Rumah Tangga Yang Dingin

Rumah Tangga Yang Dingin
3. Mulai Belajar Mencintai


__ADS_3

Sesuai janji mereka, Alex dan Zavria pergi bersama dalam makan keluarga malam itu. Keduanya tampak sangat harmonis di depan orang tua Alex.


“Iih, si Alex kalo nyusahin mah tarik aja telinganya,” kata ibu Alex sedang mengobrol dengan Zavria. Sedangkan gadis itu tampak tersenyum, matanya melirik Alex yang sedang terlibat percakapan serius dengan ayah dan kakaknya.


“Heem, nanti Zavria tarik telinganya, sekalian aja tendang bokongnya,” sahut Zavria dengan kekehan diakhir kalimat. Hatinya menghangat merasakan kenyamanan yang audah lama tidak ia rasakan.


“Kamu itu gemesin banget, sih.” Sang ibu mertua gemes, bahkan mencubit pipi Zavria pelan.


“Sayang, udah malem, kita pulang sekarang.” Alex datang tiba-tiba dan duduk di samping Zavria yang sedang duduk di sofa bersama sang ibu. Tangannya melingkar di pinggang ramping gadis itu.


Zavria tampak tersenyum, merasa nyaman akan pelukan Alex yang terasa hangat.


“Lho, udah mau pulang? Mama baru juga ngobrol sama Zavria,” sahut sang ibu tampak kecewa.


“Tapi ini udah malem, Ma. Kapan-kapan deh, ya?” bujuk Alex kepada sang ibu. Bukan apa-apa, mereka besok harus bekerja, tak enak bagi Alex untuk membuat sang istri lelah nanti.


“Tapi ...” Sang ibu masih ingin mengelak, tetapi kata-kata tertahan.


“Udah, Ma, nanti kalo ada waktu Zavria pasti ke sini, Mama tenang aja,” jawab Zavria dengan senyuman manis. Sebenarnya ia tak juga mau berpisah, tapi apalah daya dirinya mengingat besok akan bekerja, terlebih ini merupakan perkataan dari sang suami, Zavria ingin menurutinya.


“Ma, nanti kita main ke apartemen mereka aja, gimana?” ujar Gio datang tiba-tiba diobrolan mereka bertiga dan memberikan sebuah penawaran.


“Bener, ya?” ujar sang ibu. Gio menjawab dengan anggukan dan disambut oleh keantusian sang ibu yang tak sabar untuk saling bercengkrama lagi dengan sang menantu.


Akhirnya, setelah sedikit bujukan, sang ibu mau juga melepaskan mereka untuk pulang dari rumah mewah itu.


Perjalanan mereka hanya di isi oleh kesunyian. Entah itu Alex atau pun Zavria, tak ada yang mau ambil suara. Keduanya seolah menikmati keheningan yang tercipta ini. Entahlah, kesunyian bagaikan memiliki kenyamanan tersendiri yang membuat mereka sangat menyukai suasana kali ini.


Setelah sampai, keduanya masuk ke apartemen bersama. Alex membuka pintu dan memberikan akses agar Zavria dapat masuk terlebih dahulu, lalu diikuti oleh dirinya.


Zavria masuk ke kamar, sementara Alex mengikuti dirinya. Setelah masuk kamar, seolah memiliki insting tersendiri, keduanya malah saling berhadapan.


“Capek?” tanya Alex tiba-tiba menjadi perhatian.


Zavria seolah baik-baik akan perubahan hubungan mereka yang mulai membaik. Gadis itu mengangguk.

__ADS_1


“Ya udah, mandi abis itu istirahat!” suruhnya lagi. Zavria hanya mengikuti saja arahan tersebut.


Akhirnya, malam ini mereka tidur bersama untuk yang kedua kalinya.



“Soal perjanjian kemaren, mau diambil sekarang?” tanya Alex sambil merapikan baju berwarna hitam berlengan panjang itu. Tangannya menggapai dasi panjang dengan warna yang sama, hanya ada sedikit corak yang menjadi sedikit pembeda, mencoba memakaikan benda itu di kerah bajunya.


“Ya, nanti saya ke Kantor kamu bawa berkas yang perlu kamu tandatangan.” Zavria beranjak dari kursi di meja rias setelah merasa riasannya telah cukup. Gadis itu mendekat mengambil alih dasi panjang dari tangan Alex dan memakainya dengan telaten.


Alex hanya memperhatikan dalam diam tak mau protes ataupun menyela. “Bagaimana menurut kamu sama pernikahan kita ini?” tanya Alex tiba-tiba.


