
Sekumpulan remaja masih juga berjajaran di sepanjang jalan Jetis. Tempat ini anak-anak muda nongkrong selepas belajar baca modul kuliah untuk esok hati. Aldo kasihan lihat bujangnya masih sibuk kerja, biar pun jadi sopir pribadi. Hal ini masih dirasakan cukup baginya, namun mata kuliahnya juga mudah dilampoinya.
Iri boleh saja, demikian sederet komen Aldo sama bujangnya. Ketika dia salah dalam melakukan tugas sehari-hari. Teguran keras kerap diterimanya, anehnya bujangnya tidak melakukan protes atas diri bisa terbebas dari tudingan miring. mengenai hubungan batin. Bujang masih lugas sewaktu berikan jawaban atas kelakuannya dalam beberapa pekan. Contoh kesalahan itu, bujang makin sering bangun ke siangan. Padahal esok harinya Aldo harus pergi satu tempat, persiapan mendadak amat dibencinya. Seperti malam ini Aldo ingin kasih wejangan khusus buat bujangnya. Biar pun di tegur sekuat baja, pasti ibunya akan menuruti segala permintaannya.
"pak besok ada rencana lain?" Firda agak segan. " Saya sebenarnya suka. Tapi saya belum sepenuhnya ingin ikut, melainkan ibu saya suruh pulang."
"Boleh saja. Perlu kau ingat, saya belum bisa beri sepeser uang. Gimana apa menurutmu perjalanan berkunjung ke rumah ibu tetap dilakukan? Jikalau punya tabungan silahkan...!" tandas Aldo setengah hati.
Kisaran usia 19 tahun, Firdan sudah mau di tinggal bersama Aldo. Sebenarnya ini merupakan pilihan sulit demi meraih cita dan cinta dia rela diluar nalar pikiran orang lain. Kegigihannya kadang bikin kagum, telah banyak melewati fase tersulit. Aldo lihat kelakuan bujangnya bukan main senangnya. Mungkin saja seumur hidupnya baru kali ini dihadapkan oleh pilihan mudah. Dia boleh dibilang hidupnya serba terjamin dari segi finansial. Selepas kuliah di Jogjakarta Aldo boleh untuk tinggal di sini. Artian dia harus memulai dari nol.
"Kamu punya tabungan...?" tanya Aldo.
"Ya, ada sedikit. Cukup buat naik mobil. Karena kampung saya tidak begitu jauh."
"Okey. Besok kamu persiapkan semuanya. Saya tidak mau menahan kamu di sini tanpa alasan pasti."
"Terima kasih pak."
Mobil jeep sudah memasuki perkampungan Karang waru. Sebuah tempat aman dan tentram.
Tentunya harapan pertama sambutan sang istri tercinta. Menempati rumah ini adalah referensi dari seorang teman saja, belum pernah Aldo akan menuntut istrinya bersikap terlalu menyanjung. Sifat seperti itu sebenarnya bukan mencirikan kepribadian Viena. Dia jauh lebih bersahaja dalam keseharian. Gaya pakaian juga menyimpulkan dia masih punya keturunan asli Jogjakarta. Walaupun sudah lama tinggal di Menteng.
"Kok bisa sepi...?" batin Aldo.
Ekor matanya coba meneliti sekeliling rumah. Dia tidak akan berikan maaf jika lihat suaminya pulang malam. Semestinya, jam 9 sudah duduk sama di teras. Tahu persisi Viena duduk di kerosi itu.
"Silahkan bapak turun saja, saya parkirkan mobil. Setelah itu saya beresin semua perlengkapan lukis. Satu lagi pak, saya taruh mana?"
"Apa kau bilang?" suara Aldo setengah kaget. "Kutanya, susah ya buat dikasih pengarahan. Jelas dong di taruh tempat kerjaku."
"Semua...?" Firda balik tanya.
Aldo tambah berang lihat sikap Firdan rada telmi gitu. Rasanya ingin sekali menumpahkan kekesalan waktu lihat bujangnya lakukan kesalahan. Di ujung sana, tepatnya di bibir jendela sorot mata tajam siap lepaskan busur kemarahan.
"Sayang... sayang..."
Dua kali putaran rumah ibaratnya lelaki itu memastikan Viena tidak mengulang kesalahan beberapa waktu lalu, Aldo posisi terkunci di luar, tidur di sofa panjang. Apa mungkin kejadian tempo hari harus berullang lagi?
