewot.


"Ya ada lah. Masa engga, 'kan gue ada urusan, jadi izin sebentar."


"Dan itu dibolehin?" Mira mengernyit. Pasalnya, Kafeel itu kelas 12 sama seperti mereka. Mengajar sekolah lain bukanlah hal yang diperbolehkan karena dapat mengganggu tingkat fokus para siswa.


"Boleh lah."


"Lo senakal apa sih di sekolah?" Disa bertanya kesal.


"Gue ..." Kafeel menjeda ucapannya, "Gue bukan cowok nakal."


"Terus?" Mira mengangkat alis.


"Cuma agak sinting aja," balasnya, sembari tertawa.


"Itu malah lebih!" Mira berdesis malas.


"Pergi sana! Habis ini guru gue datang!" pinta Kaira.


Kafeel mengangkat alis, menatap Kaira yang berada di belakang teman-temannya. "Biarin."


"Kafeel!"


"Iya, Kaira."


"Mboh lah!" Kaira menarik Veina menuju sudut lapangan untuk berbaris absen. Disa dan Mira juga mengikutinya. Sedangkan Kafeel hanya duduk di dekat tangga koridor.


Informasi dari Kamal, sang ketua kelas yang katanya guru olahraga mereka ada rapat mendadak, maka dari itu mereka diminta untuk praktik beberapa macam olahraga dan mengambil alat-alatnya di dalam gudang.


Kaira, Mira, Disa, dan Veina mencari beberapa benda yang mereka bisa. Kaira yang memang berstatus sebagai atlet pun hanya bertanya tentang bakatnya, "Catur gak ada apa, ya?"


"Gak ada yang bisa lawan lo, Kai. Nyerah aja." Mira menolak garis keras.


"Voli mau gak?" tanya Disa.


"Gue gak bisa."


"Basket?"


"Gue juga gak bisa."


"Kasti?"


"Gak enak cuma empat orang."


"Terus mau lo apa, sih?!"


"Gue bisanya selain catur itu ..." Kaira menghela napas. "... bulu tangkis."


"Ya udah, buiu tangkis aja," balas Veina.


"Tapi, di depan ada Kafeel. Males banget gue, dikira nanti gue caper," balas Kaira dengan nada kesal.


"Halah tuh orang! Daripada kita gak dapat nilai, mending main yang bisa aja," ujar Disa.


Mira menepuk bahu Kaira. "Gampang, nanti kita yang urus Kafeel."

__ADS_1


"Gue habis ini balik, palingan sepuluh menitan," kata Kafeel sembari mengirim pesan obrolan kepada teman-temannya.


Duduk di bawah pohon yang rindang, dengan satu buku yang ia bawa. Lelaki itu mendongak, menatap Kaira yang keluar dari salah satu ruangan sembari membawa raket dan juga shuttlecock. Agak jauh dari tempatnya, keempat serangkai itu mencari posisinya masing-masing. Kaira melawan Disa, sedangkan Veina bersama Mira.


"Curang lo! Tiba-tiba aja main pukul pas anginnya kenceng!" kata Kaira sembari mengambil kok nya terbang.


"Alah, bilang aja lo bisanya nyiksa otak pake catur doang, 'kan?" Disa tertawa.


Kafeel terkekeh kecil di tempat. Dia berjalan menghampiri Kaira yang terlihat beradu argumen dengan Disa yang menggodanya. "Ini bukan masalah angin, tapi tangan lo yang kurang nyaman waktu pegang grip nya."


Kaira menoleh ke belakang, menatap Kafeel yang berdiri agak jauh darinya. Lelaki itu mengulurkan tangan, seakan ingin menyentuh Kaira. Dengan cepat gadis itu menjauhkan tangannya. "Jangan pegang gue!"


"Enggak, Kai. Lihat tangan gue!" Kafeel tertawa. Lelaki itu menunjukkan posisi bagaimana cara untuk memegang raket yang benar. "Ini namanya forehand grip, hal dasar waktu main bulu tangkis. Harusnya semua orang tahu. Yah, pada dasarnya lo cuma main-main aja, jadi ya gapapa kalau gak tahu."


Merasa diremehkan, Kaira mendengus malas. "Gue jagonya catur. Gak pakai banyak tenaga."


