
“Zavria!” Suara Alex terdengar purau dan sexy. Zavria tak menolak, membalas semua perlakuan Alex kepada dirinya. Ciuman, pelukan, hingga mereka memulai malam pertama yang sempat tertunda.
Entah berapa lama mereka bercinta, yang pasti Zavria hanya mendapat satu jam tidur saja. Karena terbiasa bangun pagi, Zavria terpaksa bangun meski pening di kepala sangat mengganggu.
“Eungh!” lenguhnya. Matanya mengerjap pelan demi menyesuaikan dengan cahaya matahari. Kepalanya sangat pusing sebab kekurangan tidur. Tubuhnya remuk sebab aktivitas tadi malam.
“Akhh!” Saat bangkit, bisa Zavria rasakan seluruh tubuh yang sakit, apalagi bagian bawah miliknya. Ah, ia telah menyerahkan kegadisannya pada sang suami. Tak apa, Zavria senang akan hal itu.
Mencoba sekali lagi, kali ini Zavria berhasil duduk dengan kaki menjuntai ke lantai. Barusaja akan berdiri, rasa sakit itu kembali datang hingga membuatnya oleng dan ...
Bruk!
... berakhir terjerembab ke lantai kamar miliknya.
Alex yang mendengar kegaduhan pun membuka mata. Dilihatnya sekeliling mencoba mencari sesosok perempuan yang telah ia perawani tadi malam. Namun, tak ada satupun tanda-tanda keberadaan sang wanita.
“Ouch!”
Mendengar itu, Alex memusatkan perhatian ke arah satu titik di mana Zavria sedang terduduk dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuh. Lelaki itu terkekeh. Ia ingat, tadi malam dengan semangat ia menggagahi Zavria hingga gadis itu tidur dan ia masih melanjutkan.
Alex berdiri, mengambil celana panjang yang tadi malam disiapkan Zavria. Memakainya dengan cepat lalu menuju ke tempat Zavria berada.
Zavria hanya memperhatikan. Ia mencoba berdiri lagi, tetapi rasa sakit itu semakin menjadi. Namun, ia tetap memaksa untuk kuat dan masuk ke kamar mandi.
Grep!
Dan tanpa diduga, Alex datang dan menggendong Zavria ala bridal. Dengan masih memakai selimut, Zavria dibawa ke kamar mandi dan berakhir dengan mereka mandi bersama.
•
Keduanya telah siap dengan pakaian santai. Keberuntungan ditangan meraka, sebab hari ini hari libur. Jadi, mereka tidak perlu ke kantor dengan kondisi kurang tidur.
__ADS_1
“Ya ampun!” gumam Zavria saat melihat lingkaran hitam di kantung matanya yang mencolok.
Sebuah tangan menyentuh meja di depannya dari arah belakang. Alex mendekat, menciuam aroma tubuh Zavria. Sekarang, posisi Zavria benar-benar terhimpit antara tubuh Alex yang ada di belakang punggungnya ditambah tangan lelaki itu di samping tubuhnya, dan meja rias di depannya.
“Alex!” panggil Zavria pelan. Dapat dilihat wajah Alsx yang sangat dekat melalui cermin.
“Saya akan melupakan kejadian kemaren,” ujar Alex dengan mata yang menatap Zavria melalui cermin. Kebetulan sekali keduanya sedang saling menatap.
“Saya juga,” gumam Zavria pelan tanpa melepaskan tatapan mata keduanya.
Tidak ada yang berbicara setelahnya, keduanya tampak saling menikmati kesunyian ini.
Namun, tak lama kemudian Alex mulai menciumi area leher belakang Zavria membuat sang empunya melenguh pelan. Zavria mencoba menghentikan Alex, karena mereka belum makan pagi ini. Dan hari sudah mulai beranjak siang. Perutnya sudah keroncong, dan dipikirnya Alex pasti juga sudah sangat lapar.
Namun, ternyata Alex bukanlah tipe orang yang menutup telinga dan menulikan pendengaran. Setelah mendengar perkataan Zavria yang meminta berhenti, lelaki itu benar-benar berhenti dan keduanya pun beranjak untuk sarapan.
•
Bahkan, dengan blak-blakan Elena sudah meminta cucu pada keduanya.
