
Malam ini adalah malam pertama bagi Zavria dan suaminya. Ya, mereka baru menikah beberapa jam yang lalu. Tidak ada cinta di pernikahan ini. Hanya pernikahan politik, itulah arti pernikahan ini bagi mereka.
“Saya ngak mau ngomong banyak, yang pasti kamu tau kenapa kita sampai menikah kek gini!” kata suaminya dingin. Zavria menoleh sebentar, lalu kembali fokus melepaskan perhiasan yang melekat di tubuhnya.
“Saya paham, ngak perlu kamu bilangin lagi,” balas Zavria. Lagipula, ia sama sekali tak berminat untuk yang namanya cinta-cintaan. Niat awalnya setuju menikah dengan Alex —ya, nama suaminya Alexander Rachel Davies— bukan karena dia tampan, kaya, atau yang lainnya. Tetapi karena politik serta keuntungan yang akan ia terima nanti.
“Saya juga berharap sama kerja sama kamu jika kita ketemuan antar keluarga!” ujar Alex sekali lagi.
Zavria tak menjawab, tetapi mengangguk samar. Ia paham, Alex tak mau baik dia maupun lelali itu teelihat tidak harmonis di depan keluarganya. Oke, Zavria bisa mengerti hal itu.
Melihat itu, Alex pergi keluar melalui pintu. Niat awalnya datang hanya ingin mengatakan itu saja. Menerima pernikahan ini juga terpaksa ia lakukan karena diancam oleh sang ayah. Dan ia benci itu!
Zavria hanya melirik sekilas. Lalu beranjak menuju kamar mandi tak jauh dari tempatnya saat ini. Membersihkan diri lalu setelahnya mulai tidur menjemput mimpi. Ia tak peduli akan apa yang akan Alex lakukan. Lagipula, mereka sekarang sedang di apartemen Alex. Jadi, tak akan ada yang bertanya kemana Alex saat malam pertama mereka.
•••
Entah jam berapa suaminya itu pulang. Yang pasti, pagi ini Alex terlihat duduk di kursi dan sedang sarapan.
Keduanya diam tidak saling menyapa, hanya melirik sekilas. Zavria yang telah siap dengan setelan ala-ala kantoran itu pun pergi tanpa mengatakan apapun.
“Tunggu!” Alex tiba-tiba bersuara, membuat langkah gadis itu terhenti, tetapi tubuhnya tak berubah posisi sama sekali.
“Kamu pindah ke kamar tamu! Saya yang akan gunain kamar utama!” lanjut Alex membuat Zavria membalik badan dengan tatapan memicing.
__ADS_1
“Ngak! Saya di kamar utama! Saya istri kamu, jadi saya berhak atas hal itu!” tegas Zavria. Dia tidak akan menjadi sesosok yang lemah seperti dulu lagi. Sekarang, apapun itu dan bagaimanapun bentuknya, ia lah penguasa, ia lah dominannya! Dan dominan tidak suka diatur.
Alex menatap tajam, lalu berdecih pelan. “Terserah! Kalo gitu kita tinggal satu kamar!” ujarnya lagi memutuskan.
Zavria mengangkat bahunya acuh. Terserah akan seperti apa, ia hanya tak mau diperintah oleh orang lain. Selain itu terserah apa yang akan Alex lakukan.
•••
Zavria sampai di sebuah perusahan. Beberapo orang menyapa dirinya dengan hormat, tetapi ia hiraukan. Ia harus cepat dan mengurusi berkas-berkas yang akan menguntungkan baginya.
“Halo, Nia!” Zavria meletakkan telepon putih itu di samping telinga: menelpon seseorang.
“Kirimkan data pengeluaran uang perusahaan ke email saya,” lanjutnya dengan mata serta tangan sibuk fokus mencoret sesuatu di atas kertas berisi tulisan-tulisan yang berharga jutaan rupiah itu. Sedangkan telepon sedang diapit antara bahu dan telinganya.
“Hah ...” Menghela nafas, Zavria menatap foto sang bunda yang sedang tersenyum bahagia di depan kamera. Foto berbingkai tersebut sengaja ia letakkan di meja kerja miliknya. “Ma, kenapa semuanya jadi rumit begini?”
