REVOLUSWEET

REVOLUSWEET
2 • Proposal


__ADS_3

Setelah beristirahat dan juga membeli beberapa makanan, Kaira memutuskan untuk datang ke musholla sekolah yang terletak di ujung depan bagian sekolah untuk melaksanakan Sholat Sunnah Dhuha. Biasanya, Kaira dan teman-temannya Sholat Dhuha, terkecuali Disa yang memang non-muslim. Namun, karena Veina yang justru diminta untuk ke ruang guru karena dipanggil untuk bertemu dengan kakaknya. Sedangkan, Mira tidak ikut karena terlalu kekenyangan. Pada akhirnya, Kaira kemari dengan sendirinya.


Lagipula, 10 menit lagi bel masuk akan berbunyi.


"Assalamu'alaikum, Ra."


Kaira menghentikan aktivitas mengikat tali sepatunya, memilih mendongak menatap seorang lelaki yang berada di depannya seakan sengaja agar Kaira tidak terpapar sinar mentari saat melihatnya. Lelaki itu Kamal, Ketua kelasnya.


"Wa'alaikumussalam, Mal." Kaira cepat-cepat mengikat tali sepatu dan berdiri untuk berhadapan dengan Kamal.


"Selamat ya buat pertandingan lo," ucap lelaki yang memiliki bulu mata lentik itu.


"Thanks, Mal." Kaira mengangguk kecil.


"Habis Sholat Dhuha?" tanya Kamal untuk berbasa-basi.


"Iya. lo juga?"


"Iya ... sekalian Qodho' Sholat Subuh hahaha." Kamal tertawa canggung.


Kaira hanya tertawa kecil.


"Sorry." Karena merasa bahwa percakapannya hambar dan sia-sia.


"Karena?"


"Gue tadi gak Sholat Subuh." Sekali lagi, Kamal mencari topik.


Kaira mengernyit. "Terus kenapa minta maaf ke gue? Bukan ke Allah?"


"Em, maksud gue biar lo gak salah paham."


Kaira tersenyum tipis. "Entah gue salah paham atau engga. Kalau emang lo gak sholat subuh, dhuhur, atau ibadah wajib lainnya, lo gak perlu bilang ke gue. Karena itu urusan lo sama Yang Maha Kuasa. Singkatnya, itu privasi lo."


Kamal hanya diam. Sialnya, dia kenapa justru memilih topik seperti ini.


"Ya udah ya. Gue duluan ke kelas. Assalamu'alaikum." Kaira melambaikan tangan dan berlari menjauh.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahhi Wabarakatuh."


Kaira hanya menggeleng kecil di sepanjang jalan. Dia tak mengerti, kenapa dengan gampangnya seseorang bisa mengatakan aibnya ke orang yang belum tentu bisa dipercaya. Masih untung Kamal berbicara padanya, bukan ke orang lain. Bisa-bisa Kamal akan dijadikan candaan bulan-bulanan.


"Assalamu'alaikum, Kaira Alfaresh."


"Astaghfirullah. Wa'alaikumussalam." Tak memberi pandangan ke sekitar hingga dia tidak melihat Kafeel yang ternyata berpas-pasan dengannya di belokan. "Lo? Ngapain ke sini?"


Kafeel bukanlah murid di SMK ini. Mereka hanya kenal dari pertemuan olahraga di sebuah gedung 2 tahun lalu, lebih tepatnya ketika mereka duduk di kelas 10. Lalu, dalam pertemuan itu, Kafeel mencari tahu tentang Kaira yang ternyata tidak terlalu jauh dari daerah rumahnya.


Kafeel terkekeh. "Gue? Coba tebak gue ngapain?"


"Apa itu hal penting?" Dari semua alasan yang Kafeel berikan ketika datang kemari, pasti hanya untuk menemuinya. Dan itu bukan hal penting bagi Kaira.


"Tentu aja buat gue iya," balas Kafeel dengan percaya dirinya.


"Jadi?" Kaira mengangkat alisnya.


"Jadi apa prok prok prok?" Kafeel tertawa setelah membalas dengan topik yang jauh berbeda dengan topik awal.


"Jangan bercanda!" Kaira kesal karena merasa dipermainkan oleh Kafeel.


"Engga kok, gue serius."


"Ya udah." Kaira berbalik dan pergi.

__ADS_1


"Gue ke sini mau ngirim proposal," ucapan Kafeel membuat Kaira yang ingin pergi, kembali berbalik.


"Buat apa?" tanya Kaira.


"Buat jadi pelatih ekstra bulu tangkis di SMK lo."


Tunggu.


Apa? Kaira tidak salah dengar bukan? SMK ini? Pelatih? Bulu Tangkis? Kaira tahu, Kafeel memang berbakat dalam bulu tangkis, tapi apa yang baru dia dengar ini tidak salah?


"Lo gila?" Kaira semakin tak mengerti tentang Kafeel. Dia gila, sungguh.


