Rumah Tangga Yang Dingin

Rumah Tangga Yang Dingin
2. Mulai Dekat


__ADS_3

Mengerjap pelan, Zavria membuka mata dan sedikit terperanjat saat matanya bertubrukan dengan mata sang suami.


Tak ada yang bersuara, keduanya begitu nyaman dan menikmati ketenangan yang ada. Apalagi posisi tidur mereka yang begitu dekat: saling berpelukan. Entah siapa yang memulai sehingga mereka begitu nyaman dalam tidur kali ini.


“Kamu ingin mandi dulu, atau saya?” tanya Alex memecahkan kesunyian yang ada. Zavria tampak mengerjapkan matanya beberapa kali.


“Hm, kamu aja,” jawab Zavria. Bangkit menjadi duduk hingga pelukan keduanya terlepas. “Sebentar, biar saya siapin dulu. Mau air hangat atau dingin?” tawar Zavria setelah berhasil terlepas dari pelukan Alex.


Alex tampak terdiam sebentar. Sebelumnya, Zavria terlihat seperti gadis congkak, yang tentunya sangat sulit berdamai dengan gadis itu. Namun, nampaknya sekarang pendapatnya yang ini harus dicabut dari pemikirannya. “Ada apa?”


Zavria tampak tersenyum kecil. Tubuhnya yang semula duduk di samping tubuh Alex yang masih berbaring, ia tegakkan dengan turun dari kasur. “Saya ingin berdamai, itu aja, sih.”


“Oke, yang hangat,” balas Alex. Setelah mendapat balasan itu, Zavria pergi beranjak ke kamar mandi. Menyiapkan air hangat untuk sang suami. Setelah siap, dipanggilnya sang suami untuk mandi, sementara dirinya menyiapkan pakaian yang akan digunakan sang suami nanti.


“Saya udah nyiapin pakaiannya, ada di kasur,” beritahu Zavria sambil mengetuk pintu.


“Hm, makasih.” Terdengar balasan dari dalam. Zavria hanya bergumam menjawab ucapan terimakasih itu. Setelahnya, gadis itu beranjak menuju dapur, berniat menyiapkan sarapan selagi menunggu sang suami mandi.


Tak butuh waktu lama menyiapkan makanan. Zavria kembali ke kamar dan melihat sang suami yang telah siap dengan pakaian rapi, hanya tinggal memasangkan dasi saja. Zavria datang dan mengambil dasi dan membantu memasangkannya.


Alex diam melihat sang istri. Ada rasa hangat yang tak ia mengerti melihat perubahan dalam pernikahan politik yang tidak ia duga ini. Dipikirnya, akan sulit untuk saling mendekat jika mereka saja tidak saling mengenal sebelumnya.


“Sarapan dulu, saya udah masak,” kata Zavria lalu beralih mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Alex mengangguk lalu pergi menuju meja makan dan melihat ada dua piring nasi goreng dengan telur diatasnya. Melihat hal itu membuat perutnya berbunyi, menandakan bahwa cacing-cacing di sana tidak sabar menerima jatah mereka.


Zavria selesai dengan setelan kantoran dengan sebuah tas selempang miliknya di genggaman. Gadis itu beranjak menuju dapur dan sedikit terkejut melihat Alex masih di sana. Dipikirnya Alex telah pergi ke kantor sedari tadi.


“Saya nungguin kamu, kita makan bareng.” Seolah mengerti, Alex menjelaskan dengan senyuman tipis yang terlihat tulus.


Zavria terdiam sejenak melihat senyuman tulus itu meski tipis. Alex itu orang yang sangat dingin, senyuman yang sering ia perlihatkan di depan kolage-kolage-nya hanyalah senyuman bisnis, kepura-puraan semata. Ini kali pertama Zavria melihat senyuman hangat dari Alex, dan entah kenapa membuatnya sedikit terpana.

__ADS_1


“Kamu kenapa bengong begitu?” tanya Alex membuat Zavria tersadar. Gadis itu mengambil tempat tepat di depan Alex lalu keduanya memulai acara sarapan pagi ini.



Keduanya barusaja selesai melakukan sarapan. Zavria tampak telah siap dengan mobil miliknya, sementara Alex telah pergi beberapa menit yang lalu. Di apartemen itu, mereka menyewa seorang asisten rumah tangga yang hanya datang dari pagi sekitaran jam sepuluh. Tugas asisten rumah tangga itu hanya membersihkan rumah dan mencuci pakaian.


Tak terasa, mobil Alex telah sampai di perusahaan ayahnya. Ya, Alex masih bekerja di salah satu cabang perusahaan milik ayahnya yang ada di Jakarta. Dan ia menjabat sebagai CEO di perusahaan ini.