__ADS_1
Pintanya Viena akan tetap sambut kedatangannya bersama senyuman manis. Setiap insan rindu akan kasih sayang istrinya. Belum sepenuhnya Aldo bisa menjamin kebutuhan finansial akan lebih baik lagi. Jika mau jujur Viena lebih nyaman tinggal di Jakarta, sebagian opsesinya bisa disalurkan. Sementara di sini dia hanya jadi nyonya Aldo.
"Duh nyamannya..."
Kata-kata kerap didengarnya waktu pulang lambat. Buih, sesal kiranya bukan alasan untuk ajukan permohonan maaf. Seumpama irisan senyum, dia juga inginkan buat melanjutkan keteguhan lainnya. Redupnya lampu taman menjadikan Aldo sulit cari sumber suara. Siasat saja. Viena pastinya berikan kejutan kecil, seperti sambut hari menyenangkan.
"Kamu selalu..."
"Hari ini aku benar-benar lelah..."
Viena tidak biasanya muncul dengan gaya khasnya. Sebuah bibir bertumpuk kedepan, cemberut menunjukkan ekspresi tidak suka lihat Aldo sering terlambat pulang. Apakah mungkin suami sayang pada istrinya tidak ada adegan romantis. Jika diruntut, Aldo jarang ciut kening tiap mau kerja. Ia hanya dapatkan ucapan dan lambaian tangan.
Protes! Bukan saja hendak meminta lebih dari suaminya. Nilai kemarahan itu kadang muncul secara mendadak. Contohnya Viena harus mandiri jika hadapi masalah dilain waktu.
"Di galery tadi lumayan rame. Jadi ya kita pulangnya sedikit lambat. Terus si Jay bikin gara-gara. Pake sembunyikan kuas sama pelet cat. Itu orang kadang bikin kepala pusing."
Viena senyum datar, siapa lagi mau percaya di sana.yang bikin kesel. Dia mustinya bisa menempatkan diri, bukan sebaliknya ingin cari menang sendiri. Ia tahu benar pribadi Jay, atau Viena ingin banyak kenal teman dan kolega Aldo.
"Bisa buatkan saya secangkir teh berikut makanan ringan. Sekaligus temani ngobrol?" pinta Aldo tanpa kenal salah. " Saya sepertinya sepi tadi di galery bicara sendiri. Jelasnya macam kehabisan ide gitu."
"Sudahlah jangan cari-cari alasan lagi. Kalo lelah istirahat saja, buat apa memaksakan diri."
"Masih bandel. Kamu harus bisa tahu diri, jaga kesehatan jauh lebih dari segalanya. Tapi apa yang kulihat kamu kerja sering larut."
"Semua ini kulakukan demi keluarga kecil kita. Saya tidak ingin membuatmu kecewa sampai berlarut-larut,"
"Saya tidak perduli semua ini. Asalkan kamu bisa menjaga kesehatan, harta bagiku tidak penting..."
Ya, Tuhan telah kau limpahkan kebahagiaan di dalam keluarga kami, demikian doa Aldo. Sulit rasanya buat beringkar janji. Ketulusan itu sudah sejak lama di dambakan. Kini benar-benar hadir dalam kehidupan sehari-harinya.
Lamanya pergi ke dunia yang jarang tersentuh oleh tangan, sebuah lerengan lembah. Demikian bujangnya selalu menawarkan tempat amat exsotik untuk dirangkum dalam cerita kecilnya.
Ia juga menaruhkan rasa yang sukar diucapkan, manakalah dirinya banyak dituntut sama lingkungan warga pegunungan. Sisi kesederhanaan cukup menyiksa istrinya, di hari sebelumnya Viena bisa menjalani hari-hari dengan ketenangan. Tanpa ada orang lain berhak mengatur segala bentuk rutinitasnya.
"Saya heran saja, terus apa yang bisa saya lakukan di sini?" Viena masih pertengkaran. "Saya harap, mas Aldo bisa menempatkan diri, bukan sebaliknya menyudutkan saya."
"Itu bukan alasanku. Melainkan saya ingin berikan perlindungan. Sebaik-baiknya perempuan ialah menjaga kehormatannya..."
__ADS_1
"Maksudmu! Tinggal di rumah. Tanpa sedikitpun melakukan apa pun. Itu sama halnya aku terus terkurung..."
Viena belum pernah berani berucap tegas, apalagi menebarkan nilai negatif. Sama sekali tidak memiliki kepentingan khusus. Apa pun alasannya Viena harus bisa mengatur waktu luangnya.