"Astaghfirullah. Nyebut Kai." Bukan hal baru bagi Kafeel untuk mendengar kata itu. Kafeel juga tak mengerti kenapa dia secandu itu melihat kegalakan Kaira.


"Kenapa gak jadi pelatih di SMA lo aja daripada jauh jauh ke sini?" Kaira mengusulkan dengan nada yang teramat kesal.


"Jauh di mata, namun dekat di hati." Bukannya termenung, lelaki itu tetap menggodanya.


"Gak lucu." Kaira memberikan tatapan sinis. Tak lupa pula bibir gadis itu yang terkatup rapat membuat pipinya terlihat berisi.


Kafeel mengernyit. "Emang siapa yang berniat ngelawak coba?"


"Kafeel!"


"Iya, Kaira."


Merasa geram dengan lelaki itu, Kaira berkata telak, "Jawab gue sekarang atau gue tinggal?"


"Gapapa, tinggal aja. Nanti gue bakalan nemuin lo lagi kok."


Tak ingin lama-lama di sini, Kaira berbalik dengan perasaan kesal. Melihatnya, Kafeel tertawa, kemudian memberi salam kepada Kaira yang seharusnya gadis itu beri, "Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Samar-samar, Kafeel mendengar balasan Kaira. Meski Kaira kesal, gadis itu tetap membalas seperti yang dianjurkan.


...-REVOLUSWEET-...


Setelah bel berbunyi, para murid telah keluar dari kelas masing-masing. Agar tidak berdesakan saat keluar, Kaira dan ketiga temannya memilih untuk pulang paling akhir. Tanpa disangka, Kaira justru bertemu dengan Kafeel yang menunggunya di lobi sekolah.


Jarak antara SMA Kafeel dan SMK Kaira agak jauh. Namun, lelaki itu sejak kapan ada di situ?


"Kiw, cowok lo? Udah jadian belum?" Disa menyenggol bahu Kaira dan sedikit menggodanya.


"Astaghfirullah, keep halal brother." Mira menjawab agar tidak ada kesalahpahaman. Lagi pula, Mira tahu bahwa Kaira pasti tidak suka jika Kafeel kemari hanya untuk menemuinya.


"Astaghfirullah, gue nembak aja engga, ya kali diterima," balas Kafeel dengan bercanda sekaligus menyindir Kaira yang tak merasa tersindir.


Mendengar itu, ketiga teman Kaira tampak heran. Disa mengernyit, "Lo gak pernah nembak Kaira sama sekali?"


"Enggak, kenapa?" Kafeel bingung. Kenapa teman-teman Kaira juga ikut terlihat bingung? Apa karena Kafeel tidak meminta Kaira untuk menjadi kekasihnya? Kafeel hanya pernah menyatakan perasaannya, tapi bukan berarti lelaki itu pernah mengajak Kaira untuk berpacaran dengannya.


"Gue pikir pernah, ternyata engga." Disa tertawa.


Kafeel yang mendengar itu mengangguk disertai senyuman. "Gue gak pernah nembak dia sedikit pun. Nanti kalau gue tembak, mati dong. Bisa-bisa gue kehilangan dia selamanya."


"Maksud gue bukan itu, bego!" balas Disa dengan geram.


"Ada urusan apa sama Kaira?" Pertanyaan Veina memotong percakapan Disa dan juga Kafeel. Melihat Kaira yang tak menyukai keberadaan Kafeel membuat Veina ingin cepat-cepat agar temannya itu tidak merasa gelisah.


"Gue urusannya sama Kaira, ngapain ikut-ikut?" Mendengar nada dingin dari Veina, Kafeel juga membalas dengan nada yang tak kalah dingin. Seakan menantang gadis itu agar tidak ikut dalam percakapan kali ini.


Sebenarnya, Kafeel bukannya tak suka dengan Veina. Sikap Veina yang seakan tak menyukainya dan juga ucapan gadis itu yang seperti memprovokasi Kaira, membuat Kafeel sedikit tak menyukainya. Mungkin, Veina hanya tidak ingin Kaira dekat dengan laki-laki yang bukan mahramnya, tapi tetap saja reaksi dari Veina sungguh membuat Kafeel heran.


Gadis dengan rambut yang dikuncir asal itu mengangkat alis. "Maksud lo, lo harus ngomong berduaan gitu sama dia?"

__ADS_1


"Apa gue minta ngomong berdua sama Kaira?" Kafeel sudah menduganya. Sebagai teman Kaira, Veina pasti menjaganya. Diam-diam Kafeel tersenyum miring. Betapa beruntungnya Kaira memiliki teman seperti gadis itu.


Kaira menghela napas. Pada akhirnya, dia berkata, "Udah. Ada apa?"


Sosok yang ingin ia ajak bicara, akhirnya mulai bersuara juga. Kafeel membalas, "Proposal gue udah disetujui. Gue bakal ke sini buat latih adik kelas lo yang mau ikut lomba antar SMA."


Kaira dan ketiga temannya ikut terkejut. "Hah? Gunanya apa?"


"Ya ... apa?" Kafeel menggaruk tengkuknya canggung.