“Pokoknya kalian itu harus secepatnya kasih Mama cucu,” tuntut sang ibu menatap Zavria dan Alex lekat. Alex dan Zavria hanya tersenyum kikuk ditatap seperti itu.
Mereka barusaja melakukan aktivitas itu, dan sang ibu sudah meminta cucu dengan cepat.
“Ma, kita ini masih baru, ngak mungkin langsung jadi.” Alex berkata sambil menggenggam tangan Zavria erat. Zavria tersenyum merasakan tangan besar nan hangat Alex melingkupi tangannya yang kecil.
“Ya udah, kalo gitu kalian honeymoon aja, gimana?” tawar sang ibu tampak antusias.
Zavria tampak tersenyum canggung mendengarnya. Semalam, mereka barusaja bertengkar, apalagi Alex sampai membawa perempuan asing ke apartemen. Sekarang sang ibu malah meminta Keduanya untuk bulan madu, padahal keduanya baru berbaikan.
“H-honeymoon?” Zavria berkata agak gugup.
__ADS_1
“Iya, honeymoon! Bulan madu, gimana?” tanya sang ibu lagi.
“Tapi soal pekerjaan ....” Zavria berkaya pelan.
“Udah, itu biar jadi urusan Mama, oke? Mau, ya?” Mohon ibu dari Alex itu. Ia sudah sangat menantikan seorang cucu. Lagipula, hanya Alex yang sudah menikah diantara anak-anaknya. Gio masih suka melajang meski telah banyak perempuan yang ibunya tawarkan. Dan juga, umurnya seseorang siapa yang tahu, iya kan?
“Iya, Ma, nanti kita bulan madu,” kata Alex dengan senyuman manis yang dari sudut pandang Zavria, Alex malah terlihat sedang menyeringai.
Zavria yang melihatnya pun tak mau kalah. Wanita itu ikut setuju akan usulan dari sang ibu mertua.
•
“Kamu yakin?” Zavria meletakkan piring berisi lauk pauk di atas meja makan. Ia barusaja selesai masak untuk makan malam. Ibu Alex telah pulang beberapa jam yang lalu.
“Tentang?” Alex dengan rambut yang masih basah duduk di kursi. Hidungnya menghirup aroma masakan yang memancing selera makan itu dengan rakus. Huff, aromanya menggoda perut.
Zavria menoleh, menatap Alex yang barusaja selesai mandi. Suaminya tampak tampan dengan rambut basah seperti itu. “Bulan madu.”
“Kenapa? Kamu ngak mau?” tanya Alex sambil menoleh. Keduanya terlibat kontak mata untuk sesaat, sebelum Zavria memutuskan kontak itu dan beralih menatap piring yang terakhir setelah itu ikut duduk di samping Alex.
“Harusnya saya yang nanya, kamu mau pergi bulan madu sama saya?” Zavria mengambil piring, mulai mengisinya dengan nasi lalu lauk pauk dan memberikannya kepada sang suami. Alex menerima dengan senang hati.
“Kenapa enggak? Kamu kan istri saya,” kata Alex.
Zavria menoleh dan menatap lekat wajah tampan itu. “Saya sebenarnya ngak masalah kalo kamu punya orang yang sangat kamu cintai. Kamu boleh kok pergi bulan madu sama dia aja.” Ya, Zavria tidak sembarang menuduh. Jika dipikir, Alex berprilaku aneh lalu membawa perempuan asing semalam. Kepercayaannya lada lelaki itu agak sedikit berkurang.
“Bukannya kamu yang sebenarnya punya simpanan?” tanya Alex dengan tatapan mata memicing. Dari sudut pandangnya, Zavria sedang menuduh sesuatu yang sebenarnya Zavria lakukan sendiri. Dan Alex tidak menyukai itu.
Zavria tersenyum aneh. “Udah, kita makan dulu, ngomongin soal ini lain kali aja.” Zavria sedikit terkejut sebenarnya. Kenapa Alex menuduhnya seperti itu? Dan, bukti apa yang Alex punya sampai berani menuduhnya?
Alex tampak setuju saja. Jika dipikir, mungkin keduanya akan bertengkar dan berakhir tidak saling memakan makanan di atas meja yang telah tersedia. Atau mungkin saja keduanya akan saling terpisah tempat tidur? Siapa yang tau?
__ADS_1