
Menerima itu adalah hal paling mudah bagi siapa pun? Sepenggalan kata-kata itu menempel di posisi pintu ruang kerja Tiara. Orang seisi kantor juga sedikitpun tidak mau ambil pusing mengenai tangan siapa yang berbuat iseng.
Di sudut lainnya, ada seguratan senyuman menggantung. Wajar jikalau Bimo harus melabuhkan hati dan pikiran besar untuk di masa akan datang. Belum juga hatinya mau pulih oleh desakkan nyokapnya.
Dia dua kali banting pena ke atas meja, tutupnya melesat jatuh di meja di ujung sana. spontan Bima jadi terhenyak lihat wajah garang macam ingin menelannya hidup-hidup. Bagaikan sekujur tubuhnya mulai dikuliti oleh sinar kemarahan. Jarang dapat perlakuan istimewa, belum juga tuntas kerjaan merayu Viena buat kembali ke management. Dia harus berusaha keras agar misinya tercapai dengan gemilang. Sayang, Bima sulit menolaknya.
"Apa saja usahamu!"
Minta ampun! Bima sampai tercekik lehernya. Dia susah gerakkan ujung lehernya. Ini hanya sebatas denger suara keras, persis dikendangan telinga. Boss. Ya, siapa lagi yang berhak mengatur ini itu di kantor ini! Bima melongok pas wajah cantik itu sudah ada dihadapannya. Baru juga mau menaruh kekaguman dan simpatik.
"Kamu tentu punya dunia kerja. Coba kalau benda ini kenai muka saya!"
"Maaf. Saya tidak sengaja melakukannya," seloroh Bima. "Sungguh saya sama sekali tidak bermaksud lempar ke arah meja ibu."
__ADS_1
"Kau sudah mengakui kesalahanmu. Bima apa tidak ada cara lain? Kau kan bisa usahakan buat ajak model lainnya. Ya, kita ini juga sedang cari job. Jadi jangan sedikitpun menghindari mis. Karena saya tidak mau kejadian kecil akan membesar, kalau saja kau hanya berdiam diri, paham."
Serupa patung plastik Bima kali ini, wajahnya benar-benar dibaluti kegusaran.
"Baik. Nanti saya cari beberapa orang model..."
"Kira-kira berapa lama bisa di mulai?"
"Secepatnya."
"Nanti siang saya usahakan skalanya di taruh di meja kerja."
Gadis cantik itu sedikit senyum. Wajahnya sejak tadi sudah dirundung kemarahan, dikarena dua minggu terakhir Viena belum juga berikan kabar. Tiara kembali ke ruang kerjanya, sederetan surat perjanjian tergeletak. Ada kebimbangan buat mendiskusikan sama pihak lain. Dia masih mencarikan waktu terbaik buat merancang satu kejadian fashion show di waktu mendatang.
__ADS_1
Sepulang kerja Bima pasti asyik nongkrong sama beberapa rekannya. Selain mudah bergaul, Bima juga ikutan mengisi event keluarga. Dia tidak mau dikatakan orang mudah dikalahkan oleh waktu.
***
Lampu berkerlip-kerlip di caffe Monggo. Letaknya cukup strategis buat kalangan anak-anak muda nongkrong, terutama malam minggu tiba. Mereka hangout bersama teman sejawat. Bima masuk seorang diri, sepulang dari kantor dia macam kehilangan pegangan hidup.
Duh ele.... Bima kalo sudah punya impian. Selain dia ingin punya pendamping, misalnya sebagai pacar teman curhat. Tapi itu bagai mimpi saja di siang bolong. Lama harapan ortunya buat punya cucu dari Bima. Buat cari dukungan temen sejawat, tudingan miring pun bergulir bahwa dia susah cari pacar.
"Mana janjinya bro...?" Lubino.
"Gimana kabarnya?"
"Seperti biasa. Ruhnya harus hidup, euy, kalo punya sahabat karib jangan disini-siakan. Tentu ada manfaatnya, tinggal bagaimana kamu bisa menyikapi untung ruginya."
__ADS_1
Bersambung