“Ini penting.” Setelah selesai, Zavria menggapai jas kerja sang suami lalu membantu memakainya. “Baik itu keuntungan yang saya dapat, ataupun kamu.”


“....” Alex diam tak merespon. Sedikit terkejut mendengar kalimat terakhir itu.


“Jangan mikir macem-macem, saya emang belum mencintai kamu, tapi bukan berarti saya akan berpikir kamu hanya orang asing. Kamu suami saya, saya istri kamu. Kamu milik saya dan saya milik kamu.” Zavria merapikan sedikit jas kerja Alex. Setelah dirasa cukup, gadis itu beranjak mengambil tas selempang miliknya di atas meja rias.


Grep!


Zavria tersenyum miring. “Kalo kamu?” tanya Zavria.


“Ngak,” lugas Alex cepat. Entah kenapa, ia spontan menggelengkan kepala.


“Saya juga enggak.” Zavria kembali mencoba melanjutkan perjalanan, tetapi genggaman Alex kembali terasa membuatnya membalikkan badan bingung. Zavria menoleh dengan mimik wajah seolah bertanya.


“Bisakah kita berperilaku kayak pasangan bahagia di luar sana? Seolah kita saling mencintai?” tanya Alex lagi. Entahlah, kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


“Kenapa harus pura-pura kalo kita bisa mewujudkannya?” tanya Zavria dengan senyuman manis.


Seolah mengerti, Alex menganggukkan kepalanya. “Saya akan belajar mencintai kamu.”


“Saya juga,” balas Zavria. Setelah beberapa detik berlalu, barulah Zavria beranjak menuju dapur dan menyiapkan makanan yang telah ia masak sebelum ia mandi tadi. Di belakang, Alex ikut menyusul dan membantu Zavria menyiapkan makanan. Setelah semuanya siap, barulah keduanya mulai sarapan.


Ya, mereka mencoba menerima dan berdamai akan pernikahan ini. Mereka tak mau terus membuat pernikahan ini menjadi dingin dan terasa hambar.

__ADS_1



Kaki putih nan jenjang itu barusaja menempatkan diri di atas aspal di depan kantor besar di Jakarta. Zavria keluar dari kursi penumpang lalu menoleh menatap Alex. Ya, Alex memutuskan mengantar Zavria ke kantor. Katanya agar mereka cepat dekat dan saling mencintai.


“Siang ini saya akan datang,” beritahu Zavria.


“Kamu yakin? Ngak mau saya aja yang ke sini?” tanya Alex memberi penawaran. Sempat terpikir dirinya, bagaimana sang istri pergi ke Kantornya jika mobilnya tinggal di Apartemen mereka.


“Ngak, ini keperluan saya, jadi harus saya yang menemui kamu,” tolak Zavria halus. Meski wajahnya datar, tetapi sorot matanya memancarkan kehangatan yang sedikit membuat Alex terpesona.


“Baik kalo gitu, saya akan pergi sekarang,” kata Alex.


“Hm ... hati-hati.” Tepat setelah Zavria mengatakan hal itu, kaca mobil di tutup lalu mobil bermerek mahal itu melaju meninggalkan kawasan perusahaan Mahendra.



Waktu siang kian mendekat. Matahari mulai berada di atas kepala. Waktu makan siang telah tiba, beberapa pekerja kantor tampak meninggalkan pekerjaan mereka sejenak demi me-ralex-kan diri serta pikiran yang terasa sakit.


Berbeda sekali dengan Zavria yang sedang bersiap menyiapkan beberapa kertas dan memasukkannya ke dalam map. Sebentar lagi ia akan pergi ke kantor sang suami.


Tak lama, nada dering ponsel berbunyi. Zavria menatap sejenak, lalu kembali meneruskan pekerjaannya. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Setelah dirasa cukup, barulah Zavria mengangkat panggilan itu.


“Halo?”


Oh, ternyata dari temannya toh.


“Hah? Malvin? Bukannya dia di Canada?” Dahi Zavria berkerut sejenak.


“Lo kasih?” lanjut Zavria. Tubuhnya ia hempasan di kursi kebesarannya lalu menyender di bagian belakang kursi.


“Oke, gue paham.” Dan selanjutnya panggilan di matikan sepihak oleh Zavria.


Brak!


Tak lama, pintu kebesaran miliknya dibuka dengan paksa oleh seseorang, sehingga menimbulkan bunyi yang nyaring.

__ADS_1


“ZAVRIANA!!!”


__ADS_2