
"Prestasi di bidang non akademik. Mewakili Indonesia dalam pertandingan Catur di Bangkok, Thailand. Meraih juara kedua. Selamat untuk Kaira Alfaresh dari kelas 12 Teknik Gambar Bangunan satu."
Gadis berpakaian seragam putih abu-abu panjang dan kerudung yang ditutupi oleh topi di atas kepalanya, dengan nama Kaira Alfaresh itu berjalan keluar dari barisan upacara untuk menuju ke depan bersama dengan beberapa murid yang telah dipanggil karena prestasinya. Pemenang prestasi yang dipanggil, didominasi oleh laki-laki. Karena Kaira bersekolah di SMK atau STM dengan jurusan yang banyak dipilih oleh laki-laki.
Di SMK Rimba Karya ini memiliki 6 jurusan, yakni; Multimedia (MM), Teknik Per-Mesinan (TPM), Teknik Kendaran Ringan (TKR), Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL), Teknik Gambar Bangunan (TGB), dan Teknik Audio Video (TAV). Sedangkan Kaira sendiri memilih Teknik Gambar Bangunan sebagai jurusan yang dia ambil.
Wajah dengan kulit langsat, terpapar indah oleh Sinar Mentari pagi. Walau begitu, secerah apa pun dirinya, tak akan pernah menolong parasnya yang terlihat biasa atau mungkin, bisa dikatakan, jelek?
Kaira sadar betul.
Namun, adanya bakat Catur yang dia miliki sejak kecil, Kaira memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Bukan berarti, Kaira tak ada yang menyukai. Semua orang menyukai sikapnya, walau dia tak terlalu pintar dalam urusan akademik. Selain Baihaqi, salah satu orang di barisan tersebut, yaitu: lelaki yang kini menatapnya di barisan kelas. Sesekali lelaki itu tersenyum malu-malu kala teman-temannya yang memanggil nama Kaira untuk dijodohkan dengan lelaki itu.
Namanya Kamal, ketua kelasnya.
Sayangnya, Kaira tak memiliki perasaan lebih kepadanya.
Kaira berdiri di samping beberapa lelaki yang memenangkan lomba jurusan, bukan sepertinya yang non akademik. Tepukan diberikan untuknya. Apalagi, Kaira menjadi perwakilan Indonesia yang lolos sampai tahap itu. Bahkan, Presiden juga memberinya sanjungan.
Topi upacara para pemenang prestasi diperintahkan untuk dilepas, agar wajah mereka terlihat saat berfoto. Murid yang memenangkan prestasi, diberikan sebuah piala untuk masing-masing. Kaira pun tak lupa diberi piala. Pialanya berbeda. Piala milik Kaira bermotif layaknya catur. Hitam dan putih. Bukan seperti yang lainnya dengan cat emas.
Kaira tersenyum memperlihatkan lesung pipinya untuk berfoto bersama. Salah satu kelebihan yang Kaira sukai.
Setelah selesai memotrait, Kaira bersalaman dengan beberapa guru. Salah satu guru menahannya dan memintanya, "Kaira, habis upacara kamu ke kantor kepala sekolah, ya."
...-REVOLUSWEET-...
Seluruh murid kelas 12 TGB-1 menunggu guru untuk datang setelah pergantian pelajaran. Sudah 15 menit guru itu belum datang yang katanya, guru itu sedang tidak masuk. Namun, mereka tetap diberi tugas lewat ponsel dan dalam waktu 15 menit ini, mereka gunakan untuk jam kosong tanpa digunakan untuk membahas pelajaran.
Lagipula, 20 menit lagi mereka akan istirahat.
__ADS_1
"Gue tadi makan tempe, tapi kenapa rasanya kayak kedelai, ya?" Gadis bernama Disa itu membuka suara di keheningan bangku mereka. Saat ini, keempat gadis yang tengah bergerombol di bangku yang telah mereka tata itu bermain ponsel yang membuat kebosanan dengan cepat menghinggapi mereka.
"Ya 'kan tempe emang dari kedelai ..." Mira melirik sinis dan menunjukkan kepalan tangannya. "Gue pukul juga lo."
Hanya satu gadis yang tak bermain ponsel, gadis itu justru menggambar pemandangan di halaman salah satu bukunya. Merasa risih dengan ucapan rekannya, gadis bernama Veina itu menghela napas dan menggeleng pelan. "Gak lucu."