Kafeel yang mendengarnya tertawa lirih. "Dih, riya'! Gak boleh tuh. Takabur, Istighfar, Kai."


"Astaghfirullah. Iya enggak."


"Lo harus fokus lihat arah kok-nya mau kemana. jangan peduliin anginnya. Mau kenceng atau lambat." Tak mendapat balasan dari Kaira, Kafeel mengangguk kecil. "Coba aja."


"Hm." Kaira tak lagi menghiraukan Kafeel. Dia melanjutkan permainannya dengan Disa.


Kafeel menatap sekitar. Melihat Kamal yang sedang menatapnya tajam. Kalau dipikir-pikir, sejak kapan Kamal memandangnya seperti itu? Menyalurkan emosi, Kafeel hanya tersenyum miring. Dia berlari menghampiri Kamal tanpa memedulikan tatapan membunuh yang seakan menusuknya.


Kafeel memberikan sebuah buku, tanpa basa-basi dia berkata, "Walaupun lo udah mantan kapten ekstra bulu tangkis, dikarenakan gue gak tau murid-murid gue ada di mana kelasnya, jadi gue nitip ke lo. Gue balik."


Kafeel berlari menjauh dari lapangan. Sampai di sisi lapangan, Kafeel berteriak, "Kai, gue pergi dulu. Assalamu'alaikum."


Tanpa menoleh pada Kafeel dan hanya berfokus memukul kok, Kaira pun menjawab, "Wa'alaikumussalam Warahmatullahhi Wabarakatuh."


...-REVOLUSWEET-...


Berdiri di bawah terik matahari bukanlah tujuan Kafeel. Namun sayangnya, dia justru dihukum karena dianggap berbohong tentang mengambil buku yang tertinggal. Padahal, dia memang berbohong.


Kafeel datang sewaktu jam istirahat berbunyi, di saat itu pula dia diminta untuk berdiri di depan tiang bendera sembari memberikan penghormatan hingga jam istirahat berakhir. Meskipun dia sudah menjual namanya dan bakat yang ia punya kepada guru BK, tetap saja gurunya tak terpengaruh.


Saat ini, dia dijadikan tontonan para murid di sekolahnya. Ada yang memotrait dan juga ada yang menyebar rumor tentangnya. Kafeel bisa melihat ketiga temannya yang duduk di depan sebuah kelas sembari memakan camilan tanpa dibagikan padanya. Yah, ia akui. Ini memang salahnya sendiri. Meminta Ivan, Raka, dan Damar untuk berbohong kepada guru mereka yang pada akhirnya, ketiga temannya berkata jujur.


"Dibilang kasihan, dia nyebelin." Ivan menggeleng malas.


Bulir air dari dahinya jatuh hingga ke leher. Matahari yang begitu terik merasa membakar tubuhnya. Hawa panas yang dipancarkan, mengeringkan tenggorokan yang membutuhkan setetes air. Sungguh Kafeel haus. Meski begitu, dia hanya bisa meneguk salivanya sendiri.


"Ka-Kafeel."


Irisnya bergerak. Menatap seorang gadis berhijab yang menghampiri sembari membawa sebotol air. Teman sekelasnya, Tina. "Lo haus? Gue bawa air."


Kafeel diam sebentar. Memandang botol dengan isi air yang terlihat mengkilap di matanya. Lelaki itu mulai mengulurkan tangannya. "Gue sebenarnya gak mau, tapi gue terima karena terpaksa."


Kafeel menerima pemberian darinya dan itu adalah suatu hal yang begitu langka baginya. Di saat ada banyak gadis yang memberi sesuatu, Kafeel selalu menolak. Saat ini, untuk pertama kalinya sejarah diubah.


"Cie cie."


"Langsung aja tembak!"


"Gas, Tin."


Kafeel yang berjongkok sembari minum itu menjauhkan bibirnya dari botol, menatap beberapa murid yang berada di lantai dua sembari bersorak. Apa maksudnya? Jangan-jangan ...


"Kafeel, gue ... mau ngomong sesuatu."


Kafeel diam sebentar. Dia berdiri di depan Tina yang terlihat gugup. Lelaki itu mulai bertanya, "Lo suka gue?"


Tina diam.


"Tapi gue gak suka lo." Kafeel mulai menunjukkan sifat aslinya.


