
“Hai, pria tampan. Kata ibu, kau adalah suamiku.” Ujar Rhea yang terdengar begitu riang khas seorang remaja yang memiliki kepribadian ceria.
“Aku tak pernah melihatnya seperti ini.” Daffa menatap Dean penuh tanya.
“Inilah sifat aslinya saat bersama kami. Mungkin ada untungnya ia melupakan ingatan barunya.” Ledek Dean usil.
“Ingat gadis manis, panggil aku Dokter Dean tampan mulai hari ini.” Dean mengedipkan matanya kearah Rhea dan berlalu menuju sofa di sudut ruangan dan menjatuhkan tubuhnya disana.
“Aku begitu Lelah setelah menjagamu semalaman. Sekarang biarkan aku tidur. Suamimu yang akan terjaga semalaman untukmu.” Dean menguap, dan langsung memejamkan matanya hanya dalam hitungan menit.
“Apa ia benar kakakmu? Aku takt ahu kau punya kakak setengil itu.” Balas Daffa meledek hingga membuat semua orang terkekeh, tak terkecuali Rhea.
“Kau cantik jika tersenyum seperti itu.” Daffa terpana ketika menatap pemandangan baru yang ada di depan matanya. Sedangkan yang dipuji hanya bisa bersemu dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Dean menyipitkan sebelah matanya agar tak kehilangan moment manis itu. Ia merasa sangat bahagia karena adiknya telah bersama dengan orang yang tepat.
“Bahkan orang buta pun akan mengetahuinya. Seberapa tajam laser yang kalian pancarkan lewat tatapan mata kalian.” Sindir Dean.
Dean mendorong kedua orang tuanya untuk keluar dari ruangan inap VVIP itu dan mengajak mereka untuk beristirahat di tempat lain. Ia hanya berusaha untuk memberikan tempat untuk pasangan yang tengah dimabuk cinta itu untuk menghabiskan waktu berdua.
“Kau baik-baik saja?” Dengan langkah yang ragu-ragu, Daffa mendekat dan menarik kursi yang berada di samping tempat tidur Rhea.
“Jangan duduk di situ.” Daffa tercengang. Lalu ia harus bagaimana? Akankah gadis itu memintanya untuk keluar, ia akan mengusirnya?
“Disini.” Rhea menggeser sedikit duduknya dan menepuk sisi kosong disampingnya. Ia ingin Daffa duduk disana mendampinginya dan bukannya di kursi pengunjung.
Daffa menurut, ia duduk tepat di samping Rhea meskipun malu-malu. Ia belum tahu pasti bagaimana reaksi gadis itu karena amnesianya. Di luar dugaan Rhea malah meraih tangan Daffa dan melingkarkannya di pundaknya. Ia bersandar di dada Daffa, dan meminta pemuda itu untuk mendekapnya.
__ADS_1
“Aku dingin, kurasa dengan begini akan terasa lebih hangat.” Ujarnya semakin menempel.
Perlahan tapi pasti, Daffa pun mulai mengeratkan dekapannya dan mengecup kening istrinya itu cukup lama. “Bolehkah aku tidur di pangkuanmu?” Rhea mendongak untuk melihat reaksi Daffa. Daffa mengangguk mengizinkan.
“Tapi itu akan membuat tubuhmu sakit?” ujarnya lesu. Ia melepas dekapan Daffa dan menatapnya dengan tatapan sendu.
“Kenapa?”
“Kau harus tidur sambil duduk semalaman, jika aku melakukannya.” Daffa tergelak.
“Tidak masalah. Asal kau lekas sembuh dan aku bisa membawamu pulang. Aku akan meminta bayaranku setelah kau pulang.” Daffa mencolek hidung Rhea gemas, membuat gadis itu nambah begitu riang dan bahagia.
Daffa pun menaikkan sandaran tempat tidur Rhea. Sesuai keinginan sang istri, ia pun duduk bersandar disana dan membantu Rhea untuk tidur di pangkuannya. Tidak hanya itu, ia bahkan juga menyanyikan lagu tidur yang sangat manis untuk gadis itu.
Rhea tertidur dengan lelapnya disana. Ia menemukan kedamaiannya sendiri setelah sekian lama. Entah disengaja atau tidak, tapi saat-saat seperti inilah yang selama ini ia nantikan dalam pernikahannya bersama Daffa.
