Sahabat Penghancur

Sahabat Penghancur
Bab 5. Naura yang malang!


__ADS_3

Marah! Tentu saja Naura merasa marah pada suaminya itu. Akan tetapi, apa yang bisa dilakukannya terhadap suami toxicnya itu? Selain pasrah, dia juga takut dan belum percaya diri jika harus keluar dari penjara kehidupan Bimo, suaminya.



Kata-kata Bimo yang selalu mengatakan, jika dia beruntung bersuamikan Bimo. Karena, tidak harus bekerja keras sepeti wanita-wanita lain, cukup menjadikan hal itu alasan untuknya sampai saat ini, masih bertahan hidup dengan suami yang tempramental itu.



Naura menggigit kecil kue yang disodorkan Bimo di mulutnya. Lalu, wanita itu mendorong pelan tangan Bimo, dan berbicada dengan lembut, "Maaf, aku sudah kenyang. Sebelumnya kamu sudah memesankan makanan mewah ke kamar kita tadi. Aku sudah tidak sanggup, untuk makan lebih banyak lagi. Perutku sudah sangat terasa penuh!"



Tentu saja saat ini Naura tengah berbohong, hanya untuk memberi rasa kepuasan pada suaminya. Terbukti dari senyum yang terukir di bibir, pria yang sudah setahun itu menjadi suaminya.



Naura berusaha menahan rasa perih di perutnya, akibat rasa lapar. Ya! Naura sama sekali belum makan saat ini. Suaminya selalu membatasi porsi makan, dan jenis makanan yang harus di makan oleh Naura.



Saat ini, Naura merasa hendak menangis. Tapi dia berusaha menahannya. Takut jika suaminya akan marah dan berakhir dengan perlakuan kasar padanya.



Naura tersenyum, dan menoleh ke arah suaminya, "Sayang, bisakah aku izin ke toilet?"


__ADS_1


Bimo yang saat ini tengah fokus dengan teman-temannya, pun hanya mengangguk. Selanjutnya, pria itu mengambil segelas bir yang sudah ada di meja tersebut. Lalu, mengankatnya ke udara dan meminta temannya untuk bersulang.



Sementara itu, Naura yang sudah mendapatkan izin dari suaminya, pun melangkah dengan cepat menuju toilet. Meninggalkan suaminya yang masih fokus dengan teman-temannya itu.



Dengan cepat, Naura melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam toilet, yang berada di restourant hotel tersebut. Naura mengunci pintunya cepat, dengan tangan yang gemetar. Dia berlari menuju wastafel yang ada di toilet itu, dan melihat wajahnya yang malang di cermin.



Air matanya dengan deras, jatuh bercucuran membasahi pipi mulusnya. Untuk beberapa saat, wanita itu terpaku di depan cermin, dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.




Setelah merasa semuanya sudah sempurna seperti sedia kala, wanita itu pun melangkah kembali menuu pintu toilet. Tangannya terulur memegang knop pintu dan menekannya.



Saat baru saja kakinya melangkah keluar dari toilet tersebut, tiba-tiba saja wanita itu terkejut dengan suara sang suami.



"Ngapain saja kamu di dalam? Kamu sengaja 'kan berlama-lama di toilet, untuk menghidari teman-temanku!" ucap Bimo sambil bersandar di dinding, dan menyulut satu batang rokok di mulutnya.

__ADS_1



Wanita yang sedang terkejut itu, menoleh ke arah sumber suara dan mendapati suaminya yang, menatapnya dengan tajam.



Dengan gugup Naura menjawab, "Bu- bukan gitu! Aku tadi mules jadi di toiletnya lama."



Bimo bangkit dari senderannya, lalu dengan kasar pria itu menarik tangan Naura melangkah mengikutinya, "Alesan saja kamu! Kamu sudah buat aku malu di depan teman-temanku. Bahkan di hadapan para karyawanku. Kamu harus segera dikasih pelajaran."



Hukuman apalagi kali ini yang akan diberikan Bimo pada Naura. Biasanya pria itu akan menghukum istrinya seharian, bahkan semalaman di bawah guyuran shower apartemen mereka.



Tapi, kali ini mereka menginap di hotel. Perasaan Naura semakin takut. Air mata yang tadinya sudah mengering di pipinya, kini sudah mulai kembali mengalir membasahi pipi pucat wanita itu.



Bimo terus menarik tangan Naura memasuki sebuah lift. Pria itu segera menekan tombol angka lantai yang akan di tujunya, tempat di mana kamar mereka berada.



Lift tempat mereka pun berdenting. Pertanda jika mereka sudah sampai di lantai tujuan. Setelah pintu lift terbuka, pria itu kembali menarik tangan istrinya, hingga sampai di depan pintu kamar mereka. Kebetulan, di lorong menuju kamar mereka sepi, makanya Naura harus rela merasakan sakit di pergelangan tangannya akibat cekalan dari tarikan tangan Bimo, suaminya.

__ADS_1


__ADS_2