SAAT KUTEMUKAN CINTA

SAAT KUTEMUKAN CINTA
Lukisan


__ADS_3

"Lukisan....?"


Samar sekali teguran itu, entah juga lembutnya menyambar daun telinga. Ada gerakan semakin melenturkan energinya. Orang akan percaya pada kekuatan supranatural. Kini kekuatan itu benar-benar rapuh. Tergerak pun indahnya. Menemukan kebahagiaan di mana Aldo masih bisa menemukan kembali. Seonggok harapan musti diraihnya bersama istrinya.


Rambatan hidup tidak juga sama. Meliuk, menari hiasi bagian sisi kirinya. Maka peranan seorang istri jauh lebih kuat, bahkan bisa kalahkan terjangan ombak hempas batu karang. Seiring tebaran rumput masih berhias di tengah halaman. Berkilauan berbalutkan embun, seolah menusuk pembuluh kakinya. Merambat sambil menerbangkan ribuan makna. Geletar hembusan angin basah menghempas-hempas daun nyiur melambai. Wajahnya lama menamatkan hidup sebatang kara. Kadang kala penampilan pemuda itu keren memukau. Siapa pun pasti ingin lama menatapnya, ada sinar keteduhan yang sulit dicarikan tandingannya. Sebelum segala impian indah dari kenyataan. Hingga detik-detik paling mendebarkan ketika Siska hadir dalam hidupnya. Aldo tetap diam. Dia ingin tetap hidup dalam kehidupan tambatan hatinya. Ketika kesadarannya benar-benar menghampiri hidupnya. Maka bermunculan impian bisa hidup selalu berdampingan, bagaimana dia harus rela menemani Siska dalam suka dan duka. Pemandangan akan semakin berbeda dari biasanya.


"Apa memang tidak ada pilihan lain? Kan kita harus banyak menatap ke depan. Sebab untuk pindah membutuhkan dana..."


"Saya sudah perkirakan sebelumnya."


"Berapa waktu lagi?"


"Ya, itu butuh kesabaran."


"Saya tetap setia menunggu."


Aral melintang dalam hidup ada saja. Aldo sanggup menepiskan segala kesulitan yang telah mendera keluarganya. Selain kegigihannya sangat dihargai istrinya. Siapa tak kenal dilintasan Malioboro? Dari tukang becak, andong dan taksi mengenalnya dengan baik. Sebenarnya kehidupan seniman tidaklah jauh lagi sama dunia. Coraknya memandang satu segi kehidupan mengandung makna. Tidak sedikit pula kerinduan itu mulai terjalin demikian indah. Impian kosong. Dia selalu punya angan-angan, kalau saja gadis punya daya pikat akan ke sini. Sekedar mengajak lesehan, untuk menikmati gudeg khas jogja. Ini akan tampak lebih cantik.


Malam terasa dinginnya. Kabut sering menyelimuti bagian depan stasiun. Udara dini hari kadang bikin orang terlena. Bukan kah hari pagi merupakan ujung-ujung harapan setiap insan. Karena hari ini adalah misteri yang siap dibuka. Demikian pula Aldo mencoba menjelaskan calon istrinya. Pasti semua orang merindukan pagi. Wajah mentari di ufuk timur tersenyum dibalik awan, tersembul warna semburat kuning keperakan. Orang di sini pasti lupa bahwa pagi tonggak sejarah manusia. Sejauh mana mereka akan banyak melakukan kegiatan dengan cita-cita mulia. Diantaranya membimbing buah hati mereka sampai dewasa dalam mengambil keputusan. Hingga sore harinya bisa menuai kembali hasil terbaik. Seorang pemuda melangkah gonta. Ia juga mengawasi orang masih berlalu-lalang ke pasar Bringharjo. Barang-barang bawaan mereka cukup berjibun, dalam gendongan, pikulan, gerobak dan andong. Keceriaan juga masih bisa dirasakan lewat pancaran matanya. Ternyata perekonomian di sini jauh lebih maju dan angkat martabat masyarakat.


"Den, Aldo mampir dulu? Kan bisa sambil menghangatkan tubuh. Walau pun tempatnya kurang nyaman," tawar pelayan warung. Wajahnya tetap berseri-seri.


"Takut merepotkan..."


"Biar semuanya berjalan lancar. Kan kita punya minat sama, sayang kalau dilewatkan begitu saja."


Penjual hidangan pagi ter…senyum, matanya agak mencelong. Pantaslah fisiknya amatlah kuat. Karena jiwa mereka tidak pernah tergoyahkan. Yakni harus bertahan hingga satu kesempatan bisa bertahan untuk meraihnya. Aldo belum pernah terbiasa dengan kehidupan begadang tiap malam sampai dini hari seperti kebanyakan orang. Bukan memajang segi kehidupan belaka tanpa arah dan tujuan. Tanpa mengindahkan dari garis tangan. Dasar orang memiliki darah seni. Pemuda itu tetap duduk dengan asyiknya.