Dia akan terang-terangan jika tidak menyukai seseorang. Lelaki itu sebenarnya sangat baik, tapi tidak untuk sebuah perasaan yang diberikan padanya. Menurut Kafeel, sebuah rasa tidak pantas untuk dimainkan. Jika dia membalas dengan keraguan, perasaan orang lain yang akan dipertaruhkan.


Mendengar pertanyaan dan jawaban yang diberikan Kafeel sendiri, membuat Tina meneguk saliva. Bagian tubuh sebelah kirinya, lebih tepatnya yang berada di inti hati terasa seperi diremas. Jawaban itu bukanlah hal yang diinginkan Tina. Namun, itu adalah sebuah pernyataan baginya.


Untuk menyembunyikan rasa sakitnya, Tina tertawa. "Geer banget lo, Feel. Gue cuma mau bilang tuh botol belum gue bayar. Jangan lupa bayar ke kantin! Bye, hahahaha!"


Gadis itu berlari sembari tertawa kecil. Tertawa melihat nasibnya kali ini. Lagi dan lagi.

__ADS_1


"Yah, lebih baik kayak gini." Kafeel kembali berjongkok dan meminum sisa botol airnya. "Gak ada yang bisa menandingi Kaira dalam hal apa pun."


Hanya satu lemparan, botol itu masuk ke dalam tong sampah. Kafeel menggeleng heran. "Astaghfirullah. Masya Allah, biar gak kena 'ain."


Setelah melihat penolakan Kafeel yang dapat mematahkan mental lawan jenisnya, Ivan berujar, "Tuh orang enaknya diapain ya biar bisa sadar?"


"Cinta emang buta, Van," kata Damar.


"Biarin aja, selagi dia tahu batasan." Raka hanya mengangguk kecil.


"Dia udah gak ngotak. Bisa-bisanya bolos pelajaran alasannya cuma mau ke sekolah Kaira."


Mendengar pernyataan Ivan, Raka hanya berkata, "Hush! Dia ke sana kan mau ngasih buku latihan."


"Halah, itu cuma alasan buat nutupin alasan aslinya!"


"Lo kenapa sih, Van?! Sensitif bener kalau Kafeel ada urusan sama Kaira. Lo suka ya sama Kaira?"


"Lo kira, gue suka sama cewek begituan?" Ivan yang berada di samping Damar, mengangkat alis.


"Maksud lo cewek begituan, apa?! Kalau ngomong hati-hati, Van! lo ngomong kayak gitu seakan Kaira cewek murahan!" Raka sedikit meninggikan nadanya. Damar yang berada di tengah-tengah mereka hanya mendengus malas karena keduanya yang mulai beradu argumen.


"Gue gak suka cara dia nolak Kafeel apalagi sampai pernah caci maki. Gue juga tahu, cewek mana yang harusnya cocok sama Kafeel."


"Cewek kayak Tina, yang lo maksud?"


"Ya gak juga," ucap Ivan ragu.


"Itu urusan pribadi Kaira sama Kafeel. Sedangkan yang lo maksud itu, beberapa tahun lalu waktu Kafeel bilang suka ke Kaira. Alasan kenapa Kaira pernah caci maki, palingan karena dia juga kaget ada cowok yang pertama kali dia lihat tiba-tiba bilang suka sama dia. Lo kalau ditembak sama cewek yang gak lo kenal dan gak lo suka, apa yang bakalan lo bilang?"


"Untuk tipe cowok kayak lo, pasti jawabannya lebih mentah-mentah." Tercetak jelas senyum sinis yang diberikan oleh Raka akan pernyataannya. "Lihat aja sekarang mereka. Biasa aja 'kan? Kaira palingan cuma menghindar biar gak terlalu dekat sama cowok. Itu aja. Gak ada yang salah sama responnya."


"Tetap aja! Gue gak suka cewek kayak dia. Kelihatannya polos, tapi nyatanya suka narik perhatian cowok lain." Ivan tetap dalam presepsinya


"Maksud lo?! Si Haqi temen abangnya Kaira sama Kamal temen sekolahnya, itu?" Raka mengangkat alis, ia pun melanjutkan, "Kafeel sama Kaira gak ada hubungan apa-apa. Bahkan kalau pun ada, suka sama orang yang udah punya hubungan itu gak salah, 'kan? Yang salah itu, ketika lo pacaran sama bini orang atau sama pacar orang!"


