
" ayah...hiks...hiks...ayah..al takut disini ayah...hiks...al ingin keluar ayah..al takut.."
isak tangis gadis kecil itu memenuhi ruang gelap yg teramat kotor, gadis kecil itu terus memukul mukul pintu meminta keluar. kulit putihnya sudah mulai kemerah merahan karena digigit nyamuk atau serangga yang lain hampir 2 jam dia terus menangis meminta keluar tak perduli dengan suaranya yang hampir habis,rasa sakit karna memar di sudut bibirnya tak iya hiraukan yang dia inginkan hanya ingin keluar dari ruangan ini.
"ayah...hiks..hiks..al janji gak...hiks..akan nakal la..gi..hiks...al takut ayah..hiks..takut.."
gadis kecil berumur 6 th itu terus merengek meminta belas kasih ayahnya tak perduli didengar atau tidak tapi harapannya ayahnya mau mendengarkan nya.
senyap senyap terdengar suara keributan dari luar ruangan itu..
" apa kau sudah gila bim, dia juga anakmu.apa kau tuli dia terus meminta keluar bodoh" amarah rendi sahabat bima yang berprofesi sebagai dokter peribadi keluarga adijaya yang baru saja menangani renata yang terluka karna jatuh dari ayunan.
" jangan ikut campur ren, kau hanya dokter maka kerjakan tugasmu jangan ikut campur urusan ku.brengsek". amarah bima semakin memuncak ketika sahabat nya membela anak yang menurutnya pembawa sial itu. disisi lain ibu bima hanya bisa menangis melihat kekejaman anaknya terhadap cucunya itu.
" tp apa kau sudah gila dia masih kecil bim, aku yakin dia pasti gak sengaja melakukan itu . lagian luka renata tak parah". rendi benar benar frustasi menghadapi sahabat bodohnya itu. dia tak habis pikir dengan cara berfikir peria di depannya itu.
" apa kau bilang masih kecil ?, tak sengsja ? he..apa kau buta kepala nya berdarah bodoh, anak sialan itu mencoba membunuh putriku setelah dia membunuh isteriku. apa menurutmu aku harus diam saja..tidak bodoh". bentakan bima saat sahabatnya itu terus membela anak yang menurutnya pembawa sial itu.
" aku yakin rania pasti sedih dan kecewa melihat kelakuan mu itu, aku bingung kenapa dia dulu memilih peria brengsek dan gila sepertimu. bahkan tega menyiksa anaknya sendiri karna karna masalah kecil". rendi mengacak acak rambutnya frustasi menghadapi kegilaan sahabatnya itu.sekarang yang dia pikirkan nasib gadis kecil yang sudah dia anggap seperti anaknya itu. bima tak menghiraukan ucapan sahabatnya dia malah meninggalkan sahabatnya dengan membawa kunci ruangan itu.
disisi lain gadis kecil yang sedikit faham dengan ucapan- ucapan orang dewasa itu benar benar terluka lagi lagi dia dituduh yang tak pernah dia lakukan.
"ayah al ga..k..hiks...salah..ayah...hiks..al gak saalah..hiks". suara lirihnya tak mampu didengar dari luar karna suara yg semakin hilang " ayah... hiks..hiks..hiks..". kesadarannya mulai hilang karna kecapean dan jangan dilupakan luka didahinya akibat benturan yang dilakukan ayahnya benar benar membuatnya pusing.perlahan lahan pandangannya kabur dan perlahan lahan mulai gelap sampai akhirnya dia tak sadarkan diri.
__ADS_1
sedangkan diliar rendi terus berusaha mencari cara untuk menolong almira.rasa kawatirnya mulai bertambah ketika tak ada pergerakan dan suara dari dalam, nenek almira dan kakeknya menghampiri rendi dengan wajah penuh kekhawatiran.
"gimana ren keadaan almira kenapa tak terdengar suaranya lagi..hiks..hiks". nenek almira benar benar takut jika cucunya itu kenapa napa.
