Rhea

Rhea
Bagian 22 : Moment Manis Berdua


__ADS_3

“Rhea…rhea…” Daffa mengigau.


Ia langsung tertidur begitu ia selesai membersihkan diri. Ia bahkan tak sempat untuk mengeringkan rambutnya dan langsung terlelap begitu tubuhnya menyentuh Kasur.


“Kak…bangunlah.” Rhea menepuk-nepuk pipi Daffa perlahan, namun pemuda itu tak kunjung bangun.


“Kak, kau demam?” Rhea meletakkan tangannya di kening Daffa dan merasakan suhu tubuh pemuda itu yang cukup tinggi.


Rhea meraih thermometer serta peralatan dokter lainnya dari ruangan kerja Tn Riggle. Ia memeriksa kondisi Daffa, suhu tubuh pemuda itu mencapai 39’. Rhea berusaha untuk menurunkan demamnya terlebih dahulu dengan melepas semua pakaian Daffa dan mengompresnya menggunakan air dingin.


Ilmu medisnya cukup baik. Apalagi karena guru privatnya adalah seorang professor hebat seperti Tn Riggle. Rhea sama sekali tak terlihat panik dan terus berusaha untuk mengobati Daffa sesuai dengan prosedur medis yang dipelajarinya.


Tubuh Daffa mulai menggigil begitu suhunya perlahan mulai turun. Rhea menyelimutinya hingga kebatas leher tanpa memasangkan kembali pakaiannya. Ia memasang infus berisi obat-obatan ke tubuh Daffa dan ikut masuk ke dalam selimut itu dan memeluk tubuhnya yang gemetar.


Daffa terus mengigaukan namanya sepanjang malam. Bahkan meskipun Rhea tengah memeluknya, namun pemuda itu benar-benar sedang tak sadar. Ia tak merespon apapun, namun Rhea tetap tak melepaskan pelukannya.


“Rhea..kau?” Daffa terkejut ketika bangun keesokan paginya dan sudah ada selang infus yang menancap di salah satu lengannya.


“Kak, kau sudah merasa lebih baik?” lirih Rhea yang masih belum sepenuhnya terbangun.


“Ada apa denganku?” Daffa terkejut begitu melihat dirinya polos hanya tertutup selimut, dan Rhea tengah memeluknya.


“Apa aku tak sadar dan melakukannya kembali kepadamu?” Rhea tersenyum menggeleng.

__ADS_1


“Kau demam, aku harus menanggalkan semua pakaianmu agar suhumu turun Kak. Apa kau merasa tak nyaman? Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu kalau begitu.”


Rhea hendak bangun, namun Daffa menahan lengannya hingga gadisi itu terjatuh kembali dan menimpa tubuhnya.


“Kak, nafasmu tak beraturan semalam. Nafasmu akan semakin sesak kalau aku menimpamu seperti ini.” Rhea berusaha bangun, namun lengan Daffa begitu kuat ketika menahannya.


“Apa aku harus diam ketika melihatmu melecehkanku seperti ini?” Rhea terdiam.


“Tunggu sebentar.” Ia menyadari sesuatu.


“Bagaimana ini bisa dikatakan sebagai tindakan pelecehan? Kau adalah suamiku dan ini adalah bagian dari pengobatan.” Ujar Rhea tergagap.


Tubuhnya berada di atas tubuh Daffa kali ini. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti hingga mereka bisa merasakan deru nafas satu sama lainnya. Mereka sudah mulai terbawa suasana, apalagi karena Daffa yang menatapnya dengan penuh damba.


Perlahan namun pasti, Daffa mulai meraih bibir mungil merah muda milik Rhea dan mengulumnya lembut. Tak ada penolakan sama sekali kali ini. Rhea menerima semuanya dan bahkan turut larut bersamanya.


“Bisakah kau menunggunya sebentar Kak. Aku akan melepas ini terlebih dulu.” Ujar Rhea dengan wajahnya yang sudah bersemu merah.


Rhea melepaskan infus itu di tangan Daffa dan mulai membalut lengannya yang terluka akibat infus. Semuanya berlangsung hanya sekitar lima belas menit, namun Daffa berhasil membuat Daffa sangat tersiksa.


