
Seorang wanita muda yang cantik, tengah duduk sendiri di sebuah meja, pada pesta ulang tahun yang diadakan di cafe.
Wanita tersebut tengah menghadiri acara ulang tahun rekannya sesama dokter. Ya, wanita cantik ini adalah Andini, seorang dokter muda yang berprestasi di sebuah rumah sakit, terbesar di kotanya.
Saat sedang menikmati acara, terlihat dua orang wanita lainnya menghampiri Andini. Pada saat ini, Andini tengah duduk sendiri, ditemani jus jeruk kesukaannya.
Salah satu wanita melambaikan tangannya, pada Andini. Lalu menyapanya, "Hai!"
Andini yang melihat lambaian tangan dari temannya itu, pun tersenyum dan membalas sapaan teman-temannya itu, "Hai!"
"Loe udah lama? Sorry ya, gue nggak lihat loe datang tadi. Soalnya, tamu pada banyak yang datang. Oh ya, suami loe mana?" tanya salah seorang teman Andini, yang bernama lily. Sang pemilik acara ulang tahun tersebut.
Andini tersenyum dan mencium pipi kanan dan kiri temannya, yang berulang tahun itu, "Biasalah, suami gue lagi ada kerjaan di luar kota. Lagian, gue baru juga datang kok."
"Ya udah, kalau gitu gue tinggal ya! So, loe nikmatin aja acaranya. Nanti, gue bakal datang samperin loe lagi. Gue mau menghampiri beberapa tamu dulu ya, soalnya gue belum sempat nyapa mereka. Ok, bye!"
Lily kembali melangkahkan kaki, meninggalkan wanita yang tengah ditinggal suaminya ke luar kota itu.
Andini kembali lanjut menyesap jus jeruknya sambil menikmati suasana pesta, yang nampak meriah ini. Karena pesta tersebut dilaksanakan di sebuah cafe ternama.
Tanpa disadari wanita itu, seseorang tengah mengamatinya dari jauh. Perlahan namun pasti, orang itu berjalan mendekat ke arahnya. Saat orang itu sudah berada di dekat Andini, tangannya terulur hendak menyentuh pundak wanita yang sedang membelakanginya itu.
Namun, niatnya itu tertunda. Sebab, saat ia mengulurkan tangannya, tiba-tiba seorang pelayan lewat di antara keduanya, hingga pemuda itu mengurungkan niatnya menyentuh pundak Andini.
Karena Andini menoleh ke belakang, orang itu pun berlari ke belakang pilar yang berada di cafe tersebut.
Ia lalu mengeluarkan ponsel dan menelpon seseorang. Sementara itu, Andini yang saat ini kembali menikmati alunan musik, tersentak akibat mendengar dering ponselnya. Ya, orang yang ditelepon seseorang tersebut adalah Andini.
Andini tersenyum, melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Dengan segera Andini pun menjawab telepon tersebut.
"Hallo!"
Nampak senyum indah terukir di bibir Andini, ketika berbicara dengan orang itu.
__ADS_1
"Keluarlah melalui pintu belakang cafe ini, dan pergilah ke kolam renang yang berada di belakang cafe!" Tanpa basa-basi, orang tersebut menyuruh Andini, pergi ke tempat yang sudah disebutkannya itu.
"Kenapa kau menyuruhku untuk datang ke tempat itu?" tanya Andini, yang perlahan-lahan tetap melangkahkan kakinya menuju pintu belakang, cafe tersebut.
Senyum seringai tersungging di bibir orang itu, "Kau bagaikan api di malam ini, yang membuatku harus cepat mendinginkannya."
Dengan senyum penuh arti, Andini menjawab, "Jika kau takut dengan api, menjauh lah."
"Kenapa kau terus memintaku untuk menjauh?" Suara orang itu, begitu menggoda. Hingga membuat Andini menyunggingkan senyumnya.
"Karena aku sudah menikah! Aku harap, kau tidak melupakannya." Langkah kaki Andini terus terayun.
"Baiklah kalau seperti itu. Aku akan pergi ke kolam renang. Karena aku butuh air untuk menjauh dari api. Apa kau bisa membantuku mendinginkannya?"
Senyum menyeringai tersungging di bibir Andini, "Hem, sepertinya aku tidak akan datang!"
