
Di tengah keheningan yang menyelimuti, Kairav hanya menatap Kafeel dan Kalingga yang tak berinteraksi. Kafeel hanya berbincang dengan temannya, sedangkan Kalingga hanya bermain ponselnya. Kedua adiknya itu memang tidak akur sejak lama. Lebih tepatnya, sejak Kalingga bermain bulu tangkis di kelas 4 SD.
Hari itu adalah pertama kali Kalingga bermain bulu tangkis. Hubungan mereka dahulu lebih dekat dari saat ini. Bahkan, Kalingga sangat menyukai cara bermain Kafeel yang membuatnya mengikuti untuk bermain bulu tangkis. Namun karena kesenjangan bakat yang dimiliki mereka, membuat hati Kalingga menjadi mati.
Kalingga menggunakan Kafeel untuk membalaskan dendamnya. Menjadikan objek utama agar Kalingga bisa membuktikan bahwa ia jauh lebih hebat darinya. Meski begitu, seberapa pun usaha yang dilakukan oleh Kalingga, dia tidak akan bisa mengalahkan bakat yang dimiliki oleh Kafeel sejak kecil.
Usaha yang terus dikembangkan akan dikalahkan oleh bakat murni yang terus diasah. Ini adalah aturan mutlak yang diberikan semesta pada mereka. Tidak hanya pada mereka, tapi juga seluruh alam semesta ini.
Bukan karena orang tua dan orang-orang sekitar yang memuji Kafeel, justru orang tua mereka tidak mempermasalahkan tentang Kalingga yang tidak bisa menyamai Kafeel. Setidaknya, mereka bisa akur. Namun, karena keteguhan hati Kalingga yang ingin melebihi Kafeel dan juga tentang Kafeel yang menerima segala tantangan dari adiknya, maka peperangan antar saudara ini masih tetap terjalin hingga saat ini.
Meski mereka bermusuhan, mereka tetaplah saudara. Mereka tumbuh dan belajar bersama. Saat ini, usia mereka telah beranjak dewasa. Mereka tahu mana baik dan buruk. Keluarga mereka, lebih tepatnya orang tua mereka menanamkan banyak ilmu kepada mereka.
Tanpa orang lain tahu, hubungan mereka yang terlihat renggang ini justru lebih erat karena sebuah pertengkaran ini.
"Jadi ..." Kairav mematikan batang tembakau itu dengan menekannya di atas asbak. Lelaki itu menatap Kalingga dengan alis terangkat. "Tumben lo ke sini?"
"Dia yang ngajak." Dagu Kalingga hanya menunjuk Kafeel yang meliriknya.
"Tumben lo mau?" balas Kafeel agak sinis.
"Ribet lo. Gue dateng salah, gue gak dateng salah."
"Lo hidup juga salah."
"Lo pada datang ke sini ngapain?" Damar bertanya kepada kedua temannya yaitu Raka dan Ivan.
"Cuma lihatin adik kakak lagi berantem?" Raka ikut melanjutkan maksud Damar. Pasti, lelaki itu sedang menyindir.
"Daripada kalian berantem, mending bakar sate sana! Gue borong semua, kita tutup!" Ivan tertawa.
Kairav menatap tak percaya. "Seriusan lo? Entar gue dibohongi."
"Emang lo lihat, gue kelihatan penipu gitu?" Ivan menunjuk dirinya sendiri.
Kairav, Kafeel, Kalingga, Damar, dan Raka sontak dengan bersamaan menjawab, "Keliatan banget lah!"
"ANJ, ASTAGHFIRULLAH." Ivan yang mendengar itu hanya menggeleng malas.
"Kan udah pernah gue bilang, lo nistain mereka bertiga, lo bakal dinistain balik," ujar Damar sambil terkekeh.
Gelak tawa terdengar sesekali menarik atensi beberapa pelanggan. Kecuali Kalingga yang hanya menatapnya sinis. Di sela itu, tiba-tiba suara pukulan bersamaan dengan raungan kesakitan dari Kafeel mulai meredakan tawa menjadi raut wajah yang terlihat panik.
Bagaimana tidak? Mereka melihat Kafeel dipukul, lalu gerobak angkringan milik Kairav menjadi terguling dan beberapa hasil dari modal harian kali ini hilang bersamaan dengan makanan yang terjatuh sia-sia.
