
Chapter sebelumnya : Fransminic yang terus menjdi misteri ,
penerus EAB yang hilang masih menjadi polemik. Hanya keluarga turun menurun
Resavier Ganesa yang masih utuh. Namun, demi menjaga dan membersihkan kejadian
masa lalu, tak ada keturunan Resavier Ganesa yang menggunakan nama Resavier,
bahkan mereka menggantinya dengan Savier untuk sedikit menghormati, dan Ganesa
yang memang tak mau berurusan dengan masa lalu keluarga mereka yang terus
dikaitkan dengan kasus Fransminic
“Ganesa?” Reynata
bergumam pelan.
Baru tersadar oleh Reynata bahwa keluarganya memiliki nama belakang Ganesa. Reynata juga jadi
sedikit takut, ia masuk ke dalam komplotan yang tentu saja punya misi yang
mengaitkan keluarganya juga.
Keluar dari komplotan itu? tentu saja tidak akan Reynata
lakukan, ia juga penasaran dengan semua yang terjadi. Namun meski begitu ia
akan berusaha terus menjaga keamana keluarganya.
“Mungkin sampai dsini aja, jadwal malam ini jam sepuluh
malam. Kumpul depan aula, Thanks...sukses buat kalian.” Setelah Fandi
mengucapkan itu semua orang bubar. “Gue mau bicara sebentar sama lo Re,” kata
Fandi sebelum Reynata melangkah pergi.
Fandi menutup pintu ruangan, disana hanya tersisa Fandi dan
Reynata.
“Lo tahu banyak tentang semua ini Fan?” Tanya Reynata langsung.
“Sedikit, mungkin lo bisa keluar dari misi ini kalau lo
maua. Karena lo juga bakalan jadi tunangan Rey. Gue ngga mau ambil resiko.
Ya... tapi pilihan ada ditangan lo, kalau lo mau bertahan silahkan. Asal bisa
jaga rahasia komplotan MSA ini.”
“Gue pilih bertahan ada hal yang pengen gue ketahuin, lebih
tepatnya ada misi tambhan buat gue.” Ucap Reynata yakin.
“Gue juga.” Gumam Fandi pelan.
“Juga gimana?” Tanya Reynata yang mendengar gumaman Fandi.
“Hem? Oh... gue hargai pilihan lo. Lo boleh pergi” Fandi
berjalan dengan tergesa-gesa membuka pintu untuk Reynata.
Reynata terdiam sejenak.
“Ada yang mau gue tanyain.” Ucap Reynata ragu.
Raut wajah Fandi seperti mengode Reynata untuk cepat bicara.
“Lo tahu darimana gue bakalan tunangan sama Rey? Bahkan gue
aja juga baru tahu kemarinnya.”
Raut wajah Fandi berubah seketika, Fandi membukam. Suasana
yang dirasakan Fandi sekarag sedikit menegangkan, namun itu tidak berlangsung
lama. Telepon Reynata berbunyi.
“Nyokap gue, gue harus cepat pergi Fan. Gue lupa ada janji ,
Bye” Reynata langsung bergegas meninggalkn Fandi. Kepergian Reynata membuat
__ADS_1
Fandi menghela napas panjang.
“Hallo mah” Kata Reynata
“Kamu dimana Re? Mamah sama papah udah di rumh oma kamu”
Ucap Fina melalui sambungan telepon.
“Iya Rere lagi di jalan, udah dulu ya Mah” Reynata berlari
terburu-buru mencari transportasi untuk berangkat, tetapi beruntungnya sudah
ada Mang Asep yang sudah stand by menunggu Reynata.
“Cepatan ya Mang” Ucap Reynata panik.
“Baik Neng.” Balas Mang Asep.
Reynata sampai dirumah neneknya. Ia menarik napas panjang
dan menghembuskan dengan pelan. Reynata sangat gugup sekarang.
Entah mengapa nenek Reynata seperti tidak pernah menyukai
Reynata, dan masih selalu menjadi pertanyaan mengapa namanya tak menyandang
nama Ganesa?
“Terlambat tiga menit” Ucap Denise, nenek Reynata.
Reynata menahan raut wajahnya agar lebih tenang dan tidak
tersulut emosi.
“Oma, pasti ada sesuatu yang mau oma sampaikan kan. Rere gak
punya banyak waktu.” Ucap Reynata.
“Belum berubah ya kamu. Hari ini Oma mau bahas tentang pertunangan
kamu.” Selesai Denise mengucapkan itu,
seseorang datang dari belakang arah Reynata.
sangat senang dengan kehadiran orang itu.
