
Chapter sebelumnya : Selama mondar-mandir tak jelas, Reynata
melihat foto dirinya dan Galang. Ia berjalan mengambil foto itu. Apakah Reynata
berdosa menyukai sahabatnya? Sahabatnya yang akan menjadi adik iparnya.
“Semenjak lo punya pacar lo gak pernah ngabarin gue ya Lang,
perasaan gue juga masih sama ke lo. Cuma bedanya udah harus di kas tembok” Ucap
Reynata pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Reynata., sepertinya ia tahu
cara pergi tanpa dicurigai.
Reynata menelepon Galang, mungkin membawa Galang untuk memudahannya
keluar dari rumah sangat efektif. Selain itu, terbesit rasa rindu akan Galang.
***
Galang pergi menuju rumah Denise nenek Reynata, Galang yang juga cukup dekat dengan semua keluarga Reynata sangat leluasa datang berkunjung kapan pun. Rumah mereka
satu sama lain sangat terbuka untuk saling menerima.
Saat sampai dirumah nenek Reynata, Galang langsung diizinkan
masuk dan pada saat itu pertama kali ia langsung bertemu Denise. “Oma,
Reynatanya ada?” Tanya Galang saat bertemu Denise.
“Duduk dulu” Ucap Denise mempersilahkan Galang duduk. Galang
langsung duduk di sofa, tidak lama Rey juga datang menghampiri Denise dan Galang.
“Ada lo juga ternyata” Kata Galang santai. Rey hanya membalas dengan gumaman dan duduk
di sofa sebelah Denise.
“Kamu masih berhubungan sama Reynata, bukannya kamu udah
punya pacar?” Tanya Denise.
Tidak langsung menjawab, Galang malh terfokus pada Reynata
yang diam-diam muncul tanpa Denise dan Rey tahu. Bahkan Reynata memberi kode
pada Galang agar ia mengalihkan perhatian Denise dan Rey. Galang yang paham
akan kode dari Reynata langsung menjawab pertanyaan Denise.
“Hubungan sebatas sahabat aja gakpapa kan Oma? Memang
salanya dimana?” Bukannya menjawab, justru Galang balik bertanya. Mungkin bukan
jawaban yang memuaskan karena ia masih gelagapan kaena tingkah Reynata yang
main kode seperti itu.
Denise mengerutkan dahinya, sebenarnya maksud Dinise pun
bukan kesitu. Apakah Galang tidak tahu sindiran, padahal Galang adalaha anak
yang cepat tanggap.
“Kamu tahu Reynata akan segera tunangan kan?” Kata Denise.
“Oh tau Oma, tapi
Reynata yang suruh Galang kesini.
Kerutan di wajah Denise semakin bertambah, “Rey, kamu harus lebih dekat sama Reynata. Kenapa
jadi kebalik kaya gini, jangan terlalu sibuk kerja. Kamu udah sangat mapan
menerut Oma.”
Rey tidak tahu mau berekspresi atau menjawab apa, a bahkan
menatap Galang dan memberi kode dengan raut wajahnya. Baru kali ini sepertinya
ia disuruh-suruh. Biasanya Rey yang
selalu memerintah.
__ADS_1
“Tenang aja Oma, Galang bantu Oma!” Kata Galang semangat.
“Bagus.” Balas Denise.
“Kalau gitu Rey pamit ya, udah malam juga...Oma” Kata Rey.
“Ketemu dulu sama Reynata sana!” Perintah Denise.
“Gak usah Oma, kayanya Reynata udah tidur.” Kata Rey tetap
dengan nada sopan. Denise yang hendak ingin komplen dengan jawaban Rey langsung
dibungkam oleh Galang.
“Oma kaya ngga tahu Reynata aja, pasti kunci pintu kamar
lah. Mana mau ketemu, entar makin retak hubungannya sama Rey.” Bisik Galang
pada Denise.
“Benar kata Rey...Oma, Galang kesini ja Reynata gak nrmuin
Galang. Pasti ketiduran nih dia, soalnya Galang juga telat baca pesan yang
Reyata kirim.” Ucap Galang lagi dengn sedikit girang, dan tidak berbisik-bisik
agar suasana lebih meyakinkan.
“Yaudah, hatii-hati kalian.” Kata Denise.
Rey dan Galang langsung buru-buru pergi meningalkan Denise.
***
Rey masuk ke dalam mobilnya, sedangkan Galang masih berdiri
di samping motor sportnya, ia menunggu sampai Rey benar-benar pergi.
