SAAT KUTEMUKAN CINTA

SAAT KUTEMUKAN CINTA
Di bawah gerimis


__ADS_3

Siapa pun berhak untuk protes atas kebijakan Aldo, mungkin saja tempat ini semula rumah itu masih menunjukkan ke asrian. Secara perlahan-lahan ada penambahan gasebo. Satu tempat jarang sekali disentuh tangan manusia, tentunya dia belum pernah sampai sebodoh mirip orang kehilangan pegangan hidup. Atau firasat itu sudah menyatukan segala bentuk emosinya. Seumpa dia mampu berteriak atas kejahatan dunia. Mungkin dia akan berlari-lari buat hindari kejaran keluhan bunda.


Minta ampun kola sudah denger permohonan bunda supaya dia memiliki pendamping. Jujur saja, Aldo hendak rancangkan perlengkapan melukis. Kuas dan palet cat lukis masih teronggok di pojokan kamar. Biasanya Lemus sudah siapkan secangkir teh dan singkong rebus. Perempuan itu kelihatan rajinnya bukan main cabut singkong dari belakang rumah. Sayup-sayup kedengeran suaranya. Aldo males-males. Tubuhnya menggeliat kiri kanan. Sekedar melonggarkan otot kaku, buang rasa males sambut titik embun. Semalam dia pejamkan mata sepicing pun. Biasanya Lewo siapkan secangkir teh hangat. Baru juga ketuk pintu kamar, kàgetnya alang kepalang waktu jarinya tertusuk serpihan gedhek ( terbuat dari iratan bambu apus ). Perempuan jerit nahan rasa sakit, jari buru-buru diisap hilangkan rasa sakit.


"Ada apa mbok...." seloroh Aldo.


Pas buka pintu dia lagaknya agak kaget, begitu lihat pembantunya jemari tergores. Rasa pengabdian pembantu cenderung ingin memuliakan majikan. Pantes saja Aldo menaruh empati atas kesediaan buat tinggal di pondok. Kabar dari Jakarta menggantung di awan. Semestinya mamanya berkirim kabar mengenai surat minta uang buat pelunasan rumah joglo. Sampai gugup Mbok Lewo kepergok melamun. Di jentikkan jarinya baru tersadar dari melamun.


"Mau kerja....?"


"Iya nden..."


"Makanya kalo kerja jangan banyak melamun. Akibatnya kurang baik jika melihat hasilnya."


"Ya mohon dimaafkan, saya kan tidak punya maksud apa-apa."


"Baiklah. Saya butuh di buatkan nasi goreng..."


Mbok Lewo sampai terkaget-kaget dengar majikannya minta dibuatkan nasi goreng. Bagi masyarakat kedengarannya aneh saja, mana ada nasi kembali diolàh dengan cara di goreng. Aldo sadar betul mengetahui pembantunya takkan bisa mengolah serupa koki terkenal. Aldo menahan tawa lihat reaksi mbok Lewo melakukan tindakan lucu sambil melingkarkan stagen ( ikat pinggang).


"Tuh kan jadi merepotkan, apa tidak ada jalan lainnya. Berantakan semua, saya hari ini mau pergi...."


"Ya, kalo boleh titip di pasar belikan makanan ringan."


Bilamana mbok Lewo ajukan permintaan macem-macem, itulah dugaan Aldo. Dia sebenarnya males buat menuruti segala permohonan pembantunya. Belum lagi mau beringsut ke sisi kiri kamar. Wajar bila Aldo ingin mencari alasan lebih jitu. Sangatlah sukar lelaki harus alihkan pandangan kurang nyaman di terimanya.


Bergegas mbok Lewo menuju kamar belakang, merah muda mukanya, sayang Aldo tidak mau menjuruskan sorot mata tajam. Seolah ingin mengetahui apa saja sedang terjadi di rumahnya. Sejurus saja matanya terlewatkan untuk simak gaya perempuan itu. Secara filosofi mbok Lewo punya pengaruh penting dilingkungan. Setiap kali ada kegiatan kemasyarakatan turut serta, artinya dia ikut ambil bagian jikalau ada hajatan. Aldo sempat terheran-heran sama bujangnya juga ambil bagian dalam acara hajatan salah satu warga.


Mata?

