Rumah Tangga Yang Dingin

Rumah Tangga Yang Dingin
8. Laurent


__ADS_3

Pilihan Zavria hanya satu sekarang, itu yang ada dipikirannya saat ini. Wanita itu menghela nafas, menatap Alex yang ada di sampingnya. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju perusahaan tempat Zavria bekerja. Alex hari ini berencana untuk mengantarnya di perusahaan, dan Zavria tentunya tak mungkin menolak.


“Alex,” panggilnya pelan. Ia sudah memikirkannya seharian, dan inilah pilihannya.


“Hm?” Alex menyahut, tetapi tetap fokus pada jalanan yang lumayan ramai pagi ini.


“Bisa ngak kamu bantu saya?” tanya Zavria melanjutkan.


Alex mengerutkan kening. Wow, keajaiban yang luar biasa seorang Zavria meminta tolong!


“Ya, bilang mau minta tolong apa!”


“Ini tentang perusahaan, saya mau minta bantuan kamu ...” Zavria menjeda ucapannya sejenak. Menatap Alex dalam dan penuh harap. “ ... tolong kasih saya seseorang bisa jadi karyawan di sana. But, bukan itu tugas sesungguhnya, tugasnya adalah menjadi orang saya dan melakukan apapun yang saya suruh!”


“Kau ingin seseorang yang menjadi mata-mata di perusahaanmu sendiri?” tanya Alex bingung. “Tapi maaf, saya ngak bisa. Zavria kamu tau, saya masih dibawah kendali Papa, jika salah melangkah semuanya hilang dalam sekejap!” Alex menolak untuk membantu Zavria dengan penolakan yang halus.


“Hah~” Zavria menghela nafas berat. Sudah ia duga, jelas ia sangat tahu akan hal itu. Menikah dengannya saja dahulu sebab ancaman dari Davies: ayah Alex.


“Ya, saya ngerti!” gumamnya lalu menatap jendela yang menampilkan keadaan luar.


Alex yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pelan. Bukannya ia tak mau membantu, tetapi resiko yang besar akan ia terima nanti. Ia tak mau setelah semua perjuangannya, hilang dalam sekejap. “Ada undangan dari kolega bisnis saya, malam ini, kamu ikut?” tanya Alex, berniat mencairkan suasana yang terasa berat sekarang.


Hingga mobil berhenti di depan perusahaan Mahendra Zavria masih diam. “Hah~ oke saya ikut,” ujarnya akhirnya menjawab. Setelah mengatakan itu, sang wanita berpamitan dan mulai melangkah menuju perusahaan tempatnya bekerja.



Alex menatap pakaian yang telah Zavria siapkan di atas kasur. Selama sang istri menyiapkan pakaiannya, memang wanita itu sedikit membuatnya tak nyaman. Rasanya setiap hal yang ia siapkan, entah kenapa bagi Alex terlihat tidak cocok.


“Kenapa masih ngelamun, ayo cepat!” Zavria masuk dengan wajah berpolesan make up tipis, tapi cantik dan sesuai dengan wajahnya yang bulat dan putih. Pakaian yang dipakai perempuan itu pun tak main-main, terlihat mewah, sexy tetapi sopan secara bersamaan.


“Kamu yakin sama ini?” Alex mengambil dadi berwarna campuran kuning dan putih, setelah sebelumnya mengagumi penampilan sang istri.


“Kenapa? Kamu ngak suka? Kalo ngak suka saya carikan yang lain,” ujar gadis itu beranjak menuju almari besar mereka.


Alex menatap aneh. “Tapi, seingat saya di almari ngak ada dasi berwarna kek gini,” katanya pelan.

__ADS_1


Zavria berbalik setelah mendapatkan sebuah dasi bergaris biru dan hitam. Meletakkannya di atas pakaian yang lain di atas kasur, lalu memperhatikan Alex yang masih mengenakan handuk. Sejujurnya suaminya ini terlihat menggairahkan jika seperti ini, tetapi sudahlah lupakan hal itu sejenak, mereka akan keluar, ingat!


“Iya, itu saya beli tadi siang khusus buat kamu, tapi kayaknya kamu ngak suka.” Zavria kecewa sebenarnya, tetapi ia tak mau membahas hal ini lebih lanjut. Ada hal mendesak yang harus menjadi titik fokusnya mulai sekarang.


Alex gelagapan mendengar hal itu. Bukan niatnya berkata seperti itu, ia hanya bingung kenapa Zavria memiliki selera yang snagat jauh berbeda dengannya. Bukan berarti ia mempermasalahkannya. “Maaf, saya ....”


Zavria memotong cepat perkataan Alex. “Udah, ayo kita pergi!” ujarnya pelan lalu beranjak pergi dari sana. Akan menunggu di sofa depan tepatnya di ruang tamu saja. Bukannya ia tak mau memaafkan, hanya saja jika di pikir ini hanya hal kecil, tak perlu di bahas.


