
Pernah membaca novel roman yang kisahnya tak masuk akal? Perasaan bucin yang membabi buta. Tak ingin dipisahkan walah semenit. Berpelukan, bermesraan tak kenal tempat dan situasi?
Setidaknya begitulah cara termudah untuk menggambarkan kehidupan Daffa dan juga Rhea setelah kehilangan ingatannya.
Rhea kembali menduduki posisinya sebagai model, namun hanya untuk beberapa proyek. Selebihnya ia memilih untuk bekerja di balik layar sebagai trainer. Melatih model-model muda hingga mampu go internasional seperti dirinya.
Daffa pun mulai sibuk dengan aktivitasnya di perusahaan kakek.
Jam yang sibuk, memang. Namun jika seharusnya orang-orang seperti itu hanya akan butuh waktu selama dua jam di rumah untuk tidur. Mereka berbeda.
Daffa dan Rhea memiliki kebiasaan aneh yaitu menghabiskan waktu hampir tiga jam untuk istirahat siang. Datang tepat pukul sembilan pagi, disaat jam sibuk kantor dan pulang di pukul lima. Setelahnya akan ada adegan romantis yang memuakkan mata.
Makan malam romantis bak pasangan pengantin baru setiap harinya. Pamer kemesraan di depan publik dan melanjutkannya dalam waktu privasi mereka di dalam kamar.
Sungguh kehidupan yang tak pernah terbayangkan jika kau mengenal mereka sebelumnya. Bahkan mereka selalu pergi bersama dalam setiap perjalanan dinas.
Salah satunya akan mengambil cuti untuk yang lain. Dan itu pasti akan membuat sulit siapapun yang akan menjadi sekretaris pribadi mereka.
"Kau tak bisa membatalkan fashion week kali ini Kak. Sudah ada ribuan undangan tersebar, dan para petinggi akan datang kali ini." ujar sekretaris pribadi Rhea, Alicya.
"Kak Daffa ada perjalanan ke Bangkok. Aku harus menemaninya. Begini saja, kau yang akan menggantikanku bersama Dean. Oke? Tak ada bantahan."
Rhea mengedipkan sebelah matanya kepada Dean yang baru saja datang. Pemuda itu menatap jengah kepada sang adik, tapi ia tahu persis bagaimana kondisi mental adiknya kini. Jika dibantah, maka ia akan menolak semua pengobatan yang disiapkan untuknya.
Sementara kondisi Rhea saat ini masih sangat bergantung dengan keberadaan obat penenang dan juga penghilang rasa sakit. Ia menderita trauma yang cukup berat akibat ledakan itu. Menurut informan Dean, Rhea sempat diancam sebelum kejadian. Wajar memang jika sampai menjadi korban, apalagi dengan naluri penyelamatan dirinya yang cukup baik dibanding Dean.
Dean telah melatihnya cukup keras soal pertahanan. Ia bahkan mengajarkan gadis itu ilmu bela diri. Dan ia juga yang mengajarkannya beberapa taktik licik hingga akhirnya gadis itu bisa masuk dalam keluarga besar Adya Utama, sebagai menantu dari dua putra mereka.
Namun siapa sangka jika kali ini saat ia lengah, seseorang telah mengejar adiknya dengan membabi buta. Rhea diikat disana. Ia tak benar-benar menghadiri fashion week itu, seakan ia benar-benar telah dipaksa. Ada jejak penganiayaan juga yang tak pernah ia ungkap di hadapan Daffa dan juga orang tuanya.
__ADS_1
"Jika saja reruntuhan itu tak memblokirmu, aku tak yakin kita masih bisa bertemu hingga saat ini Adik." lirihnya putus asa.
Dan sekarang sebagai imbalan nyawa adiknya, ia harus menuruti sikap adiknya yang berubah kenak-kanakan dan berakhir di acara pagelaran busana bulanan Naratama Group bersama Alicya 'sang sekretaris yang menjengkelkan'.
"Kita harus tampil untuk fashion show pasangan di akhir acara tuan." instruksi Alicya yang membuatnya jengah.
Ini seharusnya dilakukan oleh adik dan adik iparnya, bukan dirinya dan juga Alicya.
"Aku bahkan jarang menggunakan jas dokterku ketika menangani pasien, dan sekarang kau memintaku untuk mengenakan setelan? Pakaian yang belum pernah kupakai sebelumnya, dan sepatu apa ini? Apa sepatu pria memang memiliki hak seperti ini?" Dean membalik sepatu pantofel yang diberikan Alicya kepadanya dengan tatapan jijik.
