Sahabat Penghancur

Sahabat Penghancur
Bab 4


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah hotel di kota yang sama. Seorang wanita tengah memasuki sebuah restoran, yang berada tepat di lantai bawah hotel tersebut. Dengan mata yang tertutup oleh sebuah kain berwarna hitam, wanita itu berjalan dengan anggunnya.



Di belakang wanita itu, ada seorang pria yang tersenyum. Pria tersebut sedang menuntun sang wanita berjalan perlahan, ke sebuah meja. Di mana sudah terdapat hidangan yang mewah. Lengkap dengan sebuah kue tart, yang tak kalah mewahnya juga.



Tidak ada senyum yang terukir di bibir wanita itu. Entah mengapa, dia seperti tidak merasa bahagia saat ini.



Pria yang sedang bersamanya itu berbisik, "Sayang, senyum! Aku gak mau, orang-orang di sini menyangka kamu tidak bahagia denganku."



Wanita itu menoleh ke arah sumber suara, "Memangnya ada orang di sini selain kita?"



Masih dengan suara berbisik dan senyum yang tak lepas dari bibirnya, pria itu kembali melanjutkan ucapannya, "Tentu saja! Kamu pikir, kalau bukan untuk nama baikku, buat apa aku mengeluarkan uang banyak untuk memberikan kejutan untukmu? Ya, walaupun kamu harus tetap membayarnya!''



Selain pasrah, tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukan oleh sang wanita, yang sedang merasa tidak bahagia di hari kelahirannya itu.



Dengan pasrah wanita itu tersenyum, walau bisa terlihat kalau senyuman itu dipaksakan.



Setelah sampai di meja itu, pria tersebut membuka penutup mata sang wanita. Hingga memperlihatkan semua hidangan mewah yang berjejer teratur di meja tersebut.


__ADS_1


"Kejutan! Selamat ulang tahun, Naura sayang!"



Sebuah kecupan mendarat di dahi wanita itu. Meski dirinya tahu, kalau suaminya itu tidak ikhlas melakukan semua ini untuknya. Setidaknya dia masih bisa merayakan hari jadinya itu.



Pikirannya melayang jauh tepat beberapa tahun lalu, saat dia merayakan hari ulang tahun bersama sahabat terkasihnya.



Sahabat yang sudah seperti saudara baginya, yang hanya seorang yatim piatu. Sahabat yang sudah sangat membantunya, di saat keadaan terpuruk pada waktu itu.



Sampai akhirnya mereka terpisah oleh keadaan. Hingga saat ini, dia tidak mengetahui di mana keberadaan sahabatnya tersebut.




"Sayang, kamu kenapa? Apa kejutan ini kurang? Maaf ya! Tadi di kantor sibuk banget, jadi aku hanya bisa memberikan kejutan sederhana seperti ini."



Suara dan sentuhan suaminya mengagetkan Naura. Hingga wanita itu harus berpura-pura tersenyum, "Ah! Nggak sayang! Ini sudah sangat mewah. Aku hanya terharu saja tadi."



"Kamu beruntung sekali mendapatkan suami seperti Pak Bimo ini Nyonya Naura! Selain dia penyayang pada istrinya, dia juga selalu royal pada kami ini."



Ucapan salah seorang karyawan, di perusahaan milik Bimo itu bersuara. Hingga membuat Naura dan Bimo menoleh ke arahnya.

__ADS_1



Dengan tersenyum bangga, Bimo berucap, "Ah kalian bisa aja! Aku melakukan ini, semata-mata hanya untuk menyenangkan istri saya. Lihat! Kalau dia tidak merasa bahagia, mana mungkin dia bisa secantik ini!"



Naura menarik napas panjang, mendengar ucapan suaminya itu. Bimo termasuk tipe suami yang akan melakukan segala hal, hanya untuk mendapatkan pujian dari orang lain. Padahal, mereka tidak tahu, seberapa menderitanya Naura hidup bersamanya.



"Ya sudah, kalau begitu silakan tiup lilinnya, sayang!"



Naura tersenyum paksa, ketika teman-teman dan kolega-kolega, serta karyawan Bimo menyanyikan ulang tahun untuknya.



Untuk membuat hatinya bisa menerima perayaan ulang tahun ini, wanita itu mengkhayalkan jika yang memberikan kejutan ini adalah Andini, sahabatnya. Ya, dialah sahabat Andini yang sering diceritakan pada Aditya.



Tanpa setahu Naura, Andini setiap tahun merayakan ulang tahunnya. Meski hanya berdua dengan Aditya, suami Andini.



Naura meniup lilin itu, lalu mengucapkan terima kasih pada semua yang hadir di sana. Hingga, tibalah saatnya wanita itu memotong kue tart tersebut.



Naura memotong kue pertama, dan langsung menyuapinya ke mulut sang suami. Setelah itu, Bimo melakukan hal yang sama. Namun, sebelum pria itu menyuapkan kue tersebut ke mulut Naura, dia menyempatkan kembali berbisik pada wanita itu.



"Makannya sedikit saja! Aku tidak mau, badanmu rusak hanya karena memakan makanan yang manis!"

__ADS_1


__ADS_2