" aku juga gak tau tante semoga saja al gak kenapa napa karna ini sudah lebih dari 2 jam dia didalam dan terus menangis". raut khawatir juga terdapat wajah rendi saat ini dia benar benar khawatir terjadi sesuatu pada puteri sahabatnya itu.
" sudah sayang kita berdoa saja semoga almira baik baik saja, aku yakin almira anak yang kuat seperti ibunya". salman kakek almira terus menenangkan isterinya walau aslinya dia juga khawatir dengan cucunya itu tapi dia bersikap tenang agar tak semakin kacau." ren kita dobrak saja pintunya dan kita cepat tolong almira." lanjut nya menyuruh rendi untuk mengambil tindakan.
" baik om, ayo kita coba tapi jangan terlalu kuat takutnya almira masih dibelakang pintu ini". salman hanya mengangguk dan bersiap siap mendobrak.
...brak..
...brak...
...brak...
...brak...
rendi langsung segera masuk untuk mencari almira dan dugaan nya benar almira terkapar tak berdaya dengan lebam di sudut bibir dan darah yang beku di sudut kiri kening nya ditambah bintik bintik merah yang terdapat di kulit putihnya benar benar membuatnya terlihat mengenaskan ros nenek almira hanya mampu menutup mulutnya melihat kondisi cucunya itu raut yang sama juga terlihat pada wajah salman kakek almira.rendi yang melihatnya langsung mengecek denyut nadi almira.
" berengsek , anjing kau bima , laki laki biadap kau..." teriak amarahnya ketika mengetahui denyut nadi almira bocah 6 th itu melemah dia langsung mengangkat tubuh almira dan keluar dari ruangan itu tapi langkahnya terhenti saat cekalan tangan ros nenek almira.
" cucuku kenapa ren dia gak kenapa napa kan?". tanyanya dengan suara sedu karna khawatir.
__ADS_1
" aku harus menbawa almira kerumah sakit sekarang tan, nadi nya melemah aku harus segera menolong nya atau dia akan..." rendi menggantung kan ucapannya " tiada.." lanjutnya dengaan suara lirihnya.
nenek almira membulatkan matanya saat mendengar kata terakhir rendi berbeda dengan salmat amarah sedang meliputi hati dan pikiranya dia mengepalkan kedua tangannya.tak menunggu jawaban tantenuya rendi langsung bergegas membawa almira ke parkira.pikirannya hanya tertuju pada keselamatan almira saat ini bahkan dia tak menghiraukan keberadaan sahabatnya dan anak laki lakinya yang ada di ruang keluarga sedang meprhatikannya dia langsung keluar mebopong almira ya semakin lemah.
" apa yang ayah lakukan sampai dia seperti itu?". suara dingin anak laki- lakinya yang sempat melihat keadaan kembarannya sebenarnya dari tadi dia merasa kan sakit dihati dan tubuhnya tp setelah melihat kembarannya dia tau apa yang membuatnya merasa seperti itu kenapa tubuhnya merasakan itu karna bagaimanapun almira adalah kembarannya.
laki- laki yang disebut ayah oleh anak itu hanya me mangkat bahu acuh seperti tak pernah melakukan apa apa.
" apa ayah menyiksanya?". tanya nya lagi pada ayahnya itu yang malah asik dengan korannya.
bima yang ditanya alah menutup koran nya dan beranjak tapi sebelom pergi dia mengatakan " ayah hanya sedikit memberi pelajaran karna melukai adikmu renata itu saja". lalu melanjutkan langkahnya menuju kekamar putrinya renata.
sagara yang mendengar itu benar benar geram dengan apa yang dilakukan ayahnya
" kau benar benar gila yah, renata hanya luka kecil tapi kau membalasnya dengan membuatnya seperti mayat hidup, ck" umpetnya yangtak dihiraukan oleh bima...
***Bersambung....!!
jamgan lupa terus dukung karya ku dan jangan lupa vote dan coment agar aku bisa semangat untuk berkarya dan meperbaikinya
agar lebih baik lagi...!!😉😁
SEMANGAT***....!!!
__ADS_1