"Sialan!" Kafeel berdiri setelah kerah bajunya ditarik paksa dari belakang dan menerima sebuah pukulan.
"Siapa lo, bangsat!" Ivan maju paling depan. Melihat temannya yang seketika dipukul oleh orang yang tidak mereka kenal. Kafeel yang melihat itu, memintanya untuk mundur yang dituruti oleh Ivan.
"Berani lo muncul di depan gue?!" David, lelaki yang datang, lalu memberikan bogeman mentah pada Kafeel.
"Gue? Muncul di depan lo?" Kafeel tertawa sinis. Dia memegang bekas pukulan David. "Ssshh, ah sakit banget pipi gue."
"Emang gue secaper itu sampai-sampai gue sengaja lewat depan lo?! Cuih, gak sudi!" ucap Kafeel sembari meludahkan air liurnya untuk menghilangkan darah yang keluar dari dalam mulutnya
"Harusnya gue udah bunuh lo dari lama!" ujar David dengan alis yang bertaut.
Bukannya ketakutan dengan ancaman, Kafeel justru menelengkan kepala dan tersenyum miring. "Yakin?"
Teman-teman Kafeel tidak ada yang tahu siapa David. Bahkan Kairav dan Kalingga yang bersamanya sejak kecil juga tidak tahu menahu soal lelaki itu. Tidak hanya tentang David, mereka pun juga tidak tahu masalah apa yang ada di antara David dan Kafeel. Melihat mereka yang berinteraksi seperti kenal dari lama, membuat Kairav berpikir bahwa keduanya memiliki masalah sejak itu. Namun, Kairav juga tidak bisa menebak apa masalahnya. Yang pasti, Kafeel lebih tahu hal ini lebih dari siapapun.
Kairav maju selangkah di antara Kafeel dan David. Dia mengangkat tangan, lalu melayangkan pukulan di tempat yang sama seperti yang Kafeel terima. Melihat itu, Kafeel terbelalak dan mencoba menarik Kairav agar tidak ikut campur. "Bang!"
Kairav menepisnya dan hanya memberikan tatapan malas. "Diem lo, Feel. Lo sempoyongan! Jangan sampe gue susah karena lo!"
"Lo!" Kairav menunjuk laki-laki yang tidak ia ketahui namanya. Setelah lelaki itu menatap dan mengusap sisa darah di ujung bibir, Kairav berkata, "Dengerin gue baik-baik. Gue gak tahu lo siapa, tapi jangan sampai bikin rugi gue kayak gini, setan!"
"Abang lo ... gak tahu?" David menatap Kafeel dengan heran.
"Tahu apa?" Kairav yang tak tahu apa pun hanya mengernyit heran.
__ADS_1
Merasa dikhianati oleh Kafeel, David beralih untuk menatap Kalingga. "Lo kenal gue?"
Kalingga yang berada di belakang Kafeel hanya diam. Jika bukan karena Kafeel yang menariknya secara paksa di belakangnya, Kalingga juga tidak ingin dekat-dekat dengan kakaknya itu.
Cukup dengan diamnya Kalingga, membuat David paham akan hal itu. Dia menyusur rambutnya dengan malas. "Hahaha. Lo ternyata sepengecut ini, Feel. Bahkan abang sama adek lo aja gak tahu apa-apa!"
"Ah, hambar banget pukul lo. Gue balik aja lah." David berbalik. Sebelum dia benar-benar pergi, David berucap lirih, "Gue gak sampai di sini aja, Feel."
Selepas terjadi ketegangan dan bahkan beberapa pelanggan telah memilih untuk pergi, keheningan terjadi. Barang-barang Kairav terporak-poranda. Pemiliknya hanya merenungi nasib dan menatap langit.
"Allahumma ajurni fi mushibati wa akhlifi khaira minha." Kairav berdoa dengan pelan. Lelaki itu berbalik menatap Kafeel yang terlihat kesakitan sambil memegangi sudut bibirnya. "A'udzubillahi minasy syaithaanir rajiim."
Setelah membaca taawudz yang berarti Aku meminta perlindungan Allah dari setan yang terkutuk, Kairav memberikan sebuah pukulan kepada Kafeel. Jika David memukulnya di pipi sebelah kiri, maka Kairav memukul Kafeel di sebelah kanannya. Kafeel terjatuh kembali. Ivan, Raka, dan Damar juga ikut terkejut melihatnya.
