REVOLUSWEET

REVOLUSWEET
5. Sinyal Persaingan (I)


__ADS_3

"Ini resep baru Abi." Abinya, yang bernama Razak itu mulai mendudukkan Kafeel di gazebo belakang rumah. Dengan membawa sebuah kue untuk ia jejalkan pada Kafeel. "Cobalah!"


Kafeel menatap Razak beberapa detik, kemudian menunduk menatap kue yang disajikan untuknya. Tanpa berbicara apa pun, dia membaca basmalah dan memakannya. Lelaki itu mengangguk untuk merespon lidahnya yang merasakan rasa seenak ini. "Enak, seperti biasa.'


Razak menarik napas dalam-dalam dan mulai berkata, "Ceritakan, sedetailnya!"


Kafeel mulai meletakkan piring di atas lantai gazebo, dia menceritakan dari awal bertemu David dan berakhir dengan angkringan Kairav yang hancur.


Razak meletakkan tangannya di dagu sembari otaknya mengilustrasikan apa yang terjadi. "Gimana dia bisa ketemu kamu? Kita udah pindah dari kota sebelumnya, ke sini. Apa dia sengaja cari kamu?"


"Bisa jadi, tapi ... aku harus gimana, Bi? Kalau aku gak ngelawan, aku akan terus jadi korban," balas Kafeel dengan penuh kecemasan.


"Cukup, Feel. Jangan ikut-ikut semua itu, ini urusan Abi."


Benar, sebelumnya Kafeel pernah berjanji pada kedua orang tuanya agar tidak kembali berhubungan dengan David dan masa lalunya. Namun, setelah Kafeel lari dari masa lalu dan kini David justru menghampirinya di hari ini, apa yang terjadi setelah ini? Akankah ia kembali lari dan menghindari David?


Kafeel menatap ayahnya dengan kebingungan. "Tapi, David kayak gitu karena salah Kafeel. Kafeel—."


"Ini bukan salah kamu, paham!"


"Mau bagaimana pun cara Kafeel ngelak, kenyataannya itu salah Kafeel, Bi. Makanya Kafeel gak suka Kalingga main bulu tangkis!" Kafeel berkata dengan sedikit meninggikan nadanya.


Kakinya yang melangkah di atas rerumputan, terhenti seketika. Melihat Ayah dan adiknya yang membicarakan masalah terkait lelaki yang datang ke angkringannya. Kairav mengernyit heran. "Kenapa Kalingga?"


"Gue?" Kalingga yang berada di dalam rumah, lebih tepatnya di dapur yang lebih dekat dengan gazebo belakang rumah.


"Kairav, Kalingga?" beo ayahnya.


"Apa ini masalah serius sampai Abi harus turun tangan?" Kairav menghampiri mereka.


"Argh! Sial!" Kafeel mengacak rambutnya frustasi. Kemudian pergi dari sana dan melewati Kairav, termasuk juga Kalingga.


"Kenapa gue harus disebut-sebut di masalah lo?" Sesaat, ketika Kafeel ingin melewatinya, Kalingga memberikan pertanyaan dengan nada yang terdengar memuakkan di telinga Kafeel.


Kafeel menoleh. Menatap sang adik dengan tatapan yang tak bisa ditafsirkan. Kalingga yang dilihat seperti itu pun hanya diam. Dia meneguk saliva. Untuk kali pertama, Kalingga bisa melihat kebencian, putus asa, dan juga kesedihan di mata Kafeel. Apa itu untuknya?


...-REVOLUSWEET-...


"Assalamu'alaikum, Kai."


Kaira menutup matanya dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak? lelaki yang tak Kaira inginkan wujudnya itu tiba-tiba berada di depannya. Sontak saja Kaira mundur seketika. "Wa'alaikumussalam Warahmatullahhi Wabarakatuh."


Kafeel tersenyum menanggapinya. Dari senyum itu, Kaira melihat sebuah luka berwarna ungu kemerahan di sudut bibir lelaki itu. Apa itu luka? Luka itu berasal dari mana? Apa lelaki itu bertengkar dengan seseorang? Kalau memang benar, berarti sifat buruk lelaki itu mulai terlihat yang bisa menjadi alasan untuk Kaira menjauh darinya.


"Ngapain lo lihat bibir gue kayak gitu?" Kafeel menutupi ujung bibirnya. Pasti, luka ini membuat atensi Kaira padanya. Agar tidak membahas hal ini, Kafeel justru memberi candaan padanya. Ia menyeringai. "Jangan-jangan ...."


"Apasih, enggak!" Kaira mendengus kesal.

__ADS_1


Melihat itu, Kafeel tertawa. "Astaghfirullah Kaira. Gue gak tahu lo semesum itu."


"Kafeel!"


"Iya, Kaira."


Mereka berhenti sejenak agar menghilangkan kecanggungan, setelah itu Kafeel mulai bertanya, "Lo mau pulang?"


"Lo nanya?" tanyanya dengan nada kesal.


"Untung lo gak bilang, kamu nanyea? Bisa-bisa gue sebel dengernya."


"Hm."


"Kai, lo ga lihat gue ngajarin?" Kafeel bertanya.


Sedangkan Kaira mengangkat alis. "Lo pikir, gue gak ada kerjaan? Gue lihat lo di sini aja udah muak, apalagi lihat lo jadi pelatih?"


"Gitu amat sama gue. Harusnya—."