Setelah lama termenung, Zavria bangkit keluar ruangan menuju ruangan CEO. Mengetuk pintu pelan, setelah menunggu izin barulah ia masuk.
“Zavria? Kenapa? Ada masalah cerita ke paman.” Sesosok lelaki berusia hampir setengah abad, tampak menyambut hangat kedatangan Zavria.
“Paman!” Zavria menunduk hormat. Ya, CEO pengganti ibunya adalah pamannya, sang adik dari ibu Zavria.
“Zavria di sini hanya ingin mengemukakan sesuatu aja,” kata gadis itu dengan tutur kata dan gelagat yang sopan dan anggun. “Gimana jika Raisya melakukan latihan dengan mengambil pangkat rendah dulu, agar menjadi pengalaman buat dia.”
__ADS_1
Sang paman tampak berpikir sejenak. Terkadang, rasa empati keluar tanpa di suruh Zavria melihat keriput serta rambut putih-hitam sang paman. Tak seharusnya lelaki tua itu bekerja, seharusnya duduk menikmati masa tuanya di rumah. Bagiamanapun, sang paman lah yang telah merawatnya sedari kecil. Rasanya sedikit mustahil baginya untuk membalas kembali, meski merawatnya juga sebenarnya tidak gratis juga. Begitu mahal yang harus ia bayar ke keluarga sang paman karena telah merawatnya selama ini.
“Ide bagus itu, biar dia bisa belajar juga dari hal-hal kecil.”
Tak terasa, bibir Zavria melengkung membuat sebuah seringai. Permainan baru saja di mulai!
•
Malam harinya. Saat ini sudah larut, hampir tengah malam, Zavria barusaja menjejakkan kaki di depan pintu apartemen milik sang suami. Ia masuk dan berjalan menuju kamar utama. Melihat bahwa semua lampu telah dihidupkan, bahkan lampu kamar utama juga.
“Dia sudah pulang,” gumamnya sambil meletakkan tas selempang miliknya di atas meja rias. Beralih ke arah kamar mandi yang sedang berbunyi air gemericik, tanda ada yang sedang mandi saat ini.
Zavria mengambil handuk di dalam almari besar berpintu kayu. Ia juga berniat untuk mandi setelah sang suami selesai membersihkan diri.
Tak lama, Alex keluar dengan handuk melilit manis di pinggang menunjukan tubuh atas lelaki itu yang terbentuk sempurna. Zavria sempat tepana melihatnya, tetapi langsung ia palingkan wajah dan masuk ke kamar mandi.
Alex mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil di pundak. Matanya melirik pintu kamar mandi yang telah tertutup rapat. Lalu beralih mengambil kaos oblong dan celana panjang berwarna hitam di dalam almari yang sama.
Setelah selesai, lelaki itu berbaring di ranjang dan mulai memejamkan mata. Namun, hal itu urung ia lakukan saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sesosok Zavria yang sedang terbalut handuk. Bahu dan bagian paha yang terekpos jelas membuat Alex menahan nafas sejenak. Kulit tubuh gadis itu begitu putih dan terlihat lembut. Apalagi jika di sentuh ... Alex segera menggelengkan kepala saat pikirannya mulai melayang kemana-mana.
Zavria yang menyadari gelagat aneh Alex hanya memilih acuh. Sebenarnya ia juga tak mau tampil seperti ini di depan sang suami, tapi apalah daya ia melupakan pakaiannya tadi. Gadis itu dengan cepat mengambil pakaian, berjalan menuju kamar mandi setelah mendapatkannya lalu kembali lagi dengan tubuh yang sudah tertutup pakaian tidur sepenuhnya. Zavria membaringkan tubuhnya di samping Alex dan mulai memejamkan mata. Hari ini terasa lelah, tubuhnya rasanya sangat tidak sabar me-ralex-kan diri.
Dan malam itu dilalui keduanya dengan tidur bersama di atas ranjang yang sama pula.
__ADS_1