
Chapter sebelumnya: Besok Reyna harus menghadiri acara itu, bukan orang biasa yang ayahna itu. Sangat sialan, teramat kesal bagi Reyna sebenarnya, mendengar ayahnya membanggakan orang lain.
***
Reynata bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Mengingat kejadian semalam saat ibunya masuk ke kamarnya, membuat hatinya lebih sedikit tenang.
Reynata menuruni anak tangga dang menghampiri kedu orang tuanya. "Pah,Mah...Reyna berangkat dulu ya" setelah menyalami kedua orang tuanya ia langsung pergi, dengan ekspresi datardan senyum yang ia paksakan.
Sebenarnya Reynata masih kesal akan perdebatan kecl semalam. Yang lebih membuat Reynata kesal adalah harus mendatangi kegiatan kampus yang sama sekali tidak pernah ia minati.
"Sabar Re, udah biasakan? kenapa kesal" Batin Reynata. "Cuma datang kok, ngga ada masalah besar Re" Ucap Reynata lagi di dalam hati, berusaha menenangkan dirinya.
"Re" Panggil Dornan.
Reynata menoleh ke arah ayahnya.
"Saat waktunya, kamu akan tahu hikmah dari sebuah keterpaksaan"
"Ma-Maksud papah?" Tanya terbata-ata agak ragu sekaligus bingung.
__ADS_1
"Jalani dulu sampai kamu lelah baru kamu tahu hikmahnya, ikuti alurnya, waktu yang akan menunjukkan dari semua usaha yang kamu lakukan." Dornan menjeda ucapannya. "Sebuah keterpaksaan terkadang bisa mereda,berubah menjadi apa yang kita suka. Kuncinya? Tetap usaha dan bersyukur. Papah tidak akan pernah menyalahkan kamu jika pada akhirnya kamu gagal. Tapi papah mohon untuk kamu tetap berjuang selagi bisa merubah keadaan." Dornan melanjutkan ucapannya. Ayahnya? tidak seburuk apa yang dipikirkan orang, orang menilainya hanya karena terkadang Dornan sesekali membentak ataupun memaksa Reynata mengikuti kemaunnya. Terkadang orang tua tahu yang terbaik untuk anaknya, dengan cara mereka, seperti manusia pada umumnya, ang tidak luput dari kesalahan.
Selagi Ayahnya memang ingin yang terbaik untuknya, walau caranya terkadang membuat Reyna bersedih. Why not? itu sebabnya Reyna masih tetap bertahan.
Reyna memang dikenal sebagai sosok wanita yang kuat, kabur dari rumah? Lari dari masalah? Tidak, hadapi! Kamu masih punya Tuhan yang selalu ada dalam setiap kesulitan dan kebahagian hidupmu, itulah prinsip yang dipegang oleh Reynata.
Reynata tersenyum samar dan kemudian mengangguk sebelum akhirnya menghilang dari hadapan Dornan.
Fina yang menyaksikan itu sangat tersentuh apalagi mendengar kata-kata yang dilontarkan Dornan, suaminya.
Fina segera menyusul Reynata, menyaksikan Reynata yang berjalan meninggalkan rumah. Namun langkah Reynata berhenti dan ia menoleh kebelakang. Benar saja, tepat tempat ibunya berdiri.
Reynata segera berjalan menghampiri ibunya dan memeluknya.
Memang benar Fina meminta Dornan untuk bersikap sedikit lebih baik setidaknya pada Reynata, namun pada keyakinan Fina yang paling dalam. Dornan melakukan itu bukan sekedar karena permintaannya semata. Tetapi karena suaminya itu sangat menyayangi Reyna dan terkadang tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Fina menggelengkan kepalanya. "Papah kamu ingin yang terbaik untuk kamu. Bukan karena mamah atau karena siapapun. Papah kamu punya cara sendiri untuk kebaikan kamu Re. Maklumi saja ya" Fina mengelus kepala Reyna pelan. Tidak terasa air mata Fina terjatuh sedari tadi memang matanya sudah berkaca-kaca.
"Mamah kenapa sih kalau dekat sama Reyna selalu nangis? Ini jugakan alasa mamah kadang berusaha tegas dan cuek sama Reyna. Tapi Reyna selalu paham, kalau mamah sayang banget sama Reyna. Bagi Reyna mamah adalah ibu terbaik yang pernah ada." Reyna tersenyum lebar. "Terimakasih udah ngelahirin Reyna, mah. Reyna selalu bersyukur."
Tangis Fina pecah, alau air matanya sudah terjatuh. Ia berusaha keas membendung air matanya. Namun kali ini benar-benar tidak bisa.
__ADS_1
"Makasih Reyna selalu memahami mamah yang ngga bisa jadi ibu yang sempurna"
"Mah! Jangan ngomong kaya gitu. Di dunia ini kita semua ngga sempurna menjalani peran." Reyna memeluk ibunya."
"Reyna ke kampus ya mah." Reyna melambaikan tangannya dan berlari kecil ke arah mobil yang terparkir di halaman.
***
Saat tiba di kampus Reyna telat lima menit untuk kegiatan itu. Reyna memasuki gedung tempat diacarakan kegiatan itu, kegiatan terbuka bagi semua mahasiswa yang sangat berpatisipasi dan minat dalam dunia bisnis.
Seorang pemuda yang gagah iu sedang berbicara di depan semua orang yang ada di dalam ruangan dengan bijaksana dan bewibawa. Tidak disangka yang ikut berpatisipasi dalam kegiatan ini sangat banyak. Apakah sebanyak ini peminat mahasiswa Resavier University berpatisipasi ke dalam dunia bisnis. Atau karena sang pembicara itu mereka ramai-ramai berpatisipasi? Apalagi tampak mahasiswi yang lebih banyak dari mahasiswanya. Seperti ayah Reynata yang memang pembisnis yang sudah cukup berpengalaman saja bisa menganggap pemuda itu luar biasa. Ya pembicara yang berkharisma itu adalah Rey savier, yang juga sekaligus keluarga pendiri Universitas.
Reynata juga tampak kagum pertama kali melihar Rey.
Rey menoleh ke arah Reynata yang masih saja berdiri di ambang pintu masuk.
"Terlambat, tidak disiplin, tidak pandai mengatur waktu. Serta hanya diam saja saat dia tahu ia melakukan kesalahan adalah salah satu aspek kegagalan dalam hidup. Masih tetap diam disitu nona?" Ucap Rey pada Reynata namun seperti menyindir, tetapi memang benar tetap berkharisma.
Namun bagi Reynata, mendengar seorang Rey berucap dan dari makna yang tersirat dari ka-kata Rey, sangat menjengkelkan dan sangat arrogant.
Semua orang ikut yang ada di ruangan menoleh dan menatap ke arah Reynata. Mereka saling berbisik dan menatap Reynata dengan tatapan... Oh, sangat memalukan dan menjengkelkan. Sedangkan Rey ia tersenyum miring sedikit tampak meremehkan jika dilihat dari senyumnya.
__ADS_1