Reynata Dan Misi Akhir Semester

Reynata Dan Misi Akhir Semester
Menjauh


__ADS_3

Chapter sebelumnya : Selama mondar-mandir tak jelas, Reynata


melihat foto dirinya dan Galang. Ia berjalan mengambil foto itu. Apakah Reynata


berdosa menyukai sahabatnya? Sahabatnya yang akan menjadi adik iparnya.


“Semenjak lo punya pacar lo gak pernah ngabarin gue ya Lang,


perasaan gue juga masih sama ke lo. Cuma bedanya udah harus di kas tembok” Ucap


Reynata pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba terlintas di pikiran Reynata., sepertinya ia tahu


cara pergi tanpa dicurigai.


Reynata menelepon Galang, mungkin membawa Galang untuk memudahannya


keluar dari rumah sangat efektif. Selain itu, terbesit rasa rindu akan Galang.


***


Galang pergi menuju rumah Denise nenek Reynata,  Galang yang  juga cukup dekat dengan semua  keluarga Reynata sangat leluasa datang berkunjung kapan pun. Rumah mereka


satu sama lain sangat terbuka untuk saling menerima.


Saat sampai dirumah nenek Reynata, Galang langsung diizinkan


masuk dan pada saat itu pertama kali ia langsung bertemu Denise. “Oma,


Reynatanya ada?” Tanya Galang saat bertemu Denise.


“Duduk dulu” Ucap Denise mempersilahkan Galang duduk. Galang


langsung duduk di sofa, tidak lama Rey juga datang menghampiri  Denise dan Galang.


“Ada lo juga ternyata” Kata Galang santai.  Rey hanya membalas dengan gumaman dan duduk


di sofa sebelah Denise.


“Kamu masih berhubungan sama Reynata, bukannya kamu udah


punya pacar?” Tanya Denise.


Tidak langsung menjawab, Galang malh terfokus pada Reynata


yang diam-diam muncul tanpa Denise dan Rey tahu. Bahkan Reynata memberi kode


pada Galang agar ia mengalihkan perhatian Denise dan Rey. Galang yang paham


akan kode dari Reynata langsung menjawab pertanyaan Denise.


“Hubungan sebatas sahabat aja gakpapa kan Oma? Memang


salanya dimana?” Bukannya menjawab, justru Galang balik bertanya. Mungkin bukan


jawaban yang memuaskan karena ia masih gelagapan kaena tingkah Reynata yang


main kode seperti itu.


Denise mengerutkan dahinya, sebenarnya maksud Dinise pun


bukan kesitu. Apakah Galang tidak tahu sindiran, padahal Galang adalaha anak


yang cepat tanggap.


“Kamu tahu Reynata akan segera tunangan kan?” Kata Denise.


“Oh tau  Oma, tapi


Reynata yang suruh Galang kesini.


Kerutan di wajah Denise semakin bertambah, “Rey,  kamu harus lebih dekat sama Reynata. Kenapa


jadi kebalik kaya gini, jangan terlalu sibuk kerja. Kamu udah sangat mapan


menerut Oma.”


Rey tidak tahu mau berekspresi atau menjawab apa, a bahkan


menatap Galang dan memberi kode dengan raut wajahnya. Baru kali ini sepertinya


ia disuruh-suruh.  Biasanya Rey yang


selalu memerintah.

__ADS_1


“Tenang aja Oma, Galang bantu Oma!” Kata Galang semangat.


“Bagus.” Balas Denise.


“Kalau gitu Rey pamit ya, udah malam juga...Oma” Kata Rey.


“Ketemu dulu sama Reynata sana!” Perintah Denise.


“Gak usah Oma, kayanya Reynata udah tidur.” Kata Rey tetap


dengan nada sopan. Denise yang hendak ingin komplen dengan jawaban Rey langsung


dibungkam oleh Galang.


“Oma kaya ngga tahu Reynata aja, pasti kunci pintu kamar


lah. Mana mau ketemu, entar makin retak hubungannya sama Rey.” Bisik Galang


pada Denise.


“Benar kata Rey...Oma, Galang kesini ja Reynata gak nrmuin


Galang. Pasti ketiduran nih dia, soalnya Galang juga telat baca pesan yang


Reyata kirim.” Ucap Galang lagi dengn sedikit girang, dan tidak berbisik-bisik


agar suasana lebih meyakinkan.


“Yaudah, hatii-hati kalian.” Kata Denise.


Rey dan Galang langsung buru-buru pergi meningalkan Denise.


