Rhea

Rhea
Bagian 24 : Dean


__ADS_3

"Dia sudah dioperasi. Ini operasi sulit, siapa yang melakukannya?" bentar Antonio begitu tiba di Rumah Sakit setelah enam jam berlalu sejak pengeboman berlangsung.


"Sulit ayah, ia mengandung. Akan sangat berbahaya untuknya menerima anastesi saat ini. Kalian perlu dokter kandungan untuk menanganinya bukan?" seringai licik seorang pria muda mengembang.


Ia muncul di hadapan Antonio dengan jas dokter kebanggaannya..


"De...de...dean..." seru Syahnaz gemetar.


"Welcome back Mom." Senyum kedua pasangan itu mengembang.


"Dia adalah dokter bedah terhebat kami. Ia juga adalah seorang ahli kandungan yang hebat di usia muda." bangga sang kepala rumah sakit di hadapan pasangan Riggle.


"Kami ingin bicara berdua denganmu." Antonio menarik pria muda itu ke dalam sebuah ruangan darurat penghubung kamar operasi dan ruangan dokter.


"Bagaimana bisa? Daffa bilang kau lenyap." uajr Antonio gemetar.


"Lantas apa yang ayah lakukan saat mendengar putra ayah lenyap? Kau bahkan begitu menyanjung putra menantumu itu." seringainya lagi.


Ia adalah Keenan Andrean. Pasangan Riggle biasa memanggilnya Dean. Tapi bagi Rhea dia adalah Keenan. Sosok kakak yang sangat jarang ia temui kecuali di saat privatnya dengan orang tua angkatnya.


"Rhea sudah melihatku sesaat sebelum operasi. Ia masih setengah sadar saat itu. Tapi aku yakin ia takkan membongkarnya. Ia sangat menyayangi kakaknya." ujar Dean berbangga diri.


"Bagaimana bisa? Lalu siapa yang lenyap?"


"Temanku. Namanya Keenan. Keenan Senjana. Dia adalah mata-mata terhebat sampai saat terakhirnya."


Syahnaz dan Antonio gemetar. Keenan bahkan jauh lebih buas dari pada Devian. Tapi rasa sayangnya terhadap Rhea tak pernah palsu. Ia selalu menganggap gadis itu sebagai bayi kecilnya yang mungil.


"Aku takkan mengganggu suaminya. Jika ia sampai memberikan dirinya...." kalimat Dean menggantung.


"Mereka saling mencintai bukan?" Antonio dan Syahnaz masih membatu.


"Ia akan tetap aman selagi adikku tak terluka. Kalian tenang saja." Dean kembali berjalan dengan angkuhnya menuju ruangan inap Rhea. Ia sangat penasaran dengan reaksi sang adik ipar ketika melihat adiknya terluka.


"Mungkinkah ini akan menjadi tontonan menarik?" gumamnya penasaran.


Dan benar saja, Daffa tengah menangis meraung-raung ketika dirinya sampai disana.

__ADS_1


"Ia tengah mengandung. Aku tak ingin mengambil resiko tentang bayinya. Aku sudah melakukan prosedur yang aman." ujar Dean sekenanya.


Ia memang terlihat selengekan. Apalagi karena usianya yang sama dengan Daffa, membuatnya tak lagi memakai bahasa formal saat berbicara dengan sang adik ipar barunya.


"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya Daffa terisak.


"Usia kandungannya baru menginjak hari ke dua puluh. Masih terlalu rentan, aku berharap ia segera sadar atau jika tidak kita terpaksa memasang berbagai macam alat untuk merangsang perkembangan bayinya. Bahkan meskipun tubuhnya tak lagi hidup."


"Apa maksud Anda dokter?" teriak Daffa kacau.


"Ia sedang berada dalam kondisi koma. Tapi akan lebih buruk jika operasi itu tidak pernah dilakukan." jelasnya.


"Selamatkan dia dokter, kumohon." Daffa meraih jas dokter Dean dan berlutut di hadapannya memelas.


"Aku akan melakukannya sebaik mungkin. Aku berjanji adik ipar." Daffa tersentak dengan ucapan Dean kali ini.


"Adik ipar?" ujarnya menggantung.


Untungnya Antonio dan Syahnaz datang lebih awal. Daffa tak pernah tahu rupa anak mereka. Ia hanya tahu bahwa korban Devian bernama Keenan dan mungkin itu adalah orang yang sama dengan putra mereka.


