
Chapter sebelumnya, "Terlambat, tidak disiplin, tidak pandai mengatur waktu. Serta hanya diam saja saat dia
tahu ia melakukan kesalahan adalah salah satu aspek kegagalan dalam hidup. Masih tetap diam disitu nona?" Ucap Rey pada Reynata namun seperti menyindir, tetapi memang benar tetap berkharisma.
***
Namun bagi Reynata, mendengar seorang Rey berucap dan dari makna yang tersirat dari kata-kata Rey, sangat menjengkelkan dan sangat arrogant.
Semua orang ikut yang ada di ruangan menoleh dan menatap ke arah Reynata. Mereka
saling berbisik dan menatap Reynata dengan tatapan... Oh, sangat memalukan dan menjengkelkan. Sedangkan Rey ia tersenyum miring sedikit tampak meremehkan jika
dilihat dari senyumnya.
Reynata membalas tatapan Rey sinis, Reynata tahu betul maksud dari ucapan Rey.
Salah satu panitia dari kegiatan tersebut bangkit, beranjak dari tempat duduknya, seperti yang diketahui panitia tersebut bernama Ravin, kakak tingkat Reynata. Ravin segera menghampiri Reynata dan mengajaknya masuk.
“Kamu masuk, langsung cari tempat duduk, jangan dengerin kata mereka” Kata Ravin berbisik pada Reynata.
Perlakuan Ravin pada Reynata memancing keributan kaum hawa. Mereka makin berbisik-bisik satu sama lain, dan beberapa diantaranya memandang sinis pada Reynata. Bahkan salah satu diantaranya adalah kakak tingkat Reynata satu kepanitian dengan Ravin.
Reynata mengangguk. “Makasih kak”
Reynata berjalan mencari bangku yang kosong, dengan pikiran dan hati yang masih kalut, ia memberanikan diri melewati orang-orang disekitarnya. Reynata sedikit mendengar percakapan yang membicarakan dirinya. “Bukan Kak Ravin yang gue kenal, masa tiba-tiba berinisiatif nyurh si Reyna masuk sih. Udahlah terlambat juga, iri gue.” Begitulah yang Reynata dengar.
__ADS_1
Sebenarnya Reynata sendiri tidak mengenal Ravin dengan baik, yang Reyna tahu, Ravin adalah kakak tingkatnya yang sering dibicaran para mahasiswi di kampus, Ravin juga aktif dalam organisasi dan ekstrakurikuler. Mungkinkah hanya karena Ravin banyak diidolakan mahasiswi kampus maka dari itu mereka membicarakan Reyna?
Sudahlah memang sedari awal Reyna tidak berniat mengikuti kegiatan ini, mungkin karena tidak ihlas menghadiri acara ini Reyna tertimpa masalah.
Maka dari itu selalu ikhlaslah dalam menjalani apapun di dalam dunia yang penuh cobaan ini, walau terkadang menjalaninya berawal dari sebuah keterpaksaa
Ketika Rey melanjutkan pembicaraannya yang tertunda tadi, Reyna langsung mengeluarkan ponsel dan earphonennya, setelah earphone tersambung ke ponseelnya, ia langsung menyumpal telinganya dengan earphonenya. Ia menghidup musik dan membuka aplikasi chatting, memang Reyna sangat tidak berniat memperhatikan dan mendengar apapun yang dibicarakan oleh orang yang ada didepan panggung itu,
walau banyak yang memuji orang itu, Reyna sungguh tidak peduli.
Reyna tampak terhibur menatap ponselnya, ia tersenyum lalu terkadang tertawa menatap layar ponselnya. Reyna sedang chatingan bersama sahabatnya, Galang. Memang Galang selalu menghiburnya disaat seperti sekarang contohnya, itulah alasan mengapa Reyna menyukai Galang.
Rey terkadang mencuri pandang untuk menatap Reynata. Rey sangat kesal melihat Reyna yang tidak memperhatikannya, seolah-olah Rey sangat tidak penting untuk diperhatikan, bahkan bagi Rey kelakuan Reyna sangat menginjak-injak harga dirinya.
Setelah acara berakhir, semua orang keluar dari gedung. Sepanjang koridor menatap Reynata sinis. Risih dengan tatapan itu, Reyna segera dengan cepat pergi menjauh dari kerumunan orang. Tidak lama kemudian, Reyna dihampiri oleh seorang mahasiswa yang tampaknya seumuran dengannya.