"Bapak masih melihatnya?"


"Wah, tempat ini kan luas..." katanya polos. Tak ada kata-kata tersimpan dalam pandangannya. "Buat apa berkata bohong. Kakek saya selalu pesan, kurang baik sama anak muda berikan contoh buruk. Ya, takut ditiru. Dua kali merasa mendosai..."


"Masak tidak melihatnya..." Aldo menghirup kopinya.


Kehangatan pagi terasa dalam tenggorakan. Mungkin dunia ini terlalu tua. Sedikitnya orang segan menampung wajah dalam otaknya. Takut terjejali bentuk kurang menyenangkan . Inilah Aldo sepanjang pekan. Di tempat menjemukan. Hanya bisa bicara sama tukang gerobak, apa tidak ada lagi wacana baru? Dia sering bertanya sama diri sendiri, sampai ketika menemukan seorang gadis. Rasa kangen itu masih menggelitik bentuk wajahnya.

__ADS_1


"Cah bagus, mbok ya cari lainnya....?


"Rasanya lain...."


****


Istri penjual hidangan pagi senyum. Wajahnya kelihatan prihatin. Dia belum kenal sama lelaki itu, apalagi sampai menetapkan keinginannya. Aldo di sini merasakan ketenangan . Mungkin seumur hidupnya baru pertama kali, dan segala bentuk kekurangan tentu ada. Dua orang pembeli nampak perhatian, satu lagi pengemudi becak. Mereka penuh ketabahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Takkan ada menyerah. Sedangkan Aldo sampai menyerah. Kenapa gadis itubelim juga menampakkan batang hidungnya. Ia nyaris setengah malam terkantuk-kantuk. Matanya kadang belum pernah dilihatnya.


"Al, benar kata mereka. Toh, ini juga tidak mengurangi perhatiannya. Kamu boleh saja punya sedikit harapan. Tetapi kuharap ini banyak menyita waktu..."


"Aku nggak butuh orang lain."


"Siapa ingin melihat keangkuhanmu. Angin saja enggan berbisik. Pertanda akan menjegal kita."


"Tidur sana!" Aldo menghentikan ucapan temannya.


Sekeras apa pun batu, tertimpa tetesan air. Satu ketika akan melubang dengan kedalaman tertentu. Aldo sejauh ini belum pernah menyadari akan kesalahannya. Apalagi ingin merubahnya. Hingga keesokan harinya menemui warna mentari. Tawanya sangatlah di dambakan oleh setiap insan. Puji syukur mereka panjatkan lewat bibir halus. Setiap waktu dapat menembus batas-batas langit. Kedua pemuda itu menggeliat waktu sinar matahari menyambar muka. Kilatan itu menguak satu kecerahan. Manusia lainnya sudah lama mengais rejeki. Pemulung sepanjang jalan sudah sibuk memunguti barang-barang tak laku mereka jual. Sambil mengusap seraut wajahnya. Sentuhan itu membuat Aldo melayang-layang pikirannya kelak. Entah gerangan apa lama takkan mengusik dalam tidur lelapnya. Aldo menggeser mukanya. Ia kelihatan takut menatap langsung warna segar berhiaskan jingga-jingga bunga.


"Simbol kelihatan kokoh. Saya dalam keluarga selalu mencoba keberuntungan baru. Sekalipun hasilnya belum bisa dirasakan sama keluarga.


"Kami selalu hidup rukun."


"Ndak bisa terjadi..."


"Orang boleh saja mengeluarkan pendapatnya. Asalkan cocok dengan kepribadian masing-masing pribadi."


"Sangat disayangkan jika dalam hal ini ada timbal baliknya."


Air muka Aldo kurang terkendali. Sebaliknya tuduhan itu tidak terlihat dasar sebenarnya. Aldo melangkah mendekati penjual itu. Mereka selalu bertanya jika ada kesulitan orang lain. Sikap baik jarang bisa ia temukan di tempat ini.


"Saya sudah perhitungan sejak awal."


"Saya punya jalan tikus."


Terheran-heran Jay menerima tawaran aneh. Rasanya dia terbangun dalam sebuah mimpi. Namun hari ini merupakan satu kehormatan. Jika dalam hal ini. Aldo merasakan keberatan untuk menjalankan satu tradisi.

__ADS_1


Berabad-abad manusia sudah memiliki dan memahami sebuah tradisi di kampungnya. Entah apa yang berkecamuk dalam benaknya. Selain kata penyatuan merupakan perkataan sangat sakral di keluarga. Setiap orang boleh menggunakan jiwanya agar tercapai impian. Sedikitpun tidak boleh melenceng dari rel. Apalagi sampai melanggar. Ya, termasuk salah satunya Jay, seorang pemuda selalu termakan oleh jalan pikirannya. Lumrah. Seorang seniman punya juga penampilan nyentrik. Kata saja, harus berpenampilan beda dari orang sekitarnya. Aldo jika


dipandang demikian, ada sikap penolakan. Buat berlagak-lagak serupa itu. Seperti tidak ada kerjaan jelas.