"Oh, gue baru tahu rasanya tempe goreng di warung Mak Ci." Gadis yang rambutnya diikat asal itu mengangkat bahunya tak tahu.
"Lo tiga tahun di sini ngapain aja, hah?" Mira, pemudi berpakaian seragam dan juga kerudung dengan kesabarannya setipis tisu itu berteriak kesal.
Kaira yang sedari tadi tertawa ikut berceletuk, "Enggak-Enggak. Pertanyaan gue, lo hidup selama delapan belas tahun, makan tempe gak pernah. Itu maksudnya gimana?"
"Ya 'kan emang gak pernah. Terus gimana dong?"
Mira memberikan tatapan ke arah Kaira, kemudian berkata, "Kita bunuh aja gimana?"
"Boleh. Lo tarik kakinya, gue tangannya," kata Kaira dengan tertawa geli.
"Apresiasi apaan? Apresiasi habis makan tempe? Idih, kalo mau diapresiasi itu kayak Kaira sama Veina, punya bakat. Nah lo? Bakat apa? Makan tempe?" Mira membalas dengan banyak pernyataan dibalut pertanyaan yang menampar telak gadis bernama Disa itu.
"Bodo amat, pokoknya gue punya duit. Gue punya duit, aman deh." Disa membalas enteng. Gadis pemuja duit itu tidak habis-habisnya membela diri sendiri.
"Bisa nangis ibu pertiwi dengernya." Kaira melirik temannya agak sinis. Tak lupa pula diselingi tawa yang memang mereka hanya bercanda walau tentang Disa yang baru pertama kali memakan tempe itu sebuah kenyataan.
"Tadi ..." Veina mengalihkan pandangan teman-temannya untuk menatapnya. Meletakkan pensil yang ia pakai, kemudian melihat Kaira yang juga menatapnya. "Lo ngapain ke kantor kepsek?"
Kaira pikir, tidak ada orang yang ingat dengan perginya Kaira ke kantor kepala sekolah. Ternyata Kaira salah. Gadis itu menggaruk jidatnya, lalu menjawab, "Gue ditawari kuliah ke Luar Negeri, tepatnya di Jepang."
"Nani?" (Apa?)
"Seriusan?"
__ADS_1
"Beasiswa?"
Disa, Mira, dan juga Veina terlihat terkejut dan juga membalas dengan nada masing-masing.
Kaira terkekeh kecil dan juga menggaruk tengkuknya canggung. "Iya."
"Terus lo terima?" Mira bertanya.
"Gue minta mikir-mikir dulu."
"Kenapa gak langsung lo iyain aja? Enak 'kan, lo dapat beasiswa di Jepang." Kali ini, Disa yang bertanya.
Mira mengangguk menyetujui. "Iya. Daripada kayak kami yang ga mungkin ditawari karena gak punya bakat, mendingan lo terima aja deh tawaran itu."
"Gak segampang itu. Kaira pasti pilih yang terbaik buat dirinya sendiri." Veina mulai mengangkat suaranya karena merasa bahwa Kaira ditekan oleh teman-temannya.
"Iya juga sih. Dia ke Luar Negeri, tapi orang tuanya di sini. Jauh dari orang tua," ujar Mira.
"Halah gampang. Kalau gak ke Jepang, Kaira bisa kuliah di Dalam Negeri. Jepang aja nawarin, apalagi Univ lokal."
"Belum ada sih kalau yang lokal." Kaira membalas ucapan Disa dengan tawa kecil.
Masih tak kapok, Disa menjentikkan jarinya. Lalu berkata, "Gampang, Kaira bisa datengin setiap Universitas Negeri Terbaik terus tunjukkan hasil prestasi lo, pasti bakalan diterima."
Veina, gadis dengan rambut yang dikuncir asal-asalan itu mengetuk pensilnya di atas buku. Menciptakan nada aneh pada iramanya. Gadis itu mulai melihat Disa, Mira, dan Kaira secara bergantian. "Intinya, dukung yang terbaik buat Kaira. Kita gak tahu ke depannya kayak gimana. Allah punya rencananya sendiri untuk Hamba-Nya."
Kaira hanya tersenyum tipis dan dibalut rasa sukar pada hatinya. Meski begitu, apa yang diucapkan Veina ada benarnya. Kaira tidak sepatutnya khawatir akan masa depannya.
Karena Allah lebih tahu apa yang diinginkan Hamba-Nya.
...-REVOLUSWEET-...
__ADS_1