SAAT KUTEMUKAN CINTA

SAAT KUTEMUKAN CINTA
Permata


__ADS_3

"Urusanku belum selesai, bung!"


"Cepetan ke sini!"


Wajah Aldo serupa menggantung sebentar, nampak berpikir keras. Kalaupun diperturutkan keinginannya. Pasti ada timbal balik, dia harus berikan ruang hatinya untuk bisa mengulang kesan baik. Inilah kiranya Aldo malas buat menjelaskan sama temannya.


"Tak berapa lama aku akan meluncur ke rumahmu."


Cepat-cepat ditutupnya lagi, sepintas dia melihat wajah ayu. Dasar mata keluyuran. Sulit membedakan mana sipit. Berat buka mata begitu saling berhadapan. Lekas-lekas Aldo usap ekor matanya, oh alangkah cantiknya. Selorohnya sambil tetap mengagumi.


"Ada yang bisa saya bantu...?"


Entah dari mana kata klise itu. orang pasti memiliki, terus dimana letak ge-er an. Harus berpenampilan memikat, begitu pula hatinya makin menciut. Usapan tangan halus bikin sejuk.


"Mas Aldo di minum kopinya?"


Astaga! Aku terlalu jauh menyelami kehidupan Viena. Ini benar-benar tak terpikirkan dalam kehidupanku, batin Aldo. Dia lihat wajah istrinya penuh kesetiaan. Ada rasa saling bersalah ketika mengetahui keadaan ini makin memburuk. Dia bahkan akan bawa lembaran baru, walaupun belum tentu ada nilai positif. Bukanlah baik timbulnya hidup panjang angan-angan. Boleh jadi bercermin itu sangatlah mudah. Duduk menatap lurus maka tampaklah semuanya di depan mata.

__ADS_1


"Terima kasih. Nanti juga minum. Gimana ada pesan buat saya? Kamu tuh jangan sombong dulu. Boleh jadi kita harus banyak berpikir lebih keras lagi." sanggahan Aldo datar.


Uh, buat pulang rasanya berat. waktu sudah menunjukkan jam 9 malam. Apakah semua pertanyaan dalam benaknya kini akan menjadikan dia harus berpikir lebih gigih? Bukan sekadar duduk melamun. Ia merasa iri. Ketika lihat Fredy jauh maju, lihat saja dari cara dia menego sama pelanggan. Sikap supel jauh lebih ditonjolkan.


"Kulihat kamu hari ini banyak sekali keruwetan. Aldo, hidup ini hanya sekali. Trus, kamu gampang menyerah oleh keadaan? Ya, semua orang juga boleh mengeluh."


"Heran saja."


"Kurasa biasa saja. Sebenarnya kita harus memiliki visi dan misi. Intinya seberapa besar impian, trus apa saja perlu dilakukan dengan benar. Tentu hasilnya akan banyak mendatangkan manfaat."


Fredy sepertinya tersudut sama ucapannya sendiri. Ia lanjutkan melukisnya. Sketsa yang dalam tangannya cukup memukau. Ada salah satu pengunjung meminta dibuatkan foto diri.


'Sejak kapan kau bisa hidup mandiri? Atau setidaknya punya impian, cobalah buat dirimu berguna. Dalam artian kita hidup berkecukupan tanpa bantuan orang tua."


"Bosan aku ngedengernya. Kalo masih ada masalah, biar aku selesaikan sendiri..." sanggah Aldo ketus. "Lihat saja nanti, aku akan buktikan sama dunia. Bahwa tiap orang berhak untuk maju. Tidak juga aku kawan."


Ini kali pertama Aldo adu argumen sama Fredy. Ya, semestinya harus berpikir jernih mengenai masa depannya. Apa baiknya jikalau dia harus berdebat sama rekan sendiri. Aldo kembali ke lesehan di kursi lukisnya. Keduanya memiliki aliran berbeda, Aldo memilih aliran naturalis dan kontenporer dalam melukis di atas kanvas. Pas jam sepuluh malem mereka hanya menerima pesanan saja. Keesokan harinya pemesan boleh ambil hasil lukisan.

__ADS_1


Fredy melirik rekannya, dan menghampiri Aldo masih menata alat lukis ke dalam tas ransel. Ia sama sekali tidak perdulikan segala gerak-geriknya biar pun sedikit mencurigakan. Sifat iseng Fredy bikin segenap hatinya kembali jadi dongkol. Siapa akan terima diperlakukan tak menghargai jasa orang lain. Dasar orang tak tahu adat kesopanan. Di tengah kegusarannya Aldo tetap asyik memasukkan alat lukis, sambil terus meneliti beberapa kuas ukuran 5 dan 6 tak tak tahu nyelip ke mana.


"Hey... kau tahu kuasku...?" sergah Aldo. "Buruan aku mau pulang. Kawan tahu tidak, serius nih!"


"Makanya caranya pakai mata, bukan pake mulut...."


"Ah ngak salah lagi. Kamu yang pakai ngaku saja. Fredy, kau ini suka curi-curi perhatian."


Fredy hanya senyum datar, sejujurnya ia ingin menyimpulkan bahwa dirinya punya ambisi yang sama untuk persunting gadis cantik. Laju hatinyq sulit pula untuk akui bahwa dia butuhkan seorang pendamping, belum lagi kedua orangtuanya turut andil atas hubungan berdua. Ia malu hati buat mencurahkan serupa impian kaum lelaki, memiliki pasangan hidup yang sehidup semati.


Dua kuas dilemparkan ke meja kecil, Aldo melotot kaget segitu teganya perlakukan sohib kelabakan cari benda keramat Aldo. Seribu sumpah serapah keluar dari mulutnya. Tinggal satu goresan lagi lukisan itu rampung. Bujangnya lama menunggu di mobil yang siap-siap angkut perlengkapan melukis ke mobil Toyota hartop bercat toska.


"Masih ada lagi harus dibawa?" tanya bujang kalem. " Sebab hampir semuanya di angkut. Lagi pula mobilnya hampir penuh. Saya nanti duduk di sebelah mana..."


"Ya, semuanya. Jangan sampai ada yang tersisa. Takutnya, tuh si pelukis ulung."


Semasa kuliah di ISI Fredy juga jadi jagonya, bisa kalahkan seniornya dalam cari simpatik para kolektor. Cara dia negoisasi patut diacungi jempol, sehingga mereka akan rela menuggu sampai lukisan yang mereka pesan selesai tanpa ada kekurangan di sana sini. Ia kali ini harus bisa kalahkan dengan pelbagai cara dan trik lebih jitu. Ia juga diam-diam menyimpan nilai cemburu dalam penjualan lukisan.

__ADS_1


__ADS_2