
Chapter sebelumnya : "Anggap aja ini peninggalan kalau berhasil, dan perjuangan kalau gagal. Masih banyak yang gue mau ceritain ke lo. Tapi kayanya lo nolak, memang anak dari fakultas lo ngga bakalan paham dan ngga tertarik bahkan sangat dilarang masuk organisasi ini." Fandi beranjak pergi dengan wajah yang tampak sedikit keal.
"Gue masih ngga paham Fan" Ucap Reynata sedikit meninggikan suaranya.
"For your information. Cafe ini basecamp kita, jam delapan malam kita kumpul disini. Dan yah jangan dibocorkan atau jangan sampai ketahuan cerita dan organisasi ini sama orang lain, terutama anak fakultas lo." Ucap Fandi, namun sama sekali tidak menoleh pada Reynata.
Reynata butuh penjelasan lebih lanjut, tapi ia juga takut. Fandi belum menjelaskan detailnya, dan mengapa Fandi percaya pada Reyna, yang dimana Reyna adalah salah satu mahasiswi dari fakultas yang dimaksud. Reyna juga tidak mau kuliahnya terkendala hanya karena organisasi aneh ini. Apalagi harus berurusan dengan keturunan sekaligus pendiri Resavier, sedari awal saja ayahnya selalu mengingatkannya untuk tidak macam-macam dan fokus berkuliah saja.
***
Sehabis dari cafe, Reynata berencana kembali ke kampus.
Dan disinilah dia berada sekarang, di Resavier University.
Reynata berniat mencari Galang, sahabatnya. Tempat pertemuan mereka seperti biasa adalah parkiran. Sebenarnya Reynata berniat menunggu Galang pulang, mereka juga todak janjian sebelumnya. Namun saat menunggu, yang ia temukan lagi-lagi orang yang tidak ia kenali.
Dua orang laki-laki berseragam hitam menghampiri Reynata dengan wajah yang tegas dan tentunya bukan anak kuliahan.
"Ada apa?" Tanya Reynata heran. Lebih tepatnya kata yang dominan mengisi hati Reynata adalah takut.
"Bisa anda ikut kami?" Tanya salah satu laki-laki itu.
"Saya bukan anal kecil yang bisa ikut sembarang orang." Ucap Reynata.
"Kami bukan sembarang orang, dan tidak memiliki niat buruk." Kata salah satu laki-laki yang berbeda.
"Anda bisa ikut kami dan lebih rincinya bisa tanyakan pada orang yang ada di dalam mobil itu" Ucap laki-laki yang sebelumnya, ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah mobil meqah bewarna hitam itu.
Orang yang ada di dalam mobil hitam itu menyadari situasi, ia segera keluar dari dalam mobil dan menghampiri Reynata, dan dua orang laki-laki yang diketahui bawahan pria itu.
"Permisi nona Reyna" Ucap pria itu.
Reynata menaikkan sebelah alisnya. "Anda tahu nama saya?" Kata Reynata bingung.
__ADS_1
"Ya, saya Ronald. sekretaris, asisten pribadi dan katakanlah salah satu yang ikut mengelola kampus ini." Ronald menunjukkan kartu identitasnya.
Reynata percaya pada akhirnga tetapi ya sangat tidak masuk akal tiba-tiba harus berurusan pada pihak seperti orang ini.
"Lalu apa hubungannya dengan saya?" Tanya Reynata lagi.
"Saya ditugaskan untuk membawa anda, dan jika memang anda twrus membatah. Maka saya akan melakukan beberapa tindakan seperti pendisiplinan agar tidak ada pembatahan lagi. Anda pasti paham maksud saya."
Reynata merutuki kata-kata orang itu didalam hatinya, ingin sekali ia memaki-maki keanehan pada hari ini.
"Oke" Ucap Reynata final.
Mereka berjalan melangkah menuju mobil, sekarang ini, parkiran memang sepi dan hanya sedikit yang berlalu lalang. Mungkin karena jam yang tidak tepat ini.
Reynata masuk ke mobil itu, dengan perasaan yang berdebar.
