
Keduanya sepakat akan membahas perihal tuduhan yang menyatakan bahwa Zavtia memiliki simpanan setelah makan malam. Namun, nyatanya keduanya saling acuh dan tidak lagi membahas hal tersebut setelahnya.
Jujur saja, dari sudut pandang Zavria, ini benar-benar tuduhan tak berdasar yang sangat tidak bisa ia terima. Namun, pada akhirnya Zavria memilih untuk tak membahasnya lagi. Dipikinya, memperbaiki hubungan dengan Alex tidak semudah ia membuat perjanjian damai itu sendiri.
Sementara dari sudut pandang Alex. Lelaki itu sangat ingin membahas hal tersebut. Namun, urung ia lakukan, karena selain akan membuat hubungan mereka sedikit renggang, ia masih ingin tahu tentang lelaki yang ia tuduhi sebagai simpanan Zavria terlebih dahulu.
•
Hari ini Zavria berangkat ke kantor seperti biasa. Beberapa hari ini hubungannya dengan Alex memang agak renggang. Namun, keduanya juga tak mau menutup diri dan berusaha saling terbuka satu sama lain.
From: My Husband, Alex
To: Me
[Sudah sampai?]
07.27 am.
Sebuah pesan masuk. Zavria membuka telepon dan sedikit tersenyum membaca pesan singkat itu. Meski telah berusaha saling terbuka, nyatanya, fakta bahwa kepercayaan dan kekecewaan Zavria terhadap lelaki itu tidak berubah sedikit pun. Bukan berarti ia tak percaya lagi, hanya sedikit berkurang itu saja.
From: Me
To: My Husband, Alex
[Ya.]
07.30 am.
Satu balasan singkat Zavria berikan. Beberapa detik berikutnya, wanita itu terlihat sibuk pada pekerjaannya.
•
From: Me
To: Zavriana Mahendra Alexander
__ADS_1
[Bisa ngak kita makan siang bersama?]
11.48 am.
Alex mengirim pesan tersebut. Menghela nafas pelan, lelaki itu beralih menatap jendela kaca besar tak jauh dari tempatnya duduk saat ini. Hah ..., jika diingat kembali, di jendela itulah ia melihat Zavria bersama lelaki lain.
Ngomong-ngomong soal Zavria, Alex tak menutup mata akan perubahan sikap wanita itu. Meski melayaninya seperti biasa, tetapi sorot matanya jelas menunjukkan kewaspadaan. Semudah itu kepercayaannya luntur terhadap seseorang? Kenapa malah seperti Alex-lah satu-satunya yang berbuat salah?
Sudahlah, lupakan saja! Dadanya bergemuruh jika terus memikirkan hal itu.
From: Zavriana Mahendra Alexander
To: Me
[Ya, di restoran ***]
11. 51 am.
Alex mulai membereskan beberapa berkas. Tidak ada tujuan khusus ia mengajak sang istri untuk makan siang bersama, ini ia lakukan berharap dapat memperbaiki hubungan mereka, yang entah kenapa barusaja dimulai, sudah datang badai menghadang.
•
“Hah ...” Menghela nafas lelah, Zavria membereskan beberapa berkas dan mulai bersiap. “ ... halo!” Zavria menghubungi seseorang menggunakan telepon yang ada di meja miliknya.
“Saya mau makan di luar, ingat buat ngawasin dia, jangan sampai lengah!” tekan wanita itu. Hari ini ia akan makan siang bersama sang suami.
“Hm.” Setelah bergumam seperti itu, panggilan diakhiri oleh Zavria. Mata gadis itu menatap laporan pengeluaran keuangan perusahaan yang menunjukkan bahwa semalam ada yang menarik uang dengan jumlah yang lumayan besar. Dari catatan laporan, bahwa uang itu untuk biaya proyek baru perusahaan. Tidak ada yang aneh sebenarnya, tetapi yang membuatnya harus ekstra hati-hati adalah, fakta bahwa pemimpin proyek itu adalah Raisya. Ia yakin, gadis itu pasti memaksa ayahnya memberikan proyek besar ini padanya.
“Ck, sialan!” umpanya pelan. Masih jelas diingatannya dulu saat mendapatkan sebuah proyek, dan itu butuh waktu yang cukup lama. Sedangkan Raisya, hanya dalam seminggu telah mendapatkan proyek yang bahkan jauh lebih besar dari proyek pertamanya dulu.
Menghela nafas sejenak, Zavria mencoba melupakan hal itu dan mulai beranjak menuju ruangan CEO. Ia akan menemui pamannya dahulu, setelah itu ia akan pergi makan siang bersama Alex.