***


Rey masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Galang masih berdiri


di samping motor sportnya, ia menunggu sampai Rey benar-benar pergi.


“Hati-hati bro” Kata Galang saat mobil Rey melewatinya.


Galang mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Reynata.


“Lo dimana Re” Tanya Galang.


“pu...lang ke rumah gue lah..., gak bisa gue nginap di rumah


“Ingatkan janji persahbaatan kita, jangan pernah saling


bohonng atau sembunyiin apapun.” Kata Galang.


“Lo punya pacar gak bilang gue.”


“Lahh...kan udah gue kenalin ke Lala. Sengaja aja pas malam


itu gue baru bilang, biar sekalian gitu kenalin sama keluarga yang lain” Kata


Galang menjelaskan.


“Tetap aja, rasanya tiba-tiba gitu. Gak ada yang spesial


dari persahabatan kita kalau lo samain gue sama yang lain. Harusnya lo juga


bilang kalau memang udah sejauh itu deketin Lala” Reynata menahan sakit


hatinya, ia menangis , kata-kata yang ia ucapkan bahkan punya maksud


tersendiri.


“Bilang biar gue ngga berharap” Ucap Reynata dalam hati.


“Re...” Panggil Galang.


Reynata diam tak menjawab, ia menghapus air matanya dengan


menggunakan sebelatah tangannya.


“Lo PMS? Nanti gue beliin es krim, jangan ngambek ya?”


“Mungkin udah ngga bisa sedekat dulu Lang. Kita juga udah


dewasa,  gue bukan anak kecil yang bisa


baikan lagi dengan dikasi es krim kaya dulu. Sekarang jaga jarak leih baik.”


Ucap Reyata, tidak ada keraguan dari kata-kata yang ia ucapkan.

__ADS_1


“HAHHAAHA, bercandanya lucu lo, tapi ketawa gue garing ya.


Efek udah malem kali ya, jadi ngelantur.” Galang bingung, kata-katanya terkesan


menyindir  Reynata.


“Terserah apa kata lo, mungkin emang benar yang dikatain


Oma. Kita jaga jarak aja ya, lo udah punya pacar juga kan dan gue udah mau


tunangan.”


“Eh Re, ini beneran? Kenapa jadi dengerin apa kata Oma?”


Kata Galang panik.


Reynata tidak menjawab, ia langsung mematikan sambungan


teleponnya.


“Hallo Re...”


Tia-tiba Denis menghampiri Galang, Galang sedikit terkejut.


“Tadinya...Oma mau marah. Tapi setelah dengar percakapan


kalian lewat telepon.  Oma maklumin deh,


ya sudah ... kamu pulangnya hati-hati.” Ucap Denise gembira.


“Oma nguping?” Tanya Galang dengan nada suara dan wajah yang


amat datar.


“Bukan...ngga sengaja lewat, kedengeran deh.”


“Galang pamit Oma” ia langsung menaiki motornya dan segera


pergi.


***


Reynata bersiap-bersiap menjalankan misi bersama dengan


komplotannya, komplotan itu sengaja dibagi menjadi beberapa tim dan tugas yang


berbeda.


“Untungnya gue bisa satu tim sama lo Re” Kata Gisel gembira,


Reynata tertawa pelan, jarang sekali ia keluar malam seperti ini dan ia rasa


benar-benar menantang.


“Gisel!” Panggil Fandi.


“Bentar dulu ya Re” Gisel langsung berjalan ke arah Fandi


yang tak jauh dari tempat dirinya dan tim mereka setelah mengatakan itu pada


Reynata.


“Kenapa Fan?” Tanya Gisel.


“Jagain Reynata, gue takut dia bakalan ngerusak rencana. Dia


masih baru dan lebih beresiko masuk ke  misi ini” Peringat Fandi.


“Tapi gue yakin kok dia baik-baik aja, dan ngg amungkin


beralih sama keputusannya. Jangan terlalu mencurigai gitu”


“Lo tahukan Misi Akhir Semester, ingat ini semester terakhir


kita di kampus ini, lo juga beberapa kali ngulang semester dan ini juga yang


terakhir buat lo. Gue harap semua berjalan dengan baik sesuai harapan” Ucap


Fandi penuh harap.


“Iya gue harap juga sesuai harapan, yasudah langsung atur


aja kali ya. Biar gak kemaleman juga kan, gue balik ke tim ya.” Gisel tersenyum


canggung pada Fandi dan langsung berlari ke arah timnya.

__ADS_1


“Re” Gisel langsung memanggil Reynata, entahlah ia ingin menyampaikan


sesuatu pada Reynata.


__ADS_2