Reynata menoleh ke belakang, ternyata orang itu adalah Rey.
Rey datang dengan balutan jas hitam, seperti biasa sangat rapi dan berwibawa, ia
duduk tepat disamping Reynata.
“Reynata belum mau nikah Oma” Tolak Reynata, wajahnya
seketika cemberut.
Denise tampak tidak memperdulikan kata-kata Reynata bahkan
sepertinya ia hanya fokus pada Rey.
“Rey, gimana menurut kamu kalau pertunangannya kita majuin
lagi? Berminggu-minggu itu lama banget” Ucap Denise.
Rey hanya tersenyum tipis. “Boleh, Oma tentuin tanggalnya
aja. Biar semuanya diatur sama asisten Rey.”
“Oke seminggu lagi acara pertunangan akan diselenggarakan”
Balas Denise.
“Yang mau tunangan siapa? Oma? Yang ngatur semua asisten? Emang
udah gak usah ngundang aku bahas topiik ini.” Reyata meutar bola matanya malas.
Reynata langsung pergi tak ingin mendengar percakapan antara omanya
dan Rey. Ia mmemilih sendiri ke taman belakang .
Tiba-tiba sang ibu datang menghampirinya.
“Mamah sengaja memberi kamu ruang bicara sama nenek kamu,
__ADS_1
ternyata gak berjalan sesuai rencana.” Ucap Fina lembut.
“Gak akan pernah bisa Mah, dari dulu Oma ngga suka sama
kehadiran aku.” Kata Reynata sendu nada bicaranya bercampur kesal.
“Gak boleh ngomong kaya gitu, kamu harus jalanin dengan
ikhlas semua prosesnya untuk mendapatkan hikmahnya.” Kata Fina menasehati.
Reynata jadi teringat
sesuatu, mungkin ia harus mengumpulkan petunjuk pelan-pelan.
“Kenapa Rey sama Oma dekat banget? Rey sama papah juga
dekat? Apa karena partner bisnis Mah?” Tanya Reynata berhati-hati.
Fina mengerutkan dahinya. “Bukan Cuma karena itu, keluarga
kita memang punya ikatan sangat dekat dengan keluarga Savier. Tumben kamu
nanyain kaya gitu? Ada apa?” Fina balik bertanya.
“Ya...Reynata Cuma..pengen tahu. Masa Reynata gak tahu
apapun tentang tunangan Reynata,” kata Reynata gugup.
“Sepertinya kamu udah mulai menerima pertunangan ini” Fina
tersenyum dan langsung meninggalkan Reynata.
Reynata menepuk
jidatnya, menyesali semua ucapannya. Ia hanya harus menyiapkan diri untuk misi
nanti malam. Benar-benar misi menantang
dan menyenangkan, ia memang tidak tahu cara menghentikan pertunangan bahkan
pernikahannya sendiri. Tetapi Reynata lebih senang menghentikan ketidakadilan
dan mengungkapkan apa yang ingin ia ketahu. Masalah pernikahan? Sudah
kepasrahan tersendiri untuk Reynata.
Dan paling terpenting untuk hari in adalah bagaimana ia
keluar rumah dan menjalankan aksi, apalagi ia kini di rumah neneknya. Bahkan
ada Rey yang tentunya menjadi sebuah penghalang besar untuk Reynata.
***
Reynata mondar-mandir tak karuan, memikirkan cara yang tepat
dan tidak mudah dicurigai. Sambil menunggu jam yang pas untuk berangkat,
sesekali Reynata mengecek ponselnya. Karena semua orang sudah bersiap-siap dan
saling mengabari lewat telepon genggam.
Selama mondar-mandir tak jelas, Reynata melihat foto dirinya
dan Galang. Ia berjalan mengambil foto itu. Apakah Reynata berdosa menyukai
sahabatnya? Sahabatnya yang akan menjadi adik iparnya.
“Semenjak lo punya pacar lo gak pernah ngabarin gue ya Lang,
perasaan gue juga masih sama ke lo. Cuma bedanya udah harus di kas tembok” Ucap
Reynata pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba terlintas di pikiran Reynata., sepertinya ia tahu
cara pergi tanpa dicurigai.
Reynata menelepon Galang, mungkin membawa Galang untuk
memudahannya keluar dari rumah sangat efektif. Selain itu, terbesit rasa rindu
akan Galang.
__ADS_1