•
“Aku denger-denger paman ngasih Raisya proyek di Bali itu,” ujar Zavria setelah sesaat meletakkan gelas berisi teh hangat. Diliriknya sang paman yang barusaja selesai meminum kopi miliknya. Ah, ngomong-ngomong soal kopi, Zavria sangat tidak menyukai minuman itu. Entahlah, sebanyak apapun kalian meletakkan gula kedalamnya, tetap di lidahnya itu terasa pahit. Zavria itu sedikit sensitif terhadap hal-hal yang ia makan dan minum. Wanita itu meminum teh pilihan, tidak bisa sembarangan. Bukannya dia mau sok atau apa, tapi mau bagaimana lagi itulah selera dirinya. Beberapa makanan tak ia sukai seperti: Udang dan buah semangka. Bukan alergi, tetapi Zavria benar-benar tidak suka baik itu aroma ataupun rasanya. Benar-benar tidak cocok pada lidahnya.
__ADS_1
“Ya, paman memberikannya.” Sang paman tersenyum, memahami maksud dari pertemuan mereka ini.
“Tapi ... kenapa? Paman tau kan itu proyek besar? Kalo gagal, gimana? Dan lagi, Raisya itu masih baru paman, masih awam sama hal-hal kek gitu.” Meski telah mencoba tenang, tapi nyatanya nafasnya terengah-engah setelah mengatakan hal itu. Huff ... Zavria benar-benar tidak bisa mengendalikan emosi jika itu bersangkutan debgan perusahaan sang ibu.
“Jangan khawatir, paman yakin dia bakal nyelesain semua pekerjaan ini dengan hasil yang memuaskan,” ujar sang paman mencoba menenangkan Zavria. Selain itu, ia juga mau sang keponakan mulai mempercayai dan memiliki hubungan yang baik dengan anaknya itu. “Zavriana!” panggil sang paman lagi.
Zavria mendengarkan. Jika sudah menyebut nama lengkapnya, berarti sang paman sedang sangat serius.
Ronald —paman Zavria— memegang bahu sang keponakan menggunakan sebelah tangannya. “Tolong percayai Raisya kali ini aja!”
•
“Hah ...!” Helaan nafas untuk kesekian kalinya Zavria lakukan. Matanya menatap minuman di depannya tak minat. Saat ini ia sedang berada di restoran tempat ia berjanji dengan Alex akan melakukan makan siang bersama.
“Tolong percayai Raisya kali ini aja! Paman tau kamu selalu mengawasi dia, bahkan kamu meminta laporan keuangan tiap hari.”
Perkataan pamannya beberapa menit yang lalu masih terngiang-ngiang jelas di benaknya. Ia tahu, sang paman merupakan CEO di perusahaan itu, tetapi ia tak berpikir sang paman akan tahu sejauh itu.
“Ini sulit!” gumamnya pelan.
“Sudah lama nunggunya?” tanya Alex tiba-tiba membuat lamunan Zavria buyar. Wanita itu menoleh dengan kikuk dan sedikit mengangguk tanpa alasan yang sebenarnya ia tak ketahui. Dipikinya, tadi sempat mendengar Alex bertanya entah soal apa, jadi dia mengangguk saja.
Alex mengambil temapt duduk di depan Zavria. Memanggil pelayan saat menyadari Zavria yang belum memesan makanan. “Maaf, tadi macet!” Sambil menunggu, Alex menyempatkan diri meminta maaf atas keterlambatannya.
“Iya, ngak papa,” ujar Zavria dengan senyuman manis.
“Mau pesan apa, Mbak, Mas?” ujar pelayan yang datang sambil meletakkan buku menu di atas meja.
•
Makan siang mereka hanya diisi oleh keheningan. Sepertinya mereka masih terlalu canggung untuk saling memulai pembicaraan.
Setelah selesai makan siang pun keduanya masih menggeluti keheningan itu. Sedikit was-was dan nyaman menjadi rasa yang datang bersamaan. Keheningan yang terjadi tanpa adanya kebisingan adalah kesukaan tersendiri, baik itu untuk Alex atau Zavria. Sementara, keduanya juga was-was akan akibat dari keheningan yang akan melebar luas, mungkin akan berakhir dengan perceraian. Huh, menakutkan!
“Saya anterin,” kata Alex mutlak. Zavria yang saat itu sedang bersiap pergi hanya mengangguk menyetujui. Soal mobilnya yang terparkir diluar, Zavria akan menyuruh bawahannya mengambil nanti.
__ADS_1