REVOLUSWEET

REVOLUSWEET
3. Angkringan K03


__ADS_3

"KAFEEL PASHA!"


"KAFEEL!"


"KALINGGA!"


Sorak semarai SMA Widya Madya diberikan kepada Kafeel yang berada di lapangan indoor sekolah untuk bertanding dengan salah satu adik kelasnya. Dua bulan lagi akan ada pertandingan antar SMA sederajat. Kafeel Pasha yang seharusnya pensiun di ekstra sekolah karena dia yang telah menginjak kelas 12. Yang artinya, murid di Kelas 12 diharuskan fokus ke pelajaran untuk menyambut kelulusan.


Meski begitu, Kafeel tetap mengunjungi ekstra bulu tangkis di sekolahnya karena dia ingin melihat seberapa banyak adik kelasnya itu meningkat. Kali ini, Kafeel sedang menantang adik kelasnya untuk bermain melawannya.


Di detik terakhir, Kafeel memberikan pukulan smash yang menjadi hasil dari kekalahan lawannya.


Set point.


Kafeel pemenangnya.


Set pertama mendapat skor 21 dan lawannya 18. Sedangkan, set kedua mendapatkan 21 point dan lawannya 19 point.


Hanya berbeda tipis, tapi kenapa Kalingga tidak bisa menyusulnya? Napas Kalingga terengah-engah. Dia tetap duduk di atas lapangan dengan mengangkat kakinya untuk menyanggah kedua tangan di atas lutut. Kepalanya ia dongakkan. Menatap langit-langit lapangan indoor dengan keadaan keringatnya yang terus menetes.


Kafeel yang berada di sisi lain net menatap adik kelasnya yang bernama Kalingga dengan tatapan datar. Dihampiri oleh pelatihnya, pak guru itu memberikan handuk kepadanya dan diterima oleh Kafeel. "Kenapa kamu gak jadi pelatih di sini aja daripada di sekolah lain?"


Setelah mengeringkan rambutnya, Kafeel meletakkan handuk di atas kedua bahunya. Lelaki itu melirik Kalingga yang juga mengusap area wajahnya yang berkeringat. Kemudian, menjawab dengan nada yang terdengar menyindir, "Yakin? Ada yang setuju sama saya?"


Kalingga yang merasa tersindir, tetapi dia tak menghiraukannya.


"Hei." Kafeel berteriak, kemudian melanjutkan, "Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya." Hadits Riwayat Thabrani. Tapi, sedikit pun dia gak bisa rendah hati ke saya."


Adik kelasnya yang duduk di kelas 11 itu menggeleng malas.


"Duluan, Pak. Panas. Assalamu'alaikum." Tak ingin lama-lama di sini, Kafeel lebih memilih untuk pergi dan tentang evaluasi, pelatihnya pasti lebih memahami daripada Kafeel sendiri.


Untuk menuju pintu keluar, Kafeel harus melewati adik kelasnya yang menjengkelkan. Tepat di samping Kalingga, lelaki muda itu berkata sesuatu, "Gue ... gak butuh ilmu dari lo."


Langkah Kafeel terhenti. Pemilik nama Kafeel Pasha itu menoleh menatap Kalingga dan tersenyum sinis. "Gue gak suka cari musuh, tapi kalau lo ingin gue sama lo musuhan, gue sih oke aja."


Kalingga hanya melirik kakak kelasnya.


Kafeel menatap lelaki itu dalam diam, adik kelas yang tingginya hampir sama sepertinya. "Asal lo tau, Entah seberapa jago lo main bulu tangkis, gak akan bisa lebih baik dari gue. Mending lo berhenti daripada depresi karena kalah waktu main."


Kalingga mengepalkan tangan ketika Kafeel berhasil melewatinya. Lelaki itu berbalik dan berkata, "GUE, KALINGGA. DALAM PERTANDINGAN NANTI, GUE AKAN MELAMPAUI POIN LO DI BERBAGAI KATEGORI!"