"Ya, kamu hari ini bisa menikmati udara pegunungan. Tempat jauh dari keramaian kota. Bisa buat menenangkan pikiran..."
Malas! Ribuan kata malas buat denger nasehat Aldo, serupa aturan mengikat bagi Viena. Bahwa perempuan harus menuruti kata pasangannya. Masuk ke rumah yang bikin separuh hatinya dilanda kedongkolan. Apa mungkin dia musti bertahan dalam keterasingan, jauh dari hingar-bingar ibukota?
Hanya kicau burung, terbang rendah ke sana sini dari dahan satu ke lainnya. Sebenarnya pemandangan suka cita, terutama jangan didapatnya. Apakah kejadian ini bisa menjadikan hatinya melunak?
Diam-diam Viena siap susun langkah baru, ia bisa saja melewatkan di event di Jogjakarta. Acara kecil-kecilan dari beberapa rekan bisnis. Mereka tidak segan hubungi Viena via telpon. Tidak bisa dipungkiri lagi waktu Viena lihat ke kamarnya. Tempat paling mendamaikan segala isi hatinya, seumpama dia mau coba ke sudut lainnya. Sebuah meja rias, terjajar alat make up.
***
Sepagi ini telpon sudah berdering, suaranya bikin kesal Viena buat berikan jawaban, untuk angkat telpon balasnya bukan main, begitu lihat nama di display. Pasti urusannya yang banyak menyita pikiran. Belum lagi dia mau ajukan kesaksian atas kejadian tidak menyenangkan, diantaranya pihak punya kepentingan.
Sikap buat menentukan jalan hidup, melainkan Viena lebih suka di rumah ini. Mungkin inilah alasan Viena harus mengurungkan semua niat baiknya. Hidup menerima oleh keadaan sebagai kodratnya. Walau pun kejadian ini sudah dijalani sebaik mungkin. Sulitnya jadi seorang istri seniman lukis, dari segi kebahagiaan Viena tidak menolaknya. Semuanya layak diacungkan jempol, itu menurut pertimbangan pribadi. Sementara orangtua sudah berikan peringatan, agar berpikir dua kali sebelum melangkah lebih jauh. Buktinya sesaat Aldo perkenalkan sama calon mertuanya.
"Ada apa sih...!"
Takkan pernah perempuan harus bersembunyikan hati. Terutama mau ajukan pernyataan ingin melawan kodrat. Sama sekali tidak ada untuk itu, melainkan menuruti segala permohonan calon pasangannya. Hal itu bisa dirasakan waktu Viena datang di kampung Payaman. Lokasinya sudah jauh dari keramaian, terbayang sudah ia musti berjuang melawan rindu sama adik dan kakaknya di Jakarta.
"Vie... Kamu masih di situ," suara diujung telpon. "Kamu bisa denger suaraku kan? Vie... gimana kabarnya? Sudah dapat inspirasinya? Aku tidak mau terlalu lama, apalagi kau punya segudang alasan buat menerima..."
"Ndenger lah. Tapi kan bukan begini caranya, saya di sini perlu penyelesaian. Trus kau bisa mendesak semua jadwal kerja jadi diluar skedul."
"Ya, apa susahnya. Kau tentu punya banyak kawan di sana. Ajak mereka untuk kerja sama, kurasa kita bisa menjalankan show di mana-mana."
"Okey, nanti saya kabari. Setelah ada titik kejelasannya. Kasih saya waktu buat merancang ulang."
Viena bisa menarik nafas lega, di sini saja dia harus menyesuaikan diri sama keluarga di dusun Payaman. Bahkan dia dianggap orang paling aneh dalam mengenakan corak berpakaian. Boleh terbilang norak menurut ukuran gaya gadis desa bersolek.
Ruang ini serba unik, dekor ruangan oleh banjiran garis-garis bilik bambu. Angin dingin sudah bikin tubuhnya benar-benar menggigil. Di pokoknya sana ada perapian, tempat menanak nasi, dapur tempat mengolah hidangan malam. Satu demi satu diamatinya barang alat memasak terbuat dari gerabah. Apa mungkin ini bisa berjalan sesuai rencana, Viena akan tinggal di rumah yang bergaya joglo.
"Bagaimana menurutmu ruang, ya terutama seisi rumahnya...?"
Uih, layaknya Viena lagi disambar petir di siang bolong.
__ADS_1
Bersambung