
Naura menggelengkan kepalanya cepat, meminta pertolongan pada para pria tersebut, "Tidak, Pak! Dia bohong! Memang dia suami saya, tapi sikapnya selalu kasar, bahkan sampai melakukan KDRT. Kalau kalian tidak percaya, lihatlah ini!"
Naura sontak menyingkap sedikit bajunya ke atas, hingga memperlihatkan bagian pinggan wanita itu yang lebam-lebam.
Setelah itu, wanita tersebut menurunkan sedikit kerah baju bagian belakangnya, dan memperlihatkan lebam yang sama di bagian bawah tengkuknya.
Tidak lupa, wanita itu juga sedikit menyingkap rambutnya. Memperlihatkan pelipisnya, yang terdapat bekas luka akibat perlakuan kasar Bimo, suaminya.
Bimo yang melihat aksi Naura itu pun terdiam. Pria itu tidak mampu membantah bukti-bukti yang sudah diperlihatkan Naura, pada para pria tersebut.
Dengan perlahan, Bimo berjalan mundur dan segera berlari masuk ke dalam mobilnya. Dengan segera, pria itu menghidupkan mesin mobilnya dan segera menjalankannya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.
Naura yang melihat kepergian Bimo, pun sontak menghembuskan napas lega. Wanita itu sangat bersyukur sudah bertemu dengan para pria tersebut.
Naura yang dibantu beberapa masyarakat, setelah para pria tersebut memberitahukan pada istri-istri mereka, segera pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum. Naura melakukan hal itu, guna mengambil bukti kekerasan yang dilakukan suaminya, dan menjebloskan pria itu ke dalam penjara.
Sementara itu, saat ini Aditya yang sudah sampai di rumah, pun disambut oleh tatapan heran Andini.
Wanita itu segera menghampiri suaminya, yang sudah duduk di tepi ranjang, sambil membuka sepatunya dengan kasar.
Andini melangkah menghampiri suaminya itu, dan duduk di sampingnya. Dengan tetapan heran, wanita itu bertanya, "Apa yang terjadi dengan suamiku ini?"
Andini memegang kedua pipi suaminya, lalu membolak-balikkan ke kiri dan ke kanan. Menelisik wajah pria yang sedang bad mood tersebut.
__ADS_1
"Lihat! Pulang dari bekerja, wajahnya sangat kusut. Sebaiknya, aku harus segera membuatkan teh hangat untuknya. Agar senyumnya kembali terbit. Aku sangat tidak suka, melihat suamiku yang seperti ini." ucap Andini yang hendak berdiri, meninggalkan suaminya itu di kamar.
Namun, langkah wanita itu terhenti. Ketika tangannya dicekal oleh Aditya. Lalu, pria itu menariknya, hingga wanita itu terjatuh duduk di pangkuan sang suami.
Aditya memeluk tubuh Andini dari belakang, dan meletakkan dagunya di pundak wanita tersebut.
Dengan lemah pria itu berucap, "Aku lagi sial hari ini!"
Andini mengerutkan alisnya. tanpa menoleh, wanita itu bertanya, "Memangnya apa yang terjadi?"
Masih dengan posisi yang sama, Aditya berucap, "Kamu tau! Tadi aku bertemu dengan seorang wanita, yang hampir saja tertabrak oleh mobilku."
Andini yang mendengar hal itu, tentu saja terkejut, "Apa? Kok bisa? Tapi kamu gak apa-apa 'kan? Bagaimana dengan wanita itu? Apa dia menuntut kamu? Karena hampir saja tertabrak mobilmu?"
"Lalu, wanita itu memintaku untuk segera menjalankan mobil. Ya karena aku terkejut dengan keadaannya, dan bodohnya aku yang menurut pada wanita itu, dengan segera menjalankan mobilku. Tapi, dari jauh aku melihat seorang pria sedang berlari mencari sesuatu. Lalu, aku berpikir kalau pria tersebut sedang mencari wanita, yang sedang bersamaku di dalam mobil tadi. Dan aku juga berpikir, kalau wanita ini dalam bahaya. Makanya, aku berinisiatif untuk membantunya. Tapi, kamu tahu tidak apa yang terjadi, setelah kami sudah cukup jauh dari lokasi tadi?"
Andini menggelengkan kepalanya, namun tidak menyela ucapan suaminya itu.
