Rumah Tangga Yang Dingin

Rumah Tangga Yang Dingin
4. Hubungan ngak penting?


__ADS_3

“Zavriana!” Raisya berteriak kencang. Zavria menatapnya heran.


“Lo bener-bener, ya!” ujar Raisya tampak menahan amarah. Zavria tampak bingung sebentar, tetapi tak lama garis bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman remeh.


“Gue udah ngingetin sebelumnya, kalo sampe beneran ....” Perkataan Raisya terhenti.


Zavria tampak sangat jengah akan sikap dan semua ocehan tak berguna Raisya. Dengan malas, gadis itu memotong perkataan Raisya. “Bisa ngak jangan buang-buang waktu gue?”


Raisya tampak semakin termakan emosi. Perempuan itu mengepalkan tangannya erat. Dengan kasar, di bentaknya meja yang ada tepat di depan Zavria. “Sialan lo! Awas aja, kalo nanti gue udah gantiin bokap gue, lo orang pertama yang gue pecat!” ancamnya. Setelah itu, Raisya beranjak pergi dengan wajah merah masih dengan amarah.


Zavria terkekeh mendengar ancaman tak bermutu itu. “Mau ngalahin gue, tapi sendirinya bego! Raisya! Raisya!” Zavria menggelengkan kepalanya tak habis pikir.



Siang harinya, saat Zavria mengemasi beberapa berkas, sebuah pesan masuk dari kontak bernama: Alexander Rachel Davies. Itu nama kontak suaminya. Dipikir-pikir, apa itu tidak terlalu formal? Oke, tolong ingatkan Zavria untuk mengganti nama kontaknya nanti.


From: Alexander Rachel Davies.


To: Me


[Kapan kamu ke sini?]


12.26 pm.


Zavria mihat berkas-berkas yang barusaja ia kemasi itu sebentar. Lalu mengetik sebuah pesan balasan.


From: Me


To: Alexander Rachel Davies.


[Nanti, setelah makan siang]


12.28 pm.


Setelah mengirimnya, Zavria beranjak pergi keluar menuju sebuah restoran terdekat. Memesan beberapa makanan lalu memulai makan siangnya. Ditengah-tengah kegiatan makannya, sebuah pesan masuk.


From: My Husband, Alex.


To: Me.


[Kamu kesini pakai apa?]


12.30 pm.


Ah, Zavria telah mengganti nama kontaknya dengan sebuah nama yang sedikit akrab dan ... romantis. Ingat janji mereka, akan memulai ini dan berdamai dengan mencoba belajar saling menerima dan mencintai.


From: My Husband, Alex.


To: Me


[Atau masu saya yang jemput kamu?]

__ADS_1


12.46 pm.


Zavria tersenyum membaca pesan tersebut. Alex sangat mudah diajak kerjasama dari yang ia pikirkan. Hah~ Zavria harap hidupnya tidak dipenuhi penyesalan seperti ayahnya nanti. Semoga saja.


From: Me.


To: My Husband, Alex.


[Ngak perlu, saya bisa sendiri. Kamu tunggu aja, saya pasti datang]


12.48 pm.


Setelah mengirimkan balasan itu, Zavria bergegas mempercepat proses makannya, lalu kembali ke perusahaan dan mengemasi barang-barang yang diperlukan.


Setelah dirasa siap, gadis itu beranjak keluar. Zavria sedang di lobby saat dirinya bertemu dengan seseorang yang terasa familiar.


“Zavria!” Sesosok itu melambai dengan senyuman manis terbit di bibirnya.


Zavria tampak terkejut. “Malvin, kok ada ....” Namun, ucapannya tergantung saat mengingat pemberitahuan temannya terakhir kali.


Malvin. Lelaki itu mendekat, berdiri tepat di depan gadis yang lebih pendek darinya. “Gue baru nyampe, lo udah mau pergi aja,” ujar Malvin, tak menutupi bahwa ia agak kecewa akan kebetulan mereka hari ini.


“Lo ngapain ke sini? Ngak kerja?” tanya Zavria. Setahunya, Malvin bahkan tak banyak memiliki waktu untuk pulang ke Indonesia, lalu tiba-tiba muncul begitu saja. Agak aneh jika dipikir-pikir lagi.


“Gue mau ketemu sama lo lah, mau apalagi coba.“ Malvin yang awalnya berwajah ceria, berubah serius lalu memegang bahu Zavria kuat, membuat sang empunya menatap bingung. “Gue mau nanya.”


“Ya?”


“Ya, gue udah nikah. Nih cincin kawinnya,” kata Zavria enteng sambil menunjukkan sebuah cincin berbalut emas yang melingkar indah di jari manis tangan kirinya.


Malvin tampak terkejut sesaat. Lelaki itu agak linglung beberapa saat, sebelum akhirnya Zavria memanggil.


“Vin, Malvin? Lo kenapa?” tanya Zavria antara bingung dan khawatir.


Malvin tersadar, lalu menatap Zavria dengan tatapan aneh lalu beralih menatap cincinnya, begitu terus berulang-ulang, hingga matanya berhenti pada satu titik: mata Zavria. “Lo bener-bener nikah?”


“Iya,” ujar Zavria yang mulai jengah sendiri. Matanya berputar malas.


“Sekarang lo mau kemana?” tanya Malvin mengalihkan pembicaraan.


Zavria tampak melirik map yang sedang di pegangnya, lalu beralih menatap Malvin. Sebuah ide terlintas di benaknya.