Karena ada satu hal yang tak pernah pemuda itu tahu tentang Rhea. ‘Daffa adalah cinta pertamanya’. Ia sudah menyukai Daffa sejak pertama kali ia melihat Daffa belajar bersama ayahnya. Meskipun hanya melihatnya dari balik layer lewat panggilan Skype. Namun hatinya mendapatkan getaran yang berbeda. ‘Ia menyukainya, sejak kali pertama ia bertemu tatap dengannya’.
“Bagaimana bisa?” tanya Syahnaz tak percaya.
“Ia menceritakannya padaku, ia mengirimiku surel saat itu.” Pasangan Riggle nampak fokus mendengarkan.
“Bukannya pertama kali kau bertemu Daffa adalah tiga belas tahun lalu? Umur Rhea baru Sepuluh tahun waktu itu. Ia pertama kali melihat Daffa ketika kau mengajarinya dasar lewat panggilan Skype.”
“Pemuda itu sangat cerdas, hingga mampu menguasai semua materinya meskipun hanya lewat panggilan video. Adikku sangat mengaguminya saat itu, pemuda itu nampak memesona di matanya.”
“Awalnya ia merasa sangat kecewa ketika mereka menikahkannya dengan Devian, tapi setelah melihat Daffa menggantikannya. Ia bahagia. Ia bahkan tak pernah mempermasalahkan sikap dingin Daffa kepadanya. Ia juga rela berpura-pura mencuci otaknya agar menarik simpati Daffa untuknya. Andai ia tahu, bahwa ia pernah mengandung anak Daffa, mungkinkah ia merasa lebih bahagia.” Dean melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang masih mematung memperhatikan kedua pasangan manis itu.
__ADS_1
Mereka tersentak ketika melihat Dean sudah pergi dan bergegas mengikutinya menuju ruangan pribadinya.
“Dean tunggu!” Nyonya Syahnaz langsung membanting pintu dan menguncinya dari dalam.
Mereka tengah duduk di sofa tamu ruangan Dean, saling berhadap-hadapan. Ada hal penting yang harus mereka bahas. Mereka sadar telah melewatkan satu topik penting.
“Kemana kau selama ini? Bahkan ada yang mengatakan kau telah meninggal, dan Devian membunuhmu.”
“Aishh!! Sial!!” Dean mengacak-acak rambutnya kasar.
“Bukan Daffa yang menyebarkannya bukan?” ujarnya frustasi.
“Informan Dean salah, kalungku dicuri dan ia memakai identitasku untuk lebih dekat dengan Devian. Dia! Si bodoh itu.” Ujarnya mengumpat.
“Bahkan aku sendiri yang telah melatihnya. Bisa-bisanya ia berkhianat dan berakhir tragis seperti itu.”
“Kau belum menjawabnya.” Bentak Prof Riggle.
“Aku melindungi adikku. Berkeliaran di sekitarnya dan membantunya ini- itu. Kalian kira siapa yang membuatnya begitu beruntung?” pasangan Riggle saling tatap.
“Dia selamat dari ledakan dua kali. Pertama di rumah Devian, kedua saat kemarin. Ia juga berhasil melewatkan proses cuci otak mereka yang sangat menyakitkan itu. Kau tahu, mereka melakukan bedah otak untuk menguras memorinya.” Dean berdecih kesal.
Mereka telah melalui hari yang sangat berat selama ini. Siapa sangka jika kedua kakak beradik itu ternyata saling mendukung selama ini. Mereka begitu akur dan tumbuh dengan saling mencintai satu sama lain layaknya saudara kandung.
Hati Nyonya Syahnaz terenyuh melihat putranya yang begitu bertanggung jawab terhadap amanah bibinya untuk menjaga Rhea. Padahal usia mereka terpaut cukup jauh, sepuluh tahun. Tapi mereka bisa-bisanya tumbuh seperti sahabat yang saling mengandalkan satu sama lain.
“Aku akan menjaganya seumur hidupku Bu, Yah.” Tekad Dean.
__ADS_1
“Kau pun harus menikah sayang. Usiamu sudah tiga puluh dua tahun, aku yakin jika adikmu juga akan mendukungnya.” Syahnaz mendekap hangat tangan sang putra.
“Aku hanya akan menikahi gadis yang bisa menyayangi Rhea sama sepertiku.” Dean langsung beranjak menuju komputernya dan melanjutkan pekerjaannya. Sikapnya seakan menegaskan bahwa ia tak lagi bisa dibantah.