"Van, gak usah mikir yang aneh-aneh!" Damar menepuk bahu Ivan. "Gue bakalan bicarain baik-baik sama Kafeel nanti."


"Noh, dia kayaknya udah selesai!" Ivan menunjuk Kafeel yang berjalan menjauh dari lapangan setelah bel masuk berbunyi.


"Hah! Wajah gue gelap banget." Kafeel mengusap wajahnya yang berkeringat, kemudian memasuki kelasnya untuk mengambil sabun cuci muka dan keluar dari sana untuk menuju tempat wastafel yang berada di luar kelas. "Gue mau cuci muka."


Lelaki itu mulai meratakan sabun dan membersihkannya. Kemudian, dengan nada bercandanya, Kafeel menunjuk kemasan sabunnya dan berkata, "Nih pakai Kahf. Cocok untuk kulit berminyak dan ..."


"Pala lo! Gak usah iklan, lo gak dibayar!" Sontak, Ivan memukul pelan kepala Kafeel yang membuat lelaki itu mendengus malas.


"Feel." Damar memanggil.


"Hm?"


"Bukannya lo udah keterlaluan, ya?!" tanya Damar sedikit tak enak.


"Keterlaluan apa?" Kafeel melirik Damar yang berada di sampingnya. Agak kesal karena ketiganya tak memedulikan Kafeel yang berdiri panas-panasan di tengah sana.


"Soal ini."


Kafeel masih tak mengerti. "Maksudnya?"


"Lo banyak basa-basi! Sini, gue yang ngomong." Ivan menarik bahu Damar, menggantikan posisinya agar berada di dekat Kafeel. "Jangan nuruti obsesi lo ke Kaira, Feel. Lo bahkan gak dianggap sama dia, buat apa lo terus-terusan ngejar Kaira kalau pada akhirnya punya hasil yang sama?"


"Hadeh, Ivan." Raka menggeleng malas. Ucapannya yang satu ini, pasti tidak akan dimaafkan oleh Kafeel. Lihat saja! Setelah ini, mereka akan mendapatkan tontonan gratis.


Tangan Kafeel terkepal. Salivanya ia teguk sendiri agar bisa menahan emosinya. Dia menatap Ivan garang. "Jangan anggap perasaan gue ini sebagai obsesi! Gue udah tahan dari lama karena lo temen gue! Seenggaknya jaga omongan lo! Gue suka Kaira karena gue tulus. Gak ada alasan lain buat Kaira!"


"Tapi nyatanya emang gitu 'kan, Feel?! Lo sadar gak?!" Bukannya mundur karena hawa Kafeel yang berbeda, Ivan justru lebih memprovokasi.


Seperti yang diduga Raka, Kafeel tanpa segan memberikan pukulan langsung pada Ivan yang memanas-manasinya. Beberapa murid yang berada di kelas, keluar untuk melerai dan beberapa dari mereka hanya menonton. "Bangsat lo, Van! Gue gak butuh omongan lo yang gak ada mutunya itu!"


"Istighfar, Feel." Damar menarik bahu Kafeel agar menjauh dari Ivan dan dibantu oleh beberapa lelaki di kelasnya. Merasa bahwa Raka hanya memandang tanpa berbuat apa pun, Damar berteriak, "Bantuin gue, Rak!"


"Ogah. Biarin aja pukul tuh bocah. Udah gue bilangin berkali-kali jangan ngomong tentang ini ke Kafeel Tetep aja," balas Raka malas. Lelaki itu lebih memilih memasuki kelas dan meninggalkan ketiga temannya.


Ivan yang berada beberapa langkah di depannya hanya diam tanpa membalas pukulan dari Kafeel. "Gue gak tahu kenapa lo segininya sama Kaira, tapi gue harap lo bisa atur obsesi lo."


"Diem! lo ngomong sekali lagi, habis lo sama gue!" Kafeel menggertakkan giginya. Dia menunjuk Ivan sembari mencoba menerobos orang-orang yang menahannya.

__ADS_1


Tina, gadis yang baru ditolak Kafeel tanpa bisa menyatakan itu hanya mendengus malas. "Lagi-lagi Kaira."


...-REVOLUSWEET-...


__ADS_2