Alex menghembuskan nafas kasar. Ia mengacak rambut hitamnya pelan. Ia telah melukai hati istrinya, ia yakin akan hal itu.



Pesta di lakukan di sebuah hotel bintang lima ternama. Semuanya tamu undangan —para pembisnis yang paling dominan— tampak telah hadir saat Alex dan Zavria menjejakkan kaki di lantai tempat pesta diadakan.


Semua menyambut keduanya dengan baik. Siapa yang tak mengenal pasangan pembisnis handal ini? Keduanya sama-sama hebat dalam bisnis, tak diragukan lagi mereka sang cocok berdua.


“Selamat ulang tahun untuk perusahaan anda, Pak Hann!” Alex menjabat tangan seorang lelaki paruh baya. Zavria tersenyum manis saat matanya melihat sesosok yang familiar.


“Om Hann,” panggilnya pelan lalu menjabat tangan Hann. Pria paruh baya itu tersenyum saat melihat teman dekat anaknya itu.


“Oh ya, Laurent nya mana, Om?” tanya Zavria sambil celingak-celinguk mencari sesosok sahabat dekatnya —setelah sesaat tautan tangan kedua terlepas.


“Zavria!” Sesosok lain datang sambil memangil nama Zavria. Ketiganya menoleh, Hann terkekeh melihat kelakuan sang anak. Setelahnya mulai undur diri dari sana, membiarkan kaum muda saling berbicara.


Laurent datang dengan memeluk Zavria erat. Alex hanya diam menatap keduanya. Dipikinya, gadis cantik yang meneriakkan nama Zavria itu pasti temannya.


“Lama ngak ketemu, gue kangen banget sama lo!” Laurent melepaskan pelukan, memegang tangan Zavria erat menyampaikan betapa rindunya ia pada sang empunya tangan.


“Iya, gue juga.” Zavria menoleh ke arah Alex yang saat itu merasa terabaikan. “Kenalin, Alex suami gue.”


Laurent menoleh, kagum menatap pahatan sempurna itu. Saat pernikahan Zavria, ia sempat melihat tetapi tidak untuk sedekat ini. Ah, betapa beruntungnya Zavria.


Alex hanya diam mendengarkan kata non baku yang istrinya lontarkan.


Jarang sekali. Begitu pikirnya.

__ADS_1


“Laurent, teman Zavria!” Laurent mengulur tangan.


Alex menerimanya beberapa detik. “Alex.” Sebelum melepaskan setelah kata singkat itu.


“Lex, boleh pinjem bini lo bentar ngak?” Laurent menatap dengan pupil mata besarnya: memohon —setidaknya begitulah dalam sudut pandang Alex.


Alex sempat diam sejenak mendengar panggilan itu. ‘Lex’? Baru kali ini ada yang memanggilnya begitu. Biasanya ‘Al’ atau tidak ‘Alex’ seperti yang Zavria lakukan: Alex.


Laurent memekik senang saat Alex mengangguk mengizinkan. Setelahnya, gadis itu menarik pelan lengan sangat wanita cantik untuk menjauhi Alex.


Sementara Alex, ikut bergabung dengan pembisnis lain. Siapa tahu dia bisa mendapatkan partner di sini.


“Bagaimana? Suka ngak?” tanya Laurent setelah keduanya agak berjauhan dari kerumunan.


“Ngak, dia lebih milih make yang biru garis item,” jawab Zavria pelan dan tenang.


“Oh, gitu!” Laurent mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan jari telunjuk: berpikir.


Ah, sekarang mereka sedang membicarakan soal dasi tadi. Dasi itu di desain khusus oleh Laurent, lalu memberikannya kepada Zavria untuk sang suami. Namun, yang terjadi malah benda itu ditolak. Ngomong-ngomong, Laurent adalah seorang desainer terkenal di kota Jakarta. Gadis itu memiliki bakat mendesain pakaian dengan indah.


“Mungkin Zav, laki lo ....” Perkataan Laurent terpotong.


“Maaf, apa benar ini dengan Zavriana Mahendra?” tanya seseorang, orang yang telah memotong ucapan Laurent. Tanpa sadar mata gadis itu mendelik tajam pada lelaki di depannya ini.


“Ah ... benar, ada apa?” tanya Zavria mencoba seramah mungkin.


“Begini, ada yang ingin saya sampaikan kepada anda,” lanjut lelaki itu.


“Baik.” Zavria menatap Laurent dengan tatapan memohon maaf sebab akan meninggalkan gadis itu sendiri. “Gue harus pergi, sampai jumpa!”


Setelahnya, Zavria hilang di telan tubuh-tubuh para undangan. Laurent menghela nafas, hah~ ia ditinggal. Namun tak lama, sebuah tepukan di bahunya membuat sang empu terlonjak kaget.


Dan saat Laurent membalik badan, terlihat sesosok jangkung dengan paras tampan dan tegas, sedang menatapnya.


“Alex!”

__ADS_1


__ADS_2