Rhea

Rhea
Bagian 28 : Kebenaran


__ADS_3

"Sial!" lagi-lagi mata Dean tak bisa fokus.


Namun kali ini bukan karena kecantikan Alicya dalam balutan gaunnya yang mempesona. Juga bukan karena kehadiran sang adik dan suaminya yang menciptakan kejutan di acara malam galanya.


Ada Devian disana. Ia jelas melihatnya. Devian berdiri di belakang pasangan Daffa dan Rhea dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


"Kenapa kau disana?" teriak Dean dengan nada mengancam. Namun sang adik dan adik iparnya itu hanya bisa tergelak. Seakan semua kejutan mereka berhasil untuk menciptakan keharmonisan kedua pasangan itu.


"Aku mau menjemput istriku." Tidak, sampai akhirnya Devian buka suara dan mulai membuat suasananya berubah menjadi sangat mencekam.


Layar utama di belakang panggung berubah. Semua berisikan video-video seni kerajinan mayat yang telah diukir Devian dengan tangannya sendiri. Semua penonton di aula besar itu terkejut, para media telah heboh untuk memotret.


Namun dengan instruksi dari Alicya pihak keamanan telah menggiring mereka semua keluar dan mengunci aula dengan barisan keamanan yang super ketat. Dean memintanya untuk menunggu di luar, dan Alicya menurut. Mau bagaimanapun ia hanyalah seorang sekretaris, ia tak memiliki alasan apapun untuk ikut campur.  Meskipun sebenarnya ia sudah dilatih dengan cukup baik oleh Daffa sebelumnya, agar bisa mendampingi Rhea.


"Kau membiarkannya pergi sendirian?" cegah Rhea yang masih belum mengerti dengan keadaan mencekam di hadapannya.


"Dia terlatih! Dia tahu kapan harus lari dan kapan harus bunuh diri." bentak Dean lalu ia menarik gadis itu turun menjauh dari dua bersaudara psikopat itu.


Mereka yang tengah saling tatap seakan ingin membunuh. Tatapan yang seolah bisa memancarkan laser super mematikan jika kau menatapnya secara langsung.


Rhea ikut menegang bersama Dean ketika layar di belakang mereka berhenti tepat pada sebuah patung yang berada di posisi paling depan. Letaknya di tengah dan duhujami oleh lampu sorot yang membuat kesannya semakin mewah.


Itu adalah jasad seorang wanita yang sangat cantik yang juga telah dibalsem dan dibuat seperti mumi hidup. Senyumnya begitu cerah dan menggambarkan kebahagiaan. Tatapan manis dan tulus dari seorang ibu terpancar dari sana.


Kelembutannya tergambar jelas. Usianya masih begitu muda, mungkin sekitar awal tiga puluhan. Dan itu adalah moment senyuman terakhirnya ketika ia melihat gadis kecilnya menunjukkan langkah pertamanya. Dan Dean adalah saksi nyata dari senyuman tulus itu.


"Dia adalah ibumu." lirih Dean dengan air mata yang telah mulai berlinang dan bahkan menetes.


"Ia ingin menunjukkan hasil karyanya lewat bangunan ini. Bangunan yang juga merupakan saksi dimana ia terakhir kali melihat istrinya tersenyum begitu tulus dan meninggalkannya untuk selamanya." bisik Dean.


Dean tahu persis apa itu, begitupun Devian. Tapi tidak dengan Daffa. Ia masih begitu geram dan berubah semakin bengis ketika melihat Devian muncul di hadapan matanya.

__ADS_1


"Kau bercanda? Kau masih begitu kecil ketika wanita itu dibunuh. Apa hakmu memajangnya seperti itu keparat!" Daffa mulai memukuli Devian habis-habisan namun pemuda itu hanya diam dan menerima semua serangannya.


" Kak, mereka.." Rhea bersikap berbeda kali ini.


Ia nampak begitu tenang dan sangat lembut saat itu. Ia hanya menatap Dean dan menarik tangan Dean untuk menghentikan perkelahian itu. Ia tak melakukan apapun untuk melerai keduanya.


"Tatapannya selalu membuatmu lembut adik. Asalkan kau tahu apa yang telah kusembunyikan perihal kematiannya." Dean sengaja memeluk Rhea dan membiusnya diam-diam. Tepat setelah gadis itu jatuh masuk dalam pelukannya. Ia membawa Rhea pergi meninggalkan Devian dan Daffa dengan perkelahiannya.


"Kau ingin tahu jawabanku Kak?" tanya Devian setelah tubuh Daffa tumbang di sampingnya. Ia merasa kelelahan sendiri karena sang adik yang tak meresponsenya sama sekali. Ia hanya memukuli sendiri, tanpa ada sedikit pun perlawanan.


"Dia sendiri yang telah melenyapkan ibunya. Naratama dan pemuda itu tahu semuanya." jelasnya membuat Daffa tercengang.


"Apa maksudmu?"


"Dialah psikopat yang sesungguhnya. Sangat sulit untuk memendam nalurinya selama ini. Dean dan keluarganya sudah bersusah payah untuk meredamnya selama ini."


