
Rumpun terjajar rapi di sisi kamar. Aromanya juga menawarkan keresahan. Belum atau sudah Tiara buat atur jadwal kerja. Tiara namanya, selain berparas ayu, pemilik agency. Segudang obsesi untuk memajukan agency. Berkat kegigihannya dua projek sekaligus diambil, sebagai tindak lanjut Tiara hubungi pihak kolega. Semula dia ingin ajukan persyaratan sama orang terdekatnya. Rasa jengkel itu pastinya ada, sewaktu dia lihat talent kurang sesuai menurut kriteria. Walaupun dia punya banyak program pasti dengan mudah dipatahkan sama rivalnya.
Tumpukkan berkas masih berjajaran di atas meja. Wajahnya masih terlihat berpikir keras. Andai saja Wiera ada disampingnya pasti sedikit banyak mampu selesai projek.
Tok. Tok. Pintu diketuk bikin Tiara tergugah dari lamunannya. Pelayan masuk memohon maaf sambil sodorkan segelas teh manis. Untuk kedua kalinya Tiara sampai terheran-heran lihat tampang pelayannya. Layaknya ingin mengajukan deretan pertanyaan.
"Silahkan minumannya, bu..." pelayan menawarkan minuman. "Jika ada kurang apa mohon berikan komen. Saya tetap berharap sesuai dengan pesanan."
Tiara heran sama perilaku pelayannya, sok ingin cari perhatian. Jika ditilik dari gaya bicaranya tentu ada tujuan terselubung. Rentetan kejadian di sini kadang bikin hatinya meradang.
"Kau ada apa?" tanya Tiara.
Pelayan itu matanya masih tertekuk sepuluh. Tiara ketuk-ketukan pen ke atas meja. Lalu dilihatnya kuat-kuat seolah ingin menyelidiki jalan pikirannya. Apa enaknya setiap gerak-geriknya dapatkan penilaian khusus? Sekejam itukah dunia? Perilaku orang banyak menjuruskan permasalahan pribadi, sering menggunjing kejelekan baik moril dan mental. Pelayan kikuk waktu matanya saling bentrok di tengah pembicaraan.
"Buat apa kau masih berdiri di situ? Apa kerjamu sudah selesai semua!?"
"Be... belum bu."
__ADS_1
"Apa kau bilang, bu. Memangnya saya sudah setua itu? Kau ini pintarnya terlalu banyak koreksi. Dan sebaiknya kau selesaikan kerjaannya."
Sepertinya pelayan itu masih cari tahu atas urusan atasannya. Atau ada orang yang coba suruh melakukan tindakan selidiki kasus beberapa bulan lalu. Salah seorang talent sempat menghilang.
Jam 2 siang Bimo segudang tanya, apa masih mungkin dia memiliki kesempatan yang sama. Berhak menerima dan diperlakukan layaknya cowok pada umumnya. Kesadaran itulah telah bawa dirinya terus larut lamunan kecil, Bimo.kelihatan buru-buru menyelinap menarik lengan pelayan baru saja keluar dari pintu ruang kerja bosnya. Sekali sergap Bimo raih lengan Wiwit. Tentu saja dia mirip tercekik lehernya. Buru-buru Tiara semula masih memikirkan ucapan pelayannya ikutan keluar buka pintu sekedar cari tahu. Pandangannya mengitari sisi kiri kanan, ah mana mungkin pohon samping pintu ruang kerja tak bergerak. Beruntung Bimo berhasil tutup mulut Wiwit.
"Jangan berisik, coba tadi kita ketahuan. Apa jadinya, kita kena omelan setahun masih dicerca. Kau ini sudah diam...!" Bimo kasih ancaman.
"Apa maksudnya ini!"
Biar bicaranya terbata, Wiwit berusaha lepaskan diri. Kali ini Bimo tidak mau gegabah lakukan tindakan, dia harus lebih hati-hati. Ob satu ini sulit dipegang omongannya. Sering ingkar janji bilamana Bimo meminta tolong rahasiakan kedekatan sama seseorang. Ia inginkan bisa jalan lancar tanpa celaan.
"Lepaskan dulu..." suara Wiwit tercekik.
Wiwit gerakan leher lepaskan cekikan. Matanya jadi nanar, ia kelihatan ketakutan. Dia terima begitu saja tanpa menunjukan reaksi menolak perintah.
Perempuan itu berlalu tinggalkan Bimo masih lihat gerak kakinya gontai. Segudang pengharapan Bimo setelah melakukan pengancaman dia pastikan segala usahanya cepat dibuktikan. Males kalo terus disebut pemuda penyendiri. Alasan itulah bikin Bimo sampai senekat ini. OB kantor terpaksa dikorbankan untuk memenuhi tuntutan pribadinya. Biarpun dia sudah mencoba menghindari ungkapan keliru. Siapa bilang Bimo identik sama anak pendiam di ujung sana.
__ADS_1
"Ingin menuduhku kayak lelaki itu! Sama atau tidak?" gertak Bimo.
"Tidak..."
"Pinter bohong nih, buktinya kau mau menjalankan perintah orang lain. Apa itu bukan kesalahan? Sebenarnya aku tidak akan lakukan kekerasan. Asal kau tahu diri waktu kerja."
"Mas Bimo jangan asal tuduh."
"Kau boleh saja mengelak..."
Bimo kembali ke meja kerjanya. Beberapa kerjaan terbengkalai hari ini mustinya bisa diselesaikan. Sehubungan atas teguran Tiara dua hari lalu, bahwa dia sedang memeriksa aliran dana ke rekening Bimo. Sekali pun Bimo.berusaha menjelaskan dana tersebut digunakan Viena ke Jogja. Penyesalan itu tentunya ada jika menilik kembali jadwal sudah direncanakan harus berantakan di.tengah jalan.
Untuk kesekian kalinya Bimo hubungi Viena via telpon. Hasilnya tetap saja nihil. Rasa jengkel terbayut di air mukanya. Ingin sekali jatuhkan kekerasan yang pernah dilihatnya beberapa waktu lalu. Nampak gusar Bimo terutama ketika melihat ke sisi kanan dari meja kerjanya.
Penuh wibawa Tiara menjelaskan sama telant dan bagian admin. Anehnya, mereka menaruh demikian hormatnya saat Tiara jelaskan etika dalam berjalan di atas cat work. Lenggak-lenggok penuh keluwesan. sedangkan Bimo makin penasaran lihat perempuan muda itu menampilkan kesan terbaik.
Persis doski duduk hadap ke taman. Mungkin saja tempat ini favorit sebagai ajang pertemuan sama orang memiliki kesan tersendiri. Bagaimana Tiara mampu hindarkan sore matanya ke sudut sana. Pot bunga itu kini berpindak tempat. Ia jelas-jelas marah besar atas perbuatan pembantunya. Tiara teriak panggil Wiwit lagi sibuk di taman. Begitu merasa dipanggil cepat-cepat mendekat sebelum hukuman akan dijatuhkan.
__ADS_1
"Wit...." suara Tiara melengking.
Keringat dingin. Besarnya serupa biji jagung keluar dari keningnya. Muka masih tertunduk, sudah tentu dia melakukan kesalahan. Maklum saja orang rendahan pastinya sekali pun berbuat baik akan kena ungkapan kurang melegakan pikiran.