"Aiissshh." Kafeel menyusur rambutnya dengan tangan. Menghela napas panjang, lelaki itu berbalik menatap Kalingga, kemudian bertanya, "Mau nangkring sama gue?"


...-REVOLUSWEET-...


"Bang."


Kafeel, Ivan, Raka, dan Damar datang bersamaan setelah Sholat Maghrib di masjid terdekat dengan Angkringan yang dimiliki oleh Sang Kakak yang bernama Kairav. Namanya agak mirip seperti Kaira, bukan? Kadang tanpa alasan, Kafeel iri dengan kakaknya itu hanya karena memiliki nama yang sama.


Berhenti membahas nama itu karena Kafeel tak menyukainya.


Angkringan K03 di tempat ini hanya cabang dari banyaknya kios lain. Diberi uang modal oleh kedua orang tuanya, Kairav mulai merintis Angkringan ini setelah lulus SMK dan berakhir dengan dirinya yang kuliah sambil kerja. Lalu menginjak kelas 10, Kafeel juga ikut membantu sang kakak.

__ADS_1


Terkadang, Kafeel memegang cabang lain yang berbeda dengan sang kakak. Karena niat Kafeel hanya ingin menongkrong bersama teman-temannya, Kafeel absen untuk hari ini dan beralih di cabang yang dioperasikan oleh kakaknya.


"Gue nitip." Kairav berdiri. Dia mengambil sarung di dalam tasnya dan pergi dari sana.


"Hm." Kafeel dan ketiga temannya duduk di salah satu tikar. Tikar yang lain telah dipenuhi oleh banyak orang. Usaha yang dibangun sang kakak telah memiliki banyak cabang yang dipercayakan oleh karyawannya.


Untuk Kairav sendiri, dia memiliki 6 cabang termasuk dirinya dengan 18 karyawan. Per-kios dibawa oleh 3 orang Karyawan. Sedangkan Kafeel memiliki 3 cabang yang dikelola oleh 3 orang percabangnya.


Memang bukan sebuah usaha yang terlihat mewah, tapi karena hal ini, mereka menjadi lebih erat dengan orang tuanya. Dahulu, orang tua mereka memiliki hobi dan pekerjaan yang tak jauh dari makanan. Ayahnya adalah pembuat kue, sedangkan sang mama chef di salah satu restoran. Kemudian mereka menikah dan membangun sebuah restoran yang diberi menu Dessert dan juga makanan nusantara. Ada juga makanan luar negeri yang dihidangkan.


Bahkan, bumbu yang digunakan untuk Angkringan mereka berasal dari mamanya yang dibuat khusus.


"Mulai kapan lo jadi pelatih di SMK nya Kaira?" Damar membuka topik setelah teman-temannya justru berselonjor di atas tikar dan berbaring.


Kafeel yang bermain ponsel, menoleh menatap Damar, kemudian menjawab, "Em, Jum'at atau engga sabtu. Kalau minggu, sebenarnya gue mau aja, tapi mereka kebanyakan gak mau. Jadi gue lebih milih Jum'at Sabtu aja."


"Dapet bayaran gak lo?" tanya Raka sembari menghisap puntung tembakau yang ia beli dari angkringannya.


Kafeel menarik napas dalam-dalam. "Sebenarnya, kalau gak dibayar juga gapapa. Untuk formalitas, gue terima aja. Gue jadi pelatih di sana 'kan biar ketemu Kaira. Apalagi habis ini gue sama dia lulus, gue pingin tahu dia mau ke mana habis itu. Sedangkan gue gak punya nomor Kaira, walaupun udah kenal dari lama."


"Niat bener lo buat mepet Kaira, tapi dianya gak nanggepin. Lo gapapa?" Ivan ikut bertanya. Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya juga terdapat batang rokok yang menyala.


"Gue sih aman-aman aja. Seenggaknya, dia gak deket sama cowok lain, gue gak masalah. Walaupun kadang, Kaira lebih sering sama temen abangnya karena mereka emang sering main bareng di rumahnya. Jadi, sering ketemu juga."


