Sahabat Penghancur

Sahabat Penghancur
Bab 6


__ADS_3

Bimo menyentak tangan Naura, hingga gadis itu terlempar masuk, ke dalam kamar hotel tersebut. Kemudian, pria itu mengunci dengan cepat pintu kamar hotel tersebut.



Lalu, pria itu menyimpan kartu akses dari hotel tersebut, di tempat yang cukup tinggi. Sehingga, Naura tidak bisa menjangkaunya.



Bimo membalikkan tubuhnya menatap Naura, yang saat ini sudah ketakutan. Langkah demi langkah terayun, mendekati wanita yang perlahan-lahan berjalan mundur tersebut.



Dengan perlahan-lahan, Bimo membuka ikat pinggang yang menempel di pinggangnya itu. Dengan senyum iblis, pria itu memecutkan ikat pinggang tersebut di udara. Sehingga membuat Naura semakin ketakutan.



Naura terus saja melangkah mundur, hingga dirinya terjatuh di ranjang.



Bimo tertawa senang, membuat aura iblis semakin keluar dari dirinya, "Hahaha...... Kamu pikir, kamu bisa lolos dari hukumanku, sayang? Bukankah sudah aku katakan, kamu harus membayar segala kejutan malam ini untukmu? Harusnya, kita bisa melewati malam ini dengan sebuah kesenangan. Akan tetapi, kamu sudah membuatku marah! Makanya, sekarang kamu harus merasakan hukumanmu.''



Naura menggeleng, sambil meletakkan kedua telapak tangan di depan tubuhnya. Dengan mata yang terpejam, wanita itu berucap, ''Tidak Bimo! Aku mohon, jangan lakukan ini padaku! Aku benar-benar minta maaf, kalau sudah membuatmu malu di hadapan teman-temanmu. Aku tidak bisa menghindari rasa mulasku itu, makanya aku berlama-lama di dalam toilet.'



Bimo semakin tertawa, membuat Naura semakin ketakutan, "Hahaha...... Kamu pikir aku bodoh, bisa kamu bohongin seperti itu, Naura sayang? Sekarang, rasakan hukumanmu!"


sssyyyttt........


"Aakkhhh...... Aku mohon Bimo, hentikan! Ini sakit! Aku janji, aku tidak akan mengulang kesalahanku lagi. Ku mohon, maafkan aku!" Dengan derai air mata, Naura memohon pada sang suami, untuk menghentikan cambukannya itu. Namun, sepertinya Bimo tidak mendengarkan permohonan istrinya itu. Sehingga dengan sesuka hati, pria itu masih mencambuki tubuh sang istri, hingga pingsan.


__ADS_1


Melihat Naura yang sudah terkapar tidak berdaya, Bimo pun membuang ikat pinggangnya itu. Lalu, segera berlalu menuju kamar mandi, tanpa merasa iba sedikitpun pada sang istri.



Sementara itu, saat ini Andini dan Aditya tengah berada di sebuah cafe, tidak jauh dari rumah sakit tempat mereka bekerja.



Ya, Andini dan Aditya bekerja di rumah sakit yang sama. Hanya saja, mereka berbeda bidang. Andini sebagai seorang dokter kandungan, sementara Aditya sebagai dokter anak. Meskipun karirnya lebih gemilang daripada suaminya, Andini tidak pernah merasa jumawa, atau pun lebih hebat daripada Aditya, suaminya.



Sore itu, keduanya nampak sangat romantis. Aditya tidak pernah lepas menggenggam tangan Andini, istrinya.



Beberapa saat kemudian, seorang pelayan pun menghampiri mereka.




Ya, saking seringnya mereka datang ke cafe itu, hingga para pelayan pun sudah sangat mengenali mereka berdua.



Keduanya pun menoleh pada si pelayan dan tersenyum, seraya membalas sapaan pelayan tersebut, "sore juga, pak!"



Pelayan itu tersenyum, "Seperti biasanya?"



Aditya dan Andini tersenyum, lalu bersamaan menggeleng. Aditya pun berucap, "Gak, Pak! Kali ini, kami akan mencoba menu yang berbeda. Bawakan makanan dan minuman yang paling enak di cafe ini!"

__ADS_1



Pelayan tersebut mengangguk, lalu memutar tubuhnya dan berlalu masuk, ke bagian dalam cafe tersebut.



Andini tersenyum melihat kepergian pelayan tersebut. Sementara sang suami menatapnya dalam.



Ketika wanita tersebut menoleh kembali, alisnya seketika terangkat melihat tatapan suaminya itu.



Dengan tersenyum dia bertanya, "Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"



Tanpa mengalihkan tatapannya, Aditya menjawab, "Aku lagi melihat wajah anak kita kelak, dari wajahmu. kalau dia perempuan, pasti cantik sepertimu."



Andini tersenyum mendengar ucapan suaminya itu. Dia sangat bersyukur, bisa menikah dengan pria yang sangat mencintainya.



"Kalau dia laki-laki, pasti akan tampan sepertimu," balas Andini. "Tapi, maaf sayang! Sampai saat ini, aku belum bisa memberikan apa yang sudah sangat kamu harapkan. Sampai saat ini, Allah belum mempercayakan kita untuk memiliki anak," sambungnya.



Melihat raut sedih dari wajah sang istri, dengan cepat Aditya menggeleng, "Tidak, sayang! Kamu jangan minta maaf. Bukankah kita sudah sama-sama memeriksakan diri? Gak ada yang salah 'kan dari kita berdua? Jadi, ini hanya masalah waktu. Suatu saat, kita pasti akan memiliki buah hati. Bahkan mungkin kembar sekaligus."



Tangan Aditya terulur mengelus pipi sang istri. Membuat Andini semakin merasa dicintai.

__ADS_1


__ADS_2