"Aku mengizinkannya karena mereka memiliki nama belakang yang sama. Ini adalah Dokter Dean Riggle dokter muda sekaligus terbaik di rumah sakit kami" jelas sang direktur rumah sakit yang entah sejak kapan sudah berada disana.


Dean mengangguk. Ia berjanji kepada Daffa untuk menyelamatkan Rhea dan bayinya sebaik mungkin.


"Adikku akan kehilangan kewarasannya jika ia tahu bayinya meninggal. Ia juga seorang dokter, kita tak bisa menyembunyikan bekas kehamilannya ketika ia sadar dan berbohong bahwa ia tak pernah mengandung. Karena itu aku terpaksa mengambil tindakan cepat." jelas Dean yang langsung dimengerti Daffa.


Sangat penting bagi pasien yang sedang berada dalam kondisi koma untuk menerima ransangan agar sadar. Karena itu, Dean meminta orang tuanya serta Daffa untuk terus menemani Rhea dan terus mengajaknya berkomunikasi.


Ia pun melakukan hal yang sama. Sejak operasi pada Rhea berhasil, ia membatalkan semua jadwalnya dan fokus kepada sang adik.


"Ia adalah hidupku Daf. Lebih baik kau membunuhku dibanding aku harus melihatnya tak berdaya seperti ini. Ia adalah yang paling kuat diantara kami." ujar Dean sendu.


"Kami?"


"Ayah kami mengadopsi beberapa anak asuh, kau tahu itu. Bahkan kau adalah salah satunya." jelas Dean tanpa berusaha memancing.


"Ia dokter terhebat, aku yakin ia akan segera pulih." Dean menepuk bahu Daffa untuk menguatkannya.

__ADS_1


"Istirahatlah! Aku akan menggantikanmu. Kita berdua tidak boleh lemah jika ingin melindunginya." Daffa menurut.


Ia merebahkan dirinya di atas sofa yang berada di sudut ruangan Rhea. Sementara Dean bergantian untuk menjaganya dari balik kursi pengunjung yang berada di samping tempat tidur Rhea.


"Kakak tahu kamu kuat sayang. Bangunlah, ada sesosok makhluk kecil yang menantikanmu untuk bertahan." ujar Dean tulus.


Ia mengelus-elus perut Rhea yang masih datar.


"Bertahanlah Nak. Paman akan menjagamu." bisiknya disana.


Daffa tersenyum hangat di tengah kegetirannya. Ada begitu banyak orang yang menyayangi Rhea berada di sekelilingnya. Ia sangat beruntung, hal itu benar-benar mengurangi sedikit kekhawatirannya.


Begitupun dengan pasangan Riggle. Selain khawatir akan jati diri Dean yang terbongkar, mereka tak mengkhawatirkan hal lain.


Sudah hampir dua minggu berlalu, namun para anggota suruhan Daffa belum berhasil menemukan titik terang tentang kasus kecelakaan Rhea.


Seluruh negeri turut prihatin dengan kondisi terbaru dewi mereka Shana Riggle. Seantero bumi berlomba-lomba mendoakan kebaikan bagi Shana dalam doa mereka.


"Bahkan perhatian dunia tak pernah mampu untuk melindungimu adikku. Mereka menyerangmu secara terang-terangan. Aku berjanji akan menghabisi mereka untukmu Rhe. Jadi cepat sadarlah! Pikirkan bayimu." bisik Dean di telinga adiknya.


Telfon Dean berdering di saat yang bersamaan dengan kedatangan Daffa yang baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk membeli kopi.


"Adik ipar, kau mau mendengarnya?" Daffa menatapnya heran.


Dean mengangkat telfon itu dan mengaktifkan mode speaker pada panggilannya.


Kami berhasil menangkapnya Tuan. ujar orang diseberang telfon.


"Siapa?" tanya Daffa heran.


"Pelaku pengeboman itu. Kau mau menanganinya? Kalau anak buahku tak membuat kesalahan, ia akan berada di markas gelap Naratama sekarang."


Daffa segera bergegas bersama anak buahnya dan berangkat menuju tempat yang dimaksud Dean. Satu jam kemudian, ia mendapat kabar dari orang suruhannya bahwa Dean telah menembak orang itu dengan pistolnya sendiri secara membabi buta.


"Kau telah membuktikan kesetiaanmu adik ipar. Tapi kau lupa menanyai orang dibaliknya." seringai Dean.


Dean telah mendapatkan rinciannya dari informannya. Ia tahu persis siapa targetnya kali ini.

__ADS_1


__ADS_2