Reynata hanya mampu bisa menatap ke arah jendela mobil, menyaksikan pemandangan itu, saat mobil mulai meninggalkan area kampus dan melewati banyak gedung. Ia bertanya-tanya didalam hatinya.
Akan dibawa kemana ia, dan akhirnya Reynata memutuskan untuk memberanikan diri bertanya pada Ronald yang kini duduk di sebelahnya.
"Apa pertanyaan itu sangat wajib di jawab nona? sedangkan pada akhirnya anda akan tahu sendiri kita akan kemana." Ucap Ronald pada Reynata, ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Reynata sedikit sebal melihat kelakuan Ronald yang sok cuek ini.
Mobil itu pun akhirnya sampai di sebuah rumah megah, bukannya mereda, rasa penasaran Reynata semakin menyeruak.
Saat turun dari mobil dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah mewah itu, Reynata gemetaran. Firasatnya mengatakan ini adalah awal yang buruk.
"Sebelah sini" Ucap Ronald mengarahkan, Reynata mengikuti Ronald dari belakang.
Ronald memberhentikan langkahnya saat sampai di depan pintu yang lumayan lebar, bukan hanya pintunya, tetapi sudah pasti ruangan ini sangat besar.
"Silahkan anda masuk" Kata Ronald cuek.
__ADS_1
"Dan anda juga mas-" Ucapan Reynata langsung di potong oleh Ronald.
"Saya tidak masuk, anda sendiri saja yang masuk" Reynata melanjutkan kata-katanya tadi dengan suara yang pelan dan ekspresi wajah yang dibuatnya sinis. Begitu juga Ronald, wajahnya seperti memerintah dan mengisyaratkan Reynata untuk masuk.
Reynata menghela napas dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
Saat Reynata masuk, seorang pria dengan kemeja putih, berdiri memunggungi Reynata. Badan pria itu sangat atletis.
Pintu tiba-tiba tertutup, Reynata langsung menoleh ke arah pintu. Tidak peduli soal pintu Reynata kembali menatap pria itu.
"Anda ada urusan penting dengan saya?" Tanya Reynata.
Pria itu membalikkan badannya menghadap Reynata. Dan yah, Reynata sangat tahu pria itu, benar-benar pada saat seperti ini saja pria itu sangat terlihat sombong. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tuan sombong yang ada di kampus?" Tanya Reynata lagi.
Rey menautkat alisnya. "Maksudnya? umur kita cuma beda empat tahun, kamu panggil saya tuan? seakan-akan saya setua itu. Dan apa maksud Tuan sombong? Memang berani sekali ya" Kata Rey.
"Muka kamu boros soalnya, dan hem aku ngga tahu nama kamu, kesan pertama memang anda sombong jadi saya panggil Tuan sombong" Ucap Reynata agak merendahkan volume suaranya dari sebelumnya, jujur saja ia sedikit gugup dan takut.
"Memang lebih baik kita bicara dengan bahasa formal agar anda tahu sopan santun dan menghormati, seenaknya mengecap saya sombong huh?!" Ucap Rey.
Reynata terkejut dengan volume suara Rey diakhir kalimat.
"Anda pikir anda juga siapa seenaknya berkata seperti itu, pada murid terbaik di fakultas?!" Balas Reyna tak mau kalah.
"Rey savier semoga anda tahu dan pernah mendengar nama saya"
Reynata menelan salivanya, Reynata benar-benar tidak tahu dan bahkan jika tahu ia pun lupa dengan seluruh silsilah savier dan detail kegiatan itu, siapa pembicaranya dan apapun Reynata memang tidak tahu. Selama ini ia hanya fokus pada ipk dan keaktifan di kampus saja, aktifnya pun hanya sekedar bergabung.
"Diam, karena anda kalah?" Tanya Rey seraya menunjukkan smirknya.
"Kalah? Saya tidak pernah menyandang kekalahan. Dan juga saya tidak pernah berurusan dengan anda!" Reynata segera berlari dan membuka pintu, ia ingin pergi namun pintunya terkunci.
__ADS_1
Rey tertawa pelan dan menghampiri Reynata. Jantung Reynata semakin berdebar saat Rey hampir dekat tepat dihadapannya.