
Di kamar hotel, yang baru saja akan menjadi saksi cintanya bersama sang istri, Aditya harus menelan kekecewaan karena sang istri, Andini, lebih memilih untuk pergi ke rumah sakit.
Aditya bangkit dari duduknya, dan berjalan menuju toilet untuk mendinginkan pikirannya, yang tadi sempat memanas.
Di depan cermin besar yang berada di kamar mandi, Aditya bergumam, "Sekarang, apa yang harus aku lakukan?"
Sementara itu, di sebuah rumah sakit. Andini berjalan dengan tergesa menuju ruang persalinan.
Salah seorang suster yang tadi sempat menelfonnya, segera menghampiri wanita itu.
"Dokter, ruang operasi sudah siap!" ucap suster tersebut, sambil menyerahkan sebuah map yang berisikan riwayat sang pasien.
"Kita coba persalinan normal dulu! jika memang tidak memungkinkan baru kita akan lakukan tindakan operasi sesar." Andini menerima map yang disodorkan oleh suster tersebut, sembari tetap melangkah dengan tergesa.
Saat di depan pintu ruang persalinan, seseorang menghampiri Andini yang ternyata merupakan suami dari pasien, yang meminta agar istrinya diselamatkan.
"Dok, tolong selamatkan istri saya ya!" pinta suami pasien tersebut dengan raut wajah memohon.
Andini memegang pundak pria tersebut, "Baik, Pak! Kami akan berusaha untuk menyelamatkan keduanya. Bapak bisa membantu kami dengan perbanyak berdoa ya!"
Setelah mengatakan hal itu, Andini mendorong pintu ruang persalinan, dan masuk ke dalamnya diikuti oleh suster.
Sementara itu, saat ini Aditya tengah menghias kamar hotel dengan berbagai macam balon, dengan warna yang disukai Andini.
Pria itu berharap, istrinya tersebut segera kembali dari rumah sakit. Sebab, ia ingin segera merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke tiga tahun.
Lama Aditya menunggu kedatangan istrinya. Akan tetapi, tanda-tanda kedatangan Andini belum juga terlihat. Hingga tanpa disadari Aditya, ia tertidur di ranjang hotel sembari menggenggam ponselnya.
Sedangkan Andini yang tengah berada di rumah sakit, terlihat baru saja keluar dari ruang bersalin, sambil melap keringat di dahinya.
Andini menghampiri keluarga pasien, dan berbicara dengan suami dari pasien tersebut.
Dengan bibir yang mengukir senyum, Andini berucap, "Selamat, Pak! Istri dan putri anda selamat. Kalau begitu, saya permisi. Sampai jumpa."
Setelah mendapat ucapan terimakasih dari keluarga pasien, Andini dengan segera melangkah keluar dan meninggalkan rumah sakit tersebut.
Hanya satu yang menjadi tujuannya, yaitu pulang dan menemui suaminya. Sebab, saat ini dia yakin, jika suaminya itu tengah menunggunya.
__ADS_1
Padahal, tanpa sepengetahuannya suaminya tersebut sudah tertidur dengan pulas.
Tidak berselang lama kemudian, Andini telah sampai kembali ke hotel tempatnya menginap bersama sang suami.
Dengan segera wanita itu membuka pintu kamar hotel. Saat Andini membuka pintu, Wanita itu tersenyum melihat kamar hotel itu telah dihias sedemikian rupa oleh suaminya.
Perlahan Andini melangkah masuk ke dalam, dan mendekat ke arah ranjang. Lalu memperbaiki posisi tidur sang suami.
Andini mengecup sekilas pipi sang suami sembari berbisik, "Maafkan aku sayang! Inginku tetap bersamamu, tapi mau bagaimana lagi? Kita harus melaksanakan tugas kita sebagai penolong bagi orang lain."
Setelah mengatakan hal itu, Andini gegas melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Penat yang sedari tadi di rasakan. Seakan luruh bersama air yang keluar dari shower, yang membasahi tubuh Andini.
Beberapa lama di dalam kamar mandi, akhirnya Andini selesai melaksanakan ritual mandinya. Nampak wanita itu melangkah keluar kamar mandi, dengan menggunakan jubah mandi berwana cream.
