
Rhea tengah tertidur pulas ketika Daffa masuk ke dalam kamar mereka. Tidak seperti biasanya dimana Rhea akan menunggunya untuk tidur. Bahkan meskipun tinggal di ruangan dan rumah yang berbeda, Rhea masih mengurusinya selama ini. Semua pakaian yang akan dikenakannya, semua makanan yang akan ia makan, dan bahkan menunggunya hingga pulang jika ia harus menjalani lembur bekerja.
Rhea masih ingat statusnya sebagai istri, meskipun bukan dirinya sendiri yang memasak untuk Daffa. Meskipun ia selalu menggunakan jasa penatu dan jasa petugas bersih-bersih mingguan. Tapi ia selalu ingat untuk mengatur semua hal tentang Daffa.
“Sekarang memang berbeda. Kamu mengalami begitu banyak perubahan begitu masuk ke dalam rumah orang tuamu Rhea.” Daffa menghempaskan bokongnya di sisi tempat tidur Rhea dan mengelus lembut kepalanya.
“Kamu tidak mau mengurusiku karena merasa hakmu telah ku rampas?” Daffa berdecih.
“Aku justru berhutang banyak kepadamu jika aku tak melakukannya.” Daffa menyelimuti tubuh Rhea hingga ke lehernya, agar ia tetap merasa hangat.
“Apa jadinya seorang istri jika suaminya tak pernah menghargainya Rhea. Aku tak pernah membencimu. Justru aku melakukannya untuk membuktikan padamu bahwa kau milikku dan selamanya akan tetap sama.”
“Terimakasih karena telah memberikan padaku milikmu yang paling berharga. Maaf karena pernah meragukanmu, kau tahu persis. Aku tak bersungguh-sungguh melakukannya. Aku mengenalmu lebih baik dari siapapun. Kau adalah gadis baik-baik, dan sekarang kaulah wanitaku.”
Daffa baru saja hendak bangun dari posisinya ketika Rhea tiba-tiba menahannya hingga kedua netra mereka beradu tatap.
“Kamu pura-pura tidur?” Rhea mengangguk dan meraih tubuh Daffa semakin dekat lalu memeluknya.
“Hei, kau mendengar segalanya bukan?” Rhea lagi-lagi mengangguk, namun ia sama sekali tak melepaskan pelukannya di tubuh Daffa.
“Cuma aku, jangan ada yang lain.” Daffa membalas pelukan Rhea dan membuat gadis itu mulai terisak sendiri disana.
“Aku tahu kau tak pernah bermaksud melukaiku Rhe. Aku tahu kamu tak akan pernah mengkhianatiku maupun Devian. Kamu cinta pertamaku Rhea.” Rhea melepaskan pelukannya dari Daffa dan menatapnya dari jarak yang begitu dekat.
Rhea tak meragukannya. Ia hanya ingin menggalinya lebih dalam. Menggali sesuatu hal yang ia berusaha keras untuk sembunyikan selama beberapa tahun ini. ‘Cinta’. Entah itu cinta untuk dirinya dari Daffa, atau justru sebaliknya. Cinta dari dirinya untuk Daffa. Ia menatap mata Daffa lekat-lekat dan mencoba mencari kejujuran itu dari balik manik matanya yang teduh.
“Jujur, aku sempat meragukanmu ketika Devian menghilang. Ada begitu banyak petunjuk yang tak bisa terpecahkan. Kamu adalah orang terakhir yang bersama Devian, dan kamu melupakan segala hal setelah kejadian itu terjadi.” Daffa mencoba mencerna kata-katanya sendiri.
“Tapi begitu melihat kondisimu dan satu persatu bukti kejahatan Devian terungkap, ‘Aku Ragu’.” Daffa mulai tercekat dengan kalimatnya sendiri. Apakah benar jika ia harus mengungkapkannya kepada Rhea saat ini. Di saat cinta diantara mereka masih dipenuhi dengan keraguan.
