
Juntaian titik embun di atas masih berebut turun. Kerlip nya masih pula dirasakan lembut, sebagaimana halaman rumah mungil. Tentunya tempat paling diimpikan tiap insan, ada serupa ketenangan begitu meliputi nya.
Seminggu lalu rumah itu sengaja dikosongkan oleh pemiliknya, alasan pertama mereka ingin menikmati area pinggiran kota. Keempat pemuda itu mulai dilanda kebimbangan ketika menemukan jalan buntu. Salah satunya, Dalin musti memikirkan arah jalan hidupnya. Lagaknya sok borjuis punya kelebihan dalam menentukan keputusan. Pertama dia ingin mandiri, tidak mau bergantung sama orang lain. Salah satunya, Aldo sebenarnya memiliki alasan khusus tinggal di pedusunan. Selain tempatnya asri. Sebagai arena anak-anak mereka kelak. Selain pemukiman dapat menenangkan fikiran. Menjadikan tingkat kesadaran lebih jernih dalam ambil keputusan. Bukan alihkan pandangan kedua orangtuanya selalu mengedepankan kehidupan serba mewah. Segan bergaul sama orang sekitar. kiranya pilihan Aldo nantinya mampu dipeeranggung jawabkan sama pendampingnya.
Nyonya Indriyani terheran-heran waktu lihat secarik surat. Sampulnya kelihatan mentereng dari kertas biasa dia lihat. Ada segumpalan kecemasan terlintas dalam benaknya, mungkin saja terima surat dari pacarnya. Sikap ingin tahu sebagai orangtua kepada kehidupan putrinya. Alasan khusus mereka tidak mau kehilangan moment terindah. Yakni keduanya saling mengenal pasangan hidup. Rasa kangen dan kehangatan saat bersama di meja makan. Kendati ada serupa desakan dari suaminya, agar biasakan diri hidup mandiri. Seperti Aldo tinggal di Jogjakarta menuntut ilmu, semula harapan orang tuanya dia menempuh study ekonomi.
"Apakah mungkin gadis itu lagi berkirim surat?" Indriyani bicara sendiri.
Belum juga selesai hatinya dibuat gundah oleh putranya, Aldo sering melakukan pekerjaan kurang bisa diterima oleh ayahnya. Dia kurang menaruh perhatian sama kedua orang tuanya. Buktinya sekarang dia sebatas berkirim surat, terlihat sekali kurang menaruh perhatian khusus. Namun nyonya Indriyani berupaya meyakinkan suaminya. Bahwa Aldo putra mereka akan angkat martabat keluarga di mata khalayak umum. Mungkin saja gaungnya belum sehebat langit biru.
Bunda mohon maaf, hari ini saya belum bisa pulang. Sepenggalan kata Aldo, Indriyani takkan sanggup buat baca kalimat berikutnya. Tiada terasa butiran air mata jatuh ke pipi. Selebihnya ia menutup kedua pipinya. Sewaktu suaminya lihat sambil menatap penuh selidik. Oleh karena itu Indriyani berusaha sembunyikan dari kesedihannya. Terutama dalam pandangan orang terkasihnya, seganlah buat satu arah dan tujuan di keluarga bisa di goyahkan.
Sikap keterbukaan Indriyani sama suaminya, masalah sekecil apa pun pastinya dia akan sesegera mungkin ceritakan rentetan kejadian sebenarnya. Seumpama dia mau berkata jujur akan ketertarikan Aldo sama seorang perempuan. Sebenarnya ada sikap senang melihat kehidupan putra ada sisi kemajuan. Dalam artian dia bisa kasih perhatian terhadap seorang ke kasih. Hans, panggilan Indriyani sama suaminya. Lihat lagak laguknya Hans perhatikan segala gerak-geriknya.
Apa artinya kesombongan lelaki perkasa? Jikalau ombang-ambingkan kehidupan istri, setiap jatah bulanan selalu berkurang. Indriyani tidaklah selalu menggantungkan tiap kebutuhan sehari-hari. Nyata benar kehidupan rumah tangganya sedikit mengalami ketimpanganl. Salah satunya, Aldo malas buat pulang ke Jakarta. Cerdiknya Indriyani sembunyikan kepedihan didepan suaminya. Sekali waktu senyumnya tersungging lembut. Pantaslah Hans mulai menaruhka kepercayaan penuh, atas pendamping di landasi kesetiaan. Oh, alangkah bodohnya Hans selalu mencampakkan istrinya secara halus.
