
siang ini luna berencana untuk menjemput putranya altezza dan berancana mengajak putranya untuk jalan jalan, luna sadar jika waktu bersama anaknya sudah banyak yang terbuang karna dia yang diharuskan ikut bima suaminya tinggal diluar negri karena pembukaan cabang baru perusahaan mereka dinegara itu dan sebab itu pula iya harus jauh dari putranya, sebagai seorang ibu pasti ada rasa sedih salam firinya karena harus jauh darii putranya dan tak bisa memantau perkembangan puteranya secara langsung.
dia juga merasa sekarang puteranya semakin jauh darinya seperti ada jarak yang memisahkannya dengan putranya altezza.
sedih pasti iya iya rasakan, apa lagi sikap putranya tadi pagi saat dia mengantar terlihat sangat dingin, putranya itu hanya menjawab jika ditanya dan lebih banyak diam saat bersamanya .
perasaan Luna saat itu sangat terluka melihat putranya tak seperti anak anak seusianya yang biasanya lebih banyak bicara dan tidak pendiam seperti putranya itu.
dia sadar perbuatan nya itu sudah keterlaluan tapi luna bisa apa, jika disuruh memilih dia ingin selalu bersama putranya dan tidak ikut bima suaminya
melihat sikap anaknya yang seperti itu membuatnya kawatir dan juga sedih, dia kawatir akan tambah jauh dari putranya itu dan luna tak mau itu terjadi.
air mata Luna tak mampu dibendung saat memandang foto putranya Altezza yang sedang tersenyum indah, sungguh hatinya sangat terluka karna dia merasa telah menghilang kan senyum indah itu, ingatanya kembali kemasa dimana putranya menangis tak ingin ditinggal
" ma jangan pergi..hiks.. jangan tinggalkan ezza disini ma..hiks..hiks..ezza mohon mama jangan pergi.. ezza mohon" isak tangis bocah 4 th yang tak ingin ditinggal ibunya.
sungguh saat teringat masa itu masa dimana pilihan yang berat harus dipilih dan dia tetap harus memutus kan walau berat sebenarnya luna tau jika ini bakal terjadi karna keputusannya itu tapi saat itu dia benar benar tak punya pilihan selain ikut bima pergi.
" hiks...maafin mama sayang..hiks mama salah...mama egois..hiks..tapi ini bukan kemaun mama..maafin mama..hiks". tangis Luna pecah saat teringat putranya dan perasaan menyesal begitu dalam terus menghantuinya.
Luna tau apa yang dirasakan anaknya karna Luna pernah mengalaminya yaitu tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah dan ibu yang selalu kerja sampai lupa dirinya hanya untuk bertahan hidup dan parah nya hal itu di rasakan pula oleh putra kecilnya itu.
Luna segera mengusap air matanya dan melihat jam sudah mendekati putranya pulang, dia langsung pergi keruangan bima untuk meminta izin menjempit putranya.
...tok..tok..
__ADS_1
..cklek..
Luna muncul dari balik pintu dan dia melihat bima sedang fokus dengan berkas berkas dimejanya, Luna segera menghampiri bima
" mas aku izin jemput altezza dulu sekalian mau ajak dia jalan jalan sekalian". Luna memberanikan diri meminta izin bima demi anaknya.
bima meletakkan berkas yang ada ditangannya dan mendongakkan kepalanya untuk melihat Luna yang sedang berdiri, wajah yang masih tampan dan berkarisma tapi penuh dengan kewibawahan dan ketegasan menggambarkan betapa arogannya seorang bima.
bima mengernyitkan dahinya sampil menatap Luna " apa masih kurang pengasuh altezza sehingga kamu juga ikut mengasuhnya?". pertanyaan bima benar benar membuat Luna kaget.
" apa maksutmu mas? kenapa seolah olah kau tak perduli altezza?". balas Luna yang sungguh kecewa pada bima.
" tidak perduli? coba tunjukin kata kata mana yang nunjukin jika saya tak perduli dengan altezza? bukan nya aku malah menawarkan pengasuh yang lebih banyak untuk nya?". balas bima dengan santai
"itu baik menurutmu mas, selama ini aku selalu nurutin apa mau mu tanpa bantahan tapi untuk kali ini maaf mas aku gak bisa ". suara Luna mulai paruh ada rasa takut dan kecewa dalam dirinya" ak..aku..aku..gak mau putraku semakin jauh dariku...aku...gak mau dia sepertiku tumbuh dengan kurang kasih sayang dari orang tuanya". lanjutnya..
bima hanya hanya diam saat Luna mengeluarkan emosinya, dia tau kalau istrinya sedang kecewa padanya tp ini semua demi yang terbaik, ada sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan tapi melihat luna seperti itu dia juga tak tega.
