
Wajar bilamana Metty menaruhkan rasa aneh, intinya dia belum pernah sampai segalau ini. Ingin melakukan kegiatan kecil, semisalnya ketemuan sama kolega di butik milik rekanan, bawaannya males. Kegiatan di luar rumah. Terpenting dalam dirinya.tidak mau dikatakan sebagai benalu.
Pulang kuliah, enaknya rehat di perpus atau cafe. Baru juga duduk di bangku taman. Ada saja gangguan muncul buat baca buku tebal. Nggak takut, bisa pakai kaca mata minus. Buat nolak ajakan temen rasanya sulit. Baru juga tarik nafas panjang, dasar godaan? Dia meluncur dengan melenggangkan tas ransel di pundaknya. Sesekali matanya mengitari ujung sisi cafe. Tempat biasanya rekan-rekannya nongkrong sambil bicarakan macam-macam sisi kehidupan. Untuk kali pertama Mesti jalan sendiri, sebagai penyegar pikiran atau sekedar cuci mata. Intinya dia ingin merubah jalan hidupnya.
Di sisi lain ada sebuah mobil melintas lumayan cepat jalannya. Laju mobil sepertinya mengarah ke sisi lubang genangan air. Seret.... air comberan itu sudahlah berhamburan. Gadis itu sampai terlonjak buat menghindari dari cipratan air comberan.
"Makanya kalo jalan lihat-lihat dong," kata pengemudi itu.
Kelihatan benar si pengemudi sedikitpun tidak merasa bersalah. Bahkan tega berkata pedas sama seorang gadis. Bukan saja bersikap lebih lembut kan bisa. Sedangkan gadis itu merasa dirinya jadi tercampakkan dan sulitlah menutupi rasa malunya.
"Dasar salah....!" umpat Adinda. "Dasar orang tidak punya rasa. Selalu ingin menang sendiri, tanpa pikirin keselamatan orang lain."
Wuri jadi kecut hatinya. Begitu dia bisa dapati kondisi baju Adinda terkena air comberan. Begitu lihat sahabat merasa kerepotan. Ia buru-buru menyusul langkah gontai, ibaratkan penuh dengan nestapa. Bagaimana tidak, sudah berpenampilan ayu dan anggun. Mendadak air comberan muncrat di bajunya. Tentu siapa pun orangnya pasti melontarkan umpatan dan tamparan keras. Biar tahu adat itu orang. Jangan berlaku tak sopan di depan umum. Jikalau nantinya akan kena batunya, seperti beberapa hari sebelumnya Wuri mendapati orang berkelakuan kurang mengenakan hati.
"Hey.... kau rupanya."
Wuri belum percaya sama apa yang dilihatnya, kondisi Adinda jelas butuh pertolongan. Dengan segera diraihnya lengan Adinda penuh percikan lumpur, sudah warnanya hitam pekat. Belum lagi bau busuk bener-bener menusuk hidung.
"Kau ini kenapa sih sampai separah ini!? Kan tadi kubilang tunggu, akibatnya kalo ninggalin temen."
"Wuri..... Kau bisa lihat. Jahat ya kau ini, lihat temen lagi kesusahan. Teganya menyalahkan aku tidak mau nungguin kedatangan."
Wuri sebenarnya tidak tahan lagi buat buang jauh-jauh mengenai tudingan berbeda. Satu tangan menutupi mulutnya, dasar tukang banyolin tiap ada kejadian lucu. Terbilang tinggi tingkat rasa humor Wuri bilamana menyikapi kelakuan rekannya.
"Aku ngerasa kasihan...."
"Udah jangan banyak omong. Bosan ngedengernya. Kau ini bukannya beri pertolongan. Malahan sebaliknya menertawakan terus. Lagi pula aku pasti akan bikin perhitungan sama tuh cowok."
"Sadar kan kau...?"
Wuri juga masih punya alasan untuk melihat wajah Adinda. Raut mukanya bertaburkan sinar kebencian. Pastinya satu waktu siap diledakkan, layaknya bom waktu setelah mendapatkan pemicunya.
"Justru...."
"Masih saja penuh dendam kesumat. Apalagi yang kau harapan untuk melakukan pembalasan. Terus kau yakin bisa menemukan si pecundang? Sebaiknya kau cari ganti...."
"Apa?"
"Aku sudah mau sabar menerima perlakuan kurang pantas."