"Sebaiknya penampilan dirubah sedikit, Al. Ini sebenarnya sebatas saran. Tapi ada baiknya mendapatkan perhatian. Karena itu termasuk salah satu aset, kurasa itu kurang menguntungkan..." Jay, masih berani menambahkan . Ia lupa. Kalau Aldo selalu berpegang teguh sama pendiriannya. " Boleh saja orang berpegang teguh. Kau sepertinya ingin menjatuhkan dirimu sendiri..."


"Terima kasih."


"Iya, tapi ini bukan cara terbaiknya."


"Ingin mengelak. Mana mungkin, aku lagi suntuk..."


Pemuda itu langsung ngeloyor. Wajahnya berbalut luka. Hari juga belum menampakkan kebersinaran. Sepagi itu, Jay sudah banyak cakap. Memang orang di sekitar sini akan banyak menimbulkan kebungkaman? Jay seterusnya ingin mendapatkan perhatian dari seorang gadis berparas ayu. Dia sendiri belum berani mengutarakan isi hati dan segenap perasaan haru biru. Doski jadi miliknya. Ini sebetulnya sudah menyalahi aturan.


Tampak segar, sehat wal afiat Aldo keluar dari ruangan berukuran sedang. Wajahnya kelihatan berbinar-binar. Matanya menatap garang kearah Jay. Tentunya ada hal paling menarik dalam hidupnya. Menjalani kehidupan tanpa pemberatan. Atau mau menjejalinya dengan rumpukan kesalahan. Kendati pun setiap manusia akan banyak mengalami kejadian aneh. Bisa diterima oleh akal pikiran. Dsar seniman, gerutu Jay sambil lalu. Dia kurang terima selalu dianggap kurang mumpuni dalam dunia seni.


"Goresanmu belum memenuhi syarat, kawan. Rubahlah cara menilai satu kejadian. Dengan demikian ada hal positif harus kita wujudkan."


"Bicaramu ngaco...!"


"Sedikitlah buat mengakuinya. Sebab orang akan mengalami perbaikan. Setiap sudut ada kecenderungan idealis. Tapi kulihat kau selalu mempertahankan gadis ayu dan istri. Itu sama saja akan merusak bagian lainnya...."


"Boleh saja mengatakan begitu. Siapa pun punya hak, demikian pula aku dapat mempertahankan hakku sendiri. Kau boleh merubah tatanan yang ada. Bukankah setiap manusia harus bisa mewakili sebagian kalangan."


"Al, aku tidak akan menang berdebat denganmu. Asal tahu saja. tuh cewek pasti lari terbirit-birit."


"Pedulian amat."


"Kurang percaya?"


Penjaga warung kecil melerai keduanya. Perempuan itu mirip memomong anaknya sendiri. Keduanya saling pandang, seolah ingin mendapatkan jawaban jauh bijaksana. Aldo sering mendengar penuturan mereka. Bahkan boleh dikatakan kata-katanya jauh akan lebih melekat.


"Perempuan itu mudah untuk mendapatkan. Buat apa selangit menjunjungnya. Pak Parjan selangit memuji saya. Hasilnya lumayan. Sepertinya agak aneh, wong tuo kok banyak gaya..." perempuan itu tertawa.


Kehidupan kota gudeg berjalan berbahagia seperti warganya. Penghuninya tidak akan melakukan protes. Mereka meniti demi lembaran dengan khusuk. Alam bawah sadar mereka tercipta dengan ritme cantik. Pedagang sejak dini hari sibuk, pasar diliputi tawar-menawar. Jay sudah lebih dulu pergi. Ia rasanya tidak mau lagi harus berjejalan sama pedagang souvenir. Serasa kehidupan seniman di sini harus berpikiran lebih kreatif. Makanya imbasnya Aldo harus banyak menggelandang. Gelandangan intelektual. Begitu kata orang-orang menyergap kendang telinga. Masih dengan dada tengadah Aldo menyongsong hari gemilang. Mereguknya dengan bentuk tak menunjukkan kemalasan. Mirip matahari selanjutnya menawarkan kemuraman dunia. Dia dengan mudahnya wujudkan ide baru.

__ADS_1


Tertawan dalam riuhnya pengunjung pasar Bringharjo. Santai melihat-lihat perempuan saling bertegur sapa. Wajah selantai menjamah keramahan dalam berdagang di kaki lima. Mungkin akan asing melihat serupa ini. Tapi bagi Aldo merupakan kebiasaan dari turun-temurun para sesepuh. Siapa mampu merubahnya? Sampai pada gilirannya harus punya ribuan permata saling berjatuhan.


Tersentak Aldo. Panggilan serupa bikin hatinya mengganjal. Apalagi hendak diperbuat Jay terhadapnya. Paling-paling temannya mendapatkan kesulitan. Kesukaran pertama sama orang kenalan abangan di salah satu gedung Van derbrug.


__ADS_2