
“Rhea mengalami gagal jantung!” salah seorang perawat berlari menghampiri Dean yang tengah memeriksa rekam medis Rhea bersama Ny Syahnaz dan juga Prof Riggle.
“Mereka bertiga berlarian menuju ruang rawat Rhea yang berada di area VIP lengkap dengan pengawalan berlapis dari para bodyguard kelas kakap.
“Dik, bertahanlah! Kami membutuhkanmu.” Dean melakukan CPR kepada sang adik sementara Pasangan Riggle membantunya dengan beberapa peralatan medis seperti Defibrilator, EKG, dan beberapa peralatan lain yang dibutuhkan.
Mereka saling bekerja sama bak sekawanan orang yang tengah pergi berperang. Sementara Daffa sang suami masih sibuk dengan buronannya di Gudang eksekusi Naratama.
“Maaf Tuan, Nona mengalami henti jantung.” Bisik seseorang kepada Daffa hingga membuat pemuda itu sontak langsung kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Daffa berlari bak orang kesetanan menuju kea rah mobil sport mewahnya yang hanya bisa ia kendarai sendiri. Ia berpacu bersama debaran jantungnya yang tak karuan. Memecah keheningan jalan raya yang tak berpenghuni. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 dimana semua orang masih larut dalam lelapnya masing-masing.
Hanya butuh waktu sekitar lima belas menit baginya untuk mencapai rumah sakit dalam kecepatan itu.
“Bagaimana Dean?” tanya Daffa frustasi begitu melihat Dean yang di waktu bersamaan telah keluar dari ruangan tindakan.
“Kami kehilangan bayinya.” Lirih Dean lemah.
“Kondisinya sudah stabil, kuakui bahwa kehamilannya turut memperlemah kondisinya kemarin. Sekarang sudah lebih baik, kami memang sempat kehilangannya, tapi untunglah ia adalah gadis yang kuat.” Keduanya bernafas lega bersamaan.
“Aku ragu ia akan ingat segalanya begitu sadar.” Lirih Dean. Mereka tengah duduk berdampingan dengan Daffa saat ini. Di salah satu kursi pengunjung di depan ruangan ICU tempat Rhea berada.
“Apa maksudmu?”
“Luka di kepalanya. Dari sekian banyak kasus yang kami temui, akan besar kemungkinan bahwa ia akan mengalami Amnesia. Ini bisa saja amnesia total atau mungkin hanya sebagian. Kita hanya bisa memantaunya setelah ia sadar.”
“Apa maksudmu memberi tahuku ini?”
“Aku hanya ingin kau bersiap dengan segala kemungkinannya.” Dean meninggalkan Daffa menuju ruangannya.
Masih ada begitu banyak hal yang harus ia lakukan untuk memantau oerkembangan adiknya. Hatinya terasa sangat sakit. Ia pemuda yang kuat, ia juga adalah dokter yang hebat. Namun siapa sangka ketika adiknya yang terbaring di meja operasinya, ia menjadi sangat lemah.
__ADS_1
Ia hanya berusaha tegar di depan semua orang. Terlepas dari itu semua, ia hancur untuk adiknya.
Kring..Kring…
Sebuah nada panggilan klasik bergema di waktu yang tidak tepat. Ponselnya berdering dan menampilkan ID pemanggil yang misterius di layarnya. ‘Black Shadow’.
“Cepat selidiki lebih jauh, jika masih ada yang ingin adikku mati. Bunuh dia lebih dulu.” titah Dean begitu ia mengangkat ponselnya.
Ia hanya mengangkat dan mematikan panggilannya di saat yang ia mau. Semuanya meninggalkan kesan Seakan ia adalah seorang yang begitu di takuti, dan tak tersentuh.
Tok..Tok…
Pintunya di ketuk oleh seseorang di saat yang tidak tepat.
“Siapa?” sahut Dean berusaha setenang mungkin.
“Aku, suami Rhea.” Jawab Daffa formal.
“Masuk.” Dean seketika merubah ekspresi wajahnya begitu mendengar suara Daffa memanggilnya dari balik pintu.
“Bagaimana bisa aku memanggilmu ‘Bro’ di saat kau sendiri justru memanggilku dengan panggilan ‘Adik Ipar’.” Kekeh Daffa sekilas.