Andini melangkah menuju lemari, dan mengambil pakaian tidurnya lalu mengenakannya.
Beberapa saat kemudian, Andini melangkah menghampiri suaminya yang sudah tertidur pulas terlebih dahulu.
Andini membaringkan tubuhnya di samping sang suami. Wanita itu meletakkan kepalanya di atas dada sang suami. Sementara tangannya di lingkarkan ke pinggang Aditya. Perlahan-lahan Andini ikut memejamkan matanya, hingga beberapa saat kemudian ia pun tertidur lelap.
Aditya bangun terlebih dahulu sebelum Andini. Wajah tampannya tersenyum, melihat istrinya yang terbaring tidur di dadanya.
Aditya perlahan-lahan mengangkat tangan dan kepala Andini. Dibaringkannya perlahan kepala istrinya itu, ke atas bantal yang berada di sampingnya.
Setelah berhasil memindahkan istrinya, Aditya segera menghampiri telpon yang berada di atas meja dekat televisi.
"Hallo! Tolong antar sarapan ke kamar nomor 9. Ya, sekarang!"
Setelah mematikan sambungan telepon, pria itu kembali melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Andini yang tengah tertidur sontak terbangun ketika mendengar suara ketukan di pintu.
Tok....tok....tok....
Andini mengusap kedua matanya dan menoleh ke samping, mencari keberadaan sang suami. Bibirnya menyunggingkan senyum, ketika mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Andini turun dari ranjang, dan segera menuju pintu kamar hotel yang ditempatinya.
Ceklek......
"Pagi Nyonya! Ini sarapannya!" sapa seorang pelayan, yang mengantarkan sarapan yang dipesan Aditya tadi.
Andini tersenyum, "Pagi! Silakan masuk dan simpan di meja saja ya!"
Setelah mengangguk, pelayan tersebut melangkah masuk dan menuju meja. Lalu meletakkan beberapa menu sarapan dan juga jus ke atas meja tersebut.
"Permisi Bu!" ucap pelayan tersebut lalu melangkah keluar.
Saat Andini baru saja menutup pintu, terlihat Aditya keluar dari kamar mandi.
Aditya tersenyum pada Andini yang juga tersenyum ke arahnya.
"Sayang, Kamu udah bangun?"
"Iya, dan sekarang aku mau mandi dulu. Oh ya, sarapan udah dateng tuh!" tunjuk Andini ke arah meja.
"Ya udah, cepetan ya mandinya. Setelah sarapan, kita langsung pulang! Ibu pasti sudah menunggu kepulangan kita. Apalagi, Ibu taunya aku lagi di luar kota." ucap Aditya, sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Andini melangkah mengambil jubah mandi, dan gegas melangkah menuju kamar mandi. Sementara Aditya, melangkah ke lemari dan mengambil baju yang akan dikenakannya.
Tidak berselang lama, Andini pun keluar dari dalam kamar mandi. Mata Andini tertuju pada suaminya yang tengah duduk di sofa depan televisi.
Tidak menyapa suaminya, Andini gegas melangkah ke lemari dan mengambil pakaiannya. Setelah selesai mengenakan pakaian, Andini menghampiri suaminya dan mengajaknya sarapan.
"Bagaimana persalinannya?" tanya Aditya disela-sela aktivitasnya menyantap sarapan di hadapannya.
Andini mengambil segelas air putih. Setelahnya ia menjawab pertanyaan suaminya itu, "Alhamdulillah persalinannya lancar. Ibu dan anak selamat. Ini semua berkat dukunganmu juga sayang. Terima kasih!''
Setelah itu, tak ada perbincangan lagi antara keduanya. Setelah selesai sarapan, mereka pun bersiap untuk kembali pulang ke rumah mereka.
Beberapa saat kemudian, keduanya pun meninggalkan hotel tempat mereka menginap, dan melajukan kendaraannya menuju rumah.
Tidak berselang lama kemudian, keduanya pun tiba di rumah yang cukup mewah. Nampak seorang wanita paruh baya, tengah duduk di teras. Ditemani secangkir teh, dan juga majalah yang ada di genggamannya.
__ADS_1
Mata wanita tersebut memicing ketika melihat mobil Aditya melaju memasuki halaman rumahnya.