"Kau pasti datang!" Terdengar nada penuh keyakinan dari suara orang itu.
Andini terkekeh, "Oh ya? Kau terdengar sangat yakin."
"Tentu saja aku yakin. Karena, kau adalah seorang Dokter. Bukan kah sudah kewajibanmu, untuk menolong seseorang? Tak terkecuali aku."
Setelah sampai di kolam renang, Andini mencari di segala sudut. Namun, ia tidak menemukan orang tersebut.
Saat Andini sudah merasa lelah mencari orang itu, Andini memutuskan untuk kembali ke dalam cafe tersebut.
Namun, langkah kaki wanita itu terhenti. Ketika merasakan tangannya digenggam seseorang dari belakang.
Andini tersenyum. Nafasnya berhembus begitu cepat, seiring detak jantungnya yang kian berdetak dengan cepat pula.
Dari belakang, nampak seorang pria yang mencekal tangan Andini, berjalan makin mendekat pada wanita itu. Ya, ternyata orang yang sedari tadi menelfon itu adalah seorang pria.
Ditariknya perlahan tubuh Andini, hingga masuk ke dalam dekapannya. Kini posisi Andini berada dalam pelukan pria itu.
Andini yang merasakan kecupan di tengkuknya, pun meremang. Karena merasa dirinya akan terbuai oleh pria itu, Andini pun melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Andini menatap pria itu, yang juga tengah menatapnya sambil membelai pipi mulus wanita itu.
"Jangan di sini! Karena, siapa pun bisa datang kapan saja."
Pria itu tersenyum mendengar ucapan Andini, "Hanya ini moment yang kita miliki. Ayo, kita pergunakan sebaik mungkin."
Andini tersenyum lalu berlari menjauh dari pemuda itu sementara Pria itu juga ikut tersenyum melihat tingkah laku Andini yang menurutnya sangat menggemaskan.
Diayunkannya langkah, mengejar Andini yang sudah berlari menjauh sambil tertawa itu.
Andini Terus berlari menuju sebuah hotel yang juga terdapat di tempat itu karena cafe yang digunakan Lily untuk mengadakan acara ulang tahun adalah cafe yang berada di sebuah hotel.
Pria itu terus melangkah mengejar Andini yang kini masuk ke dalam sebuah kamar hotel, yang sudah dipesannya.
Setelah masuk ke dalam kamar hotel tersebut, Andini pun berlari dengan tertawa menuju sofa ruangan tersebut. Sementara, pria itu juga sudah melangkah masuk ke dalam kamar hotel dan segera mengunci pintu.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar hotel yang sama. Kegiatan yang tadinya sempat tertunda, kini sudah mereka lanjutkan kembali. Hingga, kini keduanya sudah terbaring di atas ranjang dan saling berc\*\*bu.
Saat pria itu sudah hendak memulai aksinya, tiba-tiba saja, ponsel Andini yang sebelumnya diletakkannya di atas nakas berdering.
Andini perlahan mendorong tubuh pria yang sedang mengukungnya itu.
Segera wanita itu menyambar ponsel yang berada di atas nakas itu, dan menjawab panggilan telepon tersebut.
Andini bangkit dari ranjang, "Ya suster? Apa? Bukankah jadwal persalinannya sebulan lagi? Ya sudah, baiklah! Ya, saya akan segera ke sana!"
Setelah menjawab telepon, yang ternyata dari suster di rumah sakit tempatnya bekerja,n Andini pun kembali menoleh pada pria itu, yang kini tengah duduk di tepi ranjang sambil menatapnya putus asa.
Andini meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas dan menatap pria itu iba, "Maaf sayang, tapi ini kasus darurat!''
Pria itu memijit pelipisnya lalu berucap, "Bagaimana bisa kau pergi meninggalkanku? Ini adalah hari ulang tahun pernikahan kita!"
Andini menarik nafasnya panjang, "Tapi kita 'kan Dokter! Kau dan aku, punya tanggung jawab yang besar dalam menangani pasien."
__ADS_1
"Tapi kita juga suami istri 'kan?" Pria itu juga tidak mau kalah. Sebab, hasratnya yang sedari tadi ditahannya belum juga tersalurkan.