"Kafeel." Kaira mencoba menyelaraskan napasnya. Dia menatap Kafeel dan mulai berpamitan, "Gue balik, Assalamu'alaikum."


Senyumnya mulai redup. Matanya yang sayu menatap punggung gadis itu yang keluar dari halaman sekolah dengan berlari. "Wa'alaikumussalam, hati-hati."


"Hah! Gak usah sedih-sedih. Udah biasa gue diginiin, kenapa sedihnya baru sekarang?" Kafeel menggeleng kecil. Apa karena kembalinya David juga membuka luka lama pada hatinya? Maka dari itu, perilaku dan kebiasaan Kaira padanya juga dengan mudah menghancurkan hatinya?


"Assalamu'alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh." Kafeel memberi salam. Menatap beberapa adik kelas yang berada di depannya. Tapi tunggu, kenapa terlihat ada banyak orang? Padahal di daftar hanya ada 10 orang dan di depannya ini ada lebih dari 10 orang.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahhi Wabarakatuh."


"Perkenalkan nama gue Kafeel Pasha. Kelas 12 di SMA Widya Madya. Gue di sini untuk jadi pelatih kalian sekaligus berbagi ilmu yang gue punya selama ini. Dan gue gak mau banyak basa-basi. Hari ini, kita latihan. Ada yang mau tanding sama gue buat referensi kalian?"


"Gue kak."


"Gue."


"Aku."


"Ini yang cewek cewek udah daftar apa belum?" tanya Kafeel heran. Dikarenakan daftarnya hanya memiliki 2 orang gadis di ekstra bulu tangkis, Kafeel merasa bahwa gadis-gadis di sana hanya ingin ikut-ikut saja.


"Belum."


"Terus kenapa ada di sini?"


"Pendaftarannya udah tutup, Kak."


"Untuk yang belum daftar, jangan ikut ekstra dulu. Dikarenakan gak ada nama kalian di sini, jadi gue gak mau ngajarin kalian yang gak taat aturan. Aturan tetaplah aturan!"

__ADS_1


"Yah ... kok gitu!"


"Gue mau daftar, tapi udah tutup."


"Sebagai gantinya, kalian bisa di sini untuk melihat ekstra kulikulernya. Dan orang luar yang tidak ada kaitannya dengan ekstra bulu tangkis, silakan menyingkir karena gue cuma ada urusan sama pemain bulu tangkis aja."


Setelah beberapa gadis itu menyingkir, Kafeel mulai memberikan atensi kepada murid aslinya. "Dan buat kalian! Ada yang mau tanding sama gue?"


"Apa gak dikasih pengarahan dulu, Bang?" tanya salah satu lelaki.


"Gue anggap gak ada, ya?" Tanpa pikir panjang dan tanpa membalas pertanyaan lelaki itu, Kafeel mulai melatih fisik dan juga mental mereka. "Kalau gitu, gue yang nunjuk."


Sebagai murid, mereka bingung dan juga takut kalah ketika bermain bersama Kafeel. Pasalnya, lelaki itu salah satu Ace di tingkat provinsi.


"Gue aja gimana?" Suara yang berasal dari arah pintu mengalihkan atensi mereka. Kamal, Ketua Kelas TGB-1 yang sekelas dengan Kaira dan juga mantan pemain bulu tangkis di SMK ini.


"Boleh," balas Kafeel singkat. Keduanya mulai berjalan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaian.


Beberapa murid tampak heboh. Mereka tak mengira bahwa Kamal dan Kafeel akan bermain bersama. Pasalnya, kedua lelaki itu sama-sama menyukai gadis yang sama. Itu bukan hal baru bagi Kafeel di sini. Sekolah ini layaknya rumah bagi Kafeel hingga beberapa murid ia kenal. Kamal juga termasuk pemain yang cukup bagus di sini, meski dilihat dari pencapaian, Kamal kalah dalam di perempat final.


"Ini mah namanya adu visual bukan bakat," celetuk salah satu siswi.


"Ini mah rebutan cewek, bukan tanding bulu tangkis.'"


"Lo ... deket sama Kaira?" tanya Kamal iseng sembari mengambil pakaiannya di dalam laci.


Di sebrang sana, ada Kafeel yang juga melakukan hak yang sama. Mereka saling membelakangi tubuh masing-masing.


"Kenapa lo nanya gitu? Lo naksir sama Kaira?' Tanpa bertanya pun, Kafeel sebenarnya tahu tentang Kamal.


"Iya."


Kafeel tertawa. "Terlalu blak blakan ya lo. Emangnya, dia tertarik sama lo?"


"Gue gak tahu. Cuma, gue suka cara dia main catur waktu ditantang sama guru atau beberapa orang. Kesan dia yang kelihatan manis, jadi berubah waktu main catur."


Kafeel diam sebentar. Lelaki itu melepas kaosnya dan mengganti dengan kaos Jersey kebanggaannya. Kamal juga melakukan hal yang sama, setelah itu ia menoleh menatap Kafeel yang membelakanginya.


"Jangan terlalu dekat sama dia. Lo kelihatan bahaya buat Kaira." Kamal berjalan keluar.


"Maksud lo?"


Kamal menatapnya sejenak, kemudian meneruskan langkahnya, "Mungkin lo lebih tahu dari gue."


Setelah itu, keheningan dan kesendirian Kafeel pun terjadi.


...-REVOLUSWEET-...

__ADS_1


__ADS_2