"Cepetan! Keburu orang-orang di ujung sana lihat tontonan gratisan. Apa kau tidak malu dengan pakaian serba kotor? Tuh, si cowok mulai melirik. Lari ke arah sana ke toko pakaian."
Lima menit kemudian Wuri bawa baju satu stelan. Selepas bersihkan badan dan aroma kurang sedap di hidung. Lihat Adinda masih basah kuyup, muncul dari balik ruang ganti, tidaklah menimbulkan kesan cengeng Adinda menebarkan senyuman. Yang semula layu layaknya si putri malu.
"Penampilan itu juga dibutuhkan waktu kita bertemu sama seseorang, pas kita punya tujuan harusnya didukung sepenuhnya sama pasangan kita."
"Cuek aja..."
"Kan kita punya satu tujuan....?"
"Aku belum ada uang buat bayar bajunya. Lebih sedih lagi dompetku di ambil sama pecundang. Kalo aku lihat batang hidungnya kupatahkan. Sebelum ada orang lain mau kacaukan pertemuan kita."
"Kau bilang apa, pertemuan kita. Atau aku nggak salah dengar? Makanya jangan terlalu banyak berkhayal. Akibatnya jadi orang linglung..."
Sumpah serapah keluar dari bibir mungil. Ungkapan kekesalan itu cepat sekali meluncur deras buat melegakan bentuk kemarahannya. Apalagi dia sudah dipermalukan di muka umum. Tentunya sejumlah mata takkan lepas waktu kejadian air basahi sekujur tubuhnya. Ada jutaan rasa malu sulitlah dibuang jauh-jauh.
Buat apa nyiksa diri, pikir Wuri. Cari musuh jauh lebih mudah, daripada itu Adinda masih penasaran sama pelakunya. Secara paksa seret lengan Adinda ke cafe. Dia banyak sekali cerita di kampus, tentang deretan tugas numpuk di tas ransel.
__ADS_1
"Gimana penampilanku...." Adinda memutar tubuh.
Dasarnya kelihatan cantik, sekalipun suara hati terus menjerit. Agar Wuri bisa diam. Si bawel jikalau denger dia dapat kan .
kecil. Mungkin saja sekampus menertawakan atas kejadian di cafe. Kerjanya paling rajin melamun tentang wajah pemuda berkaos oblong. Gaya khas itu banyak dimiliki oleh pemuda pada umumnya.
"Dua jempol pokoknya. Kan lumayan pilihanku."
"Terima kasih banyak atas bantuannya. Entahlah, bagaimana aku musti balas kebaikanmu..."
"Biasa saja. Kan sudah sepantasnya kita harus saling bantu. Bukannya ingin saling menjatuhkan. Dan aku tidak mau melakukan kesalahan yang sama."
"Hey..... Dari mana kau bisa mengetahui sosok orang itu?" sanggah Adinda.
Hingga detik ini Adinda berupaya hilangkan bayangan sosok tampan. Itulah deretan perkataan benci justru akan memutar balikkan keadaan. Tanpa di sadarinya si cowok akan dipertemukan di salah satu tempat. Adinda merinding buat bayangkan kejadian barusan, sudahlah badan basah belum lagi lumpur hitam. Bau tak sedap bikin pengunjung cafe menutup hidung rapat-rapat.
"Memangnya ngak ada lagi topik pembicaraan. Bosen tau."
Wuri kelihatan tersipu-sipu lihat Adinda. Raut mukanya merah delima gitu. Ada serupa letupan keras, nantinya dia boleh dibilang jadi jomblo tulen.
Di dorong tubuh ramping Wuri, sampai terhuyung sulit seimbangkan postur tubuhnya ke sisi kanan. Beruntung di sisi kanan ada seorang cowok kebetulan melintas. Langsung cekatan menopang tubuh ramping gadis itu, gerakan pasti menimbulkan sebuah kata janji. Sebuah ungkapan manis jarang pula Adinda dapatkan. Ia segan dikatakan iri hati lihat kemesraan keduanya persis di depan mata.
"Dinda..." pekik Wuri.
"Masa bodo...." sahut Adinda ketus.