" aku pergi dulu". pamit Luna yang hanya dibalas deheman dari bima.
setelah keluar dari ruangan bima ,Luna bergegas ke parkira banyak yatapan kariawan yang menunjukan expresi yang berbeda beda dari nya tapi Luna tak meperdulikannya.
... skip..
disinilah Luna sekarang dengan anggun Luna menghampiri intan pengasuh anaknya, saat Luna melangkah menuju tempat duduk intan banyak ibu2 yang menatap dirinya tapi seperti biasa Luna tsk menghiraukan.
"intan... madih lama nunggunya?" ucap Luna yang membuat kaget intan yang sedari tadi menghabiskan kejenuhan dengan main game.
" loh...nyonya kok ada disini ?". tanya intan yang madih bingung.
__ADS_1
"la emang kenapa aku kan mau jemput putraku". balas Luna yang santai dengan senyum manisnya.
" emm..ya sih nya tapi intan bingung aja kenapa anda bisa disini padahal ini masih jam kerja" jawab intan yang polos.
" emang sengaja dan lagi gak ada kerjaan yang penting juga dikantor, jadi apakah masih lama Alteza pulang?" jawab luna yang juga akan duduk di sebelah intan" kamu apakah bosen ngurus Altezza". lanjut luna.
" kalo saya sih jujur bosen nya dikala nunggu kayak gini tapi kalau masalah ngurus den Altezza saya seneng banget nya den altezza anaknya enakan gak rewel". jawab intan dengan penuh semangat sambil membayang kan kelucuan altezza.
"oh..sukur deh kalau kamu seneng dan gak ada masalah". Luna merasa lega karna intan pengasuh putranya tak merasa kesulitan " apa altezza sering nanyain saya tan?". lenjutnya..
" em..gimana ya nya saya bingung ngomongnya" jawab intan yang sedikit gugup dengan pertanyaan majikannya iti.
" jujur aja tan gak usah bingung, saya juga gak akan marah kok". Luna melihat kegelisahan didalam diri intan yang sangat ketara.
" maaf nyonya sebenernya kalau saya boleh saran nyonya jangan tinggalin den ezza lagi",( intan terdiam sejenak ragu untuk melanjutkan ucapannya)" sebenernya den ezza itu kesepian dia butuh nyonya untuk menemani pertumbuhan nya, walau dia gak sering ngeluh tapi intan bisa lihat jika aden selalu murung kala melihat kedekatan temanya dengan ibu mereka aden juga selalu berkata" mbak apa rasanya dijemput dan memeluk ibunya ketika pulang sekolah itu enak?" seperti itulah den ezza nya dia seperti tumbih lebih dewasa dibanding umurnya karna menahan rindu dan mencoba untuk mengerti keadaan nyonya". intan tertunduk takut majikannya marah " maaf enya intan lancang". lanjut intan
Luna hanya mampu terdiam mendengar penuturan pengasuh putranya itu dia semakin merasa bersalah pada putranya.
tibata air mata Luna meluncur bebas kebawah " maafin mama sayang mama salah maaf" ucapnya dalam hati
melihat majikannya menangis intan jafi panik ".nyonya gak papa kan ? maaf intan nyonya intan salah maaf" intan bingung harus apa
" kamu gak salah intan saya yang salah, makasih ya udah jagain putra saya selama ini" Luna mencoba tersenyum agar intan tak merasa bersalah.
tak ber selang lama bel sekolah pun berbunyi pertanda waktunya pulang dan senyum Luna terbit saat melihat putranya....
*Bersambung....
maaf...😭 baru up lagi dikarenakan author lagi kurang sehat beberapa hari ini karna pengaruh perubahan cuaca alias flu jadi gak fokus buat nulis😢😭
__ADS_1
tapi jangan lupa dukung terus karya author ya dengan cara kasih* LIKE dan KOMENTARNYA ya... Vote yang banyak juga ya jangan lupa😉🤗😍
Trimakasih🤗😘....