__ADS_1
"Hari ini kulihat ada sesuatu, katakan saja. Saya akan dengarkan semua keluhan." Hans terus menyidik.
Sebagai perempuàn wajar jikalau simpan kepedihan, dasarnya juga terlihat lewat pandangan mata demikian sendu kelabu. Aku harus berkata sejujurnya? Batinnya sungguhlah hatinya serupa disayat-sayat sembilu.
"Papa ini terlalu banyak menuduh. Saya hanya kelihatan lelah saja. Tidak ada saya sembunyikan daripada suami tercinta..."
Jelas ada ganjalan di lubuk hatinya. Ketika merasakan ada sejenis keganjilan perilaku Hans. Lembaran putih buat keduanya di sisi sempit ada sebuah guratan halus. Sulitlah untuk menghapusnya biarpun dia sudah suruh dua pembantunya menyelidiki kejadian getir.
"Baru saja saya terima surat dari Aldo. Kamu bisa baca sendiri...." seraya Indriyani sodorkan sepucuk surat pada suaminya.
"Saya berapa kali katakan, Aldo tidak bisa hidup tanpa sosok ayahnya. Tentu ini semua kesalahanmu, setelah kejadiannya begini baru saya dilibatkan?" kata Hans panjang lebar.
"Tapi...."
"Ya kamu dari dulu bersikap selalu tertutup. Dalam masalah apa pun, kita mustinya bisa saling berikan dukungan satu sama lain."
__ADS_1
"Mana bisa saya katakan dengan tuduhan keliru. Atau setidaknya Aldo pasti bisa menunjukkan rasa tanggung-jawabnya."
"Baik. Kalau demikian adanya, biar dia sendiri datang ke sini."
"Kurasa itu tidak mungkin terjadi, sebab Aldo ada alasan lain. Dia takut kena teguran...." kata Indriyani.
Kendati pun matanya masih berkaca-kaca. Rasanya sulit menyimpan kesedihan bilamana dengar anaknya di rantau orang mengalami masalah baru. Sejujurnya Indriyani ingin menumpahkan kepedihannya sama suaminya. Tapi sikap Hans tidak menunjukkan respon positif. Apakah mungkin dia sebagai perempuan selalu mengalami penindasan? Sekuat tenaga Indriyani bangkit untuk menunjang ekonomi keluarga.
***
Kiranya Aldo masih sibuk sama urusan pembayaran rumah. Dia coba cari uang dengan cara hubungi rekanan ayahnya. Memang di hari pertama terasa berat, hasilnya tidaklah memuaskan mereka sama sekali menolak. Alasan kolega papanya cenderung memandang sinis.
Karena itu Aldo minta pertimbangan kawan terdekatnya, yakni Anton misalnyà bisa mencarikan jalan keluarnya. Keduanya sering terlibat diskusi panjang mengenai kemajuan seni di tanah air. Prinsip Aldo masih berpegang dengan idealis dalam menuangkan karyanya. Dia sebenarnya punya tingkat kesadaran buat merubah cara berpikirnya. Ya, itu tadi dasar pemikirannya masih cenderung kolot, segan mengikuti perkembangan tehnologi digital. Di mana era serba cepat, kadang kita di atas tiba-tiba di posisi bawah. Aldo sama sekali tidak akan sudi terjerumus dalam lingkaran setan. Hingga kini dia masih berpegang teguh atas pendiriannya. Baris bukit Menoreh menjadikan dia lebih tenang. Selama tinggal di Jakarta banyak menimbulkan duka, sebagian hatinya teriris sayatan sembilu. Akankah dia harus mengulang kembali?
Cantiknya bunga bermekaran di halaman samping rumah bergaya klasik. Jarang pula bisa menemukan lokasi yang nantinya bisa mendukung dunia berkesenian. Tapi apa bedanya sewaktu dirinya terperangkap sama perempuan berparas ayu.
__ADS_1
Pagi ini Aldo duduk hanya di temani secangkir teh, buatan pembantunya, mbok Lemus. Perempuan paruh baya itu sepenuh hati menyediakan hidangan untuk Aldo. Lagi pula masakan tentu enak-enak jika disandingkan masakan orang kota. Dia memang pandai untuk ukuran juru masak di kampungnya. Semisal di lingkungannya ada orang hajatan Lemus pastinya turut ambil bagian,