Di tambah lagi dengan kondisi dirinya yang polos saat ini, dan Rhea yang terus menerus menggodanya di tengah-tengah pekerjaannya. Rhea dengan sengaja menatapnya dengan tatapan menggoda dan menyentuh beberapa titik sensitive Daffa ketika melakukan tugasnya.


“Apa yang kau lakukan?” Daffa kembali membalik tubuh Rhea ketika pekerjaannya baru saja selesai. Ia bahkan belum berhasil meletakkan selang infus it uke dalam laci nakasnya, ketika Daffa menariknya. Semua peralatannya terbang berhamburan di sekeliling lantai, hingga membuat keduanya tertawa geli karena sikap tak sabaran mereka.

__ADS_1


Daffa memulai kembali pekerjaannya dan bermain di ceruk leher milik Rhea sambil terus melepaskan satu persatu kain yang melekat di tubuh wanitanya.


Untung saja kamar mereka kedap suara, karena jika tidak mungkin saja mereka sudah menciptakan kegaduhan di dalam rumah akibat permainan mereka. Mereka tak hanya membuat penyatuan diri mereka berkali-kali. Mereka juga saling menjahili dan usil satu sama lain mirip seperti anak SD yang tengah bertengkar.


Kamar benar-benar berakhir seperti kapal pecah karena permainan mereka yang sangat agresif. Adegan lempar melempar bantal hingga barang pun terjadi hanya untuk bersenang-senang. Mereka benar-benar mendapatkan kebahagiaan mereka saat ini. Moment yang tak mungkin tak pernah mereka bisa bayangkan sebelumnya.


“Aku mencintaimu Rhea.” Lirih Daffa di telinga gadis itu. Rhea hanya mengangguk dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan Daffa hingga perlahan matanya kembali tertidur karena saking lelahnya.


Mereka baru keluar dari kamar mereka lewat pukul dua belas siang. Itupun karena ada rasa lapar yang tak sanggup lagi mereka tahan. Untungnya Tn dan Ny Riggle sudah pergi ke rumah sakit mereka sejak subuh. Karena jika tidak , mereka pasti akan merasa sangat malu di hadapan kedua orang itu.


“Baru saja kemarin kita saling mengadu seakan tak terima dengan pernikahan ini…” sela Daffa membuka perbincangan, namun Rhea hanya bisa tersipu malu karena harus membayangkannya.


Tak hanya tadi pagi, mereka bahkan mengulang kembali permainan itu dengan adegan mandi dan juga mencuci bersama. Mereka harus mencuci sepray yang mereka pakai semalam. Belum lagi membereskan semua kekacauan di dalam kamar.


Namun sibuknya pekerjaan tak cukup untuk membuat mereka berhenti untuk bermain dan bersenang-senang. Seakan dunia memang hanya dihuni oleh mereka berdua dan tak ada orang lain disana.


Tn dan Ny Riggle pulang di saat menjelang sore dan mendapati rumah dalam keadaan yang super bersih dan juga rapih. Berbagai macam hidangan sudah tersedia di atas meja. Dan pemandangan indah pun tak lupa muncul di depan mata mereka.


Kedua insan yang tengah di mabuk cinta itu sedang bercengkrama dengan mesranya di ruang keluarga sambil menonton DVD serial kartun yang baru saja mereka beli.


“Aku rasa film itu tak selucu itu hingga membuat kalian sebahagia itu.” Sindir Syahnaz yang langsung membuat keduanya memerah mirip kepiting rebus.


“Lebih baik kita membersihkan diri sekarang, aku sudah mencium aroma masakan yang sangat luar biasa. Aku rasa aku merasa lapar tiba-tiba.” Seakan paham akan momentum yang tidak pas, Antonio pun menarik Syahnaz menuju kamar mereka dan meninggalkan pasangan muda itu disana bersama dunia mereka.

__ADS_1


“Ayo kita persiapkan meja makan?” ajak Rhea yang langsung diangguki oleh Daffa.


Mereka berbagi tugas untuk menata meja makan sembari menunggu orang tua mereka bersiap. Meskipun sibuk, namun keduanya masih menyempatkan diri untuk saling menggoda. Hingga membuat kedua pasangan Riggle merasa turut bahagia karenanya.


__ADS_2