Beruntung gayung pun bersambut, selendang merah menjuntai. Sepintas Adinda lihat gerakan tangan cowok itu menjuntai. Tapi bukan selendang merah, melainkan lengan berkaos merah. Lengan kekar itu sudah berhasil merengkuh tubuh nan menawan, sekiranya pria itu gampangan. Tentu mudahnya melambungkan angan-angan. Keduanya saling bertatapan penuh arti. Sentuhan halus itu layaknya mulai menelusupi relung hati. Kisi-kisi hati menyentakkan lukisan kesedihan.
"Aku punya rencana ngajak jalan. Kulihat belakangan ini, kamu banyak sekali permasalahan...."
"Buat apa harus mengatakan semuanya. Segalanya bisa saja terjadi tanpa perhitungan kita. Toh orang lain mau ambil peduli atas. jalan kehidupan ini!" Kata Wuri.
"Maaf kalau saya terlalu ikut campur. Tapi aku belum pernah lihat kau setegar ini. Sebenarnya aku iri bila lihat kegigihanmu. Belum lagi sepulang kuliah kudengar ada kerjaan sampingan." tegas Adinda.
"Ngak apa. Justru minta maaf bilamana sikapku banyak menimbulkan keresahan."
"Hidup ini jangan di bawa berat, sepintas kita tidak punya harapan. Sedangkan permasalahan baik besar kecil tentu ada di depan sana. Makanya kita harus bersikap enjoy. Supaya di kemudian hari tidak mudah dipatahkan oleh keputus asaan." jelas Adinda panjang lebar.
"Ngomong-ngomong kapan pesan makanan? Dari tadi ngelantur pembicaraannya. Lekas minuman apalah, atau kau takut kegemukan?"
Adinda melambaikan tangan ke arah pelayan, cekatan pelayan sodorkan buku menu makanan. Di liriknya sikap Wuri jelas menaruh hati sewaktu tubuhnya ditopang.
"Maaf kalau aku lancang."
Sorot matanya demikian tajam menghunjam jatuh di ujung hati. Mana ada gadis akan menolak dan hindari tiap kali.mengadakan kontak batin. Segera dilepaskan pegangan tangannya. Wuri masih ingat betul ketika lengan kekar menopang tubuh ramping. Sedangkan Adinda ikutan iri, sebaliknya dentuman dalam hatinya sejenis menaruh curiga.
"Ngerti!"
"Kau pasti sadarkan...?" tebak Adinda.
Belum ada sepercik pun Adinda untuk menatap masa depannya kelak. Merenda angan-angan saja kiranya memunculkan delima baru. Ia berhasil menenangkan diri tidak lekas larut kesedihan temannya.
"Kamu pasti kenal sama pelakunya. Kan nantinya kita bisa balas atas perbuatannya." balas Wuri masih memanasi.
"Apa untungnya?"
"Kau ini bener-bener payah. Sekali kita dipermalukan di depan umum. Maka dia harus bisa menunggu akibatnya. Supaya nantinya tidak berbuat semena-mena sama perempuan."
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi sensi gitu. Sekarang saya ingatkan, jangan terlalu benci sama tuh pelakunya. Ya, yang saya takutkan lekas jatuh hati....!"
"Amit-amit....!"
Sepulang kuliah Adinda belum bisa hilangkan bayangan si pecundang. Tempat biasa nongkrong juga belum ada batang hidungnya. Satu misal Adinda coba bersikap diam. Tidak mau melakukan tindakan yang jarang dilihat oleh rekannya. Mustinya dibalas rasa sakit ketika dia direndahkan didepan teman-teman.
Depan gerbang mobil keluaran terbaru sudah menanti, ada rasa kepongahan dari balik jendela mobil. Pengemudinya masih perhatikan dengan cara seksama ke sisi kampus. Tidak berapa lama dua anak buahnya muncul dengan berbagai macam ancaman.
"Dinda...."
Suara melengking dari arah belakangnya. Spontan Adinda menoleh kearah sumber suara. Begitu dia menoleh ada serupa sinar yang jarang didapatnya. Atau ancaman siap menyergap dua tangannya. Seminggu sebelumnya Adinda dapatkan teguran dari Wuri bahwa dia harus bersikap santai.
"Tunggu.... kau jalannya cepet banget."
Biar pun nafas Wuri terengah-engah berlarian kejar langkah Adinda. Apakah mungkin akan biarkan kejadian kecil barusan terlewatkan begitu saja? Dia sama sekali tidak akan pernah menyadarinya. Bahaya siap mengintai kapan saja dilancarkan. Cekatan di raih punggung lengan kawannya. Ia tak mau kalo kejadian kurang menguntungkan itu kurang mendapatkan manfaatnya.