__ADS_1


Belum cukup Aldo perhatikan gerak-gerik gadis tambatan hati. Demikian dia sering sanjungkan apa saja yang kerap menerjang alam pikirannya. Justru kejujuran itulah kerap dipertanyakan oleh gadis bersal biru muda. Serupa burung cendrawasih memamerkan keindahan bulunya. Bibirnya masih dikulum manis. Sentuhan batin kadang hadang diri pribadi seorang perjaka.


Jelas itu salah satu kebodohan Viena menuruti perintah pihak agency. Hubungan semula harmonis juga menjadikan bibit perselisihan paham. Atau awal benih cinta, semuanya tidaklah dilandasi oleh kekhuzuan hati. Itulah sebabnya Viena masih menggantung harapan. Apakah mungkin cinta akan bertepuk sebelah tangan? Aldo sebenarnya ingin menumpahkan segenap perasaan, dia kini sedang mencari waktu yang tepat. Biasanya Viena berkunjung ke padepokan sebatas ucapkan salam atau melihat Aldo melukis.


"Mas Aldo belum istirahat? Apa boleh saya buatkan minuman hangat untuk menambah stamina..."


Waduh, urusan begini kan milik perempuan. Aldo menghela nafas panjang. Ada serupa gumpalan halus, jikalau sengaja dibiarkan tumbuh. Maka sulitlah buat memangkas sampai ke akar-akarnya. Sebagai lelaki Aldo sepatutnya bisa mengendalikan bentuk emosinya. Belum lagi kerjanya selesai mbok Lewo sambil lemparkan senyum. Tiba-tiba muncul sudah bawa minuman teh hangat dan singkong goreng.


"Jadi merepotkan saja. Saya sebetulnya belum ada selera sarapan." potong Aldo ramah.


Bagaimana pun Aldo masih termangu menunggu Viena sedianya mau datang tepat waktu. Karena jadwal pagi ini lumayan padat. Ia tidak perdulikan tatapan pembantunya. Sikap sok tahu jelas-jelas diperlihatkan. Tak sengaja mbok Lewo melihat lukisan wajah perempuan, sedianya perempuan itu ingin lebih teliti lagi buat kepoin.


"Saya sepertinya kenal sama wajahnya," cetus mbok Lewo.


Mungkin saja perempuan itu banyak tahu, bagaimana watak dari majikannya? semua deretan jalan kehidupannya jangan sampai tetcium sama sang bunda. Aldo melotot kearah perempuan itu, seolah-olah ingin menyuruhnya pergi dari hadapannya.


Keluguan itulah kadang bikin orang disekeliling jadi kikuk, mbok Lewo masih berdiri tegak. Jarinya masih sibuk meliputi ujung jarit ( kain panjang). Semula dia ingin ajukan pertanyaan lebih detail lagi. Takutlah dia akan dipermasalahkan oleh ibu Indriyani.


"Saya hanya sebatas mengagumi kan boleh dong...?"


"Boleh saja. Tapi untuk kali ini mbok Lewo..."


Perempuan itu langsung berikan dua jempol. Cepat bergegas pergi ke dapur buat siapkan hidangan khusus tamu istimewa.


***


Viena kelihatan lebih repot dari biasanya, matahari sinarnya sudah tembus tirai. Kamar ini kelihatan lebih terang, walau pun di hari sebelumnya dia menemukan kegelisahan. Dua hati sebelumnya tercampakkan oleh seorang lelaki tak bertanggung jawab. Kini hari-harinya sempat dipertaruhkan oleh cowok bertampang keren. Atau lebih tepatnya dia harus berlomba dengan waktu. Sedikitpun belum ada kepastian buat menerimanya, dia masih terlalu dini dalam menilai kepribadian seseorang tanpa alasan kuat. Itu sama saja menjerumuskan jati diri, maka Viena lebih suka sama cowok terbuka dalam mengeluarkan segala keluhan di dada.


Tempat ini bagi Viena cukup menjanjikan alam pikiran, suasananya jauh lebih tenang ketika dia berada di Jakarta. Kendati pun semua permohonannya selalu terpenuhi. Tidak satu pun bikin hatinya bergembira, sewaktu menerima hadiah ulang tahun.