“Pagi, Pak Alexander,” sapa Resepsionis saat melihat atasannya itu.


Alex acuh dan tetap melanjutkan perjalanan. Tatapan tajam bak mata elang, wajah datar dan dingin membuat siapapun yang melihatnya seketika menunduk.


Pintu lift terbuka, Alex langsung masuk dan menekan angka yang menjadi tujuannya: ruangan CEO. Setelah sampai, dapat dilihatnya sang sekretaris yang telah siap di depan ruangannya. Lelaki yang berjabat sebagai sekretaris Alex itu membuka pintu kebesaran itu dengan tundukkan kepala tanda hormat.


“Tuan Davies telah menunggu anda, Pak Alex!” beritahu sang sekretaris. Alex mengangguk dan mulai memasuki ruangan.


Matanya menyapu, menatap seluruh ruangan mencari seseorang yang telah menunggunya. Dapat dilihat, seorang lelaki dewasa sedang duduk di sofa tak jauh dari meja di sana. Alex mendekat, membuat sang ayah langsung bangkit ketika menyadari kehadirannya.


“Pa,” sapa Alex sopan. Mengambil tempat duduk si depan ayahnya, setelah lelaki dewasa itu duduk sebelumnya.


Alex mengangguk. “Nanti Al kasih tau Zavria.”


Setelah merasa semua telah disampaikan, sang ayah pun beranjak pergi meninggalkan Alex yang tampak termenung.


Sementara Alex, tampak menghela nafas melihat sikap sang ayah. Tidak ada kata-kata rindu, tidak ada kata-kata hangat, yang ada hanyalah suara kalem dengan wajah datarnya. Sekarang, ia malah merindukan sang ibu, yang selalu tersenyum hangat kepada dirinya.


Alex pindah menuju meja kerja miliknya. Menatap foto keluarga yang khusus ia lekatkan di sana. Alex sebenarnya memiliki satu kakak laki-laki. Giovanni namanya. Kak Gio itu sangat hangat dan lembut. Perumpamaannya itu: Gio mewarisi semua sifat ibunya, nah Alex mewarisi semua sifat ayahnya. Keduanya memiliki sifat yang sangat bertolak belakang.


Entah kemana arah pikirannya, hingga Alex sampai berpikir untuk meletakkan foto pernikahannya dengan Zavria. Tangannya tak terasa menuju tangan kiri, tepatnya ke jari manis, tempat cincin pernikahan mereka berada. Dielusnya cincin berbalut emas itu dengan senyuman tipis.


__ADS_1


Zavria tampak menghela nafas melihat sesosok gadis di depannya. Sementara gadis di depannya, tampak menahan amarah.


“Lo yang minta bokap gue buat masuk ke jabatan rendah, 'kan?” tanya gadis itu dengan suara nyaring.


Zavria sempat menutup telinganya sejenak. Matanya memutar bosan. Untuk saat ini, ia ingin sedikit istirahat dari omelan tak berguna dari gadis di depannya itu.


“Jawab gue!” bentak gadis itu dengan menggerbak meja kerja milik Zavria.


“Kalo iya, trus lo mau apa?” tantang Zavria tak mau kalah. “Lo itu emang ngak pantes di sini, bahkan jadi OB pun lo ngak pantes!” balas Zavria pedas.


Raisya tampak menggeram marah. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. “Awas aja lo, kalo sampe gue bener-bener kerja dengan pangkat rendah!” ancam Raisya yang sebenarnya sama sekali tak mempengaruhi Zavria.


Raisya pergi dengan congkak meninggalkan Zavria yang tampak memijit pelipisnya pelan.


Drrt! Drrt!


Tak lama, telepon miliknya bergetar, tanda panggilan masuk. Dilihatnya ternyata itu nomor sang suami. Tangannya mengambil lalu menekan layar berwarna hijau.


“Halo!” sapa Zavria memulai percakapan.


[Papa minta kita dateng ke rumah nanti malem]


“Oke, nanti ketemu di apartemen, kita pergi bareng,” kata Zavria.


[Oke]


“Hm.”


Dan untuk beberapa menit, panggilan diteruskan tanpa ada yang berbicara lagi. Keduanya terlalu canggung untuk memulai obrolan akrab.


“Udah, gitu aja kan?” tanya Zavria memastikan. Bagaimanapun, waktu sama berharganya dengan uang.

__ADS_1


[Dandan yang cantik malam ini ... dan semangat kerjanya! Udah, itu aja, saya akan tutup teleponnya sekarang]


Zavria tersenyum manis mendengar perkataan Alex. “Hm.” Dan selanjutnya panggilan diakhiri oleh Alex.


__ADS_2