
“Ngak penting? Jadi, menurut kamu hubungan kita ngak penting?!” Nafasnya memburu kala mengatakan itu. Alex benar-benar merasa dipermainkan! Dan ia tak terima akan hal itu!
“Apa maksud kamu? Stop bilangin hal-hal aneh!” Zavria tampak mencoba melepaskan diri, tetapi tubuh Alex berat sekali, sulit baginya untuk mendorong agar menjauh.
“Hal aneh? Jadi maksud kamu, yang saya tanyakan ini hal aneh? Sedangkan berduaan dengan lelaki lain sementara kamu udah punya suami, itu normal?” murka Alex dengan wajah memerah serta aura menyeramkan.
Zavria tampak mencoba tenang menghadapi orang yang sedang emosi. “Alex, please! Ini penting bagi saya!” mohonnya.
Alex tampak tertawa meremehkan, mengejek, entahlah. Yang pasti, ia merasa bodoh telah percaya dengan perempuan congkak seperti perempuan di depannya ini. “Bilang sama saya, apa yang kurang? Apa saya kurang kaya? Kurang memberikan kamu kenyamanan? Atau kamu mau uang, saya berikan sekarang!” Alex tampak menggila dengan wajah memohonnya. Memohon agar Zavria memilihnya saja daripada lelaki itu. Sungguh hati kecilnya tak rela.
“Ngomong apaan, sih?!” ujar Zavria mulai risih. Sekarang, ia malah terlihat seperti perempuan penggila uang. “Saya ngak butuh uang kamu, yang saya butuhin itu tanda tangan kamu di berkas ini!”
Alex bangkit menjadi berdiri dan membelakanginya. Zavria menghela nafas lega karenanya.
Alex tertawa aneh, lalu sesekali menggeram. Entahlah, emosinya campur aduk. Antara marah dan merasa bodoh. Marah karena ternyata Zavria hanya mempermainkannya, dan merasa bodoh saat hatinya berteriak untuk menahan Zavria agar jangan pergi.
“Zavria ...!” Alex membalik badan, menatap Zavria serius. “Saya akan kasih berapapun yang kamu mau, ya? Kamu mau apa? Mau saham, 'kan? Ngak hanya lima persen, sepuluh persen pun saya kasih ke kamu!” ujar Alex memelas dengan memegang tangan Zavria.
Zavria yang merasa jengah, pun memilih melepaskan genggaman Alex dan berdiri membuat Alex ikut yang awalnya berjongkok menjadi berdiri.
“Kamu sebenarnya kenapa? Saya kesini cuman mau lima persen sesuai perjanjian.” Zavria mulai naik pitam. Apa-apaan ini? Kenapa Alex malah berkata seolah Zavria penggila uang? Ia bukanlah perempuan matre. “Saya bukan gadis yang gila sama uang! Udahlah, kamu bener-bener bikin saya muak!” Harga dirinya terluka mendengar perkataan Alex. Zavria marah dan kecewa.
Barusaja Zavria akan pergi, Alex menahan lengan gadis itu.
“Jadi, ini pilihan kamu?” tanya Alex dengan nada dingin dan tatapan mata tajam.
__ADS_1
Zavria menatap balik manik hitam itu. Ia tak takut, ia telah merasakan semua ketakutan, tak ada yang tak pernah ia alami, bahkan ketika kehilangan semua orang-orang yang dia sayangi. “Alex, saya ngak suka di cap sebagai perempuan matre!”
Setelah mengatakan itu, Zavria benar-benar meninggalkan Alex yang mulai terlihat frustasi.
Alex membuang semua barang yang ada di meja dalam satu sapuan kedua tangannya. Semua jatuh berserakan, bahkan foto yang sengaja ia pajang terlihat kacanya sudah pecah. Sementara Alex tak peduli, ia terduduk dengan wajah kecewa. Mengabaikan lututnya yang berdarah sebab terkena pecahan kaca.
•
Sementara Zavria, tampak meninggalkan perusahaan itu dengan wajah marah bercampur kecewa. Hilang sudah minatnya untuk mengambil hak miliknya. Ia marah, ia kecewa. Tapi, itu haknya, saham itu memang sudah menjadi miliknya seperti perjanjian awal, ia akan kembali nanti dengan emosi yang stabil. Ia belum pernah se-emosional ini sebelumnya.
