
Untuk menjadi baik, Aku harus melawan diriku yang dulu...
Syfa terbangun saat adzan subuh berkumandang. Dia mendengus kesal, kemudian duduk dengan mata masih setengah terpejam. Entah sudah hari keberapa semenjak memutuskan berhijrah, Ia terus melewatkan shalat tahajudnya. Pekerjaannya sebagai penulis artikel membuatnya kelelahan setiap hari.
Tapi bagaimanapun sudah menjadi resiko baginya, karena selalu dituntut untuk memenuhi target. Belum lagi jika konten artikel bermasalah, maka editor akan mengembalikan artikel itu untuk direvisi ulang, dan menjadi pekerjan baru lagi untuk Syfa.
Syfa turun dari ranjang dan berjalan gontai menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, Jangan sampai dirinya juga melewatkan shalat wajib di awal pagi ini.
Setelah selesai shalat, Ia meraih hp yang berada diatas meja belajar untuk mengecek notifikasinya. Ternyata banyak chat whatsaap yang masuk, dari grup kajian dan grup kantornya. Diantara dua grup chat itu, ada satu chat yang membuatnya menepuk jidat karena melupakan sesuatu,
Mbak Mala
Fa, ntar ada kajian jam 9 pagi di Masjid An-Nur kan? Anti jadi ikut?
Bagaimana mungkin Dia melupakan hal itu? Rencana hari minggu ingin bermalas-malasan di kamar sirna sudah, karena chat pengingat dari sahabatnya itu. Mungkin ini peringatan dari Allah, agar Ia tak boleh menyia-nyiakan waktu dan harus menggunakannya dengan sebaik mungkin. Bukankah selain amal dan perbuatan, waktu juga akan dihisab oleh Allah? Begitu kira-kira kata Ustadz Hanan Attaki, saat ia menonton kajiannya di youtube. Teringat hal itu, membuat Syfa segera membalas chat dari sahabatnya itu.
Syfa
Iya mbak, jadi. Nanti bareng ya?
Syfa menghela nafas, kemudian meletakkan hpnya kembali diatas meja belajar. Kepalanya masih pusing, dan matanya masih mengantuk. Tapi tidur setelah subuh
itu tidak baik, bagaimanapun Ia harus melawan rasa kantuknya, Ia juga tidak mau nantinya kesiangan berangkat kajian bersama Mbak Mala.
***
“Gimana Fa? Udah istiqomah shalat tahajud sejauh ini?” tanya Mbak Mala saat keduanya duduk di taman Masjid. Kajian di Masjid An-Nur masih dimulai setengah
jam lagi. Suasana sekitar masjid pun sudah mulai ramai, bahkan sudah banyak para jamaah yang sudah masuk dan duduk di dalam Masjid.
__ADS_1
Syfa menghela nafas, "susah Mbak...” jawabnya pasrah, pandangannya menerawang. Jujur Ia masih sulit bangun disepertiga malam. Padahal waktu itu adalah kesempatan bagi kita, karena Allah dan para malaikat turun ke bumi untuk mengabulkan doa setiap hamba-NYA.
“Gak papa fa, usahain terus aja. Setidaknya, Anti masih bisa istiqomah shalat sunnah yang lain. Misalnya shalat dhuha gitu?” hibur Mbak Mala. “Ya, tapi kan shalat tahajud itu shalat sunnah yang utama setelah shalat wajib, Mbak.” keluhnya.
“Iya betul, tapi kalau emang kelewat, mau gimana? Lagipula Anti masih bisa kok kerjain shalat sunnah yang lainnya.”
Syfa terdiam. Semenjak berhijrah, kebiasaan ini masih sulit Ia lakukan. Jujur, Ia malu pada Allah. Banyak sekali nikmat yang sudah Allah berikan. Salah satunya membukakan jalan rezeki menjadi penulis artikel, yang memang menjadi hobby dan cita-citanya selama ini.
Belum lagi, kantor tempatnya bekerja merupakan salah satu media berita online terbesar di Indonesia, Samudra.com . Harusnya Ia bisa menjadi pribadi
yang banyak bersyukur dan lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan meningkatkan ibadah.
Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar-Rahman : 13)
“Mbak, menurut Mbak nih ya, Aku tuh sekarang gimana? Ada perubahan gak?”, tanya Syfa setelah terdiam beberapa saat, Ia butuh pandangan Orang lain tentang hal ini.
“Ih, serius mbak.” gerutu Syfa,
Mbak Mala tersenyum, “Anti kira, Ana bercanda?”, tanya Mbak Mala kemudian.
Syfa tampak berpikir.
“Fa, Allah melihat usaha kita. Yang paling penting itu, terus berproses menjadi baik. Selesaikan satu hal, baru berpindah ke hal yang lain. Ingat hadist ini kan?
"Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah, adalah amal yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Abu Dawud)
Itu artinya, berproseslah sebisa Anti. Niatkan semuanya karena Allah, Insya Allah pelan-pelan Anti bisa memperbaiki ibadah dan amal perbuatan lebih baik
lagi. semuanya hanya soal waktu, Fa.” jelas Mbak Mala, “Yang paling penting adalah, jangan kembali ke masa lalu.” ujarnya kemudian, tersenyum menatap Syfa.
__ADS_1
Syfa balas tersenyum, “ Insya Allah, Ana akan coba buat terus istiqomah, Mbak.” jawab Syfa, Mbak Mala mengangguk.
“Ya udah yuk, cari tempat duduk di dalam, keburu penuh.” ajak Mbak Mala kemudian.
Ya, Syfa pasti bisa. Lebih baik berproses, daripada tidak sama sekali bukan? Sisanya biarkan Allah yang menilai usaha Kita. Bismillah, ucapnya dalam hati
“Oh iya, Mbak. Nanti abis kajian, Kita tilawah disini dulu yuk? Sekalian menunggu shalat ashar.” tawar Syfa, Mbak Mala tersenyum. “Insya Allah.” jawabnya.
Mereka berjalan menuju Masjid, karena sudah tinggal 15 menit lagi kajian akan segera dimulai. Masjid sudah terlihat ramai, sudah banyak jamaah yang terdiri dari Laki-laki dan Perempuan mulai mengisi shaf duduk yang disediakan oleh panitia.
Untuk yang bagian Laki-laki atau Ikhwan, berada di bagian depan dekat dengan mimbar Imam, untuk yang Perempuan atau Akhwat berada di belakang dekat
batas antara Ikhwan dan Akhwat. Syfa dan Mbak Mala berjalan ke shaf duduk bagian tengah, karena disana masih kosong, sampai kemudian...
“Aduh!” Syfa mengaduh, saat pundaknya disenggol cukup keras oleh Seorang Wanita dari belakang. “Afwan Ukh, Ana tidak sengaja. Ukhti tidak apa-apa?” ujar Wanita itu khawatir, seraya menyentuh pelan pundak Syfa. “Laa ba’sa, Ukh. Ana juga mungkin menghalangi jalan.” Syfa mengelus pundaknya sambil tersenyum. Mbak Mala yang memperhatikan mereka awalnya khawatir, pun ikut tersenyum.
Seketika wajah khawatir Wanita itu berubah, dan akhirnya ikut tersenyum. “Salam ukhuwah fillah, Ukh. Nama Ana Lisa. Kalau Ukhti?” ucap Wanita itu sambil
mengulurkan tangan. “Salam ukhuwah fillah, Ana Syfa.” jawab Syfa membalas uluran tangan tersebut. Kemudian Lisa menoleh ke arah Mbak Mala yang berdiri
samping Syfa. Mbak Mala yang mengerti akan hal itu mengulurkan tangannya. “Salam ukhuwah fillah, Ana Mala.” ujar Mbak Mala seraya mengulurkan tangan, Lisa pun membalas uluran tangan itu sambil tersenyum.
“Masya Allah, senang sekali rasanya mempunyai saudara baru.” ucap Lisa kagum. “Alhamdulillah kami juga senang, Ukh.” ucap Mbak Mala tulus. “Boleh Ana duduk bareng Ukhti sekalian? Ana ingin sekali mengobrol dan berkenalan lebih jauh.” tawar Lisa. Syfa melirik Mbak Mala yang ada disampingnya, Mbak Mala mengangguk setuju. “Mari Ukh, kita cari shaf duduk terlebih dahulu.” ajak Syfa akhirnya, Lisa mengangguk Ia pun berjalan beriringan dengan Syfa diikuti Mbak Mala yang ada dibelakangnya.
“Ukhti-ukhti ini rutin ikut kajian disini ya?” tanya Lisa saat mereka sudah menemukan shaf tempat duduk di bagian tengah. “Kalau Mbak Mala ini, sering Ukh.
Ana baru 2 kali ini dalam seminggu.” jelas Syfa, sambil melirik Mbak Mala disebelahnya, Mbak Mala ikut mengangguk membenarkan.”Masya Allah, kalau Ana baru pertama kali hari ini. Tapi semoga kita semua bisa istiqomah ya, Ukh?” ucap Lisa berharap, “Aamiinnn...” balas Syfa dan Mbak Mala berbarengan.
Ketika Engkau mulai bertekad untuk menjadi Seorang pribadi yang lebih baik lagi, maka ketahuilah bahwasannya Allah akan mendatangkan orang-orang baik dikehidupanmu, untuk bisa menemani setiap gerak langkah perjalanan panjangmu. - Anonim
__ADS_1