"Tanda tanda redflag tuh cewek, lo harus sadar, Feel!" Bukannya mendukung, Ivan justru memprovokasinya.


Mendengar itu, Damar mengangkat kepalan tangannya untuk ditunjukkan pada Ivan. "Mulut lo! Jangan dengerin Feel. Sejauh yang gue lihat, Kaira emang anak baik-baik, tapi ya mungkin karena aturan agama, dia gak terlalu dekat sama cowok kalau gak ada keperluan."


Kafeel hanya tersenyum miring mendengar ucapan Ivan. "Gue tahu kok. Gue cuma mau kenal deket sama dia aja. Lagian, kalau gue emang jodohnya, yang lain bisa apa?"


"Awalnya gue gak diperbolehkan sama Pak Kepala Sekolahnya karena udah kelas 12, tapi gue kasih tawaran lagi dan gue bilang, Yakin? Saya pemenang ketiga se-provinsi, jarang-jarang saya ajukan diri untuk jadi pelatih yang bahkan diminati sekolah lain. Untuk upah, saya lebih mementingkan kemajuan murid-murid daripada soal nominal. Saya harap, bapak bisa pikir baik-baik. Gue bilang gitu, alhasil Pak Kepala Sekolahnya mau."


Seperti biasa, Kafeel dan keras kepalanya justru memaksa orang lain untuk mengikuti keras kepalanya, tapi ...


"Lagian daripada nyewa pelatih mahal-mahal, mending gue ajari aja yang udah jelas jelas pernah menang se-provinsi, 'kan?" Di akhir kalimat, ia tertawa kecil.


Kafeel itu ....


"Feel." Raka memanggilnya.


"Hm?"


"Lo suka sama dia ... atau hanya obsesi?"


Deg.


Hanya satu pertanyaan. Hanya satu. Namun, kenapa Kafeel sulit menjawabnya? Dia menyukai? Atau obsesi? Dan kenapa Kafeel tidak merasa kesal atau marah? Seakan ucapan Raka adalah sebuah pernyataan.


"Beli."


Lamunan Kafeel terbuyar ketika ada seorang lelaki yang berhenti di depan angkringan. Kafeel mulai merespon pembeli, lalu memberikan sebuah piring padanya. "Lo?"


Tak merasa asing dengan suara penjualnya, Ghifary menatap lelaki di depannya yang terlihat terkejut. "Ngapain lo di sini?!"

__ADS_1


"Lah? Harusnya gue yang nanya. 'Kan ini tempat punya gue," balas Kafeel tak terima.


Ghifary mendongak, menatap papan yang bertuliskan, Angkringan K03. Yang pasti, K adalah Kafeel atau bisa jadi Kairav. Namun apa 03 itu? Mengalihkan pandangannya ke arah Kafeel, lelaki berusia 21 tahun itu berdesis. "Tau gitu gue gak ke sini."


"Sendirian lo?" tanya Kafeel setelah menelusuri bagian belakang Ghifary yang mungkin saja gadis itu ikut.


"Lo pikir?!" Ghifary mengangkat alis.


"Galak bener. Jadi kakak ipar gue, mampus lo!" ujar Kafeel dengan suara lirih.


"Najis banget punya adik ipar kayak lo. Mending sama si Haqi daripada sama lo," balas Ghifary yang langsung mematahkan harapan Kafeel.


"Kenapa? Apa gue seburuk itu?"


Ghifary menghentikan tangannya yang ingin mengambil beberapa tusuk bakaran setelah mendengar pertanyaan dari Kafeel yang sungguh terdengar seperti candaan baginya. Lelaki berusia 21 tahun itu tertawa remeh. "Lo kira? Dengan alasan sebuah perasaan yang bahkan gak lo pahami, lo sebut itu suka. Padahal nyatanya, itu obsesi."