"ADEK LO HABIS DIPUKUL MALAH LO PUKUL LAGI! WARAS GAK LO JADI ABANG?!" pekik Kafeel.
Menatap adiknya yang terjatuh di atas tanah, Kairav menunjuk Kafeel dengan perasaan kesal. "Lo yang gak waras! Niatnya dagangan gue mau diborong malah sekarang gue rugi banyak!"
"Lebih penting angkringan apa gue?" Kafeel berdiri berhadapan dengan kakaknya.
Kairav menatapnya heran, padahal tanpa Kafeel tanya pun lelaki itu harusnya tahu. "Angkringan lah! Ya kali' lo!"
Kafeel hanya mendengus malas.
"Bantu gue!" perintah Kairav sembari mengambil beberapa peralatannya. Tanpa banyak bicara pun, Kafeel, Ivan, Raka, dan Damar membantu untuk membereskan kekacauan yang telah terjadi.
Mereka tak banyak bertanya tentang hal ini. Meski Kafeel adalah orang yang begitu interaktif dan atraktif, tak menutup kemungkinan lelaki itu memiliki banyak masalah yang tak terduga. Walaupun Ivan, Raka, dan Damar adalah temannya sejak kelas 10, tetapi mereka tidak pernah tahu tentang teman masa lampaunya. Terkadang, mereka sering melihat luka kecil di wajah ketika saling bertemu. Lalu, Kafeel akan mencari-cari alasan. Padahal, mereka tidak sebodoh itu untuk dibohongi.
Dan hari ini. Untuk pertama kalinya, mereka melihat hal yang mungkin saja ditimpa oleh Kafeel sebelumnya.
"Lo ... gak mau tahu soal ini?" bisik Kafeel sembari mengumpulkan beberapa barang.
Sibuk dengan sendirinya, Kairav hanya melirik. "Tentang?"
"Cowok yang barusan dateng."
"Gue percaya." Jawaban Kairav yang satu itu berhasil membuat Kafeel merasa bersalah. Karena Kafeel, Kairav mengalami kerugian. Untuk hal ini, Kafeel harus membantu menutupi kerugian yang disebabkan olehnya.
"Pala lo!" Kafeel mendelik. Dia lebih memilih untuk membantu membereskan daripada menambal uang untuk Kairav.
"Lain kali gue akan tagih lo buat cerita semuanya." Samar-samar, Kafeel bisa mendengar ucapan Kairav yang terdengar lirih.
"Hm," jawab Kafeel.
"Gue balik."
Kairav menoleh, menatap Kalingga yang berada dalam jarak yang sedikit jauh darinya. "Lo gak mau bantuin gue?"
"Ogah," balas Kalingga secara mentah-mentah.
Kairav berdecih sinis. Dia menunjukkan kepalan tangannya untuk mengancam adik bungsunya. "Balik ke sini atau gue hajar lo, kalau gue sampai rumah."
"Emang lo berani pukul gue kalau ada umi di rumah?" tantang Kalingga.
"Berani aja. Mending pukul lo di sini apa di rumah?!" Kairav mengangkat alis.
Kalingga menatapnya malas, kemudian melirik Kafeel yang memandangnya datar. Lelaki itu yang mengajaknya, tetapi lelaki itu juga yang tak peduli padanya. Kalingga hanya memutar bola mata, lalu menjawab singkat dan mulai pergi dari sana.
"Di rumah."
...-REVOLUSWEET-...
"Kalingga bantu."
Kalingga duduk di ruang keluarga, bersama ibunya yang bernama Heni sedang melipat pakaian. Wanita berambut panjang dengan gamis yang dipakainya. Setelah membersihkan diri, Kalingga memilih untuk membantu ibunya di ruang keluarga.
"Kamu makan dulu sana, mumpung masih hangat. Umi sama abi udah makan," perintah Heni.
"Mager." Kalingga lebih memilih bersender di kaki kursi, sedangkan tangannya ikut melipat beberapa baju yang ia pegang. Matanya tetap fokus di televisi yang menyala.
__ADS_1
"Kamu gak ada pr?"
"Udah selesai semua, tadi sore Kalingga kerjain."
