Reynata Dan Misi Akhir Semester

Reynata Dan Misi Akhir Semester
Makan malam


__ADS_3

Chapter sebelumnya : Reynata menelan salivanya, Reynata benar-benar tidak tahu dan bahkan jika tahu ia pun lupa dengan seluruh silsilah savier dan detail kegiatan itu, siapa pembicaranya dan apapun Reynata memang tidak tahu. Selama ini ia hanya fokus pada IPK  dan keaktifan di kampus saja, aktifnya pun hanya sekedar bergabung.


"Diam karena anda kalah?" Tanya Rey seraya menunjukkan smirknya.


"Kalah? Saya tidak pernah menyandang kekalahan. Dan juga saya tidak pernah berurusan dengan anda!" Reynata segera berlari dan membuka pintu, ia ingin pergi namun pintunya terkunci.


Rey tertawa pelan dan menghampiri Reynata. Jantung Reynata semakin berdebar saat Rey hampir dekat tepat dihadapannya.


***


"Pintu ngga akan terbuka kalau bukan aku yang suruh buka" Ucap Rey.


Rey pergi dari hadapan Reynata, ia dudu di salah satu sofa yang ada di ruangan itu.


"Gue masih ada kelas ya, asal lo tahu." Kata Reynata gusar.


"Terus kenapa nunggu di parkiran? Bukannya kamu nunggu sahabatmu itu? Sahabat yang ngga pernah tahu perasaan sahabatnya. Bagus, menyakati hati sendiri untuk tetap menyukai orang yang bahkan tidak pernah menotice perasaan sedikit pun.


Wajah Reynata tampak kebingungan sekaligus ia menahan amarahnya.


"Udah berasa yang paling tahu hidup gue ya lo" Sindir Reynata dan nada bicara yang tidak bersahabat.


"Yes, sebagian aku tahu. Sisanya emang cuma kamu yang tahu." Rey memainkan ponselnya. "Anda bisa pergi" Ucap Rey acuh. Setelah mengatakan itu pintu tebuka, Ronald menghampiri Rey dan Reynata.


"Asal anda tahu, tuan Rey savier. Tidak seharusnya anda jadi penguntit dan mengurusi hidup orang lain. Terutama jika orang lain itu,saya!" Ucap Reynata penuh penekanan, kemudian ia pergi dari ruangan yang menurutnya terkutuk itu.


Reynata memberhentikan langkahnya. "Kita lihat nanti hubungan kita kedepannya, sampai beremu nona Reynata Dornando." Kata Rey.


Reynata menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkah kakinya yang terhenti, Reynata tidak mengerti seratus persen apa maksud dari perkataan Rey. Namun ia berharap tidak akan bertemu dengan Rey lagi.


Reynata tidak jadi kembali ke kampus, melainkan ia pulang menuju rumahnya menggunakan taksi. Ponsel Reynata berdering, Galang menelponnya, namun Reynata tidak ingin mengangkat telepon dari Galang. Jujur saja kata-kata yang Rey katakan sedikit menyakiti perasaannya.


Reynata sampai dirumahnya, ibunya segera menghampiri Reynata.


"Malam ini, kita makan malam sama keluarga Aditama, dan kedatangan tamu spesial." Ucap Fina ibunda Reynata.


“Harus malam ini juga mah?” Tanya Reynata, sangat jelas bahwa ia sangat tidak berminat.


“Iya, pokoknya mamah udah siapin baju buat kamu, nanti malam dipake ya.” Fina memperingati Reyna, tidak lama


ayah Reyna datang menghampiri.

__ADS_1


“Jangan berulah ya Rey, malam ini ngga Cuma keluarga Aditama saja yang ikut mkan malam dengan kita. Bersikp yang sopan.” Timpal Dornan.


Reyna menatap sang ayah dengan tatapan kecewa. “Apa selama ini Reyna kurang sopan?” Tanyanya.


“Papah ngga bilang kamu ngga sopan, tapi papah tahu kalau kamu pulang dengan wajah seperti itu kamu akan buat keputusan yang salah dan mengakibatkan masalah. Papah ngga mau kamu buat keputusan yang salah malam ini.” Jawab ayahnya.


“Kenapa semua orang berkata seolah-olah tahu aku, padahal kalian ngga tahu sedikit pun tentang aku.”  Mata Reyna berkaca-kaca, ia ingin melanjutkan ucapannya, tetapi tidak bisa. Seperti ada sesuatu yang menahan kata-kata itu untuk tidak terucapkan. Dan rasanya sangat sakit seperti  ada beban yang selalu tertampung.


“Papah ngga mau berdebat sama kamu Rey, jangan jadi anak durhaka yang terus membantah dan berbicara dengan nada yang keras pada orang tua. Papah ngga mau kamu seperti itu”


“Aku cuma mau dengar satu kata dari kalian, aku cuman mau dengar papah sama mamah nanyain hari yang udah  aku laluin hari ini. Cuman itu” Reynata menangis menahan sakit, terasa pedih sekali dadanya.