“Pak, Nona ...” Sekretaris Alex, tampak ragu-ragu akan berkata saat merasakan aura tubuh Alex yang mencekam menakutkan.


Sementara sang pelaku hanya diam sambil mata yang tak lepas dari objek menarik di bawah sana. Yang di bawah, tepatnya di arah parkiran, bukannya Alex tak salah mengenali bahwa itu adalah sang istri. Jelas-jelas dari segi pakaian itu sama dengan yang Zavria kenakan pagi ini. Zavria itu memiliki selera pakaian yang anggun, tegas tetapi terkesan dominan.


“Siapa yang di anterin dia?” Ya, itu masalahnya, ada lelaki lain yang terlihat akrab: sebab keduanya tampak terlibat percakapan sebelumnya yang sudah terekam jelas di manik hitam milik Alex, yang mengantarkan Zavria.


“Wajahnya terlihat ngak asing ...” Sekretaris lelaki itu tampak berpikir sejenak. “Saya ngak tau, Pak!”

__ADS_1


“Cari tau biodatanya sekarang!” peintah Alex membuat sekretaris itu langsung pergi dengan sedikit berlari kecil. Oho, menghadapi Alex yang sedang dalam emosi tidak stabil? Maaf saja, ia lebih mau berhenti bekerja daripada opsi yang pertama.



Sementara itu, Zavria tampak tersenyum kecil. Tangannya menggapai dan membuka pintu mobil. Malvin yang berada di sampingnya juga ikut keluar.


“Makasih,” ujar Zavria sambil menatap Malvin, sementara Malvin hanya mengangguk menanggapi ucapan gadis itu.


“Iya, ngak masalah, lainkali kalo ada apa-apa jangan ragu buat telponin gue,” ujar Malvin dengan gerakan tangan antara jari Ibu dan kelingking.


Zavria mengangguk. Yah, dirinya meminta agar Malvin mengantarkannya ke perusahaan Alex, dan Malvin setuju saja.


Malvin mengangguk, lalu kemudian pamit pergi. Hari ini ia akan kembali ke Canada lagi. Tujuannya datang ke Indonesia hanya ingin memastikan saja, apa benar Zavria sudah menikah seperti yang di katakan temannya kemarin. Malvin itu dulunya menyukai Zavria, ia tahu banyak tentang gadis itu. Apalagi masalah keluarganya, Malvin dan Viola: —teman Zavria— yang paling tahu hal itu.


Zavria melambaikan tangan. Setelah itu, barulah gadis itu pergi dan mulai memasuki kantor milik ayah mertuanya. Zavria peegi menuju resepsionis, bertanya dimana letak ruangan Alex dan lain-lainnya.


Setelah mendapat informasi, Zavria beranjak menuju lift. Beberapa karyawan tampak menyapa Zavria, sebab siapa yang tidak mengenal istri dari CEO mereka ini.


Zavria membalas sapaan dengan anggun, lembut tetapi tidak menunjukkan kelemahan.


“Apa Alex ada di dalam?” tanya Zavria kepada sekretaris Alex yang tampak sibuk akan sesuatu, sehingga lelaki itu tampak sedikit terlonjak saat Zavria mengetuk pintunya.


“Ah, Nona!” sapa sekretaris itu dengan membunguk hormat. Setelah itu barulah menjawab. “Pak Alex sudah nunggu Nona di dalam.”


Zavria mengangguk dan mulai memasuki ruangan Alex. Dapat dilihat sesosok lelaki yang telah resmi menjadi suaminya itu, saat ini sedang berdiri menghadap kaca jendela: membelakanginya.


“Alex!” panggil Zavria untuk yang pertama kali memanggil mengunakan nama.


Alex membalikkan badan. Lelaki itu berjalan mendekat berhadapan dengan Zavria yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu.


“Udah dateng,” gumam Alex. Tangan lelaki itu menyentuh rambut samping telinga Zavria dan menyampirkannya di belakang telinga.


Zavria hanya tersenyum menerima perilaku hangat dari Alex. Wajahnya jelas menunjukkan binar kebahagiaan.


“Apa ada orang selain saya yang menjadi pasangan kamu?” tanya Alex tiba-tiba.


Zavria mengernyit heran. Tak mengerti tepatnya akan pertanyaan dari Alex. “Maksud kamu?”


Alex tertawa remeh, kakinya berjalan membawa agak sedikit menjauh dan membelakanginya sang istri. Dipikirnya, baru kemarin mereka terlibat percakapan hangat.


Zavria menutup pintu, sedikit membuat privasi agar tidak ada yang melihat keduanya yang sepertinya akan terlibat sedikit pertengkaran.


“Alex, jangan ngomongin hal yang ngak penting kek gitu. Ada hal yang lebih penting dari itu sekarang,” ujar Zavria mencoba untuk mengingatkan. Jelas saja, pertanyaan Alex tampak aneh, mana mungkin Zavria memiliki pasangan selain dirinya.


Bruk!


“Akhh!”


Alex membalik badan, mendorong Zavria dengan cepat ke sofa hingga gadis itu menjadi duduk, sedangkan Alex membungkuk dan wajahnya tepat di depan wajah Zavria. Kedua tangan Alex berada tepat di samping kanan kiri tubuh Zavria. Sementara Zavria tampak terkejut akan gerakan tiba-tiba itu.


“Ngak penting? Jadi, menurut kamu hubungan kita ngak penting?!”

__ADS_1


__ADS_2