“Apa gadis mungil ini berusaha menahan semuanya? Apa ia benar sekuat itu untuk menahannya? Atau kamu justru malah memiliki alasanmu sendiri untuk bertahan.” Rhea masih diam mendengarkan.
“Keberadaan Steve di dekatmu bahkan tak pernah membantu. Berkali-kali aku menemukan bukti pengkhianatannya dan ada dirimu di dalamnya. Hatiku hancur untuk mempercayainya Rhea. Aku sakit begitu harus percaya bahwa kau berbeda dari apa yang pernah kufikirkan tentangmu.”
Daffa terisak dan Rhea kini bergantian untuk menarik pemuda itu masuk dalam pelukannya.
“Dia menghukum Steve.” Jelas Rhea yang langsung membuat Daffa mendongak menatapnya.
__ADS_1
“Siapa?”
“Sheryl. Ada seseorang yang memberitahuku. Semua surel yang kau terima, aku juga menerimanya.”
“Dari mana kau tahu kalau aku selalu dapat surel misterius?” Daffa melepaskan pelukannya dan beralih menatap Rhea tajam.
“Aku melihatnya di ponselmu beberapa kali saat kau tertidur. Kau memakai tanggal pernikahan kita untuk kata kunci kombinasinya. Aku mendapatkan surel yang sama tapi tentang orang yang berbeda. Ada yang berusaha mengadu domba kita Kak.”
“Tapi siapa?” Rhea menggeleng.
“Seorang yang mengirim Steve untukku telah membeberkan semua tugas Steve ke padamu. Dan seorang yang mengirim informanmu telah mengirimkan sesuatu untukku.”
“Informan? Seberapa jauh kau mengetahuinya?”
“Dia adalah Keenan. Keenan Aditya, putra kandung ayah Riggle. Dia selalu bersamaku.” Jujur Rhea.
“Keenan, adalah alasan ayah dan ibuku memperjuangkanku selama ini. Keenan adalah orang yang selalu berdiri di belakang Ibu kandungku dan Tuan Naratama. Keenan adalah kunci dari segalanya. Tapi ia menghilang semenjak kepergian ibuku. Dari berita yang kudengar ia mengikutimu.”
Daffa mencoba untuk mencerna segala macam penjelasan Rhea terhadapnya. Ada begitu banyak hal yang rumit dan sulit untuk ia cerna. Gadis itu menyimpan lebih banyak yang dari ia kira.
“Bagaimana kau tahu itu Keenan?”
“Keenan itu ibarat sebuah bayangan. Tak ada yang benar-benar bisa mengikutinya selama ini. Bahkan ayah Riggle sekalipun. Tapi ia menyimpan begitu banyak dari apa yang pernah kita ketahui. Aku yakin Keenan adalah kuncinya.”
Daffa tak ingin mendengar apapun lagi. Ia masih begitu sulit untuk mencerna segalanya saat ini. Ia meminta Rhea untuk menghentikan segalanya dan memeluk gadis itu dengan eratnya.
“Aku tak tahu bahwa kau telah menanggung semuanya sendiri. Maafkan aku.”
Rhea mempersiapkan pakaian ganti Daffa seperti biasanya ketika pemuda itu berjalan kekamar mandi. Daffa berendam begitu lama di dalam bathup untuk menyembunyikan rasa sakitnya. Ia menangis di bawah guyuran air agar Rhea tak bisa mendengarnya.
“Keenan adalah Jason. Keenan yang telah dihabisi Devian. Maafkan aku Rhea. Kau mungkin tak akan pernah menemukan ibumu. Mungkin ia adalah salah satu dari mayat-mayat itu.” Isak Daffa.
****
“Aku ingin kau melaporkan segalanya padaku Keenan.”
Keenan tengah melakukan panggilan video dengan seseorang.
__ADS_1
“Jangan panggil aku Keenan. ‘Jason’, sepertinya itu lebih baik. Untuk seorang berbadan besar sepertiku.” Jason selalu membanggakan tubuhnya yang lebih mirip seperti tukang pukul dibanding seorang remaja berusia Sembilan belas tahun.