“Fandi?” Reyna mengerutkan dahinya seperti mencoba mengingat. “Waw salah satu mahasiswa yang terkenal sama karya-karyanya di bidang jurnalistik kan? tiba-tiba ngajak ngobrol gue, ada apa?”
Fandi tertawa kecil.
“Hampir gue tahu tentang Universitas dan isinya ini dari data-data yang dibuat sama anak-anak dari organisasi jurnalistik Resavier ini. Gue baru tahu ada yang lolos dari kata keterlambatan.”
“Maksud lo apa ya? Dan Organisasi jurnalistik?” Tanya Reyna bingung.
“Udah gue duga lo ngga paham, di semester akhir ini kita punya misi. Dan gue putusin buat ngajak lo kemisi ini. Gue sama anak-anak lain yakin lo pasti bisa bawa perubahan.”
__ADS_1
“Jangan macam-macam deh, gue ngga tahu apa-apa” Ucap Reynata.
“Gue kasi tahu lo lebih spesifiknya tapi ngga disini. Gimana? Gue ngga macam- macam kok, Cuma bicarain demi kebaikan banyak orang.” Fandi berusaha meyakinkan Reynata.
Penuh misteri dan tanda tanya, Reynata akhirnya setuju dan mengangguk.
Reynata dan Fandi akhirnya sampai disebuah cafe yang tidak terlalu jauh juga dari kampus. Fandi membawakan Dua cup cappucino ice coffee.
"Kalau mau cari cafe kenapa ngga di kampus aja? kan juga banyak cafenya" Kata Reynata.
"Ini bukan tentang cafenya Re" Reynata makin dibuat bingung.
"Lo udah pasti tahu atau mungkin ada beberapa yang ngga bakalan lo tahu. Ada batasan dan hak keistimewaan di Resavier. Lo anak fakultas bisnis itu ngga bakalan tahu dan lo juga ngga pernah aktif dalam organisasi dan ekstrakurikuler. Jadi lo ngga bakalan ngerasain."
"Batasan dan hak keistimewaan? Ngga mungkin yang kaya gitu masih ada Fan. DDan gue benar-benar ngga ngerti maksud visi misi lo"
"Ini bukan tentang organisasi jurnalistik aja Re, ini organisasi yang ngga bole dan terbatas atau bahkan terlarang lainnya yang bersifat positif yang ngga diizinkan pihak kampus. Jadi gue punya organisasi namanya MAS. Misi Akhir Semester. Organisasi ini hanya untuk anak-anak semester akhir karena udah pasti pengetahuan dan pengalaman tentang kampus lebih baik. Kita mau memperjuangkan dan mengungkapkan sesuatu tentang Resavier, gue juga mau organisasi positif diperbolehkan dan ngga dibatasi lagi.MAS ini udah lama ada sebelumnya,cuma selalu gagal."
"Lalu apa hubungannya sama gue? Berarti kemungkinan beresiko banget MAS ini. Kita itu semester akhir, siapin aja untuk kelulusan jangan sampai kalian kena masalah!"
"Anggap aja ini peninggalan kalau berhasil, dan perjuangan kalau gagal. Masih banyak yang gue mau ceritain ke lo. Tapi kayanya lo nolak, memang anak dari fakultas lo ngga bakalan paham dan ngga tertarik bahkan sangat dilarang masuk organisasi ini." Fandi beranjak pergi dengan wajah yang tampak sedikit keal.
"Gue masih ngga paham Fan" Ucap Reynata sedikit meninggikan suaranya.
"For your information. Cafe ini basecamp kita, jam delapan malam kita kumpul disini. Dan yah jangan dibocorkan atau jangan sampai ketahuan cerita dan organisasi ini sama orang lain, terutama anak fakultas lo." Ucap Fandi, namun sama sekali tidak menoleh pada Reynata.
__ADS_1
Reynata butuh penjelasan lebih lanjut, tapi ia juga takut. Fandi belum menjelaskan detailnya, dan mengapa Fandi percaya pada Reyna, yang dimana Reyna adalah salah satu mahasiswi dari fakultas yang dimaksud. Reyna juga tidak mau kuliahnya terkendala hanya karena organisasi aneh ini. Apalagi harus berurusan dengan keturunan sekaligus pendiri Resavier, sedari awal saja ayahnya selalu mengingatkannya untuk tidak macam-macam dan fokus berkuliah saja.