"Jangan berbohong, aku lihat sendiri semua patung itu di basement rumahmu!" Daffa kembali berbalik dan naik ke atas tubuh Devian untuk kembali memukulinya. Namun perkataan Devian mencegahnya.


Daffa melihat sekelilingnya namun tak bisa menemukan Dean dan juga Rhea disana.


"Dean sudah membawanya." ujar Devian membuat Daffa semakin geram.


"Ia berhenti mengonsumsi obat-obatannya dan itu sangat membahayakan untukmu. Dean harus mengisolasinya sekarang." ujar Devian membuat Daffa semakin bingung.


"Patung itu, coba kau lihat! Patung di belakang patung ibunya. Kau tak tahu itu siapa?"


Daffa menatap patung itu cukup lama dan masih tak menyadari siapa sosok di balik patung yang tak kalah cantik itu


"Itu adalah Aini. Ia mendapatkan bukti soal anaknya yang baru saja meninggal. Ia sudah mengetahuinya bahwa ia mengandung. Aini yang merencakan ledakan itu karena merasa iri denganmu. Aini selama ini menyukaimu dan gadis itu sangat terobsesi denganmu. Ia berhasil memprovokasi Rhea dan berakhir sebagai seni patung ke dua puluh tujuh yang ia ciptakan di hari peringatan kematian ibunya."


Daffa terdiam. Masih sangat sulit baginya untuk memahami itu semua. Ia pergi berlalu dari tempat itu dan menerobos semua keamanan ketat Alicya tanpa mengatakan apapun. Ia tak lagi ingat tentang Dean yang membawa Rhea.

__ADS_1


Ia hanya ingin memastikan satu hal, 'Gudang Penyimpanan' yang dikatakan Devian sebelumnya.


Daffa mengambil mobilnya dan berjalan dengan kecepatan semaksimal yang ia mampu. Ia memecah sunyinya jalanan yang sudah di tutup oleh Alicya sebelumnya. Gadis itu bertindak lebih cepat dari yang seharusnya.


Ia menguping pembicaraan kedua kakak beradik itu dan tahu persis bagaimana perasaan bosnya itu saat ini. Ia tak ingin mengambil resiko untuk merelakan keduanya.


Ia mungkin saja harus merelakan Rhea pergi darinya jika Dean atau Daffa sampai kehilangan kendali. Tapi tidak dengan Daffa. Karena diam-diam ia juga telah menaruh perhatian kepada bosnya itu tanpa sepengetahuan Rhea.


Ia tahu jiwanya juga akan terancam jika Rhea mengetahui kenyataan itu nantinya. Tapi yang penting saat ini adalah keselamatan Daffa, pujaan  hatinya. Karena hanya pemuda itu tujuan akhirnya saat ini.


"Amankan posisi Tuan Muda sampai semua situasi terkendali." titahnya.


Tentunya, anak buahnya tahu persis apa yang harus mereka lakukan. Mereka tak boleh menyentuh Daffa secara langsung. Mereka hanya bisa mengawasinya dari jauh dan memastikannya aman.


****


Daffa sampai di tempat yang dimaksud Devian hanya dalam waktu lima belas menit. Lima belas menit yang terasa seperti setahun untuknya dalam ketidakberdayaan.


Kakinya gemetar, ia tahu ruangan apa itu. Itu adalah ruangan bermain Rhea ketika masih kecil. Ia sering melihat tempat itu di balik panggilan videonya dan Dokter Riggle. Itu adalah taman bermain tua yang hanya bisa dioperasikan secara pribadi oleh mereka.


Ia tak tahu jika ada pintu rahasia di balik dapurnya yang mengarah ke tempat itu. Taman bermain itu biasanya hanya dimasuki oleh Rhea dan pengasuhnya. Tapi anehnya, pengasuhnya selalu berganti setiap enam bulan.


Kaki Daffa kini tengah melangkah dengan penuh keraguan di setiap lantai taman bermain itu. Tak ada yang spesial, hanya sebuah taman bermain tua yang masih bisa berfungsi dengan menggunakan generator. Tapi semakin ia turun ke lantai terdalamnya, hawa dingin semakin membuatnya merasa tercekam.


Tempat ini begitu harum. Ada bau mawar yang menyeruak dari pengharum ruangan yang sepertinya baru saja diganti. Berbeda dari tempat Devian sebelumnya yang hanya berbau amis darah.


Dan benar saja, saat ia sampai ke lantai terbawah dari basement tua itu. Ada sebuah ruangan dengan dekorasi yang sama persis seperti yang ia lihat di video sebelumnya.


Ruangan tidur serba pink khas kamar anak perempuan. Ada bunga-bunga segar yang membuatnya semakin harum dan semerbak. Tapi begitu tirai di balik ruangan utama di sibak. Disitulah semua mahakarya itu di pajang. Begitu rapih dan tertata. Seakan setiap ukirannya memiliki makna tersendiri.


Dan di sisi dinding itu jugalah ia menemukan tempelan demi tempelan buku harian yang ia tahu persis itu adalah tulisan Rhea. Itu benar milik Rhea, Ia tahu itu. Ia bisa memastikannya.

__ADS_1


__ADS_2