“Brengsek!” Zavria mengumpat, bukan pada siapapun! Ia mengumpat pada hatinya yang malah menyuruhnya untuk berbalik dan memperbaiki hubungan dengan Alex.
Tapi, ego-nya tak memberikan izin. Ego-nya berkata: untuk mencapai kemenangan, harga diri harus diutamakan!
Zavria pergi darisana. Memanggil taksi yang lewat lalu mulai melaju menuju perusahaannya.
“Hoaam!” Zavria menguap pelan. Di rentangkannya kedua tangan, meregangkan otot-otot yang kaku. Setelah itu, gadis itu mengemasi barang-barangnya lalu beranjak untuk pulang.
•
Mobil taksi pesanannya barusaja sampai di apartemen ketika matanya tanpa sengaja menatap sebuah mobil tak asing yang juga baru sampai.
“Alex!” gumamnya pelan. Awalnya ia memilih acuh, tetapi urung ia lakukan saat melihat seorang perempuan yang mencoba mengeluarkan seseorang yang ternyata adalah Alex.
Zavria menahan nafas saat bau alkohol begitu menyengat indra penciuman. Alex mabuk!
__ADS_1
Perempuan itu membopong Alex hingga memasuki lantai apartemen. Sementara Zavria, mengikut saja dari belakang. Darahnya mendidih saat melihat kedua sejoli itu yang terkadang melakukan hubungan intim seperti: ciuman, atau kadang Alex mencium leher perempuan itu.
“Apa-apaan ini?!” geramnya tak terima. Baru tadi siang ia pikir, Alex berprilaku aneh, lalu sekarang ia dihadapkan oleh Alex yang terang-terangan melakukan hubungan intim di depan matanya. Oho, apa ia ingin bermain-main dengan Zavriana Mahendra Danielle. Lupakan tentang Alex, ia tak akan diam saja melihat hal yang benar-benar menginjak harga dirinya sebagai seorang istri dari Alexander.
Posisi Zavria saat ini masih di depan pintu apartemen saat matanya melihat kedua sejoli itu sedang berciuman dalam. Tangannya melipat di depan dada, dagunya ia angkat dengan congkak, wajahnya tegas tak mau terlihat lemah.
Dengan langkah pasti, ia mendekati keduanya lalu menarik perempuan itu dari Alex.
“Ngak papa, Alex biar jadi urusan saya, kamu boleh pergi!” Zavria berkata tegas. Namun, ia tak mau berprilaku keras.
“Tapi, pak Alex udah nyewa saya,” kata perempuan berpakaian kurang bahan itu.
“Saya akan bertanggung jawab,” ujar Zavria lagi. Bukannya ia tak mau menampar perempuan yang dengan lancangnya mencium suami orang, setidaknya mungkin memaki atau menyumpahi. Namun, kau dengar sendiri, 'kan? Alex menyewa perempuan itu, sementara perempuan itu hanya menjalankan kewajiban karena sudah disewa. Yang patut di salah kan itu Alex, sudah tahu bahwa ia memiliki istri, masih saja mencari perempuan lain. Emang keduanya belum melakukan hubungan suami-istri pada umumnya, tapi jika Alex meminta Zavria akan dengan sukarela memberikannya.
Perempuan itu mengangguk dan pergi darisana.
Zavria menghela nafas karenanya. Sebelah tangannya melingkar di pinggang Alex, sementara tangan sebelahnya berada di bahunya. Dengan susah payah, Zavria membawa tubuh jangkung itu menuju kamar.
Bruk!
Tubuh Alex tergeletak pasrah di atas kasur. Zavria membuka sepatu suaminya, lalu beralih pada jas Alex yang masih melekat di tubuhnya.
Zavria berniat untuk mengganti pakaian Alex. Diambilnya pakaian santai di almari, lalu beranjak mendekat. Diletakkannya baju serta celana di samping Alex. Tangannya bergerak membuka kancing baju Alex satu-persatu. Namun, barusaja tangannya membuka dua kancing, sebuah tangan yang lain memeluk pinggangnya. Lalu, dengan satu tarikan Zavria jatuh ke dalam pelukan Alex.
“Alex!” panggilnya pelan. Dipikinya, Alex sudah sadar sekarang. Bukan jawaban, tetapi sebuah ciuman lah yang ia rasakan di sekitar lehernya.
__ADS_1
“Zavria!”