"Dari cara lo bersikap di depan Kaira, gue tahu itu bukan sebuah perasaan sakral yang lo berikan ke Kaira. Itu hanya sebuah obsesi berkedok perasaan," lanjut Ghifary dengan nada bicara yang terdengar menyebalkan di telinga Kafeel.


"Apa yang lo tahu tentang perasaan gue?!" Kafeel menggertakkan rahangnya. Jika bukan karena Ghifary adalah kakak Kaira, Kafeel sungguh akan menghabisinya.


"Jadi, apa yang lo tahu tentang perasaan lo?" Bukannya menjawab, Ghifary justru membalikkan pertanyaan Kafeel yang berupa tantangan baginya. Ghifary akan bertepuk tangan jika Kafeel menjawab pertanyaan ini dengan sebuah fakta tentang perasaannya.


Namun,


Kafeel hanya termenung.


Sedangkan, Ghifary justru tersenyum miring. "Belajar yang bener, Kaira bukan cewek yang gampang jatuh cinta. Dia tahu mana yang baik dan buruk. Dengan adanya lo yang sering ganggu dia, dia gak akan terusik. Karena dia adik gue."


"Sekian. Gue gak jadi beli. Mood gue lagi buruk karena lihat lo." Ghifary menghela napas. Dia berbalik menuju motornya yang terparkir, kemudian mengendarai menjauh dari Angkringan.


"Lo apain langganan gue?" Kairav, sang kakak yang baru saja datang selepas Sholat Maghrib di masjid terdekat menatap Kafeel dengan alis terangkat. Bagian bawah tubuhnya masih memakai sarung hitam bergaris merah marun yang menjadi bukti atas keimanannya pada Sang Kuasa.


Kafeel mengangkat bahunya tak acuh. "Gak gue apa-apain lah. Dia sendiri yang pergi."


Indra penglihatan Kafeel menangkap seorang lelaki di balik tubuh Kairav. Setelah tahu siapa pemuda itu, Kafeel menarik sudut bibirnya. "Gue gak nyangka lo beneran dateng."


"Maksud lo? Dia emang berniat dateng ke sini?" Kairav menatap lelaki muda yang mengekor padanya sejak keluar masjid, kemudian mengangkat alis. "Gue tadi lihat di masjid. Gak tahu ngapain di sana."


"Ya jelas Sholat lah! Lo pikir gue ngapain di masjid kalau gak Sholat?!" jawab pemuda itu dengan sewot.


"Oh." Kairav mengangkat bahunya. Lelaki itu melepas sarung dan memperlihatkan celana training biasa di baliknya. Kairav yang berusia 21 tahun itu berucap, "Gue gak tahu kalau dia abangnya Kaira."


Kafeel mengangkat bahunya. Ngomong-ngomong soal Ghifary, dia agak kesal dengan lelaki itu. "Gue aja baru tahu kalau dia langganan lo."


Kairav mengambil es teh miliknya, kemudian duduk di tempat lesehan yang diduduki oleh Kafeel dan teman-temannya. Sesekali melihat beberapa pelanggannya yang duduk di tikar lainnya dan berbincang ria. "Lo sering berantem di sekolah sama Kalingga?"


"Sering. Kalau berantem, mereka gak nanggung-nanggung," balas Ivan.


"Yang satu padahal gak ngapa-ngapain, yang satu ngeganggu aja," lanjut Damar."


"Mereka itu Tom and Jerry versi manusia," ucap Raka sembari menggeleng heran.


Kalingga, nama dari lelaki muda yang datang bersama Kairav. Kafeel memandang seorang lelaki yang lebih muda darinya. Hanya diberi pandangan biasa, Kalingga justru melirik sinis kepada Kafeel. Bukannya rendah hati dan meminta maaf, lelaki yang berstatus sebagai adik bungsunya itu justru menaikkan suhu yang membuat Kafeel merasa mendidih.

__ADS_1


Kafeel hanya berdecih. "Dia sendiri yang ngajak gue berantem. Ogah banget gue ngajak orang ribut sama gue."


...-REVOLUSWEET-...


__ADS_2