“Reyna, masuk kamar.” Ucap Fina seperti memohon.


Reyna menuruti ibunya, ia melangkah pergi. Berjalan secepat mungkin menuju kamarnya. Reyna selalu bertanya pada dirinya sendiri. Apakah di masa depan kelak ketika ia sudah punya keluarga sendiri, apakah ia bissa bahagia suatu hari nanti?


Reyna sangat ingin punya keluarga yang harmonis, ia ingin menjadi ibu yang selalu terbuka dan ada untuk


anak-anaknya, menjadi orang tua yang bisa mengerti perasaan anaknya.


Galang menelepon Reyna lagi, Reyna sangat butuh teman bicara. Ia mengangkat telepon itu, terdengar suara Galang menyapa.


“Hallo Reyna”  Sapa Galang melalui sambungan telepon.


“Hari ini makan malam kan? Good news nya gue udah jadian sama Lala. Dan malam ini juga gue mau kenalin ke mamah sama papah, dan kakak gue yang pernah gue ceritain. Makan malam ini adalah waktu yang pas. Gimana menurut lo?” Tanya Galang, dari nada suaranya ia sangat tampak bersemangat.


Reynata tercenung mendengar kata-kata Galang.


“Re?”


“Hem terserah lo aja”


“Cewe banget jawabannya.”


“Gue harus jawab apa emangnya Lang, gue ngga setuju tapi gue ngga bisa ngga setuju. Dan gue bingung.” Ucapnya dalam hati.


“Kenapa canggung ya, hahaha” Ucap Galang disertai tawa yang ia buat, tampak sekali terdengar receh. “Yaudah


sampai ketemu nanti ya” Setelah Galang mengucapkan kata itu, Reynata langsung mematika sambungan teleponnya.


Saat malam tiba, Reyna telah bersiap-siap dengan dress yang disiapkan ibunya, ia sangat tampak cantik. Polesan make up tipis dn rambut yang ditata rapi.

__ADS_1


“Seperti biasa kita pisah mobil, mamah sama papah pergi duluan sama supir. Kamu sama mang Asep” Ucap Dornan. “Jangan sampai ngga dateng Re”  Dornan melanjutkan kata-katanya.


“Kamu cantik banget sayang” Fina mencium pipi putrinya, sebelum akhirnya pergi.


Reyna tersenyum, memang selalu ibunya yang mengatakan ia cantik.


Reyna bersama dengan mang Asep, supirnya.


“Mang, memnurut mang Asep. Papah sayang nggsa sih sama Reyna?”


“Pasti atuh neng, ngga ada orang tua yang ngga sayang sama anaknya. Cuma cara menunjukkan kasih sayangnya itu berbeda-beda. Kalau ngga sayag neng mah ngga bakalan dibesarin sampai sekarang,


tapi setahu saya ya, memang ngga ada yang ngga sayang, Cuma punya alasan tertentu aja untuk melakukan suatu tindakan. Mau baik atau buruk selalu ada alasan. Tapi mah yang neng jangan selalu gunain alasan disetiap perbuatan. Kalau kata anak muda jaman sekarang mah yah, basi. Kita kan punya akal, ya kita yang sebenarnya mengendalikan segala perbuatan.” Ucap mang Asep seraya tertawa kecil.


Reynata mengecek ponselnya, ada notif pesan dari Galang.


“Re, lama banget sampainya. Gue denger-denger lo mau dikenaalin sama kakak gue. Rey savier. Ngga kebayang


sodaraan sama lo” Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Galang.


Reynata membelalak saat membaca pesan dari Galang.


“Mang Asep, mampir ke cafe dekat kampus ya.” Kata Reynata.


“Aduh kumaha ya neng, nanti ditungguin sama mamah sama papah eneng. Kan uda diperingatin jangan sampai ngga dateng neng”  Ucap mang Asep panik.


“Kalau ngga dianterin kesana Reyna turun loh dari mobil” Ancamnya.


“Iya neng iya” Kata mang Asep pasrah.


Dilain tempat, semua orang menunggu kedatangan Reynata. Sambil santai dengan obrolan dan hidangan yang sudah tersedia.


“Reyna kemana ya Fin?” Tanya Sena.


“Udah dijalan kok”


“Mah, kalau masih lama Rey pulang” Ucap Rey ketus.


Sena memelototi Rey, seolah-olah memperingati Rey untuk menjaga ucapannya.


“Jangan-jangan dia kabur karena ngga mau dikenalin sama lo kak” Bisik Galang pada Rey.

__ADS_1


Sena memelototi Galang juga, lihat saja anak itu saat pulang ke rumah nanti. Sena akan omeli kedua putranya yang tidak bisa menjaga sikap itu.


__ADS_2