"Bagaimana bisa pria mengenakan pakaian yang rumit seperti ini."
"Haknya bahkan tidak terlalu tinggi untuk membuat Anda tersandung Tuan." sinis Alicya dan meninggalkannya pergi.
Alicya tahu meskipun ia menginginkannya tapi Dean tak pernah bisa menolak keinginan sang adik kesayangannya. Sekarang hanya tinggal gilirannya untuk berganti menjadi Cinderella sementara cinderella yang sesungguhnya sedang pergi.
Gadis itu terperanjat, namun sang tamu tak diundang malah bersikap sedikit mengintimidasi dengan membantunya memasang resleting belakang gaunnya.
"No...n...a Mu....da..." ujarnya tergagap.
"Aku tahu pilihanku tepat. Aku sudah menyelidikimu sangat jauh. Tugasmu hanya membuat dia bahagia, dan kau bisa hadir di sisinya sebagai kakak iparku. Bagaimana?" mata Alicya terbelalak.
Tak pernah muncul dalam benaknya untuk memiliki hati sang dokter tampan meski hanya dalam angan.
Ia akui bahwa semua tentang diri Dean selalu membuatnya terpana. Ia adalah pria idaman semua wanita. Tapi ia juga yakin, bahwa memimpikannya saja mungkin sudah merupakan kesalahan besar, apalagi mewujudkannya.
"Aku...aku.. tak pernah..."
Ssstttt....
__ADS_1
Rhea memberi isyarat dengan jarinya agar Ali tak lagi melanjutkan apapun itu kalimatnya.
"Ada seseorang diluar." lirihnya.
Mereka melanjutkan pekerjaan mereka dalam keheningan. Tak ada yang berani memulai pembicaraan lebih dulu. Dan selesai, Rhea berhasil membuat gadis itu menjadi sangat cantik.
"Aku hanya bisa mempercayakan Dean kepada seorang sepertimu. Asal kau tak pernah berfikir untuk mengkhianatiku." Ali mengangguk pasrah.
Ia baru bekerja bersama Rhea selama gadis itu datang ke tanah air. Ia tak begitu mengenal sosok nona mudanya itu. Tapi satu yang ia tahu, bahwa aura mengintimidasi yang baru saja diciptakan Rhea di hadapannya...
Ia belum pernah menyaksikannya.
Pagelaran busana pun berjalan dengan Rhea dan Daffa sebagai hidden guestnya. Mereka duduk di satu ruangan tertutup yang berada di lingkup VVIP. Tidak ada yang bisa masuk kesana kecuali orang-orang yang telah ditunjuk.
Mereka mengamati Alicya dan Dean dati kejauhan, dan Rhea bisa dengan yakin memastikan bahwa Ali memanglah seorang yang tepat untuk Dean.
"Kenapa kau bersikeras sayang? Kita bahkan beru mengenalnya. Untuk apa sampai bersandiwara seperti ini?" tanya Daffa kepada sang istri yang masih sibuk dengan earphone di telinganya. Ia telah memasang alat penyadap di gaun Ali tanpa sepengetahuan gadis itu.
"Kakakku memperhatikannya. Kau tak lihat sudut matanya." jawab Rhea misterius.
"Aku telah menyelidikinya dan tak gampang memang untuk menarik perhatian Dean. Dan lagi," Rhea menghentikan kalimatnya hingga membuat sang suami penasaran.
"Apa?"
"Ia masih terlalu polos. Biar kakakku melatihnya. Ia pasti akan sangat setia dan takkan berpaling." Daffa menatap Rhea heran.
"Kita bukan hanya butuh seorang untuk mendampingin Dean. Tapi kita juga butuh seorang untuk tak mengkhianatinya. Hidup kakakku terlalu berat, kita butuh pasangan yang tepat. Seperti kau dan aku." Rhea menatap Daffa dengan tatapan mendamba.
Dan benar, baru saja Daffa hendak menciumnya. Tirai besar tepat di depan mereka langsung terbuka, dan menjadikan moment romantis itu sebagai tontonan. Dan ya, semua bertepatan dengan kemunculan pasangan Dean dan Alicya di atas panggung. Semua orang bertepuk tangan meriah.
__ADS_1