“Siapa itu?” Jason menunjukkan foto seorang wanita dengan seorang gadis manis dalam pelukannya. Foto itu selalu melekat di dalam liontinnya selama ini.
Aneh bukan? Sebuah liontin perak dengan foto gadis di dalamnya. Seorang berperawakan mirip Jason takkan pernah melakukannya. Itu agak sedikit memalukan. Tapi itulah bukti cintanya untuk kedua wanita di dalam foto itu. Jason begitu menyayangi mereka.
“Namanya Rhea, dia putri bibiku. Dia adalah gadis tercantik yang pernah kutemui selama hidupku. Usianya kini baru delapan tahun."
"Kau tahu, mungkin saja ayahku akan mengizinkanku untuk menikahinya suatu hari nanti.” Jelas Jason dengan tatapan matanya yang berbinar.
"Aku akan menghubungkannya dengan kamera dari kalungku. Aku harus menemui Devian sekarang." Pria di ujung telfon mengangguk.
Ponselnya terhubung dengan sebuah kamera pengintai yang berada di kalungnya secara nirkabel. Dan itu sangat memungkinkan untuk orang yang tengah bertelepon dengannya untuk mengamati segalanya dari jarak jauh.
Posisi Jason saat itu sudah berada di dalam ruang bawah tanah tempat Devian menggila. Untuk seorang algojo hebat seperti Devian, Jason memanglah pilihan terbaik untuk ia kirim mendampinginya.
“Apa yang kau lakukan Devian?” pekik Jason dengan kameranya yang masih menyala.
“Mereka semua bersalah. Aku tak membunuh mereka, Naratama yang menyuruhku."Pekik Devian bak orang kesetanan.
"Aziel keparat, ia memintaku melakukannya.” Devian gemetar ketika ia menunjukkan tangannya yang berlumuran darah kepada Jason. Ia telah memajang dan mengawetkan satu persatu korbannya. Namun semua begitu sulit, ketika ia harus melakukannya untuk satu orang lagi.
“Bibi..” lirih Jason terpaku.
“Kau tak bisa melakukan ini keparat! Kau bukanlah manusia! Kau monster!” Emosi Jason mulai terpancing dan hampir saja memukul Devian jika tangan pemuda itu tak lebih dulu memukulnya dengan sebuah besi berukuran besar yang masih berada di genganggamnya.
“Aku hanya memukul mereka, tapi mereka mati.” Seringai Devian yang mulai tertawa terbahak-bahak begitu melihat Jason meluncur jatuh tak sadarkan diri.
Ia tak benar-benar menyadarinya. Besi itu bak melayang dengan sendirinya tanpa kendali. Ia memukul Jason tiba-tiba tanpa terpancing oleh apapun. Ia memang tengah kumat ketika Jason datang dan itu bukanlah hal yang tepat.
Devian benar-benar sudah gila. Ia bahkan tak merasa bersalah sama sekali. Tapi begitu sebuah kalung meluncur jatuh dari leher Jason ia menyadari sesuatu.
“Aku memberikan ini kepada Daffa. Apa kau kakakku Daffa, apa kau kembali? Tapi kenapa kau mati? Apa aku membunuhmu?” Devian mulai kembali agresif.
Kalung Jason adalah kalung pemberian Daffa yang ia dapat dari Devian. Kalung mata-mata yang tak pernah diketahui oleh Devian sendiri.
Jason memakainya sebagai senjata di saat genting. Ditambah lagi dengan foto wanita di dalamnya, membuatnya menjadi lebih kuat. Siapa sangka jika kalung itu telah membuat Devian membenci gadisnya. Gadis kecil yang selama ini ia lindungi dengan nyawanya sendiri.
__ADS_1
“Tidak, Naratama yang membunuhmu, Ia memintaku mengeksekusi korban terakhir. Itu bukan dirimu Kak. Kau masih hidup, aku tahu.” Rengek Devian tak karuan.