Daffa sendiri sebenarnya bukan ingin bercanda atau sekedar bertegur sapa dengan kakak ipar barunya. Ia memiliki pemikirannya sendiri tentang Dean. Apalagi tentang kemungkinan bahwa Dean adalah Keenan yang selama ini dinanti oleh Rhea.
“Aku rasa ini bukan saat yang tepat bukan?” Daffa menghempaskan bokongnya di salah satu kursi yang berada di seberang meja Dean. Layaknya seorang keluarga pasien dengan dokter yang berjuang untuk keluarga mereka.
“Untuk?” Dean berusaha untuk menanggapinya dengan serius.
“Lebih baik aku menanyakan keadaannya sebagai keluarga pasien bukan?” Daffa terkekeh paksa dan otomatis menghilangkan tatapan tegang dari Dean untuknya.
“Aku tak suka opini itu. Aku lebih suka berbicara denganmu sebagai adik iparku.” Dean sedikit melangkah ke arah meja yang berada di samping kirinya. Ia mengambil dua kaleng kopi instant dari sana dan memberikan satunya kepada Daffa.
__ADS_1
“Terimakasih.” Dean mengangguk ramah.
“Kukira kau tidak setengil kelihatannya. Apa kau sangat menyayangi istriku?” Dean tersedak.
Dean tahu kemana arah pembicaraannya saat ini. Ini bukan hanya sekedar pertanyaan biasa diantara kakak dan adik ipar. Ia tahu pasti bahwa Daffa sudah mengira bahwa dirinya adalah Keenan.
“Hanya ada satu orang yang begitu menyayangiku melebihi nyawanya sendiri, dan itu adalah Keenan.” Itu adalah satu-satunya keyakinan Rhea yang tak pernah bisa dibantah oleh siapapun.
Dan Daffa menyaksikannya beberapa hari ini. Dean tak hanya menolong Rhea untuk pamer kemampuan. Ia menolong Rhea dengan mengorbankan hidupnya sendiri. Daffa bisa melihatnya dari cara Dean menatap istrinya.
“Maaf Dokter, tapi Nona Muda sudah siuman.” Kehadiran seorang perawat keruangannya telah memecahkan ketegangan diantara kedua pemuda tampan itu.
“Sepertinya tak banyak yang menghargaimu disini. Mereka bahkan tak mengetuk pintu untuk masuk.” Cemooh Daffa yang hanya di balas dengan gerdikan bahu oleh Dean.
Ia memang terlalu terbiasa untuk bersikap santai. Menurutnya sikap formalitas hanya digunakan untuk seorang berjas rapih yang bekerja untuk pemerintah. Sedangkan mafia berkedok dokter sepertinya tak pernah butuh itu.
Mereka berjalan beriringan menuju ruangan ICU untuk menengok kondisi Rhea. Perawat itu benar, Rhea sudah sadar. Ia bahkan kini tengah duduk dengan begitu tegapnya di atas ranjangnya. Meskipun dengan masker oksigen yang masih setia bertengger di wajahnya.
“Kak Keenan.” Pekiknya kesenangan ketika kedua pemuda itu menghampirinya.
“Oops. Kau membongkarnya lebih awal.” Canda Dean kepada Daffa sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia menyambut pelukan sang adik dan mendekapnya cukup lama. Ia bahkan tak memberikan kesempatan Daffa untuk mendekat.
“Kau siapa?” lirihnya setelah pelukan itu terlepas. Rhea menatap Daffa yang mematung di ambang pintu.
“Kau tak mengingatku?” tanya Daffa dengan suara yang gemetar.
Ny Syahnaz dan Prof Riggle segera masuk diantara mereka dan memecah ketegangan diantara keduanya.
“Sebaiknya kalian mengobrol terlebih dahulu.” Ujar Syahnaz yang langsung diangguki oleh Dean.
Dean mengajak Daffa ke taman rumah sakit untuk berbincang santai dan menghilangkan ketegangannya.
__ADS_1
“Ia menganggapku Keenan setelah Keenan meninggal. Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa Keenan sudah meninggal.” Jelas Dean yang membuat Daffa tercengang.
Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya Dean merasa cukup bersalah. Ia telah memanfaatkan Amnesia Retrogarde adiknya untuk mengendalikan ingatan Daffa. Ia tak memiliki pilihan, tak boleh ada yang tahu bahwa dirinya adalah Keenan. Tidak sampai ia tahu siapa dalang di balik semua kemalangan yang dialami Rhea adiknya dan juga Devian,