“Hati-hati bro” Kata Galang saat mobil Rey melewatinya.
Galang mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menghubungi Reynata.
“Lo dimana Re” Tanya Galang.
“pu...lang ke rumah gue lah..., gak bisa gue nginap di rumah
“Ingatkan janji persahbaatan kita, jangan pernah saling
bohonng atau sembunyiin apapun.” Kata Galang.
“Lo punya pacar gak bilang gue.”
“Lahh...kan udah gue kenalin ke Lala. Sengaja aja pas malam
itu gue baru bilang, biar sekalian gitu kenalin sama keluarga yang lain” Kata
Galang menjelaskan.
“Tetap aja, rasanya tiba-tiba gitu. Gak ada yang spesial
dari persahabatan kita kalau lo samain gue sama yang lain. Harusnya lo juga
bilang kalau memang udah sejauh itu deketin Lala” Reynata menahan sakit
hatinya, ia menangis , kata-kata yang ia ucapkan bahkan punya maksud
tersendiri.
“Bilang biar gue ngga berharap” Ucap Reynata dalam hati.
“Re...” Panggil Galang.
Reynata diam tak menjawab, ia menghapus air matanya dengan
menggunakan sebelatah tangannya.
“Lo PMS? Nanti gue beliin es krim, jangan ngambek ya?”
“Mungkin udah ngga bisa sedekat dulu Lang. Kita juga udah
dewasa, gue bukan anak kecil yang bisa
baikan lagi dengan dikasi es krim kaya dulu. Sekarang jaga jarak leih baik.”
Ucap Reyata, tidak ada keraguan dari kata-kata yang ia ucapkan.
__ADS_1
“HAHHAAHA, bercandanya lucu lo, tapi ketawa gue garing ya.
Efek udah malem kali ya, jadi ngelantur.” Galang bingung, kata-katanya terkesan
menyindir Reynata.
“Terserah apa kata lo, mungkin emang benar yang dikatain
Oma. Kita jaga jarak aja ya, lo udah punya pacar juga kan dan gue udah mau
tunangan.”
“Eh Re, ini beneran? Kenapa jadi dengerin apa kata Oma?”
Kata Galang panik.
Reynata tidak menjawab, ia langsung mematikan sambungan
teleponnya.
“Hallo Re...”
Tia-tiba Denis menghampiri Galang, Galang sedikit terkejut.
“Tadinya...Oma mau marah. Tapi setelah dengar percakapan
kalian lewat telepon. Oma maklumin deh,
ya sudah ... kamu pulangnya hati-hati.” Ucap Denise gembira.
“Oma nguping?” Tanya Galang dengan nada suara dan wajah yang
amat datar.
“Bukan...ngga sengaja lewat, kedengeran deh.”
“Galang pamit Oma” ia langsung menaiki motornya dan segera
pergi.
***
Reynata bersiap-bersiap menjalankan misi bersama dengan
komplotannya, komplotan itu sengaja dibagi menjadi beberapa tim dan tugas yang
berbeda.
“Untungnya gue bisa satu tim sama lo Re” Kata Gisel gembira,
Reynata tertawa pelan, jarang sekali ia keluar malam seperti ini dan ia rasa
benar-benar menantang.
“Gisel!” Panggil Fandi.
“Bentar dulu ya Re” Gisel langsung berjalan ke arah Fandi
yang tak jauh dari tempat dirinya dan tim mereka setelah mengatakan itu pada
Reynata.
“Kenapa Fan?” Tanya Gisel.
“Jagain Reynata, gue takut dia bakalan ngerusak rencana. Dia
masih baru dan lebih beresiko masuk ke misi ini” Peringat Fandi.
“Tapi gue yakin kok dia baik-baik aja, dan ngg amungkin
beralih sama keputusannya. Jangan terlalu mencurigai gitu”
“Lo tahukan Misi Akhir Semester, ingat ini semester terakhir
kita di kampus ini, lo juga beberapa kali ngulang semester dan ini juga yang
terakhir buat lo. Gue harap semua berjalan dengan baik sesuai harapan” Ucap
Fandi penuh harap.
“Iya gue harap juga sesuai harapan, yasudah langsung atur
aja kali ya. Biar gak kemaleman juga kan, gue balik ke tim ya.” Gisel tersenyum
canggung pada Fandi dan langsung berlari ke arah timnya.
__ADS_1
“Re” Gisel langsung memanggil Reynata, entahlah ia ingin menyampaikan
sesuatu pada Reynata.