
Wanita itu tersenyum, ketika melihat yang datang adalah putranya dan juga menantu kesayangannya.
Setelah mobil berhenti, Andini pun segera turun dari mobil tersebut, dan menghampiri Ibu mertuanya yang saat ini telah merentangkan tangan, menyambutnya.
Andini berlari ke dalam pelukan Ibu mertuanya itu, sambil mencium pipi kiri dan kanan Ibu dari suaminya tersebut.
Ibu mertuanya yang bernama Bu Rindu itu, pun tersenyum lembut sambil menepuk pelan, pipi anak menantu kesayangannya itu.
"Selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-3 tahun ya, putriku tersayang! Semoga, di tahun ini kalian sudah bisa dikaruniai momongan, biar Ibu tidak merasa kesepian. Jika kamu dan Aditya sedang bertugas di rumah sakit."
Ya! D usia pernikahan Andini dan Aditya yang sudah berjalan 3 tahun ini, keduanya belum dikaruniai seorang keturunan. Hall itu juga membuat Andini merasa sedih. Padahal, sudah beberapa kali dia dan suami melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit, dan hasil dari pemeriksaan itu mengatakan kalau mereka berdua dalam keadaan yang sehat.
Bu Rindu memegang rambut Andini yang terurai itu, dengan tersenyum, "Apa kalian menikmatinya semalam? Ibu rasa, kalian sangat menikmatinya. Semoga usaha kalian itu berhasil ya!"
__ADS_1
Tentu saja Andini merasa malu, dengan ucapan Ibu mertuanya itu. Meskipun, semalam mereka tidak melakukan apa-apa. Sebab, panggilan telepon di rumah sakit yang membutuhkan dirinya, hingga dia meninggalkan suaminya tertidur menunggunya.
Andini tersenyum malu, "Apaan sih Ibu, nggak ada ya! Oh ya, Ibu udah makan?'
Andini berusaha mengalihkan pembicaraan Ibu mertuanya, yang arahnya sudah keluar dari yang seharusnya.
Saat Andini masih mengobrol dengan ibu mertuanya itu, Aditya, suaminya datang menghampiri keduanya.
"Apa kalian sedang membicarakanku? Oh ya, Andini bukankah katamu hari ini juga hari ulang tahun sahabat kamu, yang sudah lama tidak pernah bertemu? Biasanya, kamu membuatkannya sebuah cake kesukaan sahabat kamu itu. Apakah aku boleh mencicipinya?"
Ya, hari ini adalah hari ulang tahun sahabat Andini, yang terpisah sejak 7 tahun lalu. Mereka tidak bisa saling berkomunikasi. Sudah beberapa kali,nAndini mencoba mencari sahabatnya itu. Akan tetapi, dia tidak pernah menemukannya
Andini tersenyum pada suaminya itu, lalu mengangguk, "Tentu saja! Aku sudah membuatkannya satu buah kue kesukaannya, seperti tahun-tahun sebelumnya. Dan, orang yang pertama kali mencicipi kue kesukaan sahabatku itu, adalah kamu! Kalian berdua, orang yang sangat aku sayangi."
__ADS_1
Sementara Bu rindu yang mendengar ucapan Andini dan Aditya itu, hanya tersenyum simpul. Entah mengapa, setiap kali Andini mengatakan perihal sahabatnya itu, perasaan wanita itu sedikit bergetar. Entah pertanda apa yang sedang dirasakannya itu.
Aditya bangkit dari duduknya, lalu mengajak Andini untuk masuk ke dalam rumah. Sementara Bu Rindu, masih ingin berada di teras rumah menikmati suasana pagi hari, yang begitu sejuk. Sebab, wanita itu sangat suka melihat bunga-bunga, yang tertanam rapi di halaman depan rumah mewah itu.
Aditya mengajak Andini menuju dapur, dan membuka lemari pendingin. Tempat Andini meletakkan kue ulang tahun buat sahabatnya.
Aditya mengambil kue itu, lalu melangkah menghampiri Andini, "Sayang, apakah kamu sudah mencoba kue ini?"
Andini menggeleng dan tersenyum pada suaminya itu, "Belum! Karena, seperti yang aku katakan, aku ingin kamulah orang pertama yang merasakan kue ulang tahun, buat sahabatku itu. Artinya dirinya, sama dengan artinya kamu buatku."
Aditya melangkah mengambil pisau dan memotong kue ulang tahun tersebut. Lalu potongan itu dimasukkan semuanya ke dalam mulut, sambil menikmati rasa dari kue buatan Andini tersebut.
"Sayang kenapa kamu gak pernah kasih tahu ke aku, siapa nama sahabatmu itu?"
__ADS_1