
\*\*\****Beberapa Minggu kemudian***\*\*\*\*\*
Saat ini, Aditya berada di jalan pulang menuju rumahnya. Tiba-tiba, di tengah perjalanan dia hampir saja menabrak seorang perempuan, yang tengah berlari seperti ketakutan.
Dengan cepat Aditya menginjak rem mobilnya, hingga membuat wanita yang hampir saja ditabraknya itu terkejut, lalu menoleh ke arahnya.
Dengan cepat, wanita itu menghampirinya dan menyatukan kedua tangannya, untuk meminta pertolongan pada Aditya.
Dengan menangis wanita itu berucap, "Aku mohon, tolong aku! Please tolong aku!"
Berulang kali, wanita itu meminta pertolongan pada Aditya. Sehingga, membuat pria itu sontak berinisiatif menganggukkan kepalanya. Hingga membuat wanita itu segera masuk ke dalam mobilnya.
Setelah wanita itu masuk, nampak dari jauh seorang pria tengah berlari seperti mencari sesuatu. Sepertinya, pria itu tengah mengejar wanita yang saat ini, bersama dengan Aditya dalam mobil itu.
Sementara, wanita yang sudah merasa aman di dalam mobil Aditya, pun meringkuk dengan tubuh yang gemetar. Dengan suara yang masih serak, wanita itu meminta Aditya untuk segera menjalankan mobilnya. Pria itu lagi-lagi mengangguk, dan mengikuti perintah wanita tersebut.
Aditya kembali menjalankan mobilnya dan berlalu di dekat pria, yang tengah mencari wanita itu, tanpa dicurigai oleh pria tersebut.
__ADS_1
Setelah berjalan cukup jauh, Aditya pun menghentikan mobilnya di dekat sebuah taman. Lalu, bertanya pada wanita yang sedang berada dalam mobilnya itu, "Kamu siapa? Dan apa pria tadi sedang mengejarmu?"
Wanita itu mengusap air matanya. Sementara tubuhnya masih terlihat gemetar, walaupun tak seperti tadi.
Dengan suara yang terbata wanita itu berucap, "Na- namaku Naura! Dan p- pria itu adalah suamiku. A- aku sudah tidak mau tinggal dengannya. Kumohon, tolong aku!"
Mendengar ucapan wanita yang ternyata Naura itu, Aditya dengan segera mengusap kasar wajahnya. Bagaimana mungkin, dia terperangkap di masalah rumah tangga orang lain.
Dengan frustasi ia pun berucap, "Bagaimana mungkin kamu meminta pertolongan padaku? Aku tidak tahu masalah rumah tangga kalian. Dan jika suami kamu menghajar ku bagaimana? Nanti, dia mengira kalau aku sudah membawamu kabur. Lebih baik, kamu keluar dari mobilku, dan segera temui suami kamu, dan menyelesaikan permasalahan rumah tangga kalian sendiri."
Mendengar hal itu, Naura pun menoleh pada Aditya. Lalu, dengan diam wanita itu pun membuka pintu mobil Aditya, lalu turun dari mobil tersebut. Kemudian, wanita itu kembali berlari tak tentu arah.
Sementara itu, Naura yang saat ini tengah berlari tak tentu arah, kembali menangis. Takut jika suaminya sampai menemukan dirinya saat ini.
Langkah demi langkah dipercepat oleh wanita itu. Namun sayang, di ujung lorong dirinya kembali bertemu dengan suaminya, yang saat ini tengah duduk di sebuah mobil dan menatapnya tajam.
Dengan penuh aura kemarahan, Bimo turun dari mobil itu. Lalu melangkah dengan cepat, mengejar Naura yang kembali berlari, untuk menghindari dirinya sambil berteriak minta tolong.
__ADS_1
Naura terus saja berlari sambil berteriak, "Tolong! Siapa pun tolong aku...... !"
Bimo yang tidak ingin citranya menjadi buruk, semakin mempercepat langkah kakinya untuk mengejar sang istri. Sebelum orang lain mendapatinya sedang mengejar Naura.
Langkah kaki Naura semakin lama, semakin lemah. Mengakibatkan dirinya tersusul oleh Bimo, yang saat ini sudah mencekal tangannya dari belakang.
Dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan, Bimo menyentak tangan istrinya itu, "Mau kemana kamu? Dasar istri kurang ajar!"
Pria itu melayangkan tamparan di pipi sang istri. Akan tetapi, tindakannya itu ternyata dipergoki oleh orang lain, yang langsung saja menegur dirinya.
"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut di tengah jalan seperti ini? Hei bung, kenapa kamu menyakiti wanita? Apakah dia istrimu?" tanya seorang pria yang langsung mencekal tangan Bimo, yang hendak dilayangkannya pada pipi istrinya itu.
Melihat ternyata orang yang datang bukan hanya satu orang, melainkan beberapa orang pria dewasa. Bimo pun lekas melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Naura.
Dengan menjaga wibawa, Bimo berucap, "Maaf pak, jika aku mengganggu kenyamanan di jalan ini. Aku hanya sedang mengejar istriku yang sedang ngambek, kabur dari rumah. Hanya karena aku melupakan hari ulang tahunnya saja. Bukan begitu, sayang?" tanya Bimo sambil menatap pada Naura, dengan tatapan yang mengintimidasi. Berharap istrinya itu terimidasi dengan tatapan itu, dan memuluskan rencana kebohongannya barusan.
Namun sayang, Naura tidak sebod\*h itu. Dengan cepat Naura meminta pertolongan pada pria tersebut. Karena, dia sudah berniat benar-benar ingin meninggalkan Bimo, dan mengakhiri hubungan rumah tangga mereka.
__ADS_1
Sakit di fisik dan di hati, sudah mampu menurunkan perasaannya pada suaminya itu. Padahal, awal mereka menikah dulu Naura sangat merasa bahagia. Karena Bimo adalah pria yang amat sangat dicintainya. Namun, semakin hari sifat asli dari pria tersebut, semakin membuat Naura muak dan tertekan.