__ADS_1


Mama kalau sudah kasih perhatian, bejibun barang mewah itu sudah berjajaran di dekat kamar Viena. Tampak kebingungan waktu mendapati mamanya sudah mau ada janji ke salah satu rekanan kerja. Viena buru-buru sambangi nyokapnya dengan perasaan haru biru. Belum cukup sampai di situ Melba juga punya sikap iseng luar biasa. Ya, dia juga punya alasan buat menolak ajakan adiknya. Sama seperti hari sebelumnya, dia juga dapatkan kejutan serius dari rekannya. Kado kecil, tidak cukup bikin jantungnya bergetar demikian hebat.


"Lho, kok masih di rumah. Apa hari ini tidak ada jadwal pemotretan? Mama sih ada sedikit saran bilamana di dunia kerja. Kamu harus bisa menjaga diri, jangan terlalu larut sama dunia gemerlap." demikian ulasan mama.


Sepintas Viena melirik kearah ibunya, sikap beliau memang terlalu protektif bilamana lihat anak gadisnya kurang menaruh perhatian dengan dunia pendidikan. Di usia masih perlu bimbingan orangtua setiap kali ingin mengambil keputusan. Tapi kali pertama Viena ingin berikan pendapat terbaik jikalau ada masalah sekecil apa pun. Sambil terduduk dia menatap mama.


"Iya saya juga paham dalam hal ini. Saya juga masih dalam batas-batas kewajaran."


"Sayang....!"


"Saya masih bersikap wajar. Mama jangan terlalu punya pendapat miring mengenai langkah Viena. Buktinya selama ini saya bisa menjalan keduanya tanpa saling mengganggu."


"Apakah perkataanmu bisa dipegang? Karena mama tidak sepenuhnya yakin. Sedikit banyak mama harus awasi semua gerak-gerikmu, sayang." kata mama makin pedas.


Sampai di meja makan Viena masih pula duduk lesu. Seakan seluruh tenaga dan semangatnya dikuras oleh wejangan mamanya. Keseluruhan pemikirannya seolah digantikan ungkapan salah. Buntutnya mama pasti akan menunjuk salah satu pemuda sebagai pengawal pribadi. Menilik cara mamanya menaruhkan simpati salah seorang pemuda, biar pun itu hanya usulan ringan. Kabar itu belum sampai ke telinga Viena. Itu Dara bisa teriak seakan ingin memecahkan dunia.


"Ya, setidaknya mama akan merasa tenang. Ketika kamu ajukan buat pulang terlalu larut. Apa tidak mungkin papa mengetahui semua kegiatanmu di luar jam kuliah. Uh, pasti marah besar."


"Tuh kan mama selalu kasih ancaman. Lagi pula Viena masih dalam batas-batas kewajaran. Trus mama punya anggapan terlampau jauh."


"Semuanya dilandasi penilaian mama, lagi pula tidak sembarangan? Kamu mustinya berterima kasih supaya nantinya jangan sampai terjerumus."


Viena merasa kecewa ketika mendapatkan teguran keras dari mamanya. Siapa pula ingin membiarkan putrinya jatuh ke dalam kubangan lumpur kesalahan. Ada baiknya dia mulai memikirkan masa depannya. Kesemuanya bukanlah didasari ego dan hawa nafsu semata. Kali ini Viena harus bisa menerima segala bentuk pengorbanan diri kepada kemajuan usaha papanya.


Dalam dua minggu terakhir perusahaan milik Argono devisit keuangan penurunan penjualan. Argono biasanya akan banyak cerita pada istrinya. Permasalahan kecil kadang sebagai pemicu pertengkaran, bagaimana tidak kesibukan Argono menjadi alasan dia jarang di rumah. Dukungan kedua putrinya tidaklah cukup bantu sebagai penawar kemarahan papanya. Demikian pula mamanya segan ungkapkan permasalahan pribadi di depan dua putrinya. Mereka sebenarnya tidaklah pantas dengar pertengkaran keduanya.


Benar adanya, Argono malas buat sarapan pagi ini! Ada rasa menyebalkan ketika bisa mengingat kembali. Perlakuan istrinya sangatlah tidak menyenangkan hatinya. Maka dari sana akan banyak api biru siap menyala-nyala di kemudian hari.


"

__ADS_1


__ADS_2