"Kenapa? Atau engkau ada permasalahan. Intinya saya ingin berikan pertolongan.
"Bisa pulang sama-sama? Aku takut kamu terantuk masalah lagi. Ya, sebagai teman kita harus saling menjaga satu sama lain."
"Terima kasih atas perhatiannya. Tapi kurasa tidak perlu, karena aku ada sedikit urusan."
Kali ini Wuri merasa dirinya tersisih. Ia bermaksud tulus bantu kesulitan Adinda. Nia0t baik Wuri ditolak dengan alasan tidak jelas.
Kalian ini malah kelihatan aneh saja. Rutuk Wuri sambil berlalu, langkahnya gontai. Pras persis melintas di depan pintu gerbang kampus. Sebagai temen ia punya andil besar, mengatur segala keperluan untuk pentas disalah satu caffe.
Dua cowok berandalan itu mulai melakukan aksi nakal. Keduanya tidak mau dipermasalahkan ketika dapat perintah dari bosnya. Gege bukan saja ajukan ultimatum sama dua orang suruhannya, agar dikerjakan secara rapi supaya aksinya tidak tercium sama siapa pun! Keduanya justru berpikiran terbalik atas suruhan majikannya.
"Cepet dikit kalo mau bertindak, jangan lambat gitu keburu ketahuan..."
"Aku tinggal menunggu perintah. Sekarang juga boleh langsung ambil tindakan!"
Keduanya saling berdebat untuk mencegat dua gadis selepas pulang kuliah. Sangat arogan ketika keduanya turut ke lapangan. Hal sekecil apa pun pastinya banyak mengandung resikonya dikemudian hari. Bony sambil mengacungkan telunjuknya menandakan siap melakukan penodong, keduanya menutupi muka dengan sehelai kain hitam. Sekali sergap Bony sudah berhasil menangkap tubuh ramping itu. Biar pun Metu meronta sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua penjahat cere. Baru tangannya mau mendorong kesamping....
"Kau tidak merasa ragu lagi...."
Metty sulit kendal amarahnya. Apalah daya kekuatan perempuan, ada batasnya. Dia kali ini benar-benar mudah di lumpuhkan oleh pemuda berandalan. Iseng banget tuh cowok. Perilaku kurang pantas sulit dihindari, walau pun Metty sigap menepis tangan.
"Hay.... kamu cantik banget." goda cowok berambut gondrong.
"Ngak perlu. Kau tuh ngaca, Jangan suka iseng. Awas, saya mau lewat! Atau tas ini akan melayang....!?"
Ternyata gertakan Metty sama sekali tidak dihiraukan. Paling cuma gertak sambal saja, tinglahnya makin tak keruan gitu. Sekelebatan Metty lihat ada gerakan mencurigakan, dia macam orang banyak menanggung kesalahan dan ancaman.
"Kau ini selalu ingin cari aman kan?" rajuk si gondrong. "Sok jual mahal, biar gini-gini lumayanlah buat dijadikan pacar."
"Duh, ngaca dong. buat jadi pacar nggak deh. Jadi temen saja langsung kubuang.ke laut saja."
Dua cowok itu mirip cacing kepanasan, terus merangsek godain Metty nampak panik. Dia seakan sukar kendalikan emosinya, bercampur rasa gugup posisi berdirinya terpojok.
"Sudahlah menyerah saja, sebelum saya berbuat lebih kasar lagi. Kamu boleh memilih dikasari atau di rayu sayang....?"
"Ih, najis. Sekali kau berbuat aneh-aneh. Aku akan teriak keras-keras biar orang ngerok."
Merinding juga dua cowok.begajul itu dengar ucapan Metty. Setidak orang kampung pastinya akan datang mengerok dengan alasan ingin mencelakai orang lain. Keduanya mundur sambil berikan isyarat.
Sekali sergap Metty rasanya tidak berkutik. Si gondrong kuat-kuat pegang kedua tangannya kebelakang.
__ADS_1
"Kau kali ini tidak berkutik lagi. Sekarang cepat katakan bahwa kau punya urusan sama bosku. Cepat.....!"
Metty menurut saja dalam sekapan kedua pemuda berandalan.