Heni tersenyum tipis. Walau Kalingga tidak sepintar itu dalam bermain bulu tangkis, Kalingga memiliki kelebihan lain dari kakak-kakaknya yaitu gemar belajar. Namun, meski Kalingga memiliki kelebihan ini, itu seakan tak puas untuk mengalahkan Kafeel. Kalingga ingin jika Kafeel dikalahkan dalam kategori yang sama dengan kakaknya.
"WOI, KALINGGA!"
Heni dan Kalingga sontak terkejut mendengar sebuah sentakan. Dengan refleks, Kalingga bersembunyi di belakang Heni. "Umi."
Heni yang melihat Kairav datang, mengangkat alis. "Assalamu'alaikum."
"Assalamu'alaikum, Umi," ucap Kairav mengikuti ucapan Heni yang memintanya untuk memberi salam ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahhi Wabarakatuh," balas Heni.
"CIH! TADI LO NGELAWAN GUE SAMPAI RUMAH BERANINYA NGADU LO! DASAR ANAK UMI!" Kairav menunjuk adik bungsunya. "SINI GAK LO!"
"Ada apa?" tanya Heni.
"Mi ... Angkringan Kairav rusak." Kairav menarik napas. Meredakan amarah dan rasa kesalnya.
"Kok bisa?" Heni mengernyit. Dia mulai berdiri untuk menghampiri putra pertamanya.
"Gak tahu. Tiba-tiba ada orang hancurin gerobaknya. Argh, ngeselin." Ia mengacak rambutnya kesal.
"Terus salahnya Kalingga apa?"
"Dia tadi ke angkringan, gak mau bantuin beres-beres waktu habis dihancurin."
"Ke angkringan kamu?" Heni menatapnya heran.
"Iya."
"Kamu bohong, ya?" Pasalnya, putra bungsunya itu saking jarangnya, sampai tidak pernah datang ke tempat usaha kedua kakaknya. Jadi bagi Heni, itu hal yang mengagumkan.
"Astaghfirullah, Umi. Masa iya Kairav bohong. Dia juga lihat sendiri ada cowok dateng ke angkringan tiba-tiba pukul Kaf—."
"Kaf?" Wanita mengangkat alis.
"Maksud Kairav, ada cowok dateng terus hancurin angkringan. Jadinya aku, Kafeel, sama temen-temennya ngelawan cowok itu. Gitu maksudnya, Mi."
Melihat gelagat Kairav yang terlihat kaku dan juga keringat dingin yang menetes, Heni bertanya serius, "Apa ucapanmu bisa dipercaya?"
Kairav menatap ibunya yang terlihat tidak mempercayainya. Sialnya, dia berbohong kepada ibu yang telah melahirkannya.
"Ini karena Kafeel."
Heni menoleh, menatap Kafeel yang baru datang. Melihat beberapa luka yang diterima, Heni terkejut dan menghampiri putra keduanya. "Kafeel? Apa yang terjadi?"
"Lo tadi minta gue bohong sekarang malah jujur sendiri. Maksud lo biar gue aja yang dosa, gitu?" Protes Kairav dengan nada sinis.
"Berisik," kata Kafeel.
"Dia, bukan?" tanya Heni penuh curiga.
"Maksudnya, Mi?' Kairav yang tak tahu apa pun hanya bisa bertanya seperti ini.
Kafeel mengangguk. Heni menutup mata, mengelus dadanya dengan hatinya yang terus berucap do'a kepada Yang Maha Kuasa. Rasanya, hatinya tercabik-cabik mendengar apa yang dialami putranya.
"Kafeel." Suara dengan nada rendah khas ayahnya terdengar di salah satu ruangan. Mereka menoleh menatap ayahnya yang bernama Razak berdiri di kusen pintu ruang kerjanya. Kacamata yang ia pakai, dilepas. Pria itu mulai memberikan perintah, "Ikut Abi!"
"Iya, bi." Kafeel hanya menunduk dan mengikuti Razak yang menuntunnya ke salah satu tempat.
"Gue aja yang gak tahu nih?" Kairav tertawa kecil. Heran, sebenarnya dia salah satu keluarganya, 'kan? Kalingga yang berada di tempat juga hanya diam.
Meski mereka memiliki ikatan bertahun-tahun lamanya, sedikit pun mereka jarang mengetahui masalah masing-masing. Terkadang, mereka menyembunyikan agar tak merepotkan yang lain.
Hubungan ini, lebih rumit dari yang terpikirkan.
__ADS_1
...-REVOLUSWEET-...