Kemudian Aditya kembali melanjutkan ucapannya, "Kamu tahu tidak, rupanya wanita yang sedang bersamaku tadi itu sedang bertengkar dengan suaminya. Dan pria yang tadi aku lihat sedang berlari mencari sesuatu itu, adalah suaminya. Bagaimana aku tidak kesal? Dia melibatkan aku masuk ke dalam masalahnya, jika aku terus menolongnya. Oleh karena itu, aku memintanya dengan tegas, untuk segera keluar dari mobilku tadi. Dan dengan menangis, wanita itu turun dari mobilku. Lalu, tanpa peduli padanya lagi, aku segera melanjutkan menjalankan mobilku untuk pulang ke rumah."
Andini tertawa, mendengar ucapan dari suaminya itu. Sehingga membuat Aditya menatapnya heran, lalu bertanya, "Kok kamu tertawa?"
Dengan susah payah Andini menghentikan tawanya, lalu berucap, "Nggak apa-apa! Aku hanya kasihan saja pada wanita itu. Bukannya kamu yang sial, tapi wanita itu yang sial karena sudah bertemu lelaki seperti kamu. Bisa-bisanya, kamu memarahi wanita yang sedang meminta pertolongan, hahaha! Pasti dia sudah tidak mau bertemu dengan kamu. Atau, bahkan dia menyumpahimu bertemu dengan preman jelek yang gendut, yang akan mengempeskan ban mobilmu, hingga mobilmu itu macet di tengah jalan."
__ADS_1
Sontak saja, Aditya melepaskan pelukannya dari sang istri, ketika mendengar ucapannya tadi. dengan cemberut pria itu berucap, "Kamu bukannya prihatin sama suaminya, lagi kena musibah. Malah mengejeknya. Ya sudah, aku mau mandi saja dulu! Oh ya, bukannya tadi kamu mau buatin aku teh hangat ya? Sekarang, cepat buatin! Aku mau mandi untuk mendinginkan pikiranku dulu. Sudah sana minggir!"
Aditya menurunkan tubuh Andini, yang duduk di pangkuannya itu kembali ke atas kasur. Sementara wanita itu, belum juga menghentikan tawanya sejak tadi. Sampai Aditya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah memastikan suaminya sudah masuk ke dalam kamar mandi, Andini pun segera berdiri dan melangkah menuju dapur, untuk membuatkan teh hangat pesanan suaminya. Sekaligus menyiapkan makan malam untuk mereka. Sebab, sedari tadi Andini juga belum makan. Karena, sudah menjadi kebiasaannya untuk makan bersama sang suami.
Saat menuju dapur, wanita itu berpapasan dengan sang ibu mertua, yang saat ini tengah memakai masker di wajahnya. Sontak saja, hal itu membuat Andini berteriak, karena terkejut, "Aaaa...... Hantu?"
Mertuanya yang mendengarkan ucapan Andini itu, juga sontak terkejut dan ikut berteriak, "Apa hantu? Di mana hantunya? Aaa.... tolong! Sejak kapan rumah ini ada hantunya?"
Andini yang mengenali suara itu, pun sontak menatap Ibu mertuanya itu. Sesaat kemudian, wanita itu kembali tertawa terbahak-bahak. Melihat wajah Ibu mertuanya yang dianggapnya sebagai hantu tadi.
"Hahahaha..... Ibu! Aku kira tadi hantu. Maaf ya!" Dengan menyengir, wanita itu meminta maaf pada ibu mertuanya.
Bu rindu, ibu mertua Andini, pun sontak menghentikan teriakannya. Lalu, menatap kesal pada sang menantu, "Jadi hantunya nggak ada, dan yang kamu bilang tadi hantu itu, adalah ibu? Dasar kamu ya! Untung saja kamu itu menantu kesayangan ibu. Kalau gak, udah tak cubit tuh ginjalmu!"
Andini masih saja tertawa, "Hahaha.... Maaf Bu! Habisnya, ngapain sih ibu jalan-jalan pake masker segala? Mana warnanya item lagi!"
"Ibu habis minum teh tadi di dapur. Lagian kamu, masa sama ibu mertua yang cantik ini gak kenal. Malah disangkanya hantu. Emang kamu mau kemana sih?"tanyanya, sambil merapikan maskernya yang sedikit retak akibat teriakannya tadi.
"Aku mau ke dapur buatin Aditya teh hangat, sama nyiapin makannya. Ya udah, Andini ke dapur dulu ya, Bu!"ucap Andini.
Sementara Bu Rindu hanya mengangguk. Sehingga, Andini segera melangkahkan kakinya kembali menuju dapur. Begitupun dengan Bu Rindu, yang kembali menuju kamarnya.
__ADS_1