Kaira sedikit maju. Memiringkan kepala dan berkata untuk mematahkan pernyataan Kafeel, "Kenapa harus lo?"


Woah. Kaira memang bukan tipe gadis seperti Veina, Disa, maupun Mira yang bisa berbicara tanpa basa-basi. Kaira hanyalah gadis dengan akhlak dan budi pekerti yang baik, tetapi semenjak mereka tahu bahwa Kafeel adalah salah satu lelaki yang menyukai Kaira, sikap lain Kaira mulai tampak. Jutek dan agak galak.


Namun, kenapa Kamal yang katanya menyukai gadis itu tidak diberi sikap seperti ini? Dan Kaira hanya menjawab, bahwa lelaki itu tak pernah sedikit pun menyatakan perasaannya seperti Kafeel. Tentang Kamal yang menyukainya hanya sebuah rumor ketika teman-temannya mulai menjodohkannya. Kalaupun Kamal sungguh menyatakan perasaannya, Kaira juga akan bersikap seperti ini.


"Ya karena gue."


Kaira mengangkat alis. "Cakep lo begitu?"


Double Kill. Ketiga temannya hanya tercengang mendengar kalimat 'kasar' yang diberikan oleh Kaira. Memang momen paling epic ketika melihat Kaira berhadapan dengan lelaki bernama Kafeel yang dapat menaikkan suhu tubuh Kaira hingga memanas.


Dan dengan anehnya, Kafeel hanya terlihat biasa dan justru hanya tersenyum. "Tanpa gue bilang, lo pasti tahu."


"Lo gila?" Pernyataan itu diberikan Kaira dengan memiringkan kepala.


"Astaghfirullah, Kai. Udah berapa kali lo bilang kayak gitu ke gue?" Nada bicara Kafeel terdengar geram. Tak lupa dengan tangan lelaki itu yang mengelus dada untuk meredakan kekesalannya.


Di samping gadis itu, ada Mira yang terlihat sedikit panik. Entah karena amarah atau apa, ucapan Kaira semakin tidak terkontrol. Maka dari itu, Kaira diberi teman seperti Mira yang biasanya menjadi penengah. Mira memegang bahu gadis itu dan mulai menepuknya. "Kaira, tarik napas panjang-panjang lalu hembuskan. Istighfar, takbir, sama tahlil."


"Astaghfirullah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallah." Tak ayal, Kaira tetap menurut di tengah-tengah emosinya yang justru membuat Kafeel tertawa geli. Melihat reaksi Kafeel, Kaira hanya mendelik.


Lelaki itu berdehem dan mengurangi tawanya. Kemudian membalas, "Kurang Subhana Allah."


"Emang lo kira dzikir?" ujar Mira.


"Emang harus dzikir aja waktu ngucap itu? Lihat orang ganteng kayak gue juga harus ngucap, 'kan?" Kafeel mengangkat alis.


Kaira menggeleng dan sedikit meralat, "Salah. Harusnya Masya Allah biar gak kena a'in."


"Emang apa bedanya?"


"Keduanya sama-sama digunakan untuk mengungkapkan rasa takjub. Bedanya, takjub akan keburukan atau melihat hal baik."


"Jadi?"


"Subhana Allah untuk melihat keburukan sedangkan Masya Allah untuk sesuatu yang berhubungan dengan hal baik. Dan yang lo maksud tadi itu, lo harusnya bilang Masya Allah."


Kafeel tersenyum tipis. Sangat menyukai ilmu yang Kaira tahu. Meski dirinya bertanya, bukan berarti ia tidak tahu. Kafeel hanya mengajukan pertanyaan agar percakapan mereka panjang dan juga memiliki bobot. Yang pasti, Kaira juga akan menjawab dengan apa yang ia tahu.


"Apa artinya Subhana Allah sama Masya Allah?" Kafeel bertanya, meski ia tahu jawabannya.


"Subhana Allah artinya Maha Suci Allah, sedangkan dalam istilahnya Allah Maha Suci (yang menyucikan) dari keburukan tersebut. Sedangkan Masya Allah artinya Hal itu terjadi atas keinginan Allah. Itu sih yang gue baca." Kaira menjawab seperti apa yang ia pernah baca.


Seperti yang Kafeel duga, Kaira akan menjawab hal tersebut. Lalu dengan rencananya, Kafeel akan menjawab, "Jadi ... bisa kok lo ucapin Subhana Allah di depan gue. Biar gue selalu disucikan dari ucapan dan segala keburukan gue di depan lo."


Kaira diam sejenak. Menatap wajah Kafeel sebentar. Yang kata orang, terlalu tampan. Sedangkan teman-teman Kaira juga ikut terkejut ketika mengetahui maksud kalimat Kafeel. Mira, Disa, dan Veina melirik Kaira yang terlihat cengo dan Kafeel yang menunjukkan wajah tanpa dosanya.


"Kafeel!"


"Iya, Kaira."


"PERGI SANA!"

__ADS_1


"Subhana Allah, Ya habibi."


...-REVOLUSWEET-...


__ADS_2